
Alka, Jana dan Dirga bergegas ke rumah Mulyana Dirga akan beralasan bahwa dua orang muda itu adalah kenalan yang Mulyana pernah tolong dan bermaksud untuk menjenguk Mulyana dan sitrinya yang baru saja melahirkan.
“Ini adalah dua anak yang dulu pernah ditolong Mulyana Bu, ini Alka dan ini Jana. Dulu sekali mereka itu tersesat di jalan, Mulyana tolong dan mereka berdua selalu silaturahmi dengan Mulyana. Aku kenal mereka karena dikenalkan oleh Mulyana.” Dirga memperkenalkan dua anak itu pada istrinya Mulyana.
“Oh ya, terima kasih sudah datang. Si ayah tidak pernah menceritakan kalau pernah menolong kalian, maaf ya saya jadi nggak kenal.”
“Iya bu, tidak apa-apa kami memang kalau ketemu bapak juga tidak sengaja.” Jana membalas ucapan istrinya Mulyana dengan ramah.
“Hei! Alka, kita ke kamar Bapak dulu aja ya.” Dirga menarik kerah leher bagian belakang baju Alka yang terlihat akan mendekati istrinya Mulyana yang sedang menggendong Aditia.
“I-iya Pak.” Alka menuruti perintah Dirga dan mereka langsung ke kamar Mulyana.
Mulyana masih terbaring dengan posisi yang terakhir Dirga bantup pindahkan. Miring ke kanan.
“Abah wangsa!” Alka berteriak memanggil Karuhun Mulyana begitu masuk. Walau berteriak, dia tidak lupa adabnya. Alka memberi salam dengan sedikit membungkuk.
Dirga menutup pintu kamar Mulyana karena tidak ingin istrinya Mulyana mendengar Alka memanggil nama asing.
“Siapa abah Wangsa Ka?” Dirga kaget karena Alka seperti menyapa seseorang yang ada di samping kanan Mulyana.
“Itu Pak, Karuhunnya Bapak.” Jana yang menjawab.
“Oh di mana dia?”
“Itu di sana.” Jana menunjuk arah kanan Mulyana.
“Oh jadi bukan Mulyana ya yang waktu itu menjatuhkan bantal dan juga berkomunikasi denganku?” Dirga bertanya dengan spontan.
“Bukan lah, ini Abah Wangsa, halo Bah.” Jana kali ini yang menyapa.
“Bah, Bapak kenapa?” Alka bertanya. Jana akan menjadi penyampai pesan, karena Pak Dirga tidak bisa mendengar suara Abah Wangsa.
“Beritahu itu si Dirga, dia bodoh sekali. Aku sudah terikat begini masih saja dipaksa untuk menjawab dengan menggerakkan bantal. Setengah mati aku menjawabnya.” Abah Wangsa sebelum menjawab marah dulu karena kemarin Dirga memaksanya menjawab padahal tangannya terikat.
“Pak Dirga, Abah marah, kenapa kemarin dipaksa jawab, soalnya tangan Abah terikat.” Jana menjelaskan apa yang diperbincangkan Alka dan Abah Wangsa.
“Ya maaf Bah, kan saya kita Abah Mulyana.”
“Yasudah, bilang sama orang itu, saya tahu dia baik dan sahabat yang setia. Tapi lain kali banyak bertanya, biar ada manfaat saat kita lagi di kerjai begini.” Abah Wangsa masih saja kesal.
“Bah, maaf saya potong, bapak kenapa?” Alka mengulang pertanyaan.
“Ya, kami dikerjai dukun wilayah ini.”
“Memang ada dukun di wilayah ini Pak?” Tanya Jana pada Pak Dirga.
“Ada, namanya Ki Kusno.”
“Iya betul dia orangnya.” Abah Wangsa ingat betul nama duku brengsek itu.
“Kata Abah, benar dukun itu yang mengerjai mereka.” Jana kembali menyampaikan perkataan Abah Wangsa.
“Pakai apa Bah?” Alka bertanya. Dia hanya ingin memastikan saja, bahwa asumsi yang mereka bawa dari markas benar.
“Kembang Sukapuran, kamu tahu kembang itu?”
“Kami sudah menduganya Bah, kembang itu yang menjadi masalah.”
“Ya, kembang itu diberikan melalui makanan. Kembang itu kan tidak berbau dan tidak terasa bna agi Kharisma Jagat, walau dengan level tertinggi seperti Mulyana. Kembang itu terlalu berbahaya jika digunakan oleh orang jahat seperti dukun itu.”
