
Alka mengejar sekeliling kamar jin yang mash menggendong dan memaksa Aditia menyusu padanya. Aditia menangis dan itu membuat Alka resah.
Dia melewati banyak jin lain yang ingin melihat wajah si kasep. Kharisma Jagat termuda dalam sejarah perghaiban. Tidak ada satupun orang tua yang berstatus Kharisma Jagat akan mewariskan status tersebut pada bayi yang baru saja lahir, umurnya hanya baru beberapa jam dan dia sudah dijadikan Kharisma Jagat. Itu Membuat dunia ghaib bergejolak.
“Alka sudah! cukup.” Mulyana melihat kawanan jin sekutu itu sudah tumbang semua, bahkan jin yang menggendong Aditia sudah kalah tapi tetap tidak mau memberikan Aditia pada Alka.
Alka masih menyiksa jin itu dan Mulyana akhirnya turun tangan. Dia menangkap Alka dan mengikatnya kembali dengan rantai ghaib lalu mendudukannya di dekat kasur.
Mulyana meminta anaknya kembali dari jin itu.
“Kalian, kalau datang bertamu, pakai adab yang baik, jangan rombongan lalu seenaknya mengambil anakku. Tuannya nggak mau keluar nih?” Mulyana memanggil tuan para Karuhun yang bergerombol datang ini.
Para Kharisma Jagat muncul dalam dimensi ghaib, mereka tertawa terbahak-bahak melihat Karuhunnya tumbang oleh serangan satu Karuhun milik bayi yang baru lahir itu.
“Kalian senang sekali melihat Karuhun kalian tumbang.” Mulyana kesal, karena kawanan Kharisma Jagatnya bertamu dengan cara yang aneh. Menyuruh Karuhunnya menculik Aditia dan memancing Mulyana masuk ke dimensi lain. Karena Mulyana dapat mengenali Karuhun kawanan, tentu saja dia santai menghadapinya, walau sempat kesal ketika Aditia dipaksa menyusu dari jin yang sangat terobsesi menjadi ibu. Bercandanya sudah keterlaluan hingga membuat anaknya menangis menjerit. Sebelum Mulyana memberi pelajaran, Alka ternyata malah menerobos dimensi ini untuk menyelamatkan tuannya.
“Kau lebih gila lagi Yan, menjadikan anak baru lahir sebagai Kharisma Jagat, lalu menjadikan anak setengah jin dan setengah manusia sebagai Karuhunnya. Dari dulu kau memang pembangkang, tapi yang ini, sungguh di luar nalar.” Ucap salah satu Kharisma Jagat yang memiliki Karuhun berbentuk kuda tanpa kepala.
Kamar Mulyana dalam dimensi menjadi penuh sesak. Alka diikat, sementara Karuhun lain sedang kesal melihat betapa brutalnya serangan barusan.
Para Karuhun akhirnya pamit untuk istirahat, sedang Kharisma Jagat berkumpul untuk sekalian berbincang selain menjenguk Aditia yang baru lahir.
“Siapa nama anakmu Yan?” tanya salah satu Kharisma Jagat.
“Hmm, aku ingin anakku menjadi bijaksana kelak ketika harus mengemban tugas mengantar jiwa sepertiku, makanya aku beri nama Aditia.Lalu karna semua orang mengatakan kalau dia tampan, maka nama panjangnya adalah Aditia Kamajaya.”
“Hmm, anak lelaki tampan yang bijaksana. Itu kan, maksud nama yang kau berikan?”
“Ya, kau benar.”
“Kami datang memberi kejutan, apakah kau kaget?”
“Mana mungkin aku kaget, kalian semua memegang selendang yang sama dan aroma yang khas dari kawanan, mana mungkin aku kaget. Hanya aku kesal saja, Karuhunmu tadi memaksa menyusui anakku.” Mulyana menegur Kharisma Jagat yang memiliki Karuhun dengan bentuk payudara yang menjuntai panjang dan memaksa Aditia untuk menyusu darinya.
“Maaf Yan, namanya juga Karuhun, mereka kadang suka iseng. Apalagi melihat anakmu yang begitu tampan. Mereka langsung saling berebut ingin menggendongnya.”
“Yan, tapi dari itu semua, sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan.” Seorang Kharisma Jagat lain berkata.
“Ya, ada apa?”
“Kami merasakan getarannya Yan, getaran hebat, ada aroma pandan yang kuat.”
