Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 505 : Mulyana 10


__ADS_3

Tapi kau harus hati-hati, apakah ayahmu memberikan benda pusaka untuk menghabisinya?” Lelaki itu bertanya.


“Tidak, aku hanya diberi lilin ini saja, aku tidak dapat senjata.”


“Hah! kalau kau dihajar oleh sosok gelap itu bagaimana?” Lelaki yang baru ditemui Mulyana itu sungguh sangat baik dan perhatian.


“Aku tidak tahu, pokoknya ajak aja dulu.” Mulyana memang hanya anak kecil yang polos.


“Kalau begitu, kau pegang ini, ini adalah jimat yang bisa kau jadikan senjata, ketika kau melihatnya nanti, kau harus melempar jimat ini ya, agar nanti dia bisa lemah, saat lemah itulah kau harus membawanya keluar dari dunia ini.” Lelaki itu adalah penolong yang nyata.


“Terima kasih ya, Kak. Kau sangat baik, untung ada kau.” Mulyana menerima jimat itu dan mereka berdua melanjutkan perjalanan, ke tempat di mana bayangan hitam itu berada.


“Selama perjalanan, kau akan melihat berbagai makhluk ghaib, kau haru tetap berada di belakangku.”


“Tenang Kak, ayahku adalah pengumpul jin, kami punya banyak di gudang, aku sudah biasa.” Mulyana ingin memberi tahu kalau dia tidak akan takut. Sendiri saja tadi dia berani, apalagi berdua seperti saat ini.


“Kalau begitu, ayo jalan terus.”


Mulyana dibawa ke sebuah tempat yang sangat luas, padang ilalang itu sangat tinggi, setinggi pinggang orang dewasa, Mulyana mengikuti lelaki itu dengan terus membawa lilin.


Biar pun tidak segelap sebelumnya, tapi tetap saja, tempat ini tidak terlalu terang, Mulyana merasa seperti berada di waktu senja, di mana cahaya remang matahari menyinari bumi karena hendak pulang ke peraduan.


Mereka mulai memasuki ilalang yang tinggi itu, saat berjalan, Mulyana terkejut, ternyata padang ilalang ini tidak kosong seperti terlihat sebelumnya, di setiap langkah ada ‘mereka’ yang mengawasi Mulyana dan lelaki itu, mereka hanya memperhatikan saja, tanpa bergerak atau hendak menyerang. Walau jarak mereka tidak bisa dibilang aman, jaraknya cukup dekat untuk menyerang.


“Mereka banyak sekali, Kak.” Mulyana bertanya saja.


“Ssstt, jangan berisik, biarkan mereka mengawasi, kita jalan saja.” Lelaki itu menempelkan jari telunjuk pada bibirnya agar Mulyana diam.


Mereka melanjutkan jalan.


“Kak, mereka kenapa menakutkan sekali ya?” Padang ilalang telah berlalu, sekarang mereka melihat sebuah gubuk yang tidak bisa dibilang layak jadi tempat tinggal.


“Ya, karena mereka semua adalah korban dari sosok yang kau lihat itu.”


“Oh ... pantas saja mereka semuanya adalah binatang, jadi binatang-binatang itu, yang kita lihat banyak itu, berbaris dengan melihat ke arah kita berjalan, adalah binatang yang dijadikan korban sosok itu?” Mulyana baru sadar, bahwa semua yang dia lihat memang hanya binatang saja.


“Kata siapa binatang semua?” Lelaki itu  bertanya dengan nada yang serius.


“Ya kan, semua korban dari sosok itu adalah binatang-binatang yang lewat di jalan atas, Kak.”


“Yang hewan dibiarkan berkeliaran di padang ilalang itu, tapi yang korban manusia ... mereka semua di sana.” Lelaki itu menunjuk gubuknya.


“Oh begitu!” Mulyana kaget, dia juga baru ingat, kalau kemarin hampir saja kudanya menginjak tukang delman, tapi keburu diselamatkan ayahnya, jadi kemungkinan dulu-dulu juga ada korban manusia yang secara tak sengaja menjadi korban kebringasan hewan peliharaannya, maka korban itu ruhnya di bawa ke sini. Mulyana mulai paham tujuan sosok itu.


“Kak, lalu kau siapa? apakah kau jin yang memang menghuni dunia bawah? Atau kau ....”


