Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 72 : Perempuan di Ujung Gang 6


__ADS_3

Aditia dan Alka mengatur pertemuan lagi dengan Nur, mereka mengikuti Nur ketika pulang kerja, dengan imingan uang akhirnya Nur setuju untuk dimintai informasi mengenai rekan kerjanya, Ibu Tinah.


Mereka sekarang sedang ada di restoran sederhana, memilih tempat duduk yang jauh dari kerumunan agar bisa lebih leluasa bertanya.


“Apa Ibu Nur ini punya informasi lain lagi mengenari Ibu Tinah?” Aditia bertanya, mereka sudah memesan makan dan minum sebelumnya.


“Saya hanya tahu soal seseorang, lelaki, dia itu pelanggan potong rambut kami, lelaki itu namanya Pak Sudarman, duda punya anak, tapi tidak tahu berapa anaknya dan di mana rumahnya, dari curhatnya Ibu Tinah, lelaki itu nakal.”


“Nakal bagaimana Bu?”


“Kalau Mbak Tinah lagi ngelayanin dia, tangannya suka kemana-mana, Mbak Tinah tidak suka melayani dia, karena dia itu, tapi tidak berani juga membiarkan saya untuk melayaninya, karena dia tahu, saya ini lebih penakut dibanding dia dan lebih muda, dia takut kalau lelaki itu akan membuat saya tidak betah.”


“Lalu?”


“Lalu, pada suatu hari, saya melihat Mbak Tinah pernah dijemput olehnya dengan mobil, cukup kaget, makanya keesokan harinya saya tanya, kok dia mau dijemput, katanya dipaksa, karena Pak Sudarman meminta bantuan untuk memotong rambut anaknya yang paling kecil, tapi anaknya, maaf … cacat, jadi tidak bisa keluar, makanya Mbak Tinah mau dijemput untuk ke rumahnya.”


“Tidak terjadi apa-apa tapi setelah itu.”


“Beberapa hari kemudian, saya melihat lagi Mbak Tinah di jemput lelaki itu, maka besoknya saya bertanya lagi, tapi Mbak Tinah cuma … begini ….” Nur mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya, tanda diam jangan bicara lagi.


“Dia tidak mengizinkan Ibu Nur bertanya lagi?”


“Iya, jujur saya penasaran sebenarnya, kenapa dia begitu, tapi karena tidak mau berantem dengannya, saya tidak bertanya lebih jauh lagi, lalu setelahnya hari berlalu, Ibu Sutinah sakit, lalu meninggal.”


“Apakah ada kemungkinan mereka berselingkuh.”


“Saya tidak ingin menuduh, karena Mbak Tinah orang yang baik dan solehah, dia bisa menjaga diri, tapi ketika kalian datang menanyakan ini, entah kenapa aku merasa curiga pada lelaki itu.”


“Apakah Mbak Nur punya nomor telepon Pak Sudarman?”


“Ada Mas Aditia, kebetulan memang kalau pelanggan diharuskan menaruh nomor teleponnya, ini.” Nur mengirimkan nomor telepon itu ke Aditia.


“Baik, informasi ini mungkin akan mmebantu, terima kasih ya.” Lalu mereka semua makan dan setelahnya pulang.


Aditia dan Alka langsung menghubungi Pak Sudarman dan berkunjung ke rumahnya, mereka mengatakan ingin berbicara mengenai dari Ibu Tinah yang sudah Almarhum, entah kenapa Pak Sudarman terdengar bersemangat.


Saat sudah sampai rumah Pak Sudarman, seorang lelaki paruh baya dengan perut buncit keluar, dia mempersilahkan Aditia dan Alka masuk, saat masuk, mereka melihat seorang anak yang ada di kursi roda sedang menonton televisi.


“Ini anak saya, dia menderita Down Syndrome, pertumbuhannya sangat lambat dan sekarang harus di kursi roda.” Tanpa di tanya, Pak Sudarman menjelaskan.


“Kami datang bermaksud bertanya mengenai Ibu Tinah.” Aditia membuka niat mereka.


“Iya, kalian ini saudaranya atau keluarganya?”


“Iya, kami saudaranya, begini Pak, saat ini mungkin ada hal yang mengganjal bagi Ibu Tinah, makanya gang tempat dia tinggal, muncul rumor bahwa ruh Ibu Tinah tidak tenang dan mengganggu ketentraman di sana.” Aditia mengarang lagi, tapi ini harus dilakukan untuk mempercepat tujuan mereka.


