
Aditiaadi menghubungi Alka pagi harinya, dia meminta Alka dan yang lain berkumpul di gua, dia ingin membicarakan mengenai Alya.
Sekitar satu jam kemudian mereka semua berkumpul di gua Alka.
“Maaf aku mungkin akan menyusahkan kalian semua.”
“Kita tahu kok Dit, ini pasti soal perempuan itu.” Ganding menyebutnya dengan kasar, perempuan itu.
“Ya tentang dia, kalian sudah mengetahui sejarahnya denganku?”
“Kau masih tidak sadar kalau kehidupanmu sudah kami tahu semua?” Ganding menjawab.
“Maksudmu?” Aditia bingung.
“Kami memang mengikutimu sejak Bapak tiada, awalnya kami tidak bermaksud untuk memperlihatkan jati diri, tapi kau terkena musibah, kekuatanmu hilang, makanya kami harus menemuimu, seluruh kehidupanmu kami tahu, termasuk soal wanita itu, jujur aku yang paling marah saat itu, rasanya aku ingin menyantetnya saja, tapi Ayi terlalu baik, dia hanya melepaskannya tanpa kekuatan, walau kami tahu, Ayi pasti tetap mngawasinya.”
“Kalian sudah mengenalku sejak lama?”
“Kalau Kak Alka mengenalmu sudah dari lahir, kalau kami sejak Bapak tiada.”
“Oh begitu, kenapa dulu kalian tidak menolongku ketika ada masalah dengan keluarga Alya?”
“Yaelah Dit, elu udah minta tolong sama Ratunya Kharisma Jagat, kita mah cuma butiran debu dibanding Ayi, selain itu, kita kan tadinya sepakat mau diam-diam aja ngawasin lu.”
“Gue fikir Bapak ninggalin gue sendirian dengan masalah perghaiban ini, jujur kadang ada masanya gue ngerasa berat banget, kayak pengen nyerah, apalagi mereka kadang mengerikan, lu fikir gue nggak takut awal-awal ngerjain ini sendirian?”
“Dit, elu nggak sendiri, nggak pernah, nggak ada kita juga, elu punya Tuhan.”
“Yaudah , balik lagi ke masalah ya Nding, gue bakal bantuin Alya.”
“Kenapa bisa berubah fikiran?” Alka bertanya, ada tatapan aneh dari Alka.
“Karena Dita.”
“Dita?” Alka bingung.
“Dita bilang, benci juga adalah sebuah perasaan yang hati gue masih simpan, itu nggak bagus, menurut gue Alya nggak berhak dapet perasaan itu, dalam bentuk apapun, makanya sekarang gue mau selesaikan masa lalu gue, karena masa depan gue jelas keliatan.”
“Jelas ya Dit? Deket nggak tuh?” Hartino meledek, karena sudah menjadi rahasia umum, Aditia sangan menyukai Saba Alkamah.
“Jadi kita perlu untuk mengetahui alamat Alya saat ini dan mengetahui penyakitnya.”
“Dit, nih, ini alamatnya dan ini laporan kesehatannya.” Alka memberikan kertas itu pada Aditia, ternyata teman-temanny sudah selalu satu langkah di depannya.
“Cepet amat.”
“Kita jaga-jaga kalau lu nggak mau nolong, gue udah ngerasain kehadirannya lumayan lama, makanya gue minta yang lain untuk selidiki, ternyata keadaannya cukup parah.”
“Kita ke sana sekarang?”
“Ya Dit, kita ke sana sekarang, tapi hanya kita bertiga, Jarni ikut Kakak ya, yang lain standby seperti biasa.”
“Kenapa nggak rame-rame aja sih Ka?”
“Karena kita tidak butuh bantuan mereka nanti di tempat lain.” Alka menjawab.
Lalu mereka bertiga bergegas ke alamat tempat tinggal Alya, sebuah perumahan kumuh yang kotor, Alya tinggal di tempat yang sangat buruk, Aditia tidak tahu sama sekali, ketika Ayi bilang bahwa Alya akan diurus oleh Ayi, maka Aditia tidak pernah bertanya sama sekali, karena mencoba tidak perduli.
“Sekumuh ini tempat dia tinggal?”
