
Terorisme, peperangan, bahkan banyak kejadian besar lainnya, bukan karena kekuasaan, tapi berujung pada uang, sungguh menakutkan lembaran dan koin itu, sungguh sangat menakutkan.
Setelah memastikan, Alka dan Aditia berkendara ke markas ghaib, mereka ingin tahu apa yang didapatkan oleh lainnya, karena Alisha dan Hartino ke tempat tukang becak yang sudah meninggal dunia, apakah sama dengan apa yang Aditia dan Alka dapatkan?
tak lama kemudian mereka sampai di markas ghaib.
"Hartino dan Alisha sudah sampai juga, mereka akhirnya berunding lagi.
Semua berkumpul tak terkecuali.
"Jadi apa tang kau dapatkan Har?"
"Mereka punya satu koper emas batangan Dit, katanya dari koperasi rahasia atau apalah, merek ajuga tak terlalu paham, istri tukang becak yang sempat diberitakan kelaparan karena menunggu suaminya pulang itu selarang bahkan seperti emas berjalan, tak aku lihat di bagian tangannya yang tidak terhias emas.
Sungguh tak ada sedikit pun kesederhanaan karena suaminya meninggal.
Seperti kemiskinan mampu mengubah orang, maka kekayaan memiliki efek yang sama.
Istrinya berubah, rumah mereka sedang dibangun, banyak tetangga berkumpul di rumah istri tulang becak itu aku lihat, seperti semut sedang mengeubuti gula.
Mereka tahu mungkin kalau istri tukang becak itu kaya mendadak dan semua orang ingin mencicipi sedikit gulanya.
mungkin dulu dia orang yang selalu diabaikan, maka ketika sekarang menjadi perhatian, dia menikmatinya, lupa bahwa suami telah meninggal dunia." Harino kesal sekali.
"Tapi maaf Har, sebagai seorang yang pernah berkelana jauh sekali, melihat berbagai jenis orang, aku tidak dapat menunjukan kekesalan yang sama.
Karena aku melihat banyak orang sulit, kita sama-sama tahu, bahwa tak satu pun dari kita yang pernah hidup sulit bukan? walau kita memiliki tanggung jawab berat, tapi sejak kecil kita selalu berkecukupan, makan enak, tidak perlu repot mikir besok makan apa.
__ADS_1
Sebagai imbas dari ketercukupan itu, kita juga memiliki lingkungan yang baik, lingkungan sekolah, teman di luar sekolah hingga akhirnya bekerja di perusahaan sendiri.
Kita selalu dilayani, kita memiliki uang yang cukup dan semua hal yang kita perlukan dapat segera tersedia hanya dalam beberapa kalimat.
Tapi di luar sana, kalian akan tercengang ketika melihat bagaimana seseorang kelaparan, bagaimana seseorang begitu takut menghadapi hari esok, karena merasa tak ada jalan selain rasa lapar.
Aku pernah menemui seorang gadis dulu sekali saat aku pergi berkelana ke luar negeri untuk mencari ilmu hitam, gadis itu aku temukan pada suatu desa di suatu negara. Gadis itu berjalan dengan lemah dan gontai, lalu iseng aku bertanya, kenapa dia sangat murung. Gadis itu hanya diam, sepertinya tak percaya padaku, karena aku orang asing.
Lalu aku tersenyum dan berkata sekali lagi, kalau aku hanya ingin membantu, instringku, dia sedang kesulitan, karena negara yang aku datangi itu adalah negara yang terkenal dengan kemiskinannya.
Lalu anak itu akhirnya berkata, bahwa dia telah berjalan menempuh perjalanan yang jauh, hanya untuk sekedar meminjam beras untuk makan adik dan ibunya, karena ibunya sedang sakit dan adiknya baru berumur 5 tahun, sedang dia sendiri kutakar mungkin berumur sekitar 12 tahun.
Tapi sayang, sejauh apapun dia berjalan, yang dia dapatkan pemandangan yang sama, kemiskinan yang sama, sehingga rasanya mustahil mendapatkan bantuan, sedang semua orang juga butuh bantuan.
Karena itu aku membantunya, memastikan keluarganya cukup makan selama seminggu ke depan dan membantu beberapa rumah lain di sekitar sana yang benar-benar butuh.
Tanpa dana sokongan dari orang tua, mereka tidak mendapatkan lingkungan yang baik, dihina itu seperti sebuah keseharian yang harus mereka hadapi, tak ada uang, tak ada wajah untuk ditengadahkan sekedar berkata tidak pada setiap hinaan.
Setiap hari dihina, lama kelamaan kau akan semakin yakin bahwa dirimu memang hina.
Maka dari kita tak berhak menghina Har, dia seperti itu karena dia akhirnya dapat mencicipi apa yang kita rasakan selama ini Har, bahwa uang mampu membuat orang jadi dilihat, didengar dan diperhatikan, selama ini mungkin mereka merasa dibuang, merasa dihina, merasa tak diperhatikan, hanya karena tak memiliki uang.
