Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 486 : Nyebrang 18


__ADS_3

“Kalau begitu, kalian pasti akan berhasil kan? niat kalian baik.”


“Niat kami baik, maka Tuhan akan bantu, tapi bagaimana jika, niat dari tempat ini juga ... tidak jahat? Maka menurut Wak Eman, yang mana Tuhan akan pilih? Kami ... atau mereka?” Alka tiba-tiba merasa khawatir.


“Maksudmu?”


“Entahlah, ini terlalu lama, kawanan tidak pernah tersesat sama sekali, suara batinku tidak bisa tembus ke sana, jadi mungkin memang ada campur tangan Tuhan untuk menjaga tempat ini, bagaimana jika Tuhan memang memberi izin agar tempat ini tetaplah menjadi seperti ini, bagaimana jika ... tempat ini memang tidak boleh kita jamah dan bukan bagian dari kasus yang harus diselesaikan, kenapa catatan bapak juga hanya menulis kalimat ... perhatikan sawahnya, jangan jalannya. Apakah maksudnya adalah ... kami harus diam dan tidak ikut campur?”


...


“Semuanya sudah membaik, tapi kenapa serangan itu tetap saja berdatangan, Man?”


“Fitnah itu memang telah selesai Ep, tapi musuh-musuhmu masihlah hidup. Ingat ini Ep, kita bahkan belum menemukan wanita itu kan, Ep?” Eman mengingatkan bahwa mereka belum menemukan wanita si penyebar gosip itu.


“Entahlah, aku tidak begitu ingin tahu, mungkin saja dia dukun dari begitu banyak musuh ayah kami, aku tahu tujuan ayahku baik, dia ingin dukun tidak berkembang dan masalah ghaib bisa ditanggulangi, tapi sekarang dia menyusahkan anak cucunya. Kami jadi kesulitan menjalani hidup normal karena warisan permusuhan ini.”


“Tapi Ep, ayahmu sudah meninggal dunia, janganlah kau ungkit lagi dosanya.”


“Kau memikirkannya, lalu siapa yang memikirkan aku, aku lelah Man, lihat ini.” Aep memperlihatkan tangan yang dia tutupi dengan kaus tangan panjang. Rupanya tangan itu gosong.


“Ep, kok bisa! Kita harus ke rumah sakit!” Eman khawatir.


“Percuma, belum sembuh juga akan terbakar lagi, mereka mengirim semakin banyak bola api, mereka pintar, mengejarku, bukan adikku, biarpun aku memiliki Sabdah Zaid, tapi ... aku tidak benar-benar bisa mengendalikannya, aku tidak akan melakukan seperti keinginan mereka.


Mereka pasti inginnya aku untuk bisa dikendalikan Sabdah Zaid dan akhirnya mereka bisa mengendalikannya melaluiku yang lemah ini.


Aku muak dan lelah, aku sudah kesakitan seperti ini tapi mereka masih belum berhenti.”


“Hubungi adikmu ya?” Eman tidak punya cara lain.


“Aku mendengar kabar kalau dia juga sedang banyak masalah terkait anaknya yang seorang Kharisma Jagat, anak itu pasti juga sedang diincar oleh dukun dan para tetua garis keras pernikahan adat, kau ingat kan, kalau dia tidak menikah dengan jodoh adatnya, tapi menikah dengan orang wanita biasa, bukan seorang Kharisma Jagat, anak yang dilahirkan istrinya pasti menjadi incaran, walau dia berhasil lolos dengan menjadi Kharisma Jagat termuda, yaitu satu hari setelah lahir, tetap saja, pasti banyak orang yang mencari celah untuk membuatnya menderita, sepertiku.”


“Lalu kau maunya bagaimana?”


“Aku akan melakukan perlawanan terakhir.”


“Maksudmu, Ep?”


“Aku akan melepaskan Sabdah Zaid, aku akan menantang dukun itu, aku akan berkelahi dengannya, Sabdah Zaid akan aku keluarkan, tapi aku butuh bantuanmu.”


“Apa? apapun!” Eman tahu, temannya takkan pernah mencelakainya, kalau butuh pertolongan pasti adalah sesuatu yang sangat dia butuhkan, karena Aep jarang sekali meminta tolong.


“Aku ingin kau bertarung bersamaku.”


