Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 257 : Pabrik Seragam 6


__ADS_3

“Dit, kita tidak hanya harus menyelamatkan Erin, kita harus menyelamatkan semuanya, kau tidak lihat mereka membusuk di sana!” Alka membela diri.


“Kau membohonginya Alka, kau tidak seperti biasanya, kenapa kau dingin sekali!” Aditia heran Alka jadi dingin.


“Ini memang aku, kau saja yang tidak kenal!” Alka mulai menabuh genderang perang dingin, Lanjonya terikat, perlahan sifat asli Alka keluar, dingin dan tidak perduli sampai tujuannya terlaksana.


Aditia menghentikan angkotnya, sementara yang lain terlihat khawatir dengan perkataan Alka dan lebih khawatir dengan reaksi Aditia.


Aditia keluar dari angkot, berjalan ke arah bangku penumpang dan menarik Alka keluar.


“Nding lanjut sampe vila, aku perlu bicara berdua saja dengan gadis sombong ini.” Alka tidak melawan saat tangannya ditarik.


Ganding akhirnya mengemudi, Hartino pindah ke bangku supir. Sementara Jarni dan Lais tetap di bangku penumpang, mereka cemas, tapi tahu, Aditia orang yang paling takkan mencelakakan kakaknya.


“Kau mau apa sih!” Alka kesal.


Aditia melepas pegangan tangannya, mereka berdua berada di tengah perkebunan teh.


“Kalau aku melihat kau berani mengambil keputusan sendiri tanpa diskusi dengan kami, aku pastikan, kau takkan pernah bisa menggunakan cambukmu lagi!” Aditia menatap tajam pada Alka.


“Kau! Kau mengancam?!” untuk pertama kalinya Alka berteriak histeris, dia adalah pribadi yang tenang.


“Ya! Aku mengancam, aku memperingatkan dan aku tidak akan membiarkanmu mencelakakan jiwa atau manusia lain! Ingat itu!” Aditia lalu menarik lagi tangan Alka dan Alka pasrah, mereka kembali ke vila dengan cara berjalan kaki.


“Ngopi dulu Aa.” Seorang perempuan yang berpakaian kebaya ketat dan kain jarik yang dibuat seperti rok sepan menggoda Aditia dan Alka yang sedang berjalan menyusuri kebun teh hendak kembali ke vila.


“Kopimu dingin dan makananmu busuk.” Aditia menatap jin penggoda itu dengan kasar, jin itu kaget, karena Aditia bukan orang biasa, terlebih wanita yang digandengnya, sudah menatap dirinya bahkan jauh lebih menakutkan.


“Ma-maaf Aa.” Jin itu mundur.


“Hei kau! Sini!” Aditia memanggilnya kembali.


“Kenapa? mau ngopi?” Jin wanita sensual itu bertanya.


“Janga buat warung ghaib di bibir jurang, kau mau membunuh orang terus?” Aditia kesal ketika menyadari bahwa warung yang dia maksud ada di bibir jurang.


“Enggak atuh Aa, masa mati, cuma mau diajak minum kopi.” Jin itu berlenggak-lenggok menggoda.


“Abis minum kopi ngapain?” Alka bertanya.


“Ya, menikahlah!” Jin itu tertawa cekikikan.


“Menikahlah dengan sebangsamu, untuk apa kau menikah dengan manusia!” Aditia kesal melihat tingkah jin genit itu.


“Kau sendiri kenapa?” Jin itu masih melawan dengan sengit.


“Apa maksudmu?” Aditia bingung.


“Kenapa kau tetap ingin bersama makhluk aneh begini? manusia bukan, jin bukan, kau ini apa!” Jin itu lalu lari setelah mengatakan itu, warung dan juga dirinya ikut menghilang.


“Brengsek!” Alka mengumpat.


“Mulutmu!” Aditia kesal karena Alka menjadi arogan seperti ini.


Aditia menarik Alka agar tetap berjalan, sebenarnya untuk pandangan orang awam, ini adalah kebun teh yang kosong, tapi apa yang dilalui Alka dan Aditia adalah sebuah pasar malam yang tentu saja pedagang dan pembelinya tidak terlihat normal.


Mereka berjalan tanpa bermaksud membeli, sedang para makhluk itu menatap mereka dengan kesal, bagaimana tidak kesal, pasangan ini memang sedang terkenal di daerah mereka, dua orang gila yang setiap malam menculik jin untuk dihajar, tidak ada yang berani mendekat.


Setelah sampai vila, semua orang terlihat tegang, karena menunggu dua orang yang dikhawatirkan.


“Aku istirahat duluan.” Alka masuk ke kamar.

__ADS_1


Yang lain memandang Aditia yang tahu kalau mereka butuh penjelasan.


Setelah memastikan Alka sudah tertidur, Aditia duduk bersama yang lain, Lais membuatkan mereka kopi dan gorengan.