“Seharunya Pak Dirga, kita tidak perlu repot ke markas tadi cari masalah Bapak, kita tinggal ke sini saja lalu meminta penjelasan Abah. Seharusnya aku masuk saja tadi, kamu sih tidak mau aku masuk ke rumah.” Alka kesal. Kalau saja dia tahu Abah tidak ikut masuk ke dunia gelap itu bersama Mulyana dan berada di kamar ini. Mereka tidak perlu repot-repot ke markas mencari obat. Kan tinggal tanya aja ke Abah.
“Ya aku mana mengerti soal itu,” jawab Dirga. Wajahnya menunjukan betapa dia tidak bersalah karena tidak mengerti.
“Sudah Ka, sekarang kita harus mulai penjemputan, jangan kelamaan. Kasihan bapak.” Jana lebih bijak.
“Yasudah. Begini Bah, aku dan Aditia akan masuk ke dunia gelap itu untuk menjemput bapak.”
“Kau bisa masuk ke sana?”
__ADS_1
“Kan aku setengah jin, tentu saja bisa, karena dunia gelap itu kan, dunia ghaib yang terbuka, bukan dunia ghaib tertutup. Jadi aku bisa masuk untuk menjemput bapak.”
“Tapi Alka, kalau Mulyana tidak bisa mendengarmu bagaimana. Dunia gelap yang diciptakan oleh kembang sukapuran itu kan dunia yang bagi korbannya akan tertutup mata, hati dan pikirannya pada apa yang dunia gelap itu ciptakan.”
“Makanya aku bawa Aditia. Aku mungkin tidak ada dalam kenangan bapak, tidak juga masa depan yang dia harapkan. Tapi Aditia pasti ada dalam kenangan dan harapan bapak.”
“Kau yakin bisa menjaga tuanmu di sana?”
“Tentu saja aku yakin.”
“Baiklah, bawa anak itu dan kau masuk ke dunia gelap itu.” Abah Wangsa mengizinkan Alka masuk ke dunia gelap yang diciptakan oleh kembang sukapuran yang membuat Mulyana terjebak.
Dirga meminjam Aditia dulu dari gendongan ibunya. Sementara itu, istrinya Mulyana disuruh tidur dulu, Dirga dan istrinya membujuk agar istrinya Mulyana istirahat. Padahal mereka ingin bebas menjemput Mulyana.
“Ini Aditia,” Dirga hendak memberikan Aditia pada Alka, tapi urung, “aku sudah melanggar loh amanah Mulyana dengan mengizinkan kamu menggendong Aditia. Jadi jaga anak ini baik-baik ya.”
“Iya Pak Dirga,” jawab Alka. Dia kesal karena hampir saja bisa menggendong tuannya.
“Sekarang gendong anak ini.” Pak Dirga hendak memberikan Aditia ke gendongan Alka. Tapi dia urung lagi.
“Kau yakin Ka, akan keluar dengan selamat. Kalau Aditia kenapa-kenapa aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”
“Pak, kalau Aditia kenapa-kenapa, kau pikir siapa yang paling akan terpuruk?” Alka mengingatkan dia adalah Karuhun dengan Lanjo.
“Baiklah pegang Aditia erat-erat, lalu kau harus pastikan dia tidak terlepas dari gendonganmu, lalu ....”
“Pak, kelamaan, sini aku gendong si kasep.” Alka merebut Aditia dari tangan Dirga.
Alka memegang kepala Mulyana, memejamkan mata, perlahan tubuhnya mengambang. Lalu sedetik kemudian Alka hilang.
Gelap ....
“Kita sudah sampai dunia gelap kasep. Sayang di sini gelap. Aku jadi tidak bisa melihat wajah tampanmu kasepku.” Alka sempat-sempatnya menggombal pada bayi baru lahir. Aditia mengoceh seperti senang.
Dua anak kecil yang terlalu cepat dewasa.
Begitu sampai dia mencium aroma yang cukup wangi. Wangi khas bapak.
“Kasep, ayahmu ada di sini. Kita berdua masuk ya. Nanti kalau di dalam nggak nyaman, kamu harus tetap tenang ya, aku kalau kamu menangis pasti langsung jadi tidak terkendali, takutnya malah mencelakakanmu. Jadi yang tenang ya sayangku.”
