Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 239 : Hestia 3


__ADS_3

“Ini namanya Kartono, yang ini suami saya, kami terpaksa memasungnya karena setiap pagi, siang, sore dan malam, dia selalu kembali ke sumur itu, mengambil airnya, meminum air itu, lalu setelahnya dia akan menjadi begitu gila, berlarian telanjang sambil bilang sayang jangan tinggalkan aku.


Dua orang ini sudah ditinggalkan oleh keluarganya, yang aku tahu, mereka memiliki gejala sama seperti suamiku.”


Asri, istri dari lelaki yang malam itu menemaninya buang air kecil di celana, harus mengalami nasib memilukan seperti ini.


Asri masih setia, walau pernikahan mereka baru berlangsung selama setahun dan belum memiliki anak, Asri tetap mendampingi suaminya seperti istri yang selalu ada saat susah dan senang.


“Kasihan, apa yang terjadi malam itu?” Aditia bertanya pada Asri.


Asri wanita yang cantik, kulitnya bersih, wajahnya tirus, tubuhnya langsing dan cara bicaranya lemah lembut.


“Aku yang salah, malam itu aku hendak buang air kecil, tapi karena air di sini hanya ada sampai sore saja, sementara tempat penampungan kami tidak besar, kami kehabisan air untuk buang air kecil. Suamiku menyarankan untuk mengambil air di sumur itu, sumur itu memang tidak terlalu jauh. Aku sudah memperingatkannya agar tidak ke sana, tapi suamiku memaksa. Dia bilang takut, takut kalau aku sakit menahan buang air kecil. Kami akhirnya ke sumur itu, tapi di sana ....”


“Apa yang terjadi?” Aditia fokus pada cerita Asri, dia menatap penuh perhatian pada Asri.


“Kami malah melihat penunggu sumur itu, seorang wanita yang berteriak kesakitan, suamiku memegang rambut penunggu itu, kami kontan berlari, kami pikir setelah kejadian ini, kami akan baik-baik saja.


Tapi aku salah, saat kami tidur setelah kejadian itu, suamiku tidur dengan gelisah, dia sering mengigau saat tidurnya, dia berteriak haus, haus ... haus. Berteriak begitu terus. Aku tidak mengerti sampai paginya, aku melihatnya sudah di sumur itu menimba air di sumur dan meminumnya tanpa ragu, padahal airnya begitu anyir dan berwarna merah.


Setelah itu, suamiku tidak ingat aku, yang dia ingat hanya sumur itu. Kami tidak bisa mengendalikannya, sumur itu seolah memanggil suamiku, dia selalu membuat suamikku kembali ke sumur itu, lagi dan lagi.”


Asri menangis, dia sungguh sangat khawatir pada keadaan suaminya.


“Yang sabar Kak Asri, aku akan bantu sebisa mungkin ya.” Aditia memegang bahunya, memberikan tanda bela sungkawa.


“Kami Dit!” Alka tiba-tiba berkata dengan wajah masam.


“Kenapa, Ka?” Aditia tidak mengerti, tangannya masih di bahu perempuan itu.


“Kita yang akan menolong, bukan kau saja!” Alka menarik tangan Aditia dari bahu Asri.


“Oh iya, maksudku, kita.” Aditia mengoreksi perkataannya.


Alka memandang Aditia dengan tatapan tajam.


“Baiklah, terima kasih. Tapi, kalian ini siapa ya?”


Alka dan Aditia sampai lupa memperkenalkan diri, karena saat mereka datang, Asri sudah berada di dalam kandang itu, sedang memaksa menyuapi suaminya, dia menambahkan air sumur itu sedikit sebagai kuah makanannya, hanya agar suaminya mau makan, walau berbau, Asri tetap bertahan, dia tidak akan meninggalkan suaminya, karena suaminya sangat baik ketika dia tidak terpengaruh oleh sihir sumur itu.


“Aku Alka, dia Aditia, kami akan bangun perumahan di sini, kau tahu kan Mbak, kalau usaha seperti kami ini, dekat dengan hal yang berhubungan dengan mistis, kami tidak mau pembangunan terhambat karena isu sumur itu. Kami kemungkinan akan menghancurkan sumur itu, makanya kami mencoba membantu untuk masalah mistis yang berhubungan dengan usaha kami.” Alka menjelaskan, skema ini sudah dibicarakan sebelumnya pada kawanan agar masuk akal dan warga tidak curiga tentang kedatangan Alka dan kawan-kawan.