Aku tidak sedang memaklumi tindakan pencurian ruh ini, aku hanya ingin kalian tidak memandang rendah mereka, pahami, jadikan pelajaran, buka mata kalian, disekeliling kita, banyak sekali anak yang mungkin belum makan seharian, tapi tak berani bilang karena malu, jangan pernah sekali pun menghina kemiskinan Har, karena itu adalah sebuah kejahatan yang sangat menyayat, mereka tak punya apapun untuk diberikan pada dunia, selain rasa sakit yang mereka sembunyikan.” Alisha berkata panjang lebar, karena Hartino sepanjang jalan terus saja menghina prilaku wanita itu, istri dari tukang becak.
“Aku juga berpikiran seperti Har, Alisha, maaf, walau ayahku supir angkot, dulu aku pikir begitu, tapi dia tak pernah sekali pun tidak memenuhi kebutuhan kami, makan kami cukup, pendidikan kami juga baik dan pergaulan kami dipantau dengan ketat, aku hidup dengan baik.
Maka mungkin benar tindakan ayahku, mengajarkanku dan Dita hidup bersama orang-orang yang tidak seberuntung kita, karena dari sana kita banyak belajar untuk lebih menghormati orang lain, walau mungkin mereka salah, tapi jangan lupa, kita juga bukan orang yang selalu benar, maka ada baiknya, jangan pernah menghakimi kalau tidak bisa bantu.
__ADS_1
Sama seperti istri tukang becak itu, istri supir taksi juga memiliki emas batangan yang diberikan dari koperasi fiktif, seorang wanita memberikannya, padahal jelas bahwa itu hanya kebohongan, entah apa yang akan terjadi jika saja mereka tahu tentang suaminya.”
“Sekarang yang kita perlu lakukan tetap menunggu, menunggu Jarni memberikan tanda untuk bersiap menyerang, karena aku tidak yakin jika dilakukan pada saat yang tidak tepat, rencana kita akan berhasil.” Alka berkata dengan sedih, karena waktu Jarni dan Ganding di terowongan itu sungguh akan semakin lama.
“Yang aku heran, kenapa kita merasa lemas saat mendekati terowongan itu, apakah memang benar alasannya karena dia pencuri jiwa, makanya jiwa kita yang datang ke dalam dimensinya akan merasa lemas, karena jiwa kita bisa jadi akan menjadi santapan bagi Ratu Gandarwi, maka mungkin ada jalan keluar untuk segera masuk, misalnya dengan cara lewat pintu belakang, tentu kalian paham maksudku, bukan?” Ami tiba-tiba memiliki ide gila.
“Pintu belakang, lau menyergap maksudmu?” Aditia bertanya.
“Ya, jangan memaksa masuk ke sana dari pintu depan, bagaimana kalau kita berputar dulu? tunggu saat waktu yang tepat, pintu lain kan banyak? kenapa kita hanya fokus pada pintu itu saja?” Ami mengulang lagi, semua orang terlihat sangat senang karena tahu maksud Ami.
…
Malam tiba, Gandarwi terlihat sangat gusar.
“Ada apa Ratu?” Jarni bertanya.
“Baik aku maupun kau tidak bisa keluar dulu untuk mengambil korban karena kita sama-sama sudah ditandai, aku tidak merasakan energi mereka kemarin, tapi aku ternyata mereka berhasil menyergapmu, aku yakin mereka mengawasi kita di suatu tempat, makanya kita tak bisa mengambil korban.”
“Kenapa tak kau biarkan aku mengambil korban lagi Ratu?” Jarni bertanya, tentu ini hanya bualan, karena Jarni ingin menambah kepercayaan Ratu itu pada loyalitasnya.
“Tidak jangan, aku tidak mau kau ditangkap mereka dan akhirnya tidak kembali padaku, bagiku, kau jauh lebih berharga dibanding semua ruh yang ada di sini, karena kau memiliki sumber kekuatan yang tak habis dengan cepat di tubuh itu, jika tubuh itu tak berguna lagi, maka jiwamu akan aku keluarkan dan kita akan cari tubuh yang lebih baik dari tubuh ini, tentu lebih cantik.”
“Terima kasih atas kemurahan hati yang Mulia, aku sungguh tak dapat berkata apa-apa lagi, beruntung sekali aku memilihmu Ratu.” Jarni membual, karena juga sebenarnya jijik mengatakan itu, tapi harus untuk sekedar menjilat jin tua ini.
“Kita akan tungguh besok lagi, kita akan mencari korban besok, kau dan aku akan keluar besok. Kita akan hadapi mereka bersama, bagaimana kalau habisi beberapa orang dari kelompokmu, pasti menyenangkan mencuri jiwanya.”
Jarni tersenyum, bukan karena akan berburu besok, tapi Ratu akan masuk dalam perangkapnya.
__ADS_1