
Alka dan Aditia ke pangkalan, mereka diberikan alamat oleh Zubaedah, saat mereka ke sana, memang sudah agak malam.
Tak lama mereka sampai, Aditia mendekati salah satu tukang ojek online yang sedang mangkal, sementara Alka mengikutinya dari belakang.
“Maaf Kang, saya mau tanya, ini perkenalkan saya petugas asuransi Jasa Raharja, kami sedang mengurus claim asuransi dari Pak Dino, yang kemarin kecelakaan, kami sedang menyelidiki kronologi kejadian untuk disampaikan ke kantor dan sebagian dari dokumentasi.” Aditia mencoba untuk memberikan informasi yang cukup masuk akal, agar mereka tidak keberatan menjawab setiap pertanyaan Aditia, maklum ojek online itu memang terkenal solid.
“Oh ya, kebetulan itu ada temennya, yang sebelum malem kecelakaan itu sempet ngobrol sana Dino.” Lelaki yang Aditia sapa itu menunjuk seorang pria yang sedang meminum kopi dari gelas plastik, pria itu dipanggil dan akhirnya duduk berdampingan bersama Aditia, Alka dan tukang ojek lainnya.
“Malam itu saat dia datang, saya suruh dia kumpul bareng kami, jangan duduk di sana,” rekan sejawat itu mulai menjelaskan, “tapi dia menolak, karena kami memang rata-rata merokok, dia tidak mau dekat-dekat dengan yang merokok, karena anaknya kan baru lahir, dia takut kalau anaknya nanti sakit karena hirup bau rokok yang nempel di badannya. Karena itu yaudah, saya nggak maksa dia lagi buat gabung.
Trus nggak lama saya becandain, tapi dia diam aja, tiba-tiba dia berdiri, trus balik ke motornya, itu yang diparkir di sana,”tukang ojek itu menunjuk parkiran motor yang berjejer, “saya tereakin, mau kemana dia, tapi dia diem aja, nggak mau jawab, trus tiba-tiba pergi aja. Tapi ada yang aneh sih sama gelagatnya waktu itu."
"Apa?" Aditia penasaran.
"Matanya itu loh, kosong, kayak nggak denger saya panggil, bukannya nyuekin saya karena marah, tapi kayak bener-bener kosong, saya ampe merinding, soalnya dia orangnya nggak gitu biasanya. saya ampe teriak-teriak loh manggilnya, dia jalan aja.
Anak-anak juga pada bingungk, nyangkanya mah marah, walau saya nggak setuju, tapi yaudahlah, mungkin bener marah, makanya dia tuluy aja pergi."
"Matanya kosong, kayak ... kesurupan?" Alka mencoba menebak.
"Nah itu, saya sih ngerasanya dia tuh bukan dia gitu, kayak kesurupan." Rekan sejawat itu menjawab dengan yakin.
"Tapi kalau kesurupan mah harusnya ngamuk atuh." rekan lainnya yang ikut nimbrung memberi pendapat.
"Nggak juga, kesurupan mah nggak selalu ngamuk, bisa juga kayak pandangan kosong, nggak denger kita, karena sebenarnya dia udah dibawa ke dunia 'mereka' makanya nggak denger kita, mereka udah dalam pengaruh 'mereka'." Rekan lain ikut nimbrung obrolan, dia lebih tua dan terlihat ... paham, dia menatap Aditia dan Alka dengan tatapan aneh.
"Ya, kalau Akang udah bilang gitu mah bener, kan Akang emang bisa liat gitu-gituan." Rekan lain menjelaskan tentang rekan yang sudah berusia senja itu.
"Nah, waktu itu Akang juga ada, lihat apa nggak sih?" Rekan sejawat yang sedari tadi menjadi peran utama dalam perkumpulan membedah informasi itu.
"Nggak kok." Pria itu lalu pergi menjauh dan tidak lagi mengikuti obrolan malam yang seru itu.
"Jadi memang saat itu tidak ada yang aneh ya, tidak mabuk atau memaksa narik walau sedang sakit, jadi murni kecelakaan ya?" Aditia menutup pertanyaan hanya agar mereka tetap dipercaya, tidak dicurigai oleh mereka.
Aditia pamit setelah sebelumnya memberikan sejumlah uang, hanya untuk membeli rokok dan kopi, mereka semua senang menerimanya, karena Aditia santun memberikannya dan tidak ada niat merendahkan harga diri.
Tapi sebelum pergi, Aditia mendekati pria paruh baya yang tadi dipercaya sebagai orang indigo oleh para rekannya.
"Pak, mau ngobrol sebentar boleh?"
Alka meninggalkan mereka, dia paham, mungkin pria ini ingin bicara empat mata. Aditia memanggilnya Pak, karena umurnya memang sudah cukup senja.
"Iya boleh, jangan di sini, saya nggak mau pada ribut soalnya." Lelaki itu membawa Aditia ke warung kopi yang lebih sepi.