“Kakak kenapa?” Ganding bingung, karena tindakan kejamnya pada Erin bukan yang biasa dilakukan olehnya.


“Lanjonya kuikat, sifat aslinya perlahan keluar, itu yang aku ketahui saat ini.”


“Dit, Lanjo itu hanya berhubungan dengan cinta kasihnya padamu, bukan pada yang lain!”


Aditia memandang Ganding, ini yang dari tadi Aditia merasa ada yang janggal, Ganding yang bisa mengungkapkan kejanggalan itu.


“Aku harus berkonsultasi pada Ayi soal ini, karena kalau aku buka lagi ikatan Lanjonya, dia akan kembali tersiksa dengan rasa cemburu dan penjagaan berlebihan, tapi kalau kuikat terus, aku khawatir, sifat jin jahatnya benar-benar akan keluar.”


“Dit, jangan siksa kakakku, dia sudah cukup menderita, aku tahu kau yang paling akan melindunginya, tapi aku mohon, pilihlah hal yang paling sedikit resikonya menyakiti kakakku.”


Aditia mengangguk.


“Memang ada apa sih?” Hartino bertanya, karena dia dan Lais tadi tidak ikut masuk ke dalam.


“Kakak membohongi Erin, dia tadi meminta kami diam dan tidak memberitahu Erin bahwa dia telah meninggal.”


“Kok! mana mungkin kakakku begitu.” Hartino kaget.


“Aku juga takkan percaya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri.” Ganding meyakinkan.


“Kakakku tidak pernah mencoba menipu orang, dia adalah orang yang paling adil yang pernah aku kenal, dia jug apunya empati yang tinggi, jadi ….”


“Makanya Adit tadi bilang bahwa Lanjonya diikat, makanya kakak begitu.”


“Nding, tapi ini keterlaluan.”


“Har, aku juga kaget.”


“Aku mengancamnya, itu harus dilakukan karena kalau tidak dilakukan, akan membahayakan orang atau jiwa lain, aku akan cari tahu kenapa, tapi sekarang ada hal yang lebih gawat yang harus kita tangani.” Aditia menutup pembicaraan itu dan masuk ke pembahasan yang sebenarnya harus kau mereka lakukan malam ini.


“Baiklah, sekarang kita harus membuat rencana, karena besok malam kita semua harus masuk ke dalam pabrik, harus masuk bersama karena aku takut kalau yang mengendalikan mereka, akhirnya akan menyerang kita, di sana banyak sekali jiwa yang ditahan, kita harus waspada pada serangan yang bisa saja mematikan, mereka mungkin tidak sadar telah tiada.”


“Kau yakin? Maksudmu mereka itu Tilak Napasta?” Ganding bertanya dengan spontan, karena dia tidak berpikir sejauh itu.


“Kemungkinannya besar Nding, karena Erin pun tidak sadar dia telah pergi jauh dari tubuhnya, jiwanya telah ditarik sebelum meninggal.”


“Tilak Napasta? Apa itu?” Lais bertanya, karena dia tidak paham, penjelasan ini ada pada kitab catatan Ganding yang telah disusun sebelumnya, pada kasus yang pernah terjadi, tapi hanya kasus satu orang, ditangani oleh Mulyana langsung.


Tilak Napasta, adalah jiwa yang direnggut paksa keluar dari tubuhnya, untuk dijadikan budak, jiwa-jiwa ini rata-rata tidak selamat karena mereka tidak sadar telah keluar dari tubuhnya.


Bahkan beberapa akhirnya lupa pernah hidup sebagai manusia. Mengabdi puluhan tahun bagi tuannya.


“Apakah mungkin jiwa sebanyak itu berasal dari pabrik? Maksudku, jika terjadi pembantaian masal, masa iya penduduk tidak curiga?”


“Bisa saja bukan dari pabrik itu, karena laporan kematian jaran ditemukan di sana bukan Har?” Ganding mengingatkan.


“Iya betul.”


“Siapa yang bilang jiwa itu dari sana semua? Bisa jadi mereka adalah piaraan orang lain, yang menjual jasa bagi budak-budak arwah ini.”


“Tapi Dit, berarti sulit dong kalau gitu bagi kita untuk membebaskan mereka? Terlalu banyak dan terlalu rumit, karena Tilak Napasta bisa saja tidak percaya kita dan enggan untuk diselamatkan dan bisa saja jadi malah … menyerang kita.” Hartino jadi paham kenapa Aditia meminta semua orang masuk ke dunia ghaib mereka.


“Baiklah kalau begitu, kita persiapkan semua yang dibutuhkan, kalian sudah membawa peralatannya kan?”


“Ya, tidak sulit mencari itu semua Dit, tapi perlukah cara seperti ini?”