“Ya, Ayi sudah menyiapkan tempat tinggal yang cukup baik untuknya, tapi dia selalu kabur, dia ingin mencicipi ilmu peninggalan ibu dan neneknya lagi dan berusaha meraih kekayaan dengan jalur hitam, Ayi selalu berhasil menangkapnya dan mengembalikan dia ke rumah yang jauh lebih baik dari ini, tapi dia selalu kabur, hingga akhirnya dia sakit di rumah ini.
Ayi mengutus beberapa orang untuk membawanya ke rumah sakit, tapi ….”
“Tapi kenapa Ka?” Aditia bertanya.
“Lihat sendiri keadaannya.”
Aditia lalu mendekati pintu rumah kumuh ini, letaknya di perumahan kumuh di mana para Pemulung itu tinggal, di tengah kumpulan sampah yang bau dan berantakan di setiap sudut jalan.
Aditia mengetuk pintu, tidak berapa lama ada yang membukakan pintu, seorang ibu tua.
“Cari siapa?” tanyanya.
“Alya ada Bu?”
“Oh si Alya, ada tuh.” Si ibu menunjuk Alya yang ada di kamar, ibu itu terlihat tidak terlalu perduli padanya.
__ADS_1
Aditia masuk bersama Alka dan Jarni, ibu itu kembali ke dapur tanpa menawarkan minum.
Saat Aditia masuk, ada bau busuk yang tidak bisa Aditia tahan sehingga dia menutup hidungnya, Alka tidak melakukan itu, toleransinya pada bau sungguh luar biasa, Jarni juga seperti itu.
Alya berbaring di tempat tidur, tubuhnya kurus hanya tinggal kulit, wajahnya terlihat berkeriput dan menghitam, sedang matanya mendelik tanpa mengedip sama sekali, mulutnya selalu mengeluarkan air liur, dia tidak bisa bicara, sepertinya dia terkena stroke, dia tidak bergerak sama sekali.
“Alya itu keponakan saya, saya adik tiri ibunya, waktu itu dia menemui saya karena katanya sedang dikejar orang jahat, saya tolongin, dia juga kasih saya uang banyak, tapi makin lama keadaannya makin aneh, untung aja ada yang ngirimin saya uang tiap bulan untuk ngerawat dia, kalau nggak ada uang kiriman itu mah, males ngerawat anak muda tapi sakit-sakitan begini, dia juga bukan keponakan kandung, anak saya banyak, kalau bukan karena uang, saya nggak bakal urus dia.”
Terlihat kalau bibi tirinya ini tidak benar-benar mengurusnya, air liur itu tidak berhenti sama sekali, ada bekas kotoran yang bahkan mengering, pantas bau kamar ini busuk sekali.
Aditia melihat busur kebanggaannya ada di atas kepala tergeletak begitu saja, ada rasa sedih yang menelusup di hati Aditia, sungguh Alya sudah mendapatkan balasan atas keambisiusannya pada harta.
“Sakit apa dia?” Aditia bertanya.
“Nggak tahu, Dokter bilang stroke, tapi secara medis nggak pernah bisa bisa diketahui apa penyakitnya, mungkin balesan dari dukun-dukun itu.”
“Dukun-dukun itu?”
“Nggak tahu ya, kirain ke sini minta bantuan spiritual, Alya itu kan dukun.”
“Hah? Dukun?”
“Iya, suka bantui orang buat pelet dan santet, udah bibi bilangin jangan begitu, tapi dia bilang, kerja yang lain nggak cepet duitnya.”
“Astaga, dia masih saja begitu.” Aditia kesal.
“Kalau soal uang kiriman setiap bulan dari siapa Bu?” Alka bertanya.
“Nggak tahu, pokoknya tiap bulan di meja ada aja uang, tulisannya ‘buat Alya’ udah gitu doang, padalah kadang pintu di kunci tapi uang itu suka ada aja di meja depan tuh.” Jawab bibi.
“Pasti dari Ayi.” Jawab Aditia.
“Kalian ini siapa sih? ngapain ke sini?”
“Kami teman Alya, kami mau membantunya.”
“Yaudah silahkan aja, Bibi mau ke pasar dulu ya, masak buat anak-anak, kalau mau apa-apa cari sendiri di dapur ya.” memang benar kata orang, tingkat pendidikan itu penting, caranya memperlakukan tamu sungguh tidak baik, wajar sih, Alya juga bukan seseorang yang penting dalam keluarga ini.
Bibinya sudah pergi, Aditia dan Alka mendekati Alya.
“Kamu mau saya ngapain?” Aditia Bertanya pada ruh Alya.