__ADS_1
“Bapak lihat sesuatu malam itu?” Aditia bertanya.
“Kau bukan petugas asuransi itu kan?” Bapak itu langsung menuduh.
“Kenapa bapak bicara begitu?”
“Mungkin kau berpendidikan lebih tinggi, tapi aku lebih tua, makan asam garam lebih banyak, mana mungkin petugas asuransi repot-repot bertanya soal kejadian sebelum kecelakaan, seharusnya petugas asuransi bertanya seputar kecelakaan itu terjadi, saksi yang ada di tempat dan juga memastikan kondisi korban sudah sesuai dengan syarat pengajuan klaim itu. Terakhir, mana ada petugas yang benar-benar sepeduli kalian dalam membantu korban kecelakaan, karena makin sedikit yang klaim, makin banyak pendapatan yang bisa mereka kumpulkan.”
“Bapak kok tahu banyak soal asuransi?”
“Saya dulu pernah jadi agent asuransi, malah sampai liburan ke luar negeri, tapi ... saya kena karma.”
“Maksudnya?” Aditia tidak menyangka kalau obrolan ini malah akan jadi sesi curhat.
“Saya menolak membantu mengurus salah satu salah satu klaim korban kecelakaan, saya membuatnya sulit mendapatkan klaim itu, hingga akhirnya mereka menyerah dan keluarganya terakhir saya dengar kelaparan semenjak sang suami jadi korban tabrak lari, padahal mereka punya asuransi jiwa yang cukup untuk menguliahkan anak-anaknya.
Tapi kami asuransi swasta yang tidak menjaga komitmen terhadap client, pokoknya keruk sebanyak mungkin dan tolak klaim, maka dari itu aku begitu gigih memastikan pengajuan mereka ada celahnya, aku cari cara supaya pengajuan mereka dibatalkan karena berbagai kondisi.
Setelahnya, aku dapat bonus besar dan kembali liburan ke luar negeri bersama keluargaku, sayang ... sejak itu aku dihantui oleh korban kecelakaan itu, dia terus mengikutiku, aku jadi bisa melihat ... ‘mereka’ dan merasakannya. Sejak itu, aku berhenti menjadi agent, aku meminta keluargaku untuk hidup lebih sederhana dan di sinilah aku sekarang, sejak aku menjadi tukang ojek online, hidup kami jadi lebih tenang, walau mata batinku tidak pernah tertutup, tapi pria yang jadi korban itu akhirnya tidak menghantuiku lagi.”
“Wah, ternyata bapak buka mata batin lewat jalur karma ya, Pak.” Aditia tertawa, bapak itu juga.
“Kembali ke kasus Dino, malam itu aku melihat bayangan Dit, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, seperti bayangan hitam saja, bayangan itu mendekat pada Dino, aku terus memperhatikan, tapi sayang, tubuhku tak bisa bergerak, lemas sekali rasanya.
Aku tahu Dino pasti celaka malam itu, aku coba menghubunginya, tapi sayang, teleponnya mati, aku bermaksud untuk menyusul, tapi sayang Dino sama sekali tidak mengangkat teleponku, sayang aku tidak bisa berbicara dengan siapapun karena kadang omonganku dianggap bualan saja.
Tapi aku yakin bahwa Dino memang kesurupan, orang-orang melihatnya dalam tatapan kosong, sedang yang aku lihat adalah ... Dino berbicara dengan bayangan hitam itu, tapi aku tidak bisa mencegahnya atau membantunya, bisa jadi dia ditipu daya oleh makhluk itu dan tidak sadar mengikutinya. Tapi aku tidak dapat menjelaskan sosok itu dengan jelas, aku hanya bisa melihatnya seperti bayangan saja.”
“Maka apa yang rekan bapak lihat berbeda dan yang bapak lihat berbeda. Mata bapak yang benar, karena mata batin mereka belum terbuka, itu alasannya mereka hanya melihat Dino dalam tatapan kosong karena masih dalam kendali sosok itu.
Berarti memang benar perkataan temanku, Pak. Ada agent yang membawanya masuk ke dalam terowongan itu. Dia membawa semua korban itu untuk masuk ke dalam terowongan dan dikerjai.”
“Jadi aku benak kan, kalau kau bukan petugas asuransi?”
“Iya Pak, kami menyamar.”
“Apa tujuan kalian?” Wajah bapak itu berubah menjadi serius.
“Tenang Pak, kami tidak bohong soal uang itu, kami akan tetap membarikannya pada istri Dino, tujuan kami satu Pak, menjemput jiwa yang tersesat.”
“Oh, ada yang seperti itu di dunia ini, maksudku kalian tulus, pantas saja wangi kalian berbeda, sangat wangi sekali, lalu itu bayangan di belakang kalian, semua bayangan itu bersinar, kecuali wanita itu, aku tidak melihat bayangan di belakang wanita yang bersamamu.”