“Aep! Aku berjanji akan membantu apapun itu, tapi kalau bertarung, kau gila! aku takkan bisa membantu, aku akan mati sebelum kalian semua bersiap, aku hanya orang biasa yang ....”


“Aku akan membuka mata batinmu, setelah itu aku hanya ingin kau untuk membantuku melihat mereka, bantu aku untuk memastikan penglihatanku tidaklah salah, karena aku akhir-akhir ini memiliki penglihatan tentang anak dan istriku yang datang ke sini, aku takut, mereka mencoba untuk mengelabuiku, makanya aku butuh kamu, aku yakin sekali kalau mereka pasti akan menggunakan orang yang paling aku sayang untuk melemahkanku dan merebut kembali Sabdah Zaid.”


“Ep, maaf, tapi bukankah anakmu sudah meninggal sebelum sempat dilahirkan?” Eman bertanya.


“Betul sekali, tapi dalam penglihatanku itu, istriku datang dengan membawa anak kami, anak itu sangat mirip denganku, aku bahkan merasakannya, aku benar-benar merasakan bahwa anak itu adalah anakku, makanya aku yakin, mereka telah berhasil menggendamku.”


“Oh begitu, baiklah, tapi apa yang bisa aku lakukan dengan tubuh yang lemah ini, Ep?” Eman bertanya.


“Kau bisa membantuku untuk ....”


“Baiklah, akan aku lakukan.”


...


“Kau yakin akan ke sana? Apakah kau bisa menemukan mereka? apa kau butuh kendaraan juga? motor gitu?” Eman bertanya pada Alka.

__ADS_1


“Aku akan mencoba masuk malam ini, aku akan mencoba menemukan mereka dengan kakiku, aku tidak perlu kendaraan, akan menjadi masalah jika kau juga terjebak dengan motor itu, aku akan dilempar keluar begitu bensinnya habis.”


“Ya, masuk akal. Lalu apa yang bisa aku bantu?”


“Bantu saja doa, Wak. Aku berharap mereka baik-baik saja di sana. Karena aku tak bisa merasakan energi mereka sama sekali.


Aku hanya takut kalau mereka telah menyebrang begitu jauh, entah di mana dan ke mana, lalu kenapa mereka tak menghubungi, kalau perkara habis baterai HP mereka, mereka punya uang untuk segera membeli HP yang baru atau sekedar mengisi daya di tempat penyewaan power bank, kukira itu sudah menjamur.


Tapi kalau mereka tak menghubungiku, berarti, mereka memang terjebak. “


“Baiklah kalau begitu, aku ikut boleh?” Wak Eman bertanya pada Alka.


“Tapi Wak, itu akan sangat berbahaya, karena di sana aku tidak tahu ada apa.”


“Buka saja mata batinku, lalu setelah itu aku akan menemanimu di sana, aku tak ingin khawatir di sini sendirian, aku akan persiapkan persedian untuk kita selama 3 hari, aku pikir cukup. Bagaimana?”


“Itu bagus, Wak. Tapi, aku ingatkan lagi ya, kalau kita akan menemukan banyak hal berat di sana, bisa jadi Wak Eman tidak pernah lihat sebelumnya, maka dari itu, aku harap Wak Eman harus menguatkan diri untuk bisa ikut denganku.”


“Baiklah, aku akan memberanikan diriku untuk ikut ke sana, aku tidak ingin meninggalkan kalian sendirian, itu saja.”


“Kalau begitu mari kita bersiap.” Alka beranjak dari saung itu dan mempersiapkan apa saja yang mereka butuhkan untuk ke sana.


...


“Bensin sisa sedikit lagi, setelah ini, kita akan keluar, bensin sudah habis, tidak ada sisa jerigen,begitu juga dengan makanan, aku bahkan tak ingat kita makan kapan dan kenapa makanan berkurang,itu berarti kita makan setiap kali sadar bensin habis.” Aditia berdiskusi dengan mereka semua.


