
Ada seorang pria datang dengan tergesa-gesa, ayah angkat Alka membukakan pitntu, ibunya ikut keluar dan melihat siapa tamu yang datang, sementara Alka mengendap-endap di balik pintu masuk, tamu itu bicara di halaman.
"Ada beberapa warga datang minta Alka untuk di eksekusi."
"Kau gila! kenapa dia minta Alka dieksekusi? anakku salah apa?" ayah angkat bicara, dia kesal karena orang suruhan Pak Kepala Desa itu berkata hal yang mengerikan.
"Mereka percaya bahwa Alka ada anak ... anak iblis, karena itu dia ditemukan di hutan."
"Tapi, bagaimana dengan apa yang telah dia lakukan dengan semua tanah di desa ini? semua tanah kembali subur bukan?"
"Katanya itu cara kerja iblis, memberikan apa yang kita mau dulu, lalu mengambil lebih banyak, mirip ... pesugihan."
"Anakku itu baru berumur lima tahun! bagaimana mungkin dia menjadi iblis, sungguh tidak masuk akal, tidak bisa dipercaya mereka menyebar gosip yang tidak benar!"
"Kemungkinan ini adalah siasat ... juragan Pak, karena akan pemilihan Kepala Desa lagi kan, ini sudah tahun keenam beliau menjabat, ini adalah tahun terakhirnya, makanya juragan hendak membidik Pak Kades karnea pengaruhnya pada desa ini sangat kuat, maka ... Alka bisa jadi adalah kelemahannya karena tragedi petir itu."
"Ya Allah, saya sudah mengira, pasti juragan masih menyimpan dendam pada kami, walau aku tahu, dia memakai jasa pelayannya untuk menyuapi Alka dan membuat tanahnya subur, memperkerjakan pelayannya dengan keras agar bisa membuat tanahnya subur secara meluruh, tapi membayar dengan rendah, aku tutup mata selama ini agar Alka tidak disentuh, tapi sekarang dia mulai melancarkan rencananya karena tragedi petir itu." Ayahnya Alka sangat kesal, dia begitu khawatir Alka akan celaka.
"Pak Kades menitipkan pesan padaku, bahwa dia akan tetap menjaga Alka sampai akhir, dia dan istrinya akan ikut melindungi kalian, karena nama baik Pak Kades dibantu oleh Alka dan juga Alka membuat desa ini makmur karena membawa berkah dari Tuhan, aku percaya itu."
"Kami sangat berterima kasih dan bersyukur karena Pak Kades masih mau meindungi Alka. Saya juga rencananya akab ke pasar untuk menyewa mobil bak pada orang yang aku yakin masih punya hati untuk membantu, dia temanku dari kecil. Aku hanya akan membawa barang-barang penting saja seperti baju kami dan buku-buku Alka, beberapa kebutuhan utama di rumah baru nanti."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu Pak."
"Apa kamu tidak takut membantu kami, karena akan membahayakanmu."
"Bapak lupa, dulu Bapak yang mengenalkanku dengan Pak Kades hingga aku bisa bekerja dengan orang penting di desa ini, perlahan kehidupanku membaik dan karena itu akhirnya keluarga calon istriku mau menerima pinanganku pada anaknya, pernikahan itu akan terwujud satu bulan lagi. Aku tidak takut karena apa yang Bapak dan keluarga lakukan su gguh sangat banyak manfaatnya bagiku."
"Terima kasih ya."
Setelah itu bapak angkat Alka dan lelaku utusan Pak kades berangkat ke pasar dengan sepeda motor milik utusan Pak Kades.
Sementara ibu angkatnya Alka mulai membereskan baju dan mainan Alka di kamarnya.
"Ibu, kita mau pindah kemana?" tanya Alka.
"Kita pindah ke kota Nak."
"Aku nggak mau pindah Bu."
Nanti juga di sana kamu akan mendapatkan teman baru yang lebih baik, teman di sini jahat-jahat kan, sama Alka."
"Aku nggak mau pindah Bu!" Untuk pertama kalinya Alka berkata dengan suara kencang pada ibunya.
