
“Apakah mungkin kita ke sana, ayah?” Mulyana bertanya pada Drabya. Karena mereka sedang mengintai, mengintai ibu-ibu yang sedang membeli sayur di tukang sayur keliling, tempat di mana informasi selalu didistribusikan dengan baik.
“Kita akan ke sana, bukan sebagai subjek, tapi sebagai objek, hari ini hanya untuk tahu, peran apa yang bisa kita mainkan untuk mendapatkan informasi itu.”
Mulyana dan Drabya rupanya mengintai rumah sekitar dan melihat dari jauh ibu-ibu yang sedang membeli sayur, tidak ikut nimbrung, karena pasti akan dicurigai.
“Yah, kita nggak jadi cari informasi?” Mulyana bertanya lagi, mereka hendak pulang dengan mobil Carry itu.
“Kita akan mendapatkan informasinya besok, tenang saja, kau tidak selalu harus bertindak dengan cepat, terkadang, waktu yang tepat diperlukan, untuk memastikan rencanamu bisa berjalan dengan baik dan berhasil.”
Mulyana tak sepenuhnya paham tentang apa yang ayahnya bicarakan, makanya dia akhirnya hanya diam saja.
…
Hari berikutnya, Mulyana terlihat sedang duduk di atas jok sepeda, dia duduk diboncen oleh seorang pria, sepeda itu mendorong sebuah gerobak berisikan sayur.
“Sayur!” Tereak Mulyana, orang yang mengendarai sepedanya, seorang lelaki paruh baya hanya melihat ke depan dengan tatapan kosong.
“Wah Mang, ini anaknya? Tumben dagang sayur bawa anak.” Seorang ibu sudah mendekati tukang sayur itu, dia tidak menjawab hanya tetap terpaku melihat ke depan, ibu calon pembeli tidak begitu memperhatikan, dia sibuk memilih sayuran dan juga lauk mentah.
Tidak lama kemudian, ibu-ibu lain berdatangan, Mulyana masih saja duduk diboncengan.
“De, tumben ikut, emang ibunya ke mana?” Tanya seorang ibu, yang tidak benar-benar mengenal tukang sayur, mereka hanya menyangka Mulyana adalah anak tukang sayur karena ikut membonceng.
“Lagi pergi ke rumah nenek.” Jawab Mulyana dengan polos, karena memang benar ibunya sedang di rumah nenek, tapi bukan istri dari tukang sayur tentu saja.
“Oh, pantes ikut dagang sama bapaknya, nggak sekolah?” Tanya ibu yang lain, masih dengan kesibukan masing-masing, memilih yang dibutuhkan di dalam gerobak.
“Sekolah, sekarang lagi libur dulu, soalnya temenin bapak.” Mulyana mengarang lagi, padahal dia tak dibekali sama sekali keterampilan berbicara di depan umum dengan baik, hanya menjawab sekenanya dan dia fokus pada misi.
“Jangan sering-sering bolos lah, nanti nggak pinter loh, katanya kalau mau pinter, harus sekolah yang rajin.”
“Iya Bu, tapi suka ikut bapak dagang, tapi tadi lewat jalan itu serem ya, katanya itu jalan angket.” Mulyana masuk pada pendekatan rasa khawatir ibu-ibu, pasti mereka akan langsung terpancing untuk membicarakan jalan itu.
“Tau dari mana jalan itu angker?” Seorang ibu bertanya sambil memegang bungkusan kerupuk warnai-warni yang masih mentah, sepertinya dia bingung, mau beli satu atau dua bungkus, mungkin orang rumahnay begitu suka makan kerupuk.
“Tadi pas lewat, suruh ati-ati, kalau ada delman katanya jangan deket-deket, takut diseruduk.”
__ADS_1
“Oh gitu, iya sih bener, ati-ati aja kalau lewat jalan itu, kemarin katanya ada delman yang kudanya ngamuk lagi, tempat itu sih emang angker, maklum deh, jalan itu dulu kan tempat jin buang anak, jadinya ya begitu.” Mulai masuk perangkap.