“Salah satu korbannya. Dulu sekali aku lewat jalan atas itu, aku berjalan kaki bersama anjingku. Aku baru pindah ke perumahan di dekat jalan itu karena pekerjaan.  Aku sama sekali tidak tahu, kalau lewat jalan itu akan berbahaya, apalagi aku bersama makhluk yang paling setia, yang sudah dari aku kecil menemaniku, anjingku itu.

__ADS_1


Saat aku melewati jalan atas tiba-tiba anjingku menjadi agresif, dia mulai menggonggong tanpa terkendali. Aku yang biasanya mampu membuatnya tenang dengan memeluk dia, tidak berhasil. Bukannya tenang, anjing itu malah menggigit leherku, tepat saat aku memeluknya.


Aku mencoba melepaskan diri dari anjingku, tapi sayang ... tidak berhasil, dia terus menggigit hingga akhirnya ... leherku robek dan aku tewas di tempat.


Setelah tewas, aku keluar dari ragaku, aku melihat tubuhku terbujur kaku, anjingku lalu dihajar warga saat mereka melihat aku sudah mati di tempat, lalu saat kebingungan karena tidak sadar bahwa aku telah tiada, sosok hitam itu menarikku masuk ke dalam dunia ini. Setelah itu aku tinggal di sini, entah sudah berapa lama.”


“Kau tidak takut padanya? Kau memberitahu keberadaannya padaku.” Mulyana kecil paham, bahwa seharusnya lelak ini taku dan tidak akan membelot.


“Aku tidak takut, karena maksudku bukan membiarkanmu menangkapnya, tapi, membiarkannya ... menangkapmu.” Lelaki itu menyergap Mulyana dari belakang, tapi sebelum itu terjadi, Mulyana menusuk keris mininya ke tangan lelaki itu. Seketika dia menjauh dan tangan ruhnya menjadi gosong, dia terus berteriak karena luka itu menjalar ke seluruh tubuh ruhnya.


“Dasar pembohong!” Mulyana kecil sangat kesal, sudah jadi ruh saja dia tetap menjadi pembohong, seperti dirinya yang berbohong, berkata tidak membawa senjata ke sini dan hanya mengaku membawa lilin saja.


“Kau yang pembohong, katanya kau hanya membawa lilin saja!” Lelako korban jalan itu masih saja berteriak padahal tubuhnya sudah sangat kesakitan.


“Kata ayahku, aku tidak boleh percaya siapapun di dunia bawah ini, karena kalian itu penuh tipu daya dan muslihat! Padahal tadi aku takjub padamu, wajahmu sungguh bercahaya dan seperti orang baik, tapi kata ayahku lagi, kalian itu pandai memalsukan wajah, makanya aku tidak boleh percaya kalian!” Mulyana kecil menjadi sangat berani setelah yakin, bahwa ayahnya tidak pernah meninggalkannya sendirian, ayahnya memberikan begitu banyak wejangan untuk menjadi bekal.


Bukankah kau akan ingat kisah tentang Timun Mas yang dilepas Mbok Srini (banyak nama lain yang disematkan), ibu angkatnya dengan begitu banyak bekal agar bisa melawan raksasa yang merupakan pemberi benih timun untuk kelahiran Timun Mas? Tidakkah kalian bertanya-tanya bahwa kisah ini adalah perwujudan tentang pesugihan seorang nenek tua yang inginkan anak setelah suaminya meninggal dunia, dia meminta anak pada seorang raksasa, tapi hanya diizinkan memeliharanya hingga tengat waktu tertentu, lalu setelah itu anak tersebut menjadi objek tumbal. Hanya saja karena ini cerita legenda maka, sosok ibu tidak boleh dijadikan sosok yang jahat.


Ini hanya pendapatku, kalau menurut kalian bagaimana?


Kembali pada kisah Mulyana yang diberi begitu banyak bekal untuk menghadapi sosok hitam di dunia bawah ini.


“Dasat anak licik!”


“Kau yang tukang tipu!” Khas anak kecil dia tidak mau mengalah, apalagi sedang memegang senjata yang sangat sakti mandraguna.


Dari kejauhan begitu banyak binatang yang hendak mendatangi Mulyana untuk menyerang, lalu dari dalam gubuk juga begitu banyak sosok berwujud manusia yang tidak utuh keluar, mereka hendak menghabisi ruh Mulyana.


