
Lima Sekawan kembali ke rumah yang katanya terkutuk itu, tapi sebelum sampai Alka harus mengutarakan sesuatu, bau yang sudah dia cium sejak masuk ke rumah itu. Sementara Aditia mengemudi Alka disampingnya, yang lain duduk dibelakang angkot, tapi mendekat agar mendengar omongan Alka.
“Kemungkinan yang kita hadapi adalah ‘dia’ yang mampu berganti rupa persis seperti Akbar.”
“Ya, dia pandai menyamar.” Sahut Ganding.
“Betul, celakanya, dia bukan cuma bsia menyamar menjadi Akbar saja, bisa jadi dia akan menyamar menjadi salah satu dari kita dan ruginya hanya aku yang bisa mencium bau aslinya.”
“Berbau busuk dan pandai menyamar menjadi manusia! Kajiman?” Ganding menebak.
“Betul.” Alka membenarkan.
“Hah? Kajiman?” Aditia memang minim pengalaman.
“Dahulu sekali ada seseorang yang ngilmu, ilmu hitam, dia berniat menjadi dukun terkenal, dia ingin menjadi dukun santet paling jahat, dukun pelet paling mahir dan dukun pesugihan paling berani. Makanya seluruh daerah didatanginya, untuik menuntuk ilmu hitam dari berbagai negeri, hingga tak ada seoranpun yang bisa menandinginya dari wilayah manapun, keinginannya tercapai, setelah ngilmu selama puluhan tahun, akhirnya dia menjadi satu-satunya dukun terkuat di negeri ini.”
“Lalu?” Aditia bertanya.
“Lalu dia menguasai perdukunan di negeri ini, tentu siapa yang punya uang dia yang mampu membayar maharnya menjadi pengausa sebenarnya, karena dukun dengan kemampuan ini melakukan semuanya hanya demi uang.”
‘”Hah? Hanya demi uang?” Aditia tidak habis fikir, walau kesal dia masih fokus untuk menyetir.
“Ya, memang kau fikir semua orang berperang tujuan akhirnya apa selain uang? kulanjutkan ya.”
“Iya, jangan dipotong mulu napa Dit.” Hartino protes.
“Iya, sorry.”
“Semua yang dukun itu inginkan tercapai, dia menjadi kaya raya berkat membantu banyak pejabar untuk meluluskan keinginannya, banyak pengusaha yang mengerjai lawan bisnisnya dan tentu saja anak-anak pejabat dan penguasa itu bebas memilih wanita yang mereka mau melalui jalur pelet. Hingga akhirnya si dukun itu besar kepala, bahwa dia merasa tidak ada yang mampu menandingi kemampuan dia.”
“Megerikan.” Hartino gentian menginterupsi Alka.
“Seorang Sunan akhirnya mampu menumpas raga dukun ini, tapi naas, ruhnya tidak diterima oleh Tuhan, akhirnya ruh kelam itu berubah menjadi ruh penasaran yang bergaul dengan penduduk jin, karena wujudnya yang tak kasat mata, akhirnya dia mampu bergaul dengan jin-jin tersebut, melalui pertukaran informasi.
Kajiman mengetahui seluk beluk dunia manusia dan menjual informasi itu kepada jin murtad yang berniat membantu iblis mencelakai manusia, baik melalui tipu daya ataupun sejenisnya.”
“Jadi maksudmu Kajiman ini adalah Kajiman dari masa lalu itu?” Aditia memastikan.
__ADS_1
“Itu kisah cikal bakalnya, kau fikir berapa banyak dukun jahat seperti itu? hanya satu? Berjalannya waktu tentu dukun itu punya murid, maka murid-muridnya itu berpotensi menjadi seorang Kajiman juga.”
“Kalau dari yang kau jelaskan, tidak heran kalau dia mampu menyamar seperit Akbar, karena dia tau kehidupan manusia dan cara menyamar menjadi sepertinya, kebiasaan anak kecil, seorang wanita dan lelaki.”
“Betul sekali, berdasarkan Kajiman yang pernah aku temui, semua berbau sama, busuk dan pandai menyamar. Itu yang menyebabkanku terkadang tidak mampu mencium baunya, kalau dia sedang berada di dekat manusia, karena dia bukan dari kalangan Jin dan manusia, dia adalah ruh yang tidak diterima Tuhan. Jadi, aku kesulitan mencium baunya dan mendeteksi kehadirannya kalau dia menyembunyikan wujudnya dibalik tubuh seorang manusia, karena dia mantan manusia.”
“Untung kami memiliki kau yang bisa mengindentifikasi makhluk berbeda seperti itu.” Aditia memuji.
“Bapak yang mengajarkanku, makanya aku semahir ini dan semau ucapannya adalah perintah, aku tidak akan pernah berfikir dua kali untuk menuruti semua perintahnya.” Alka seperti mengingatkan Aditia bahwa hubungan mereka akan selalu seperti ini, Alka adalah seorang prajurit yang mengabdi pada keluarga Aditia, tidak lebih.
Aditia menyetir dengan diam pada akhirnya karena dia mengerti kemana arah pembicaraan Alka.
…
Begitu sampai, ternyata rumah sudah ramai dengan para tetangga, mereka bermaksud membakar rumah itu.
Aditia berlari mendekati Pak Ustad yang juga membawa obor.