“Loh kok bisa? Memang kematiannay cepat, tapi dia bukan orang jahat, dia itu wanita baik-baik.” Terlihat sekali Pak Sudarman sangat menghormati Ibu Tinah.


“Tapi Pak, dari rumor yang kami dengar di sekitar lokasi salon, kalau Ibu Tinah ada main dengan … Pak Sudarman, karena dia dulu sering dijemput Bapak.”


“Astagfirullah! Ndak! Ndak! Kalau itu memang benar, saya sungguh sangat bersyukur, tapi sayang, Ibu Tinah sangat menjaga dirinya, saya sering jemput dia karena dia membantu saya mengurus anak saya itu, saya memberinya upah untuk pekerjaan itu, selain itu, saya juga menjemput karena sekalian lewat, dari toko saya ke rumah, melewati salon, jadi saya jemput dia untuk ke rumah, karena anak saya ini, dua hari sekali harus di pijat dan dibantu terapi jalan oleh Ibu Tinah, dulu dia pernah training untuk terapi anak berkebutuhan khusus, seperti itu, di dalam mobil pun, kami tidak berdua, ada anak saya yang nomor dua yang bekerja sama saya di toko.” Pak Sudarman menjelaskan.


“Jadi rumor itu salah ya Pak?” Aditia memastikan lagi.


“Saya malah berharap rumor itu benar, tapi sayang, Ibu Tinah terlalu baik dan tidak ingin berselingkuh dari suaminya yang kerja jauh itu.”


Alka dan Aditia kembali menemui jalan buntu, Ibu Sutinah sangat bersih, dia bukan wanita ruh itu sepertinya.

__ADS_1


Alka dan Aditia berpamitan dan lalu kembali ke rumah Imran.


“Gimana? Apakah proses peniduran Ibu Ranti berjalan dengan baik?” Alka bertanya pada Ganding, mereka sudah di rumah Imran.


“Sudah, makanan juga sudah dimasukan melalui selang, semua berjalan lancar, hanya luka lepuhannya sudah menjalar ke bahu satunya lagi.”


“Baik kalau begitu, kita akan menginap di sini, Hartino siapkan makanan untuk semua orang, kita tidak boleh menjadi beban mereka.” Alka memerintah, Hartino lalu memesan makanan yang cukup banyak untuk semua orang, untunglah rumah Imran ada dau lantai, sehingga Imran dan keluarganya bisa beristirahat di lantai dua, sedang alka dan timnya bisa istirahat di lantai satu bersama Ranti.


Ini sudah larut malam, jam sebelas malam, Alka dan Adiita masih terjaga, yang lain istirahat tidur.


“Ka, kenapa kamu terlihat gusar, sepanjang kita pulang tadi, kau diam saja.”


“Aku merasa kita mengambil jalan yang salah Dit.”


“Maksudmu?”


“Keluarga Tinah, salon, Nur dan Darmawan, aku merasa bukan mereka, ini instingku merasa kita semakin jauh, bukan semakin dekat.”


Alka mengutarakan kejangalan yang dia rasakan.


“Maksudku, kita semua hanya terfokus pada bukti saja, tapi lupa bahwa, hal ghaib itu tidak hanya soal bukti Dit.” Lanjut Alka.


“Hmm, ya, kau benar, mau napak tilas?”


“Dimana?”


“Di ujung gang itu lah, semua kan, berasal dari ujung gang itu.”


“Betul juga Dit, yaudah ayuk.” Alka berdiri.


“Yang lain?”


“Kau memang kakak yang baik.”


“Mau aku angkat jadi adikku juga?” Alka meledek.


“Tidak, terima kasih. Teman saja cukup.” Karena kalau jadi teman, bisa saja menjadi kekasih selanjutnya, tapi kalau jadi adik, kemungkinan itu akan semakin tipis.


Lalu mereka keluar dan mengunci pintu rumah sebelumnya, malam di sekitar gang rumah ini memang terasa sepi dan dingin, semua orang cenderung sudah menutup pintu, Aditia melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya, waktu menunjukan pukul sebelas lebih lima belas menit.


Aditia berjalan menyusuri jalan menuju ujung gang, tempat di mana Ranti biasa bertemu ruh itu.