“Jin buang anak? Emang bener ada yang kayak gitu?” Seorang ibu muda bertanya, mungkin dia penghuni baru, karena terlihat tidak tahu apa-apa.
Tahukah kalian, bahwa istilah jin buang anak ini bahkan ditanggapi oleh seorang ahli Linguistik Forensik Universitas Indonesia, Bapak Frans Asisi Datang. Beliau mengatakan bahwa istilah itu memang umumnya digunakan atas ketidaksukaan atau penolakan terhadap suatu tempat. Beliau juga menambahkan bahwa, Jin itu kan setan, kaalu dia buang anak, berarti dia lebih jahat lagi. Jadi, setan saja tidak suka sama anaknya sampai dia buang anaknya. Setan aja kan kita tidak suka ya, apalagi setan yang membuang anaknya. Tempat itu berarti tempat yang terkutuk, tempat yang tidak disukai.
Maka apakah jalan itu bisa dirujuk sebagai tempat yang terkutuk?
“Eh iya tahu, emang tempat itu bukan tempat yang baiklah untuk dilewati, katanya dulu itu rawa, ada buaya putih di sana, trus dijadiian lah jalan, karena perumahan kita ini, jadi buaya putih jadi-jadiannya marah, makanya dia ganggu yang lewat.” Ibu yang sepertinya sudah lama tinggal di sini berkata dengan penuh antusias, mungkin dulunya dia adalah peletakan batu pertama di perumahan ini, karena gaya bicaranya seolah nenek moyang tanah ini dia kenal. Apa di lingkungan kalian ada ibu-ibu yang seperti ini?
“Buaya putih, ih takut banget, pantes kalau lewat situ binatang pada jadi liar, kalau kata saya mah, pasti dia tuh ngeliat buaya putihnya, jadi pada kerasukan.” Kalau ini, adalah tipikal ibu yang gampang terhasut, contoh ibu-ibu yang jika mendapatkan informasi akan langsung menjadikan informasi tersebut adalah patokan hidupnya.
“Emang binatang bisa kerasukan?” Ibu muda yang mungkin pendatang baru bingung, setidaknya umur muda tidak membuatnya menjadi bodoh, bertanya atas hal-hal yang terlihat janggal.
“Ya bisalah, kan mereka juga punya ruh biar hidup, jadi bisa aja kerasukan.” Ibu yang sedari tadi memimpin gosip berkata.
“Masuk akal sih.” Ibu muda itu tidak bisa diharapkan ternyata, dia malah kena omongan orang juga.
“Buaya putih memang apa tante?” Mulyana bertanya, dia belum pernah mendengarnya, Drabya cenderung jarang memberi teori, makanya kelak Mulyana akan menyusun kitab yang membuat kawanan mampu mempelajari berbagai makhluk ghaib dengan banyak wujud, karena Mulyana sendiri yang menyusun kitab itu dari pengalaman hidupnya.
“Ih anak kecil nggak usah ikutan ngobrol, nanti kamu jadi takut, udah sekolah aja yang bener ya.” Mereka menolak memberitahu Mulyana tentang mitos itu, Mulyana kesal dan memperhatikan ibu itu dengan mata tajam.
Mulyana berjalan mengendap dan berlari.
Dari kejauhan dia bersembunyi, melihat tukang sayur itu ditepuk bahunya dengan kasar dan tersadar.
Setelahnya Mulyana berlari lagi agar tidak ketahuan atau tertangkap, tidak jauh, mobil Carry ayahnya terlihat.
Mulyana masuk mobil itu dengan nafas tersengal karena berlari kencang, takut ditangkap gerombolan ibu-ibu.
“Gimana?”
“Aku hampir saja tertangkap.”
“Kok bisa?”