__ADS_1


“Iya, Kak Asri tenang dulu ya, kita pasti bantu kok. Yang penting sekarang, tetap jaga suaminya ya Kak.” Aditia tersenyum dengan manis, tanpa perduli bahwa ada yang hatinya terbakar melihat perhatian ini.


Alka dan Aditia kembali ke rumah yang menjadi tempat tinggal mereka, yang lain sudah berkumpul.


“Nding, mana airnya aku mau mencium air itu!” Alka bertanya dengan wajah yang galak.


“Ini Kak.” Ganding memberikan airnya.


“Kok segini, sedikit sekali, bagaimana aku memeriksanya!” Alka terlihat kesal, Ganding kaget karena Alka kasar sekali.


“Kak!” Jarni memegang tangan Alka, dia tahu ada yang salah.


“Apa kau!” Alka menepis tangan Jarni dan pergi ke dalam kamar, Jarni menyusul dan menutup pintunya.


“Kenapa Dit, apa yang membuat kakakku sekesal itu?” Ganding bertanya pada Aditia yang juga heran dengan sikap Alka yang tiba-tiba kasar.


“Aku tidak tahu, kami memeriksa kandang itu, lalu ada Asri, istri salah satu orang yang terkena sihir sumur itu, kami berbicara dan tiba-tiba Alka menjadi seperti itu, marah-marah.”


“Gimana kalian berbicara?” Ganding tetap merasa ada yang salah, Hartino dan Lais menyimak.


“Begini, Asri cerita apa yang terjadi malam itu, aku bersimpati lalu memegang bahunya dan ....”


Kau tahu, bahwa khawatir Alka saja sangat menakutkan jika itu berhubungan dengan tuannya, terbayang bagaimana jika dia cemburu, bukan hanya buta, tapi juga tuli!


Ganding menendang pintu kamar yang terkunci itu, benar saja, Jarni dalam keadaan berdarah di pelipis, dia ternyata diserang oleh Alka.


Lanjo kali ini bena-benar sudah kambuh sempurna. Alka tidak bisa menahan rasa cemburunya, ini kenapa dulu kawanan sering menyekap Alka agar tidak melihat kedekatan Aditia dan Alya. Mengingat betapa bodohnya Aditia dulu saat mencintai Alya.


“Ka, kamu kenapa?” Aditia bingung. Alka tiba-tiba terdiam, dia menatap Aditia dengan tatapan cinta yang mendalam, Ganding dan Hartino harus segera mengembalikan kewarasan Alka.


“Kak!” Ganding memegang tangan Alka, Hartino juga. Lais tidak tinggal diam, dia memeluk Alka dari belakang, Aditia bingung, ini kenapa semua orang sepertinya tahu harus berbuat apa, tapi Aditia tidak tahu kenapa Alka bisa begitu.


“Andanareswari Prabu Bantala


Obrog Galih Nansangseketa


Rampung Sanespa Ti Tatih


Jangjag sadewangsa ninggali”


Alka mengucapkan mantra, Aditia terdiam, dia tahu dengan jelas mantra apa itu.

__ADS_1


Aditia terduduk, dadanya nyeri tak tertahankan. Abah Wangsa keluar dari tubuh Aditia, dia berusaha menidurkan Aditia. Tapi gagal, Aditia mengerang, matanya memerah tajam, Abah Wangsa tahu sudah terlambat, mantra yang Alka ucapkan adalah mantra kuno, itu adalah mantra yang disebutkan oleh perjanjian yang setiap Karuhun menyebutkannya ketika pertama kali turun menjadi Karuhun seorang Kharisma Jagat.


Aditia mengingatnya, mantra itu selalu terngiang sebelumnya, tapi dia tidak tahu siapa yang menyebutkannya, karena mantra abah berbeda, bukan itu perjanjiannya, itu adalah perjanjian jiwa.


“Dit, kendalikan dirimu, kendalikan!” Abah Wangsa panik, semua orang panik, dua orang yang saling mencintai, mulai mengingat kembali ....


Aditia menunjuk Alka yang mengamuk, dipegang kawanan pun, mereka kewalahan, begitu Aditia menunjuk pada Alka, Alka terdiam, dia menunduk dan bersujud, dia lalu membenturkan kepalanya di lantai.


Karena Aditia menunjuknya dengan marah, maka Alka ketakutan dan merasa bersalah, dia membenturkan kepalanay wujud dari rasa bersalah.