“Kalian menemukannya?!” Mulyana bertanya dengan semangat.
“Belum, belum. Dia bersembuyi dengan sangat baik.”
“Bersembunyi atau disembunyikan?” Mulyana bertanya.
“Entahlah, tapi yang pasti, kita tidak boleh kalah langkah, kita harus menemukannya duluan, karena hanya dia yang bisa membantu kita menuntaskan masalah pernikahan adat ini.”
__ADS_1
“Ya, aku tahu.” Mulyana merenung.
“Satu lagi Yan, sebaiknya kau menambah pagar ghaib di rumahmu. Kita memang sekarang aman dari Mudha Praya, karena status Aditia sudah menjadi Kharisma Jagat. Tapi kita tidak bebas dari jin jahat yang membeci kita, membenci kita yang membantu manusia lain yang dikerjai oleh mereka.”
“Aku tahu.”
“Lalu soal anak itu gimana Yan? anak itu akan kehilangan kemampuannya berpikir jernih, karena dia berbeda dari Karuhun kita yang memang jin, dia setengah jin dan manusia, Lanjo itu bukan penyakit yang bisa disembuhkan. Itu penyakit menahun yang sekali kena akan terus mengendap dalam sanubari penderitanya.”
“Demi Tuhan aku sudah menolaknya sedari awal, tapi aku terpaksa menerima ritual itu, karena tidak punya jalan keluar. Aku tidak ingin memanfaatkan anak itu, tapi dia anak baik yang mencoba bermanfaat untukku dan keluargaku.”
“Kita kunci kalau begitu, dengan simpul seratus tiga belas Karuhun, bagaimana?”
“Bisa saja, tapi itu hanya akan mengurangi efeknya,” Mulyana berkata. Dia sebenarnya bersyukur kawanannya ingin menolongnya terkait masalah Alka.
“Paling tidak dia tidak akan sebrutal itu jika melihat tuannya terluka. Itu terlalu berbahaya Yan. Dia bisa membunuh jin bahkan yang kawan jika tidak suka Aditia disakiti.”
“Alka hanya kan menjadi Karuhun sementara.”
“Kita semua disini tahu, dengan mencabut status Karuhunnya kelak, dia tidak akan sembuh dari Lanjo, dia hanya akan membaik seperti diikat oleh simpul seratus tiga belas Karuhun.”
“Makanya setengah tambah setengah sama dengan satu bukan?” Mulyana sudah memikirkan cara ini sebenarnya saat Alka mengajukan ide menjadikan dirinya Karuhun.
“Maksudnya, setengah penyakitnya akan sembuh begitu status Karuhunnya digantikan oleh Karuhun aslinya, yaitu milikmu. Lalu setengahnya lagi akan sembuh saat setelah statusnya dicabut, lalu kita melakukan ritual ikat simpul seratus tiga belas Karuhun?”
“Ya begitu, jadi dia akan sembuh sempurna, efek Lanjo akan berkurang sampai lebih dari sembilan puluh persen bukan?”
“Masalah umur kan, tidak ada yang tahu.” Mulyana sepertinya memang sudah mempunyai firasat bahwa umurnya tidak panjang.
“Bicara sembarangan kau.” Salah satu Kharisma Jagat kesal dengan perkataan sembarangan Mulyana.
“Ini yang aku mau kalian bantu, ketika akhirnya aku tiada, Karuhunku turun pada anakku, bantu Alka untuk melepas Lanjonya.”
“Kalau dia menolak bagaimana?”
“Kemungkinan itu karena penyakitnya, bukan perasaan tulusnya pada anakku.”
“Kau takut kalau ....”
“Ya, Alka itu sangat cantik, aku takut kalau mereka kelak bertemu, Aditia tidak akan mampu menolak kecantikan itu, ditambah Alka cerdas dan sangat menguasai dunia ghaib dan juga dunia kita, dia bisa menjadi seorang guru yang baik bagi Aditia, tapi tidak sebagai istri.”
“Itu terlalu jauh Yan, kita larang saja mereka bertemu.”
“Takdir siapa yang tahu? Sejauh apapun mereka dipisahkan, maka Lanjo akan menemukan jalannya. Kita sudah melihat banyak kehancuran karena Lanjo bukan? Karuhun serakah memanipulasi manusia menjadi budak mereka, sampai manusia itu tiada, dia tidak sadar hidupnya telah dikendalikan oleh Karuhun yang serakah. Maaf aku egois, aku ingin anakku menikah kelak dengan wanita yang benar mencintainya dengan tulus, bukan karena Lanjo.”
