Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 470 : Nyebrang 2


__ADS_3

Saat berjalan, jalanan semakin luas dan mereka akhirnya sudah sampai jalan besar, menyusuri jalan yang penerangannya tak terlalu banyak, karena terbentang sawah yang luas pada kanan kiri jalan.


“Buruan maneh!” Jaka berteriak, karena temannya jalan dengan santai.


“Motor aing teu bisa jalan ngebut!” Temannya berkata dengan wajah mulai khawatir, kalau sampai motornya mogok, Jaka pasti meninggalkannya sendirian, karena, siapa yang akan lewat jalan ini setelah malam, jalan ini sangat anti dilewati malam hari. Entah kenapa mereka berdua masih saja bebal melewati jalan itu.


Tiba-tiba temannya Jaka yang ada di depan memberhentikan motornya, dia mengerem dengan sangat kencang, seperti menghindari sesuatu, lalu terjatuh.


“Nanaonan maneh!” Jaka berteriak, dia berlari berusaha untuk membangunkan temannya, tapi temannya hanya terdiam duduk melihat ke arah depan, tempat di mana dia tadi mengerem dengan tiba-tiba.


Jaka jadi penasaran dan melihat ke arah yang temannya lihat, lalu mereka berdua berteriak dengan sangat kencang, karena yang mereka lihat sangat amat mengerikan ....


“Itu apa, Jak?” Temannya bertanya, dia masih menatap ke arah depan, Jaka yang melihatnya juga menjawab ....


“Kaki kan, ya?” Jaka berbicara perlahan.


“Kaki? Apa itu mayat Jak?” Temannya bertanya lagi.


“Mana aku tahu lah! telepon polisi aja ya?” Jaka mengeluarkan telepon genggamnya, bukan telepon pintar, maklumlah, dia bukan orang yang berlebihan untuk membeli barang tersier seperti itu, untuk warga kota mungkin telepon pintar masuk ke dalam kebutuhan primer, sama seperti sandang, pangan dan papan, berlomba mendapatkan yang terbaik.


Tapi di desa, yang terpenting adalah, bisa saling berkomunikasi.


“Nggak nyala ini HPnya, kumaha atuh?” Jaka dan temannya terlihat sangat ketakutan, ingin mendekati, tapi mereka taku, ingin pergi, kaki sudah lemas karena jatuh dan melihat hal aneh itu.


“Aku nggak bawa HP, Jak.”


“Ih kamu mah, makanya jangan apa-apa tuh istri yang pegang, giliran sekarang lagi susah aja, nggak bisa apa-apa kan, terus kita gimana?” Jaka bingung harus apa.


“Kita putar balik aja, cari bantuan trus balik lagi.”


“Mana ada yang mau ke sini, kamu tahu kan kalau di sini ....”


Jaka berlari mendekati motornya, temannya juga segera bangkit dan menyusul Jaka, mereka baru tersadar tentang mitos itu.


Jaka dan temannya terus mengendarai motor untuk menghindari jalan besar dengan persawahan di samping kanan dan kirinya.


Mereka terus berkendara, berjalan terus ke arah rumah mereka, terus berjalan, terus saja berjalan, motor mereka dijalankan terus dengan perasaan sangat takut, motor berjalan terus melewati jalan, terus melewati jalan, terus saja berjalan, terus berjalan, roda berputar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali, delapan kali, 120 kali, 250 kali, 300 kali dan ....


...


[Iya Kang, kenapa?] Istrinya Jaka mengangkat telepon dari seorang tetangga.

__ADS_1


[Suamimu mana, kok belum ke sini, ini jadwal dia ronda loh.] Tetangga itu bertanya, padahal ini sudah jam 3 malam.


[Loh, kan sudah dari jam 10 tadi dia keluar untuk ke pos ronda, emang belum ke sana?]


[Belum, dua orang nih yang belum ke sini, tadi kata istrinya juga udah jalan dari jam 10, ini bener nggak sih? kok mereka nggak nyampe-nyampe?]


[Kang, tolong atuh Kang, kemana suami saya Kang? Tolong cariin Kang?] Istrinya Jaka bertanya sambil menangis.


[Eh jangan nangis kamu, yaudah, saya coba cari keliling kampung deh sama yang lain sekalian muter.]


Lalu dia menutup teleponnya, istrinya kemudian mencoba menghubungi suaminya. Telepon suaminya mati, dia lalu menelpon istri temannya Jaka, tadi dia dengar temannya Jaka juga belum datang, padahal kata istrinya sudah jalan dari rumah sekitar jam 10 sama seperti Jaka.


[Maaf nelpon malem-malem, mau nanya, itu si akang jalan jam berapa, suamiku jalan jam 10.]


[Iya nggak apa-apa, si akang jalan jam 10 juga, sama kayak suamimu.]


[Kamu liat nggak si akang tuh jalan belok kiri atau kanan?] Istrinya tiba-tiba bertanya dengan tergesa-gesa, ada yang ingin dia tahu.


[Ke ... sebentar, ke kanan sia!] Istrinya berkata dengan sangat lantang, mengerti maksud pertanyaan istri Jaka.


[Kalau begitu, suamimu pasti ketemu dengan suamiku, karena suamiku jalan ke arah kiri, apa kau bilang pada suamimu jangan lewat jalan sawah itu?]