“Pak, apa kau yakin kalau kita membakarnya dia akan pergi?” Aditia menahan obor yang akan dilempar itu.
“Kalau dibakar pergi bagus, tapi Pak, Bu, bagaimana jika dia bukannya pergi tapi malah pindah ke rumah salah satu dari kalian?” Aditia menakuti, karena kalau sangat tidak baik membakar rumah yang bagus ini, bukan salah rumahnya, tapi salah penghuninya.
“Hih, takuttt.” Mereka berteriak dan akhirnya mematikan obor.
“Kami ke sini untuk membantu keluarga Pak Ari, kami akan membuat makhluk itu pergi, tidak menganggu lagi disini, tapi syaratnya cuma satu, kami harus dibiarkan masuk dan tidak diganggu, apapun yang kalian dengar dan lihat, jangan pernah kalian masuk, saya harap semua mengerti.” Alka mengatakannya dengan lantang.
“Tapi Mbak, kamukan perempuan, apa iya bisa mengusir makhluk itu, sedang ustad saja tidak mampu.” Ucap salah seorang lelaki, dia ternyata masih memegang obor yang sudah mati.
Alka terdiam, lalu dia mengulurkan tangan sembari melakukan gerakan seperti mengusir, tiba-tiba obor mati itu menyala kembali, lelaki yang tadi merendahkan karena Alka seorang perempuan kaget, karena obornya tiba-tiba menyala padahal saat dia pegang tadi mati, belum selesai rasa keterkejutannya, obor menyala itu tiba-tiba seperti kena hembusan angin terlepas dari tangannya dan terlempar tepat ke tangan Alka, terlempar dalam keadaan menyala dan mendarat di tangan Alka dengan posisi sama seperti dipegang lelaki sebelumnya.
Melihat hal tersebut, lelaki itu terjatuh yang lain mundur, karena takut dengan kemampuan Alka.
“Tenang saja, saya bukan dukun, bukan juga ahli nujum, saya hanya manusia yang bertugas membawa mereka kembali ke jalan Tuhan, mengerti! Kalau saya tidak berhasil mengusir makhluk itu, maka saya sendiri yang akan membakar rumah ini dengan obor.” Alka mengacungkan obornya, mereka semua mengangguk, beberapa mengambil bangku dan duduk berjejer di luar rumah.
Lima sekawan masuk.
“Kak, lu yakin ngebiarin mereka liat semuanya, ini jendela nggak mau ditutup?” Hartino bertanya.
__ADS_1
“Elu baru kenal kakak gue kemarin?” Ganding meledek.
“Apa sih lu! emang lu tau apa?” Hartino kesal.
“Tipu daya rumah ini udah terlalu tinggi, mereka ketakutan pada makhluk, bukan pada Sang Pencipta, makanya Kak Alka mau kasih liat, kalau makhluk itu tidak sebanding dengan Yang Maha Esa. Dia mau semua warga melihat bagaimana kita mengusir makhluk itu, udah ngerti sekarang?” Ganding kembali meledek.
“Oh iya, iya. Tumben pinter Nding.”
“Lu tuh, jangan kebanyakan gaul di dark web, jadinya tumpul, mentang-mentang di sana apa aja ada dibanding google.”
“Bawel lu!” Hartino kesal lagi.
“Ssstt, siap-siap. Jarni nggak usah pasang batas pelindung, Kakak mau sedekat mungkin dengan dia.” Jarni mengurungkan niat menabur bisa ular ghaibnya, itu adalah batas pelindung.
Jarni berdiri sebelah Alka, Alka menengok pada Aditia.
“Pasang pembatasnya di Aditia aja. Yang lain menjauh dari Aditia, pokoknya jangan keluar sampai aku suruh ya, Dit.” Alka memerintah.
“Lah kok gitu, gue ngapain dong?” Aditia protes.
“Ya diem aja dulu, sampai Kakak suruh lu bertindak, gitu aja bingung.” Hartino menjawab tanpa diminta.
“Nggak mau! ngapain gue ikut ke sini kalau diem doang. Lagian kenapa sih cuma gue yang dilindungi pakai bisa pembatas?” Aditia protes.
“Karena wangimu terlalu tajam, aku kesulitan mencium bau yang lain kalau berdekatan denganmu!” Alka mengatakannya dengan wajah memerah.
Sementara Aditia mencium bagian lengan bawahnya untuk memastikan wangi ditubuhnya, karena dia tidak pernah memakai parfume.
“Bukan itu bego!” Ganding berkata sembari menepuk bahu Aditia.
“Lah, terus?”
“Aura lu sama aroma sukma lu tuh tajam banget buat makhluk ghaib, makanya mereka selalu tertarik berada di dekat lu, aura sama aroma sukma lu, dua kali lipat dari punya Bapak, gue sih nggak bsia cium dan lihat, karena Alka setenga manusia setengah Jin, dia bisa lihat dan cium aroma itu, udah ngerti?” Ganding menjelaskan.
“Oh begitu.” Aditia tersenyum simpul, dia berfikir, pantas Alka selalu suka berada di dekatnya, pasti karena wangi dan juga aura yang terpancar itu, Aditia baru mengetahuinya.
“Bisa pada fokus nggak!” Alka kesal karena semua malah bercanda, mereka fikir lagi tamasya apa!
__ADS_1