“Kau takut kalau Alka kelak mencintai Aditia karena Lanjonya, bukan karena hatinya yang tulus mencintai anakmu?”
“Ya, karena sudah dapat dipastikan, semua sikapnya ini karena dia Karuhunnya Aditia dan kena Lanjo dalam waktu bersamaan, ketulusannya akan terasa samar. Itu bukan salah Alka karena dia belum bisa mengendalikan, bukan juga salah anakku, jadi aku ingin mereka berdua tidak terjebak dalam cinta yang semu.”
“Tapi Yan, kau kan tahu, Lanjo itu bertahan sampai tuannya tiada. Maksudku, Alka akan menjadi budak yang setia kelak jika mereka akhirnya bertemu dan memutuskan bersama.”
__ADS_1
“Alka bukan budak! dia itu keluarga, kalian harus camkan itu. Makanya aku mau mereka berdua tidak bertemu sama sekali, aku ingin mereka berdua bahagia, bukan saling memanfaatkan. Bukan karna Aditia melihat kecantikan dan kecerdasannya saja, sementara Alka akan tertipu karena Lanjonya, bisa jadi dia tidak benar-benar mencintai Aditia.”
“Yan, walau aku merasa penglihatanmu terlalu jauh, tapi aku setuju, Alka dan Aditia bukan dua orang yang harus bertemu, karena akan banyak kerugian jika mereka bersama.”
Akhirnya semua Kharisma Jagat setuju untuk menjaga amanah begitu Mulyana tiada, Karuhun akan diturunkan sesuai adat, setelahnya Alka akan langsung di tolong untuk diikat dengan simpul seratus tiga belas Karuhun.
Apakah rencana ini akan berhasil kelak? tidak juga.
...
Istri Mulyana bangun, dia tidak sadar telah tertidur lama.
“Mas, kok nggak bangunin aku sih? udah jam tujuh malam ini.”
“Kamu capek sekali sepertinya Dek.”
“Anakku kelaparan pasti.”
“Tidak kok, dia anteng.”
“Yasudah sini, aku beri dia makan dulu, seharusnya dua jam sekali dia menyusui.”
Mulyana memberikan anaknya dan membiarkan istrinya menyusui. Setelah Aditia tertidur pulas, ibunya keluar kamar dan makan bersama suaminya, sudah jam sembilan malam.
“Mas, tadi aku mimpi aneh. Aku merasa anakku hilang, aku kejar tapi tidak terkejar hingga akhirnya Aditia hilang, makanya begitu bangun aku marah-marah tadi.”
“Itu biasa, kau itu baru melahirkan, makanya bermimpi seperti itu.”
“Iya ya? Mas mau aku buatkan kopi?”
“Kamu masih harus banyak istirahat, setelah ini kau tidurlah lagi, kan nanti malam Adit pasti bangun, jadi kau harus gunakan waktu untuk istirahat sebaik mungkin.
“Baiklah Mas.” Istrinya patuh.
Mulyana dan istrinya tidur cukup lelap, lalu pada jam dua malam Aditia bangun dan menangis kencang, sementara istrinya bangun dan hendak menyusui anaknya, tapi ....
“Astagfirullah!” Istrinya melempar Aditia hingga jatuh ke kasur lagi, untung saja ke kasur lagi, bukan ke lantai.
“Dek! Kenapa, kenapa kau lempar anakmu?”
“Dia bukan anakku! Dia bukan anakku!” Istrinya berteriak histeris, dia melihat sekeliling untuk mencari anaknya, karena dia bersikeras, bahwa bayi yang dia lempar barusan bukan anaknya.
“Dia anakmu! Lihat baik-baik.” Mulyana menarik Aditia dari kasur, Aditia sedang menangis karena kaget dibanting oleh ibunya sendiri.
“Bukan! dia bukan anakku, bagaimana mungkin bayi buruk rupa ini kau bilang anakku, anakku tampan dan sangat bersih, bayi ini penuh bulu dan dia tidak menangis tapi dia tertawa dengan mengerikan. Dia bukan bayiku!!!”
Istrinya berlari keluar kamar untuk mencari anaknya, Mulyana menatap Aditia dan terdiam.
“Pasti serangan lagi!” Mulyana bergumam.
__ADS_1