“Mereka tidak mengizinkan saya pergi kembali ke Tuhan Dit, mereka menahan tubuh saya tetap hidup, seharusnya saya sudah kembali ke Tuhan, tapi sakaratul maut ini tidak ada henti-hentinya.”
“Tidak ada yang bisa menunda kematian Alya, itu Hak Tuhan, apalagi iblis-ilblis dalam tubuhmu, kalau kau belum mati, itu berarti Tuhan belum izinkan.”
“Aku tahu itu, mungkin sekarang setelah kau tolong Tuhan akan menolongku juga, aku mohon Dit.” Ruh Alya memohon.
“Baiklah, apakah kau tahu, jin siapa saja yang ada di sana?”
“Ada tiga jin di sana Dit, satu karena aku membantu pesugihan sebuah keluarga, satu lagi karena aku membantu seorang lelaki mendapatkan wanita yang dia inginkan, satu lagi karena penglaris.”
“Kau benar-benar diluar dugaan Alya, kau yang terlihat begitu berfikiran modern, seorang atlit yang hebat, tapi berakhir menjadi dukun, bodoh sekali kau.” Aditia kesal.
“Ya aku bodoh, seharusnya aku tetap di sisimu, apakah dia pacarmu sekarang?” Alya menunjuk Alka.
“Aku berharap begitu.” Aditia menjawab singkat.
lalu akhirnya dia dan Alka berunding di raung tamu.
“Apa yang harus kita lakukan Ka?” Aditia bertanya.
“Kita harus mengeluarkan jin-jin itu, tapi mereka pasti menolak, Alya memanggil mereka dan sekarang mereka bersarang di tubuhnya.”
“Kalau itu aku tahu Ka, tapi caranya gimana?”
“Coba cek di catatan Bapak.” Alka menjawab.
“Oh ya.” Aditia mengambil buku catatan ayahnya di laci angkot.
Setelah sudah mendapatkan buku itu, dia kembali ke ruang tamu.
“Dari buku ini, cara dia membebaskan seseorang dari ilmunya agar bisa melewati sakaratul mautnya dengan tenang ada beberapa cara, tapi cara yang paling ampuh adalah membalik ritualnya.”
“Wah berat tuh.” Alka menjawab.
“Iya, ada tiga ritual yang harus kita balik, pertama pesugihan, kedua pelet dan terakhir penglaris.”
__ADS_1
“Repot tapi harus dilakukan, yaudah yuk.” Alka berdiri.
“Kemana Ka?” Aditia bertanya.
“Ke tempat orang yang melakukan pesugihan lah, kita harus membalik ritualnya di tempat dia melakukan, semoga dia tidak melakukan hal rendah dengan mengorbankan keluarganya.”
“Tiga kasus sekali dayung dong Ka?”
“Namanya juga Alya, kalau nggak nyusahin apalagi namanya?” Alka lalu jalan duluan ke angkot.
Alka menelpon Ganding ketika mereka sedang berkendara.
[Udah dapat alamat tiga kasus itu Nding si Hartino?]
[Udah Kak, kalian pegang yang pesugihan, aku sama Hartino pegang yang Penglaris, sisanya kita kerjain keroyokan.]
[Ok Nding.]
Alamat sudah di kasih Ganding pada grup pesan singkat mereka, lalu Alka dan Aditia pergi ke tempat orang yang melakukan pesugihan menggunakan jasa Alya.
KELUARGA PAK AGUS (PESUGIHAN)
“Kami utusan dari Alya.” Aditia berkata ketika bertemu Pak Agus.
“Oh, Nyai Alya, apa kabar Nyai? Katanya sakit, makanya saya tidak berkunjung.” Jawab Pak Agus.
“Nyai sudah mau mati, sekarang dia kami harus memutus ritual pesugihanmu, beritahu kami apa yang kau korbankan?” sebuah pertanyaan provokatif dari Aditia.
“Kalian siapa! tidak mungkin Nyai Alya akan mengatakan itu, karena dia bilang dia akan terus membantuku melakukan pesugihan ini.”
“Jadi rumah besar ini kau dapatkan dari pesugihan?” Aditia kesal dan langsung berkata kasar.
“Keluar kalian.”
“Dia tidak akan membantumu, kau harus segera mengakhiri pesugihan ini atau kau yang akan celaka, siapa yang kau korbankan? Anakmu? Istrimu atau sanak saudaramu?” Aditia tidak mau keluar.