Semua orang lalu menaruh tangannya di lantai, di mana Alka membenturkan tubuhnya, hingga kepala itu akhirnya terkena tangan seluruh kawanan, kepala Alka sudah berdarah akibat benturan sebelumnya, tapi kawanan berhasil menyelamatkan benturan berikutnya.


“Siapa kamu?” Aditia bertanya, wajahnya masih sangat menakutkan, jiwa Kharisma Jagatnya keluar, bahkan Abah bersujud karena takut, Aditia adalah tuan yang istimewa.


“Saba Alkamah.” Alka menjawab.


“Siapa kamu!!!” Aditia bertanya lagi, karena bukan itu jawaban yang dia inginkan.


“Saba Alkamah, Karuhun tanah Pasundan, Karuhun milik tuanku, Aditia Kamajaya.”


Aditia jatuh terduduk, dia mengerti sekarang apa yang sedang Alka alami, Lanjo, Lanjo yang selama ini dia tutupi. Dadanya terasa nyeri, Abah Wangsa hendak memegang tubuh Aditia mencari kesempatan menidurkannya, tapi belum sempat dia pegang, Aditia menatap marah pada Karuhun tuanya, matanya memerah, dia berteriak, “Tinggalkan aku dan dia!” Semua orang tiba-tiba menghilang, termasuk Karuhun tua milik Aditia, mereka dipaksa keluar oleh Alka yang memenuhi perintah tuannya, meminta semua orang pergi dari kamar itu, Pintu ditutup dan tidak bisa dibuka.


Alka masih dalam keadaan sujud tanpa melihat tuannya, dia gemetar, takut tapi marah karena cemburu.


“Kaukah, Karuhun hitam yang ayahku selalu takutkan datang? Kau kah karuhun yang katanya akan melukaiku dengan dalam jika dipertemukan?


Kau pasti terkejut aku tahu soal ini, aku sering mencuri dengan tentangmu sebelumnya, aku pikir ini bukan tentangku, ini tentang karuhun jahat, aku tidak pernah tahu bahwa Karuhun hitam itu adalah dirimu, yang memujaku seperti raja.” Aditia mendekati Alka, dia duduk dan menatap Karuhun yang masih sujud itu.


“Ampuni aku tuanku.” Alka masih sujud dan mengatakan itu.


“Kaukah yang namanya dihilangkan dalam ingatanku? Kaukah yang namanya tidak penah boleh disebutkan hingga aku lupa tentang kau yang selalu menjagaku, samar kuingat sekarang, Karuhun hitam inilah yang menjagaku segalak anjing liar pada yang menyakitiku dan semanis malaikat saat melihatku terluka.


Kaukah itu Saba Alkamah? Kau kah itu yang mencintaiku tanpa sebab dan syarat?” Aditia menarik tubuh Alka kedalam pelukannya, Alka menangis sejadinya, rasa sakit itu, rasa perih itu, rasa pahit itu, terasa hilang, sakit kepala hebat setiap kali dia menahan lanjonya, cemburu yang membunuh setiap Aditia dekat dengan wanita, semua terasa menghilang.


Ketika dalam pelukan Aditia, Alka tidak menyadari bahwa Aditia mengeluarkan kerisnya, lalu menghunus tepat pada punggung Alka, darah mengalir dari sana, Alka hanya terdiam, dia tidak sama sekali berteriak atas hunusan keris yang sangat tajam bagi wujud jinnya, dia hanya terus memeluk tuannya dan setelah itu, jatuh terkulai.


Aditia menangis sejadinya, dia benar-benar harus melakukan ini, hal yang sangat dia takuti, hal yang sudah dia curigai selama ini, tapi dia tahu, kawanan menutupi semua ini darinya.


Kau pikir Kharisma Jagat mudah ditipu? Selama ini Aditia hanya diam, memastikan kecurigaannya benar, bahkan soal Lais saja dia bisa mengetahuinya dibanding yang lain, apalagi Alka, ini alasannya kenapa dia sangat tidak mampu jauh dari Karuhun hitam ini. Ternyata memang sedari awal dia adalah milik tuannya.


Aditia keluar dari kamar dengan menggendong Alka yang terkulai lemas, keris masih menempel pada punggung Saba Alkamah, sang Karuhun Hitam dengan cinta yang besar.

__ADS_1


__ADS_2