“Dia memang tidak punya khodam, dia khodam atas dirinya sendiri.” Aditia tidak ingin menjelaskan tentang Alka lebih jauh.
__ADS_1
“Pak, apa kau ingin hidup lebih normal lagi? temanku itu bisa membantu bapak menutup mata bapak agar tidak melihat sosok-sosok itu lagi.” Aditia menawarkan bantuan.
“Tidak perlu Nak, Bapak hanya akan menanggung ini sebagai dosa yang harus ditebus karena membaut keluarga itu susah hingga saat ini, Bapak tidak bisa bantu mereka, tapi paling tidak Bapak mencoba untuk membantu sesama.”
“Baiklah, informasi dari Bapak sangatlah membantu saya, ini sekedar untuk ....”
“Tidak Dit, terima kasih, saya bisa kok cari uang untuk sekedar makan.” Bapak itu menolak.
“Pak, jangan keseringan menahan lapar hanya untuk membebaskan diri dari rasa bersalah, saya tahu, pasti Bapak sengaja tak makan karena ingin merasakan lapar bersama keluarga yang suaminya jadi korban kecelakaan itu, tapi dengan bapak menyiksa diri sendiri, itu namanya jahat ke tubuh sendiri Pak, ada baiknya agar Bapak menyesali, menjadi baik dan tetap menjaga tubuh agar tetap bisa hidup dengan layak sesuai perintah Tuhan.”
“Bagaimana kamu tahu aku sering menahan lapar?” Lelaki paruh baya itu bingung dan takjub.
“Aku sekilah melihat kisah Bapak ketika kita bersalaman sebelum ini.”
“Oh, kau bisa menerawan juga, wah hebat sekali.” Bapak itu takjub lagi.
“Ya, bisa hanya jika Tuhan izinkan, tidak semua hal yang aku pegang bisa aku baca masa lalu nya Pak.”
“Baiklah kalau begitu, kau sudah meninggalkan teman wanitamu cukup lama, kembalilah kepadanya, terima kasih karena sudah mau percaya padaku.”
“Pak, maaf ya, ini sebagai terima kasih, bukan membeli informasi tapi menghargai apa yang selama ini Bapak lakukan untuk banyak orang.”
Aditia meninggal amplop di meja itu, berisi uang sebanyak lima juta rupiah, dia sediakan memang ketika mereka harus ke lapangan, kadang uang bisa menjadi pelicin atas setiap masalah yang kesat.
Bapak itu kaget dan tidak bisa lagi menolak karena Aditia langsung pergi berlari, dia tidak membayar tagihan kopi karena takut kalau Bapak itu akan mengembalikan uangnya, Bapak itu bisa membayar tagihan itu dari uang yang diberikan oleh Aditia.
“Kau dapat informasi dari pria itu? aku melihat sosok hitam di belakang pria itu.” Alka terlihat gusar.
“Itu mungkin Qorin pria yang kecelakaan, dia dulu agent asuransi, dia menolak klaim korban kecelakaan hingga suaminya meninggal dan keluarganya jatuh miskin, padahal nilai klaimnya tinggi, bisa sampai menguliahkan anaknya kelak, tapi bapak itu malah sengaja membuat klaim itu tertolak dengan berbagai kondisi. Dia masih diikuti oleh Qorin itu, aku juga melihatnya.” Aditia mengatakan itu dengan wajah sedih, karena tidak mau menakuti bapak itu, makanya dia tidak bilang melihat sosok hitam di belakang pria paruh baya itu.
“Waw, dunia kelam asuransi.” Alka terlihat menyinyir.
“Ka, Hartino kayaknya benar, ada agent yang membawa para korban masuk. Korban yang dibawa agent adalah korban yang akan dikerjai, sedang orang yang masuk terowongan itu tanpa dibawa agent akan bisa melewati terowongan itu dengan sangat tenang.”
“Lalu apa motifnya sampai dia mau mencelakai para korban?” Alka bingung.
“Di dunia ini, kadang banyak hal tidak memiliki motif, hanya ingin saja mungkin.” Aditia menjawab sekenanya, hal ini membuat Alka kesal.
"Kita ke mana sekarang?" Alka bertanya, Aditia sudah bersiap untuk mengemudi lagi.
"Markas ghaib, kita harus bertukar informasi dengan yang lain." Aditia setelah berkata, lalu mulai memasuki jalan besar, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Alka setuju, dia juga sudah sangat lelah sebenarnya, belum makan malam juga, Aditia sih kasihan karena dia belum makan dengan benar seharian ini.
__ADS_1
PRnya adalah, siapakah sosok yang bapak itu lihat, wanita atau laki-laki, apa tujuannya membawa orang ke dalam terowongan itu? apakah untuk tumbal? seklasik itu? kalau menurut kalian gimana?