Mereka terus berjalan, hawa dingin menyergap, saat sudah hampir mencapai ujung gang, Alka mendengar suara tangis.


“Denger nggak?” Alka bertanya.


“Apa suara motor sama mobil?” Di ujung gang itu jalannya memang besar, jadi suara motor dan mobil masih terdengar walau sudah lumayan malam.


“Bukan, dengar baik-baik deh.” Alka menghentikan jalan mereka, jarak ke ujung gang sekitar lima rumah lagi pada kanan dan kiri jalan.


“Suara … tangis anak?”


“Ya kan denger?” Alka mulai bersemangat lagi.


“Trus kenapa kalau anak nangis, kan wajah?”


“Kita ke ujung jalan dulu Dit.” Alka berlari ke ujung jalan, Aditia mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Mereka sudah di ujung jalan, “Denger baik-baik ya, suaranya masih kedengeran nggak?” Alka bertanya.


“Sebentar … iya masih.”


“Kita tunggu di sini dulu Dit, aku mau pastiin aja.” Lalu mereka berdua menunggu, arah tubuh mereka adalah membelakangi gerbang masuk gang, mereka melihat ke arah dalam gang, tempat tadi mereka datang.


“Jadi?” setelah sepuluh menit mereka hanya mendengar.


“Tangisnya masih ada kan?”


“Iya masih, terus?”


“Bagaimana jika … dia bukang menunggu anaknya pulang, tapi …. “


“Menunggu anaknya berhenti menangis!” Aditia dan Alka menjawab bersamaan.


Karena berdasarkan informasi dari mertuanya Ranti, kalau Ranti pulang bersama seorang perempuan yang sedang menunggu anaknya pulang.


“Kau fikir bahwa Ranti hanya menarik kesimpulan sendiri, kalau ruh perempuan itu sedang menunggu anaknya pulang, padahal bisa saja kalau ruh itu menunggu anaknya berhenti menangis, tentu saja, ibu yang sudah menjadi ruh pun, akan terusik jika mendengar tangis anaknya yang cukup lama ini, sudah sepuluh menit dan dia masih menangis juga.” Aditia mulai paham dengan kecurigaan Alka.


“Kalau ini benar, rasanya pasti berat Dit.” Alka tiba-tiba terlihat sedih.


“Pasti berat meminta seorang ibu meninggalkan anaknya, bahkan setelah jadi ruh pun, seorang ibu masih berharap bisa menenangkan anaknya.”


“Besok kita akan memastikan ini ke mertuanya Ranti, kalau kecurigaanku benar, kita harus menemui ayah dari anak itu, kita akan membujuk menggunakan anaknya.” Alka berkata, setelahnya mereka berdua kembali ke rumah Imran.


...


Pagi datang semua berkumpul untuk sarapan, dua hari ini mereka menyiapkan seluruh kebutuhan makanan untuk keluarga Imran.


Mereka tidak ingin menjadi beban jadinya memastikan semua kebutuhan mereka dan termasuk keluarga Imran dipenuhi.


Setelah sarapan Alka meminta semua orang berkumpul, dia ingin memastikan apa yang dia curigai benar.


"Bu, coba ingat-ingat, apakah ada seorang perempuan, warga di gang ini yang baru saja meninggal dan masih memiliki anak bayi atau balita." Alka memulai pertanyaan, mereka di ruang tamu.


"Kalau dalam waktu dekat hanya Tinah." Ibu mertua Ranti menjawab, Giska dijaga ayahnya.


"Kalau begitu dalam waktu tiga bulan terakhir, coba ingat-ingat." Alka menarik garis lebih jauh.


"Tiga bulan terakhir ya, oh ada, tapi tinggalnya di gang sebelah. Dia ngontrak di gang sebelah sama suaminya, Ibunya almarhum yang tinggal di gang ini."


"Apakah perempuan itu punya anak kecil yang dititipkan di salah satu rumah di gang ini?"


"Anaknya almarhum memang sekarang dijaga oleh ibunya di rumah depan tuh yang deket ke gerbang masuk, ayahnya juga sekarang tinggal sama mertuanya di rumah itu, tidak mengontrak lagi."


"Bisa antar kita ke rumah itu Bu?" Alka meminta.


"Bisa, memang ada apa?"


"Saya jelaskan setelah saya yakin."


__________________________________


Catatan Penulis :


Jangan lupa Vote ya

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2