__ADS_1


“Perlu, karena kalau kita tidak bisa membujuk dengan cara baik, maka kita harus pakai cara yang sama untuk menghajar pengendalinya.”


“Dit, kau yakin Kakak akan ikut? Maksudku dengan keadaannya yang kurang stabil?” Ganding jadi ragu.


“Justru aku lebih takut kalau dia tidak ikut, karena dia sebenarnya sangat kita butuhkan, kalau nanti dia kehilangan kendali, maka aku akan membawanya keluar, tapi pilihannya adalah, menyelamatkan mereka, atau memusnahkannya sekalian, karena mereka akan terus merenggut jiwa jika dibiarkan, pabrik itu malapetaka bagi para manusia yang benar-benar mencari nafkah bagi keluarganya.”


“Baiklah, kami akan mengikuti semua yang kau perintahkan.” Hartino setuju.


Mereka lalu mempersiapkan semuanya untuk besok malam dan beristirahat.



"Kita akan menyusuri tempat ini, jangan menyerang, kalau ada yang hendak menyentuhmu, peringatkan saja, jangan menyerang balik." Aditia memperingatkan karena dia tidak ingin keributan sebenarnya terjadi.


Mereka terus menyusuri satu seksi, ke seksi lain.


Tiba di tempat di mana ruang jahit itu akhirnya dicapai, Erin sedang duduk di salah satu bangku, dia tidak lagi ketakutan, dia malah terlihat lebih ceria, walau lawan bicaranya memiliki setengah wajah saja, setengahnya lagi sudah rusak, entah karena apa.


"Erin, kau sedang apa?" Aditia bertanya, yang lain mengelilingi Erin.


"Sedang berbincang dengan kawan baruku."


"Kau tidak takut lagi?" Aditia bertanya lagi.


"Tidak kok, ternyata kami semua disini memang diperkerjakan, aku saja yang berlebihan."


"Diperkerjakan bagaimana maksudmu?" Ganding bingung makanya dia bertanya.


"Ya, tidakkah kau lihat, kami semua bekerja di sini."


"Tidak, kami lihat kalian semua sedang berjalan mondar-mandir saja dan kau hanya mengobrol." Hartino kali ini yang menanggapi.


"Loh gimana sih, kami semua bekerja, kalian nih orang baru makanya nggak ngerti, setelah aku mengenal mereka semua, tidak ada salahnya bekerja di sini, walau sedikit berbeda, kami bekerja pada malam hari dan tidur pada siang hari."


"Erin, kau bekerja apa?" Hartino makin kesal.


"Bekerja seperti yang lain lah!"


"Ok, ok, terserah kau mau bekerja atau apa, tapi apakah kau sudah dapat informasi yang kami minta?" Aditia bertanya.


"Oh ya, sudah, tapi kalian berani bayar berap?" Erin tertawa renyah, entah kenapa dia benar-benar berbeda dari sebelumnya.


"Kau mau kami bayar pakai apa? sajen?" Hartino asal bicara, Aditia menepuk dadanya, kesal karena dia berkata seenaknya.


"Kok sajen, kau pikir kami arwah, kalian ini pasti orang baru yang belum kenal seluk beluk pabrik ini, kami semua di sini memang bekerja malam, makanya gaji kami lebih banyak dibanding yang lain, sedang siang hari kami tidur, nanti akhir bulan kami pulang dan bisa memberikan uang pada orang tua kami, nanti kalau ketemu Dinda, aku akan ajak dia ke sini ah, supaya dia tidak bingung lagi uang untuk bayar kuliah." Erin lalu asik berkumpul dengan yang lain.


"Erin, mari kita pulang saja ya." Aditia hendak mengajak Erin.


"Aku sedang kerja, yang lain juga, kalian jangan ganggu!" Erin tiba-tiba membentak, matanya merah, wajahnya berubah menjadi pucat, dia mengusir, seketika semua makhluk itu menatap lima sekawan plus Lais, mereka terlihat marah.


"Jangan ada yang keluarin senjata, mundur, kita harus mundur. Aku tahu sekarang." Aditia memberi aba-aba pada lima sekawan, karena dia tidak ingin jatuh korban dulu.


"Dit, serius mundur?" Hartino kesal, mereka sudah ada di angkot jemputan lagi.


"Percaya padaku, berkelahi dengan mereka bukan jalan saat ini, kau tidak kasihan, mereka ditipu, mereka mengira sedang bekerja dan akan diupah tinggi, tapi lihat, mereka telah mati! dan parahnya lagi, tidak ada yang sadar, tidak ada yang sadar dengan keadaan fisik mereka."


"Jadi kita harus bagaimana?" Hartino bertanya.


"Tunggu satu hari lagi, kasih aku waktu sampai aku yakin, baru kita semua bisa membantai mereka."


"Membantaii?" Semua kawanan bingung.

__ADS_1


"Ya, nanti aku jelaskan."


__ADS_2