“Mampus kau!” Sebelum benar-benar musnah lelaki yang disanga penolong itu masih sempat menyumpahi Mulyana.


“Kau yang mampus!” Mulyana berteriak karena melihat lelaki itu musnah menjadi debu.


Mulyana harusnya keluar dari sana, bisa jadi ayahnya yang keluarkan melalui mantra pemanggil, karena lilin pun sudah hampir habis, tapi entah kenapa Mulyana masih di sana, dia bersiap untuk melawan, karena tidak ada pilihan lain, dia menghunuskan keris mininya ke arah depan, mereka semua sudah semakin dekat, tepat ketika akhirnya tubuh Mulyana hendak tersentuh, muncul sosok kakek tua yang menghalangi, dia memasang pagar ghaib membuat semua yang datang, baik hewan maupun manusia menjadi mental ke segala arah,


Mulyana sebelumnya menutup mata karena yakin akan kalah, tidka jadi karena merasa ada yang janggal, tadinya tempat ini begitu dingin, tapi entah kenapa, tempat ini menjadi hangat dan tangan-tangan ruh itu tidak menyentuh Mulyana padahal tadi jarak mereka sangat dekat.


Ketika membuka mata, Mulyana sadar ada sosok yang bercahaya sungguhan membantunya.


“Lawan yang hendak menyerangmu, gunakan keris itu, keris itu sekali tusuk bisa langsung memusnahkan, tapi kalau bisa, serang saja jangan dimusnahkan, karena kita tetap harus mengantar jiwa yang tersesat ini untuk pulang.” Abah Wangsa, tentu saja, siapa lagi?


“Terima kasih Kek.” Mulyana berkata dengan polos karena belum benar-benar bertemu dengan Abah secara intens walau mungkin sebelumnya pernah melihat, tapi tidak terpatri di dalam ingatannya.


Mereka bertarung bersama, ini adalah tarian yang sudah abah tunggu lama, menjajal kemampuan anak 7 tahun yang kelak akan menjadi tuannya, sungguh anak ini jauh lebih berenergi dibanding Drabya. Abah Wangsa seperti mendapat suntikan energi ghaib yang tinggi saat berada di sampingnya. Darah Kharisma Jagat sangat kental di dalam tubuhnya, itu karena niat dan sikapnya yang lurus, tidak heran, keturunannya kelak akan menjadi pemegang kelas tertinggi Kharisma Jagat. Bisa dibilang, Mulyanalah yang akan membuat keluarganya menjadi Kharisma Jagat bangsawan berdarah biru yang sangat agung, karena sikap dan niatnya yang selalu lurus.


Mereka terus mencoba melumpuhkan makhluk yang tersesat itu, mereka dikendalikan oleh tuannya, sosok hitam yang sampai sekarang tidak juga muncul, karena jelas, mereka ini adalah ruh-ruh penasaran yang harus segera pulang pada Tuhannya, tapi sosok hitam itu, dia adalah jin yang harus ditawan dan diberi pelajaran karena berani sekali mengambil tumbal dengan bar-bar.


Mulyana melihat kesempatan untuk masuk ke gubuk, dia percaya sosok itu memang ada di sana, dia berlari  masuk, Abah melihat Mulyana masuk dan tetap membiarkannya berhadapan dengan sosok itu, akan menjadi pelajaran yang berharga untuknya jika mampu membawa jin itu keluar dari sana.

__ADS_1


Mulyana mendobrak pintu gubuk itu, saat masuk, dia melihat sosok hitam yang sedang duduk bersila dalam keadaan melayang, sosoknya menghitam dengan pakaian abu-abu compang-camping, kepalanya ditutupi dengan sebuah tudung yang cukup lebar, wajahnya tak terlihat.


“Hei, kau yang menyerang binatang di jalan atas kan?” Mulyana bertanya dengan ramah.


Sosok hitam yang terlihat sedang memulihkan tubuh ruhnya karena mungkin telah terkena panahan Mulyana sebelumnya, Mulyaan bar menyadari bahwa ternyata anak panahnya terkena, karena tubuh itu terlihat luka pada bagian dada.


Sosok itu tiba-tiba terbangun dan memperlihatkan seutuhnya, wajah yang dia sembunyikan dengan tudung itu.


