
“Ketika itu, aku percaya bahwa apa yang dikatakan tetanggaku benar, seorang anak bisa dikendalikan hanya dengan minuman khusus. Aku memberikan anakku kopi susu itu, aku pikir aku membarinya minum untuk kebaikan, tapi aku salah. Ternyata aku memberinya racun.” Ibunya Bagus mulai menjelaskan dengan terisak.
“Lanjutkan.” Aditia berkata.
“Aku mendapatkan bahannya, katanya kopi susu itu memang dimantrai untuk mengendalikan kenakalan atau penyimpangan pada seorang anak, semakin kecil anak itu, semakin baik. Karena kalau sedari kecil anak sudah dikendalikan kenakalannya, kelak dia akan menjadi anak yang membanggakan.
Awalnya aku pikir kopi susu itu ebnar membawa perubahan pada Bagus, dia menjadi anak yang jauh lebih aktif dari biasanya, dia selalu saja mengurung diri di kamar sebelumnya, kelakuannya terlalu lembut untuk dianggap sebagai anak lelaki.
Kami sekeluarga takut kalau dia akan menjadi anak yang menyimpang kalau dia dibiarkan begitu saja, makanya ketika dia akhirnya berubah, kami sangat bahagia, karena kami pikir Bagus akan berubah menjadi lebih baik.
Tapi kami salah, Bagus memang berubah tapi semuanya berlebihan, dia jadi sangat suka main bola, memaksakan diri, kelelahan dan akhirnya jatuh sakit.
Kami yang saat itu merasa janggal, ditutupi oleh rasa takut jika kelak Bagus akan menjadi anak yang membuat kami malu, maka kami abaikan saja, semua hal yang kami pikir janggal.”
“Apa saja kelakuan janggal itu?” tanya Aditia.
“Salah satunya, dia selalu ketakutan, entah apa yang membuatnya takut, pernah sekali waktu dia bilang bahwa ada seorang anak yang sangat mengerikan membawanya ke luar rumah pada malam hari, aku pikir dia kelelahan makanya tidak kugubris.
Walau terkadang aku merasa ada orang lain di rumah, kadang aku merasa saat rumah kosong, ada seseorang yang mengawasiku, tapi aku kira itu hanya pikiranku saja.
Hingga ....”
“Hingga apa?” Aditia bertanya dengan penasaran, begitu juga yang lain.
“Hingga akhirnya pada malam itu, malam di mana Bagus terakhir kali tersadar, aku bermimpi. Mimpi itu begitu mengerikan.
Aku melihat anakku di bawa oleh sesosok anak kecil yang mengerikan, seluruh tubuhnya menghitam, wajahnya hancur dan anak itu menarik Bagus dengan paksa.
Aku berteriak, memanggilnya, aku berlari mengejarnya, aku tidak ingin sampai Bagus benar-benar dibawa pergi.
Saat sudah bisa menggapainya, aku menarik Bagus dengan sekuat tenaga, tapi sayang, tenaga anak mengerikan yang membawanya sangat kuat. Hingga membuatku tidak mampu melindungi anakku.
Bagus ditarik ke luar rumah tanpa membuka pintu, mereka menembus pintu, aku histeris karena aku tidak bisa membuka pintu rumah saat itu, aku hanya melihat anakku menghilang, anakku yang sanat penurut dan baik itu.” Ibunya melihat wajah Bagus dengan sedih.
__ADS_1
“Lalu setelahnya?” Aditia meminta ibunya Bagus untuk meneruskan ceritanya lagi.
“Setelah malam itu, Bagus tidak bangun lagi, kami membawa ke rumah sakit ini, tapi tidak diketemukan sakit apapun, Bagus hanya seperti tertidur pulas, kami sudah pergi ke berbagai alternatif yang katanya bisa menyembuhkan penyakit semacam ini, tapi tidak ada yang bisa membangunkannya, sementara aku mencoba mendatangi dukun itu lagi, aku pikir saat itu, mungkin dia bisa menolong, aku tidak berpikir sama sekali bahwa dukun itu adalah penyebab Bagus koma.
Saya benar-benar tidak curiga pada dukun itu, aku mencari tetangga yang pernah mengantarku ke sana, tapi tidak ada yang kenal tetangga itu, aku menyebutkan nama dan ciri-cirinya tapi benar-benar tidak ada yang mengenalnya sama sekali.
Saya akhirnya mencari rumah dukun itu sendiri, aneh, saya lupa di mana rumah dukun itu berada, saya terus mencoba mengingatnya, tapi tetap saja tidak ketemu. Saya putus asa, sementara keluarga kami mulai berantakan, semua orang bingung kenapa Bagus bisa sakit aneh seperti itu. Laporan medisnya baik tidak ada yang salah dengan tubuhnya sama sekali.
Hingga akhirnya pria itu datang, namanya Mulyana, dia meminta kami merawat Bagus di rumah sakit ini, Bagus tidak boleh keluar dari kamar ini sama sekali, kami juga dilarang menemui dukun manapun atau pun praktisi alternatif siapapun, karena itu akan membahayakan Bagus.
Mulyana bercerita bahwa ... jiwa Bagus dibawa pergi, tapi Bagus masih beruntung karena dia koma, bukannya ... meninggal.” Ibunya Bagus kembali menangis.
“Pak Mulyana atasan kalian kan?” Ayahnya Bagus mengingatkan lagi, sesuatu yang bohong sebenarnya, tidak sepenuhnya kebohongan, karena Mulyana memang pemimpin mereka dalam kasus ghaib.