[Duh! Harusnya kamu bilang, karena kadang suami kita tuh bebal, kalau nggak dibilangin berkali-kali, karena kalau lewat jalan lain kan muter, kalau lewat jalanan yang di dekat sawah itu kan lebih dekat, pasti suamimu bertemu suamiku di jalan, terus akhirnya dia mengajak suamiku untuk lewat sawah, suamiku memang orang yang gegabah. Dia pasti mau saat diajak, karena dia pikir itu cuma jalanan pendek.]


[Apa iya?]


[Berarti kita akan menemukannya besok, astagfirullah Akan!!!] Istrinya geram karena suaminya ternyata melanggar apa yang istrinya katakan.


Susi lalu menelpon tetangga yang sedang ronda sembari mencari suami dan teman suaminya itu.


[Kang, hampura nyak (maafin ya), kayaknya Kang Jaka sama si akang sama temannya lewat jalanan di dekat sawah itu.]


[Ari Jaka! Serius ini?!] Temannya bingung, karena dua orang yang absen ronda itu tahu dengan jelas, bahwa mereka tidak seharusnya lewat jalan itu, bukankah mereka sudah tahu, bikin repot saja.


[Kang, tolong suami abi atuh Kang, Kang Jaka pasti ke sana sama temannya, mereka memang bebal.]


[Gimana nolongnya, kalau malam gini, mana ada yang berani ke sana, kan kamu tahu, apa sangsinya kalau malam-malam berani ke sana!]


[Atuh Kang, tolongin.] Susi memohon.


[Kamu tahu kan, kalau mereka sudah di sana, maka sulit menemukan mereka dalam waktu dekat, sampai motor mereka habis bensin, apakah bensin suamimu masih ada?]

__ADS_1


[Baru isi Kang, full lagi!]


[Aduh!!!]


[Gimana ini Kang, tolongin.]


[Yaudah, saya coba rembugin sama yang lain ya, tapi nggak bisa malam ini Susi, harus tunggu besok baru kita bisa ke jalanan di dekat sawah itu ya.]


Susi berteirma kasih lalu menutup teleponnya, dia menangis karena yakin, suaminya pasti ke sana, dia juga menyesalkan, kenapa terbujuk untuk lewat sana, padahal istrinya sudah mewanti-wanti.


...


Pagi tiba, setelah solat subuh, semua warga berkumpul di rumah Pak RT, istrinya Jaka dan temannya sudah di sana sesegukan.


“Tenang semua, jangan berisik, saya dan beberapa orang sudah ke sawah itu sebelum ke sini sehabis solat, kami menemukan topinya Jaka, jatuh di tengah jalan di jalan dekat sawah itu.


Kenapa sih masih ada aja yang nakal lewat jalan itu?” Pak RT bertanya dengan kesal.


“Ini pasti karena si akang yang maksa suami saya untuk lewat jalan itu, kamu tahu kan, suami kamu tuh suka maksa!”


“Jangan asal nuduh kamu Susi! Mungkin suamimu yang maksa suami saya!”


“Nggak mungkin! Suami saya mah bensinya full, kamu tuh suka nahan-nahan duit suami, semua orang juga pada tahu kalau kamu tuh batasin uang suami, jadinya suamimu suka nakal, cari cara biar uangnya cukup, ini pasti karena bensinnya biar nggak boros dia maksa suamiku lewat jalan itu!”


“Eh maneh jangan ngomong sembarangan ya! saya emang membatasi, tapi karena emang kebutuhan kami banyak, bukan karena uangnya saya kuasai!”


“Ya kalau mau irit jangan ajak suami saya atuh, kalau kayak gini gimana? kalau suami kita kenapa-kenapa gimana! saya mah nggak akan maafin kamu!” Susi berkata dengan keras sambil berdiri dari duduknya di bangku lipat warga.


“Kalau tenyata suamimu si Jaka yang ajak suamiku gimana? kalau mereka kenapa-kenapa karena suamimu yang maksa gimana?! jangan sok baik sama suami, tapi kamu sendiri yang bodoh, kasih pegang suami uang banyak, mau kamu suamimu main serong.


Oh saya tau ini mah, pasti suamimu maksa suamiku buat main ke tempat itu, tempat nyewa cewek-cewek, ini pasti begitu, kamu kan kasih pegang uang banyak buat suamimu!”


“Ngaco maneh! Uang dari mana untuk begitu-begitu! suami saya mah imannya kuat, nggak kayak suami maneh!” Susi berteriak dan mereka mulai jenggut-jenggutan, yang lain berusaha untuk memisahkan.


“Udah jangan ribut! Seperti yang kalian tahu, hanya bensin habis yang bisa membuat mereka kembali, kita tunggu sampai beberapa hari lagi, mereka pasti diketemukan di suatu tempat, pasti, bukankah semua orang yang tersesat ditemukan?” Pak RT menenangkan.


“Iya kalau ditemukan nggak dalam keadaan gila! suaminya si Narti gila sampai sekarang gara-gara tersesat di sana, ini mah bener deh, si akang pasti yang ajak suami saya.”


“Maneh diem teu!” Istri temannya Jaka berkata dengan kesal.


Bukankah benar kata orang dulu, dengarkan perkataan istrimu, karena insting istri itu tajam.

__ADS_1


__ADS_2