Wajah seorang ... wanita! wajahnya hancur seperti habis dipukul palu berkali-kali.


Wanita itu tak bicara, dia mengucapkan mantra dengan begitu cepat, Mulyana tidak bisa mendengar dengan jelas mantra itu, hanya sepotong-sepotong saja dia mendengarnya, tapi diantara lontaran mantra itu, Mulyana seperti tidak mampu mengendalikan tubuh ruhnya, tubuh itu terasa lemas, walau kesadaran masih sangat penuh dia rasakan, tapi tubuhnya lemas dan perlahan melayang ditarik mendekati wanita itu.


Saat ini Mulyana dan wanita itu berhadapan, dari jarak ini Mulyana melihat dengan jelas bahwa wajah itu sangat rusak, apakah jin memang memiliki wajah buruk seperti ini? tapi Mulyana pernah dengar bahwa jin itu tidak selalu buruk rupa, bahkan ada yang berwajah seperti dewa atau dewi.


Lalu kenapa jin ini sangat buruk rupa, Mulyana sedang memperhatikan wajah itu hingga terpana pada keburukan wajahnya, tak sadar, lilin itu hampir saja mati, sesaat sebelum lilin itu mati dan akan membuatnya terjebak selamanya di dunia bawah itu, mulyana pingsan dan ....


“Ayah, aku kembali?” Mulyana terbangun di atas tikar ritual yang ayahnya siapkan saat anak itu akan lepas raga.


“Ya, dia akan dibawa ke atas oleh Abah Wangsa.”


“Abah Wangsa? Kakek yang menolongku? Dia itu ....”


“Ya, seperti yang aku jelaskan sebelumnya, dia adalah Karuhun keluarga kita, kelak dia akan menjadi Karuhunmu atau Kakakmu, dia yang menolongmu di sana.”


“Lalu ayah, kenapa aku ditarik?”


“Lilinnya hampir habis dan kau kena mantra pengendali jiwa, kau dikendalikan oleh sosok itu seperti binatang yang dia tarik kakinya lalu menjadi agresif dan membunuh tuannya.


Kau tidak sadar lilin itu akan segera habis. Aku merasakannya, karena lilin itu, apinya dari mantra yang aku tiupkan, aku akan tahu, jika apinya mulai mengecil.”


“Kalau Abah Wangsa bisa menangkapnya, kenapa aku yang harus turun ke sana ayah?” Mulyana protes.


“Karena hanya kau yang bisa dianggap sepele dan akan dijebak oleh sosok itu. Abah sudah ke sana berkali-kali tapi tidak ditunjukkan jalan sampai gubuk itu, makanya kami ....”


“Jadi aku umpan!” Mulyana paham itu, padahal dia masih terlalu kecil, tapi mengerti bahwa dirinya dijadikan umpan agar jalan itu terbuka.


“Bukan umpan, tapi tim yang membantu kami.” Drabya tak ingin anaknay berkecil hati, karena apa yang dia sampaikan itu sebenarnya tepat.


“Kau jahat ayah!” Mulyana tetap kesal.


“Lebih jahat kau lah, menggunakan kambingku untuk umpan, lalu lihat sekarang, kepalanya lepas dari tubuh, mati sia-sia!” Drabya jadi ingat lagi kambingnya yang mati sia-sia, harga kambing saat itu juga tak bisa dibilang murah.


“Jadi kau balas dendam padaku Yah?” Mulyana jadi semakin kesal, disamakan dengan kambing.


“Tidak, sudahlah, bantu aku beberes, aku dan Wangsa harus segera mengembalikan banyak ruh tersesat itu.”


“Tapi jelaskan padaku, siapa sosok wanita itu, lagian, kambingmu tidak mati sia-sia, kambingmu itu membuat aku mampu memanah sosok wanita itu tepat di dadanya, aku lihat dia lemah karena itu.” Mulyana menyombongkan diri.

__ADS_1


“Kau mau kita berdebat soal kambing sampai kapan?” Drabya sekarang yang kesal.


“Kau yang mulai!” Mulyana tak mau kalah tapi dia lalu membereskan semua peralatan ritual, penjelasan tetap menjadi hutang yang harusa ayahnya jelaskan, karena dia yakin, ayahnya tahu tentang wanita buruk rupa itu sejak awal.


__ADS_2