“Kemungkinan kita sudah di sini sekitar 4 atau 5 hari, karena jumlah makanan itu, kemunginan kita hanya makan satu kali sehari, setiap bensin hampir habis, aku takar, bensin itu habis setelah satu hari kita gunakan tanpa sadar dan selalu ingat 10 menit saja. Lalu aku ingat Wak Eman memberikan persediaan makanan untuk 7 hari dengan jumlah makan satu kali setiap harinya, sedang sisa dari makanan ini adalah 3 bungkus, sekarang bensin hampir habis, jika kita makan lagi sekarang, maka sisa persediaan makanan adalah tinggal untuk 2 hari lagi, maka benar kataku, kemungkinan kita di sini 4 atau lima hari.” Ganding mengatakannya dengan penuh perhitungan, walau mungkin pehitungannya tidak benar-benar tepat.


“Kalau sudah selama itu, Alka pasti sedang cari cara untuk masuk, sedang kita ....”


“Akan keluar, karena bensin habis, parahnya, kita belum menemukan apapun di sini, kita harus apa? jika dia masuk, maka kita akan terus diputar-putar oleh apapun yang ada di sini.”


“Kalau begitu, kita tunggu Alka di sini, kita makan dulu, dia pasti membawa bekal makan juga, dia gadis pintar, pasti sudah bersiap dengan segala kemungkinan bergitu masuk.”


...


“Wak Eman sudah siap?” Alka bertanya.


“Ya, aku sudah siap.”


“Kalau begitu, aku akan buka mata Wak Eman ya, setelah itu, kita akan masuk, sekarang sudah pukul satu malam.” Alka mengingatkan bahwa mereka harus segera masuk ke sana. Alka merasakan zona ghaib itu sudah mulai terbuka.


Alka membuka mata batin Wak Eman dan mulai berjalan ke jalan persawahan itu.


Kakinya melangkah di antara dua jalan, jalan nyata dan ghaib.


Begitu kakinya melangkah, dia langsung berlari masuk, dia bermaksud mencari kawanan, tapi begitu sudah lari agak jauh, dia baru sadar sesuatu.


“Wak! Wak! Wak!” Alka tidak melihat Wak Eman, dia lupa, kalau tadi dia berlari dengan sangat kencang, kecepatan larinya di dunia ghaib memang berbeda, menjadi lebih cepat karena sedikit melayang, zona ghaib adalah daerah yang dia kuasai. Jadi pasti Wak Eman tertinggal di jalan ini.


“Waduh gawat, kalau sampai tersesat, dia tak punya bensin sebagai jalan keluar, dia berjalan kaki, Alka pucat karena dia bisa saja membuat Wak Eman jadi celaka, saat dia berlari berbalik hendak mencari Wak Eman, dari arah sebaliknya ada suara.


“Alka! Kenapa kau malah lari balik lagi?”  Wak Eman tergopoh-gopoh berlari, rupanya dia mengikuti Alka dengan susah payah dari belakang.


“Maaf ya Wak, tadi saking buru-burunya aku langsung berlari saja, lupa kalau lariku sangat cepat, sekarang ayo kita jalan saja.” Alka takkan mengulangi kesalahan lagi.


“Tak apa, tadi aku berlari mengejarmu dari belakang, kau cepat sekali, seperti berlari tapi melayang, lalu tak lama kau malah berbalik, sepertinya kau tak lihat aku, makanya ketika aku akhirnya memanggilmu, kau baru sadar.”


“Ya, ayok, Wak.” Alka lalu mengajaknya untuk bertemu kawanan.


Mereka terus berlari, lalu dari kejauhan ada seseorang yang berlari ke arah mereka, dia terlihat sangat lemah, entah siapa.

__ADS_1


Saat sudah mendekat, dia lalu menangis dan terduduk.


“Akhirnya aku menemukan orang lain, tolong aku, kalian terjebak juga?” Orang itu bertanya.


“Apa maksudmu?”


“Kalian terjebak juga di jalan persawahan ini kan? aku juga, sepertinya aku terjebak sudah semalaman, aku belum mendengar adhzan, jadi kemungkinan ini belum berganti hari. Ayo kita jalan terus supaya bisa menemukan jalan keluar.” Lelaki itu, yang entah siapa, menarik tangan Alka, tapi Alka lebih kuat, dia tanpa bergeser, menarik kembali tangan pria itu, pria itu jatuh karena tarikan kembali itu.


“Kasih tahu dulu, namamu siapa?” Alka bertanya.


“Aku, aku adalah warga desa, namaku Didin.”