“Kalian pasti dukun-dukun saingan Nyai, keluar kalian atau aku teriakkan maling!” Agus berteriak, Aditia dan yang lain langsung berdiri dan hendak pergi, tapi sebelum pergi Aditia berkata lagi.
“Kau manusia busuk! Semoga kau merasakan sakaratul maut yang berat hingga kau ingat dosa-dosamu.” Aditia lalu menyusul Alka dan Jarni ke angkotnya.
“Kita tunggu istri, pembantu atau anaknya yang keluar, kita paksa mereka berkata, pasti salah satunya ada yang tidak setuju dengan apa yang dilakukan Agus,” kata Alka.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan cukup muda keluar dari rumah itu.
“Itu pasti anaknya, yuk kita kejar.” Aditia dan Alka lalu mengejar perempuan itu.
“De, bisa ngomong dulu sebentar nggak?” Tanya Aditia.
“Siapa ya?”
“Saya mau tanya soal Pak Agus, dia mendatangi dukun untuk melakukan pesugihan, apakah kau tahu itu.” Aditia tidak berbasa-basi.
Perempuan muda itu lalu berhenti berjalan, perlahan air matanya keluar.
“Saya tahu, pasti ada yang salah dengan lelaki itu, hingga anak kami selalu meninggal di dalam rahimku,”
“Anak kami?” Aditia tidak mengerti.
“Dia istrinya Pak Agus Dit.” Alka kesal Aditia masih bingung saja.
Perempuan muda itu lalu diajak Alka ke angkotnya, mereka duduk di bagian belakang angkot bersama Jarni juga.
“Maaf Mbak, boleh tahu, Mbak istri keberapa Pak Agus?” Alka bertanya, dia tidak memanggilnya De lagi, seperti Aditia, karena dia bukan anak Pak Agus seperti yang mereka duga sebelumnya.
“Pak Agus menikahiku beberapa tahun yang lalu setelah aku lulus SMP, orang tuaku punya hutang padanya, aku adalah pelunasan hutang mereka, aku terima itu, karena aku juga tidak punya cita-cita, aku hanya ingin teraf hidup keluargaku jadi baik, walau aku harus menjadi istri kelima Pak Agus.
Rumah tangga kami seperti rumah tangga lain, walau sulit berhubungan dengan para istrinya, karena mereka mata duitan semua, kalau Pak Agus memberikanku sesuatum, mereka akan marah dan menyiksaku, aku tidak tahan, tapi waktu itu aku bertahan untuk anak yang aku kandung, setelah setahun menikah dengan Pak Agus, aku hamil, anak pertama kami dan entah anak ke berapa Pak Agus, tapi sayang, saat umurnya empat bulan, anak itu mati di dalam kandungan, kata Dokter, dia terlilit tali pusat, pada saat aku melahirkan anak yang telah meninggal itu, aku dilarang melihat jasadnya, anak itu dikubur tanpa aku lihat wajahnya.
Lalu anak kedua kami hadir lagi di dalam rahimku setelah enam bulan aku kehilangan anak, aku menjaga anak ini dengan selalu meminta kontrol 2 minggu sekali ke rumah sakit untuk USG, aku ingin dia baik-baik saja, tidak kejadian seperti kehamilan pertamaku, tapi sayang, sama seperti kakaknya, diusianya yang ke empat bulan, dia meninggal lagi, diagnosanya sama, terlilit tali pusat, aku kembali tidak diperbolehkan untuk melihat jasadnya, tapi karena sudah kehilangan dua kali, aku mengamuk dan memaksa melihat jasadnya.
Saat aku berhasil mengambil jasad itu dari tangan Pak Agus, kau melihat anak mungil yang sangat cantik itu, aku melihat tubuhnya sudah dingin dan kaku, tidak ada hal aneh yang terlihat, hanya saja ….”
“Apa?” Aditia penasaran.
“Leher anak kami … ada bekas luka lilitan tali pusat yang sangat dalam, seolah anakku itu dicekik. Walau aku fikir itu tidak masuk akal, bagaimana mungkin anakku dicekik di dalam rahim, tapi … kalau kau bilang Pak Agus melakukna Pesugihan, bisa jadi, anakku benar-benar menjadi tumbal!” Perempuan muda itu akhirnya menangis sejadinya, terlihat luka yang sangat dalam dia rasakan.
__ADS_1