“Iya benar.”
“Mulyana bilang bahwa Bagus telah meminum ramuan yang telah diguna-gunai, tujuannya untuk membawa jiwa Bagus, tapi dia tidak tahu untuk diapakan jiwa itu. Mulyana sering sekali datang dulu, memastikan tidak ada yang mencelakai Bagus lagi, kami tidak tahu apa atau siapa yang mengincar anak kami, tapi kata Mulyana, mereka tidak terlihat, tapi sangat berbahaya, makanya Bagus tidak boleh keluar dari kamar ini sama sekali, siapapun baik Dokter ataupun Perawat, tidak pernah akan meminta Bagus untuk keluar, kalau ada yang minta melakukan kami melakukan itu, kami harus dengan tegas menolak, karena katanya, Mulyana sudah memastikan bahwa, tidak akan ada yang meminta Bagus untuk melakukan itu.”
“Bapak sudah meninggal, makanya dia tidak bisa ke sini, kami akan meneruskan perjuangannya, kami akan cari cara agar dukun itu ketemu.”
“Ya, dukun itulah penyebabnya, Mulyana bilang kalau bukan anak kami saja yang menjadi korban, tapi kami beruntung, Bagus masih bernafas walaupun koma.” Ayahnya melanjutkan lagi dengan wajah sendu.
“Boleh saya mendekat?” Alka meminta izin mendekati Bagus, Alka meminta Aditia untuk ikut, sementara Ganding dan Jarni berusaha mengalihkan perhatian orang tuanya Bagus setelah mendapat izin, karena Ganding tahu, kalau Alka hendak mendapatkan proyeksi dari tubuh Bagus yang kosong itu. Sedang Aditia dibutuhkan untuk melindungi Alka, takut kalau Alka tertarik terlalu jauh, Alka khawatir, orang ini bukan dukun biasa, dukun-dukun dengan ilmu rendah tak akan mampu membawa ruh anak sebanyak itu.
Alka memegang tangan Bagus, sementara Aditia memegang tangan Alka. Mereka berdua memejakam mata.
“Bagus ....” Alka memanggil Bagus, tentu tidak terdengar, karena Alka memanggilnya dalam ruang di mana tubuh dan jiwa terkoneksi. Biarpun telah lepas dari raga, setiap jiwa masih bisa dipanggil, asal tubuhnya masih hidup, dipanggil tapi tidak bisa ditarik, hanya komunikasi melalui jalur ghaib yang bisa dilakukan, tapi bisa jadi membantu melacak keberadaan jiwa itu, semacam komunikasi dengan telepon rumah, pesawat teleponnya adalah tubuh yang memberikan sarana untuk berkomunikasi, lalu line teleponnya adalah Alka yang menjadi koneksi antara si penelpon dan yang menerima telepon, sedang si penerima telepon adalah jiwa Bagus yang entah berada di mana, hanya sebatas itu mereka bisa berkomunikasi. Bagus akan bsia mendengar suara Alka karena Alka memegang tubuh Bagus untuk berkomunikasi dengan jiwanya yang entah di mana.
“Bagus ....” Alka kembali memanggil.
Pada panggilan ke lima akhirnya ada jawaban, seorang anak yang menangis.
“Bagus, apa itu kamu?” Alka memanggil.
__ADS_1
“Kamu siapa?” Ada jawaban, Alka tidak bisa melihat tubuh itu tapi bisa mendengar suaranya.
“Bagus ini Alka, aku disuruh orang tuamu untuk memanggilmu kembali.”
“Orang tuaku? Ayah dan ibuku? Memang mereka masih sayang padaku?” Pertanyaan yang mengiris hati
“Tentu saja, mereka menjaga tubuhmu tetap hidup, karena mereka sudah tahu dan paham, jiwamu lepas raga.
“Bohong, kata teman-temanku ayah dan ibuku jahat, mereka nggak mau ada aku, makanya mereka mengirimku ke sini.”
“Teman-teman? Apakah teman-temanmu seumuran denganmu?” Alka bertanya lagi.
“Tidak seumuran, tapi semua masih anak-anak, paling besar kak Ani.”
“Ani! Kau mengenalnya?” Alka berteriak karena antusias.
“Iya, dia yang paling baik, aku tidak suka di sini, aku ingin bertemu ibuku, tapi katanya ibuku tidak mau aku di rumah.”
“Bagus dengar kakak, kamu bisa jelaskan nggak, kamu di mana?” Alka bertanya pada intinya.
“Aku dirumah Mbah.”
“Mbah? Mbah siapa?”
“Mbah ... Aku harus pergi! Aku tidak bisa bicara, nanti mereka akan menyiksaku lagi karena aku tidak mau menuruti mereka, aku harus pergi.” Hening, Alka kembali ke tubuhnya.
“Kau mendengarnya Dit?” Alka bertanya.
“Ya, aku melihatmu bicara dengan anak itu, aku tepat di belakangmu tadi.” Aditia menjawab.
“Aku tahu caranya melacak mereka Dit, aku tahu, kita harus segera ke markas, ada yang harus kita lakukan.” Alka dan semua orang akhirnya pamit kepada orang tua Bagus.
Alka terlihat sangat buru-buru, rupanya dia sudah mendapatkan jalan yang bisa membawa mereka mendekat pada dukun itu.
__ADS_1