“Didin? Didin kau ... kau ... kau sedang apa di sini?”


“Aku akan kabur bersama kekasihku, tapi ... tapi dia entah hilang di mana, makanya aku ingin kalian ikut denganku.”


“Wak, kau kenal dia?”


“Tidak, aku tidak kenal secara langsung, tapi kisah mereka kau tahu kok, ingat pasangan yang aku bilang kabur karena tidak direstui dan diketemukan meninggal dunia? Ini adalah dia, lelaki itu, kemungkinan dia belum sadar kalau telah meninggal dunia.”


“Oh ya, aku ingat, tapi, aku tidak merasakan energi jiwa tersesat sama sekali dalam tubuhnya.”


“Mungkin kekuatanmu tumpul karena kau di zona ghaib, kau ingat kan, kalau zona ghaib itu seperti rumah bagimu, kau bertemu dengan jin sepertimu, jadi kekuatanmu mungkin tumpul, sedang di alam manusia, energi jinmu menjadi kuat, karena kau berada di alam yang berbeda, bukan rumahmu.” Wak Eman menjelaskan.


“Bisa jadi Wak, oh ya Didin, kau mau bawa kami ke mana?” Alka bertanya.


“Aku akan bawa kita keluar, tapi aku juga harus menemukan kekasihku dulu.”


“Baiklah, kita akan mencoba mencari kekasihmu, tapi kau bantu aku cari juga kerabatku ya, mereka ada di sini juga, mengendarai angkot.”


“Ah, angkot! Aku pernah melihat samar dari jauh, saat aku hendak mendekati, mereka selalu jalan terus, aku tidak bisa mengerjarnya.”


“Kau lihat di mana?” Alka bertanya.


“Di sana!” Didin hanya menunjuk saja, dia tak benar-benar paham arah.


“Kalau begitu mari kita jalan saja.” Alka memberi kode pada Wak Eman agar dia tidak memberitahu soal diri Didin yang sebenarnya, Alka akan membujuknya keluar dari tempat ini jika sudah bertemu kawanan, sekarang yang terpenting adalah menemukan kawanan.


Mereka terus bejalan sementar kawanan sudah menunggu Alka dan tidak melajukan lagi angkotnya.


“Itu apa?” Alka bertanya, karena dihadapan mereka, ada sesuatu di tengah jalan.


Alka berlari mendekatinya, Didin dan Wak Eman juga ikut mendekatinya.


“Astagfirullah!” Alka terkejut, ternyata tubuh seorang manusia, tanpa kepala dan kaki, hanay badan dan tangannya saja.


Didin melihat itu langsung muntah-muntah, sedang Alka mendekatinya, Didin dan Wak Eman menjauh.


Tubuh ini seorang tubuh wanita, tubuh ini walau tak utuh, tapi masih memakai pakaian, jadi terlihat jelas, itu pakaian wanita, potongan tubuh ini hampir membusuk, lalu Alka mendekati potongan tubuh, dia bermaksud memenganya, karena ingin tahu, ini potongan tubuh yang benar atau hanya manekin.


Tapi saat dia hendak memegangnya, tiba-tiba ada sesuatu yang menggelinding, Alka dengan tenang melihatnya  dan itu adalah ....


“Jangan pegang tubuhku.” Kepala seorang wanita dengan rambut yang cukup panjang, kepala itu menggelinding mendekati tubuhnya, dari kejauhan ada sesuatu yang berlari, itu adalah ... sisa tubuh dari perempuan ini, kakinya yang terpisah, berlari mendekati tubuh dan kepala itu.


Tubuh mereka menyatu satu demi satu dan menjadi kesatuan yang utuh. Wanita itu tertawa setelah berhasil menyatukan tubuhnya.


Wak Eman heran, kenapa kok Didin tiba-tiba tertawa, Wak Eman menjauhinya, Alka mendekati Wak Eman, takut kalau Wak Eman dikerjai.


Didin yang tadi terlihat ketakutan lalu tiba-tiba tertawa dan ... satu persatu tubuhnya lepas, lepas menjadi beberapa bagian, kepalanya putus tapi masih dalam keadaan tertawa terbahak-bahak.


“Ini apa!” Alka bingung, dia tidak takut, tapi bingung harus menghadapi mereka seperti apa?

__ADS_1


__ADS_2