Setelah dia mengatakan itu Alka langsung membuka pintu itu. Saat melangkahkan kaki Alka merasa di tarik dengan sesuatu yang sangat kencang, Aditia masih dengan kencang terikat di dada Alka dengan kain jarik.
Alka mendarat dengan lancar di suatu ruangan.
Ada lelaki tua yang sedang duduk sembari menatap kosong ke arah depannya.
“Ayahmu di mana ya Dit?” Alka bingung. Kenapa hanya ada lelaki tua itu di sini, lelaki itu terlihat berumur tujuh puluh atau delapan puluh tahunan.
“Pak permisi, Pak ....” Alka hendak bertanya pada lelaki tua itu, tapi saat mendekat Alka merasa mencium wangi khas Mulyana. Dia tersentak, sihir macam apa ini, hingga Mulyana bsia berubah menjadi setua itu.
“Ternyata ini ayahmu Kasep. Wah dia tidak mendengar kita sepertinya. Hmm, kita harus melakukan apa ya untuk membangunkan dia?” Tanya Alka pada bayi yang hanya bisa tersenyum sembari mengoceh tidak jelas.
Ada seorang lelaki masuk ke ruangan itu, terlihat seperti ruang tamu Mulyana ternyata.
“Oh ini rumahmu Kasep, ternyata buat bapak rumahnya adalah hal yang selalu dia jaga, makanya mudah sekali menjebak ayahmu dengan rumah ini.” Alka mengoceh lagi, sepertinya dia memang sedikit gila. Anak bayi diajak bicara.
“Ayah, Aditia datang. Ayah minum obat ya.”
“Hah? itu kau?” Alka tertawa terbahak-bahak, “jelek sekali harapan ayahmu akan wajah tampan yang mempesona ini. Masa dia menciptakan wajahmu dalam harapannya sejelek pria itu.” Alka menghina pria yang menyebut namanya Aditia. Tentu itu bukan benar-benar si kasep. Karena itu hanya harapan yang timbul di dunia gelap karena Mulyana yang hadirkan.
“Pak minum obatnya ya, anakmu udah datang nih.” Istrinya kali ini yang datang entah dari mana, memaksa minum obat yang dibawa anaknya.
Mulyana terlihat mengambil obat itu dan meminumnya.
“Kasepku, mereka semua nggak lihat kita, aku pikir bapak akan melihat kita langsung begitu kita masuk. Ternyata tidak semudah itu sayang. Kita menjadi setan di dunia setan yang gelap ini.” Alka masih tertawa dan mengusap pipi tuannya. Dia sangat senang bisa menggendong tuannya.
Mulyana tertidur begitu obat itu diminum.
Alka dan Aditia terhisap lagi ke dunia lain. Kali ini mereka ada di kamar, kamar rumah Aditia.
__ADS_1
Mulyana terlihat lebih muda dari sebelumnya, kali ini Alka bisa mengenali Mulyana.
“Pak, ayo bangun. Sarapan sudah siap, habis itu antar anak kita ke sekolah ya.” Istrinya Mulyana ada di pintu masuk kamar. Mulyana bangun dengan tatapan kosong. Mulyana sepertinya sudah kelelahan untuk memikirkan apa yang terjadi. Jadinya dia hanya menjalani saja yang terjadi. Walau dia merasa saat ketiduran tadi, Aditia sebelumnya sudah sangat dewasa dan sepertinya telah menikah. Tapi, Mulyana tidak lagi mau memikirkannya. Dia percaya dirinya sakit, sakit mental mungkin Alzheimer. Seperti yang istri dan anaknya selalu bilang di rumah aneh ini.
“Oh ini yang dimaksud kenangan dan harapan terjadi bertumpuk dalam kemunggkinan terburuk. Hingga bapak tidak bisa membedakan mana nyata dan khayalan. Padahal ini tidak perlu dibedakan, ini semua kan khayalan.” Alka mulai mengambil kesimpulan.
“Dit, kita coba tepuk bahu bapak yuk.” Alka masih menggendong Aditia di dadanya dengan kain jarik.
Alka mendekati Mulyana yang sedang berusaha bangun dan bersiap untuk mandi dan sarapan.
Alka menepuk pundak Mulyana.
Mulyana menoleh ke arah tepukan itu.
“Pak! Pak! ini Alka sama kasep Pak. Pak!” Alka senang karena Mulyana menoleh saat di tepuk.