“Ibunya nanya harga belanjaan, aku mana tahu, ayah tidak menyuruhku menghapal harga sayurannya, kau hanya menyuruhku berboncengan dengan tukang sayur yang kau gendam, lalu tanyakan apa mitos yang berkembang tentang jalan itu, begitu mereka menanyanakn harga, aku langsung panik, jadinya aku kabur, karena takut tukang sayur itu bangun karena ditepuk atau diguncang oleh mereka.
__ADS_1
Kata ayah, gendam yang kau lakukan, bisa terlepas dari tukang sayurnya, jika tukang itu ditepuk atau diguncang tubuhnya, aku takut ibu-ibu itu menyadarkannya dengan cara-cara seperti itu, makanya aku lari.”
“Kenapa tak kau karang saja? Kau kan cerdas soal hitung-hitungan?” Drabya bingung kenapa anaknya malah panik, kenapa tak asal sebut saja.
“Karena aku bingung, abang sayurnya mengikat kangkung tidak seragam, ada yang banyak ada yang sedikit, kalau yang sedikit aku kasih harga murah, lalu berapa perbandingannya dengan kangkung yang tebal? Apakah jumlah batangnya harus aku hitung dulu untuk mendapatkan harga yang pas? Presentase harganya harus seimbang, kalau tidak, ibu-ibu itu pasti curiga, kenapa aku memberi harga tidak sesuai.”
“Astaga Yana, kau hanya asal sebut saja, kenapa hal sesepele itu terlalu kau pikirkan dengan detail.” Drabya kagum sekaligus kesal pada anak cerdasnya.
“Ya, aku tidak paham ayah.”
“Kau bukannya tidak paham, tapi kelewat cerdas, sudahlah, tidak usah bahas kangkung, bisakah kita bahas inti masalahnya saja?” Drabya mengingatkan, apa tujuan utama Mulyana menyamar menjadi anak tukang sayur.
“Oh ya, katanya di jalan itu, jalan angker itu, ada mitos soal buaya putih, buaya putihnya marah karena jalan itu di tutup tanah saat perumahan dibangun, buaya putih itu apa Yah? apa buayanya Albino?”
“Buaya putih? Kalau kau mau mendengar kisah tentang buaya putih, maka aku akan menceritakannya.
Buaya putih adalah seorang pangeran yang dikutuk ayahnya tanpa sengaja, nama pangeran itu adalah Elang Angka Wijaya, kebiasaannya adalah, makan sambil tiduran dan terbiasa merebahkan badan tepat setelah makan, hingga ayahnya yang seorang raja, atau dipercaya utusan Tuhan, berucap bahwa anaknya seperti buaya.
Kau tahu kan, kalau ucapan Raja adalah titah bagi alam semesta, makanya berubahlah dia menjadi buaya putih ... kau kenapa?” Mulyana terlihat gusar dan langsung menjauh dari ayahnya, mobil Carry mereka berjalan dengan santai.
“Aku takut ayah salah bicara dan aku berubah jadi buaya.” Pikiran anak-anak Mulyana tidak bisa disalahkan, dia memang masih sangat kecil.
“Tidka, aku takkan pernah berbicara sembarangan padamu, karena untuk Kharisma Jagat, lisan adalah hal utama yang harus dijaga.”
“Ya, tapi ayah harus hati-hati ya, aku tak ingin menjadi buaya putih.”
“Iya anakku sayang, tapi apakah benar, ini tentang buaya putih?”
Menurut kalian bagaimana?
________________________________________
Catatan Penulis :
Kisah tentang buaya putih di atas, aku ambil referensinya dari sebuah artikel tentang situs sejarah bernama Lawang Sanga, di Kota Cirebon. Apakah kalian pernah dengar kisahnya?
Kasih tahu aku ya, aku mau tahu aja, karena aku jujur baru tahu soal mitos ini setelah cari referensi tentang buaya putih.
__ADS_1
Terima kasih.