Mulyana menatap lurus ke arah Alka, Alka senang tapi ... sedetik kemudian dia menoleh ke arah pintu dan bergegas keluar untuk mandi.
“Sial! dia ternyata hanya merasakan tepukan saja Dit, tapi tidak bisa mendengar kita.” Alka kesal karena dia masih belum berakhir.
“Alka mengikuti ke luar. Mulyana sudah selesai mandi dan berpakaian rapih. Ada anak SD yang sedang sarapan, serta istrinya Mulyana yang sedang menyiapkan sarapan.
“Lah kok ini beda lagi suasana ruang tamu rumahmu kasep?” Alka bertanya walau tidak ada jawaban dari yang diajak diskusi.
Bapak lalu duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong lagi.
Lagi-lagi Alka dihisap ke tempat lain lagi.
Masih ruang tamu, tapi dengan suasan yang berbeda.
Ada suara tangis bayi, Mulyana terlihat mendatangi kamarnya, Alka mengikuti.
“Bu, anak kita kenapa?”
“Biasalah Pak, namanya juga anak bayi, cengen mah wajar.” Istrinya tersenyum dengan wajah teduh.
“Yaudah, kalau gitu mau bapak buatin teh hangat supaya ibu enakan badannya setelah menyusui?” tanya Mulyana pada istrinya.
“Iya, oh ya pak, jangan lupa minum obatmu ya.” Istrinya meminta suaminya, lagi-lagi minum obat.
“Dit kok ibumu dan kamu palsu selalu memaksa bapak minum obat ya?” Alka mendekati Mulyana yang sedang minum obat dan setelah meminum obat, Mulyana meletakkan obat itu di meja makan.
Alka mengambil botol obat itu dan melihatnya. Tidak ada merk, komposisi, atau aturan minum. Hanya botol kosong berwarna ungu, isinya juga sepertinya sekali minum habis. Tapi, kenapa selalu ada lagi isinya kalau bapak mau minum obat itu? Alka bertanya dalam hatinya sambil memegang botol obat kosong itu.
“Pak! Pak! Pak!” Alka mencoba memanggil lagi Mulyana yang saat ini kembali tidur di samping istrinya bersama anaknya. Tapi tidak ada tanggapan, dia masih belum bisa mendengar dan melihat Alka serta anaknya.
“Kasep. Gimana ini, kok bapak nggak bisa ya melihat kita. Pusing aku diputar kesana-kemari di dunia gelap ini. Gimana kalau kita ikut tinggal saja di sini sama bapak, jadinya kita nggak akan terpisah lagi deh. Gimana, kamu setuju?” Alka membujuk anak bayi untuk tinggal bersamanya di dunia gelap itu.
Sementara Aditia terlihat mulai tidak nyaman. Berkali-kali terhisap di dunia ini membuat tubuhnya kelelahan.
“Kau kenapa kasep?” Alka sadar Aditia tidak nyaman.
“Hei! Siapa di sana.” Suasana rumah sudah berbeda lagi, sekarang entah Aditia umur berapa di rumah aneh ini.
Suara yang bertanya Alka dan Aditia siapa adalah suara Mulyana.
“Dit! Bapak dengar suara kita sekarang!”
“Pak, kenapa?” Istrinya dari kamar bertanya.
“Nggak tahu bu, ini seperti suara orang yang sedang ngobrol.” Mulyana menjawab pertanayan istrinya.
“Oh, Adit barang kali, dia kan suka belajar sambil ngocek di kamarnya. Bentar lagi kan mau ujian di sekolahnya, jadi wajar kalau dia berisik.”
“Oh gitu. Bu, Adit umur berapa sekarang?” Mulyana bertanya, dia lagi-lagi mulai berusaha menerima bahwa dirinya sakit.
“Pak, Adit SMA, kelas tiga. Sudah mau lulus. Bapak minum obat ya.” Ibunya Aditia mengambil obat dan memberikan pada suami, botol kosong yang tiba-tiba terisi saat Mulyana akan meminumnya.
“Alka melihat Bapak, dia seorang yang sangat linglung dan menerima begitu saja, di titik ini Alka merasa, apakah perlu keluar dari tempat ini, bukankah dia bisa bersama Aditia selamanya di sini, tidak ada yang bisa masuk ke sini selain Alka dan koban kembang sukapuran itu.
__ADS_1