"Alka sayang, dengar Ibu Nak, kita akan baik-baik saja, yang penting Alka nurut ya, ayah dan Ibu akan lakukan yang terbaik untuk bisa membuat Alka bahagia Nak."
"Bu, Alka ini anak iblis, nggak usah lindungi Alka lagi, kalian bisa tetap di sini, biar Alka yang pergi."
"Kamu bicara apa! kamu pikir kami bisa hidup jika tak ada kamu? sungguh rasanya kematian jauh lebih baik jika kamu tak bersama kami." Ibu berhenti beberes dan memeluk anaknya.
"Sampai kapan kalian akan menanggung semua rasa sakit karena anak iblis sepertiku, aku dari hutan, maka kembalikan aku ke hutan."
"Alka, jangan pernah berkata seperti itu lagi, satu-satunya yang bisa membuat berpisah denganmu adalah kematian."
Ibunya lalu membereskan kembali baju dan mainan Alka, memilah yang Alka paling suka saja, sisanya tidak di bawa, hanya satu orang pelayan yang membantu mereka, karena yang lain sudah dipecat, tidak aman membicarkan Alka dekat dengan orang yang tidak percaya padanya.
Sementara itu, jauh di tempat lain, ayah dan juga ajudan Pak kades sudah dekat dengan pasar, tapi untuk sampai pasar mereka harus melewati jalur persawahan yang cukup luas, ajudan yang mengendarai motor, sementara ayah angkatnya Alka duduk di belakang dibonceng.
__ADS_1
"Ada yang mengikuti kita, bukankah mobil itu selalu di belakang kita dari tadi?" Ayahnya Alka menunjuk kaca spion yang memperlihatkan mobil itu di belakang, utusan Pak Kades meminta Ayahnya Alka untuk memegang pinggangnya dengan dengan kencang, karena dia akan meningkatkan kecepatan motornya.
Benar dugaan mereka, mobil itu juga melajukan mobil semakin cepat, kendaraan itu persis di belakang motor itu, dalam hitungan detik, motor itu jatuh dan membuat dua pengendaranya terpental karena dalam kondisi ngebut ditabrak dari belakang.
Ayahnya Alka jatuh di dekat persawahan, sedang utusan Pak Kades tergeletak di aspal, dia tidak selamat, begitu kepalanya menyentuh aspal, dia meninggal di tempat.
Sedang ayah angkatnya Alka masih hidup, hanya tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Saat dia berusaha berteriak untuk minta tolong, hujan turun, suaranya juga tidak keluar, walau rasa sakit tidak terasa sama sekali di tubuhnya, tapi dia tahu, kalau dia sekarat.
Seseorang mendekatinya, ayahnya Alka lega, dia bisa saja menolongnya, tapi ....
"Dia masih hidup!" Teriak lelaki itu pada seorang lelaki lain yang sedang memeriksa utusan Pak kades.
Tidak lama pria lain yang memeriksa utusan itu, mendekati ayahnya Alka dan pria sebelumnya.
"Habisi sesuai perintah, kita harus membakar dua mayat ini juga motornya, karena mereka harus terlihat seperti tersambar petir."
Jawab pria yang baru saja datang.
Ayah angkatnya Alka mengeluarkan air mata, dia takut kematian, tapi yang lebih ditakutkannya adalah, istri dan anak angkatnya akan sendirian, ayah angkat Alka menyesal, seharusnya dari dulu dia meninggalkan desa itu.
Hujan semakiin besar, petir menyambar, tubuh itu dibakar di tengah jalan bersama dengan motortnya, tidak ada yang lewat, karena jika hujan, orang takut keluar, karena tragedi petir tukang tenda itu membuat semua warga takut hujan.
Setelah membereskan dua mayat dan motor itu, mereka lalu kembali ke rumah majikan yang telah menyuruh mereka untuk membakar dua mayat itu.
"Sudah beres Tuan, dua mayat sudah dieksekusi sesuai perintah." Dua orang suruhan itu melapor, tuannya tersenyum dan senang, sekarang semua yang dia inginkan akan didapatkan.
"Bagaimana dengan anak dan ibunya?"
"Nanti, kita masih butuh mereka, ini belum terlalu kuat untuk membuat ibu dan anak itu menjadi tersangka, kita harus membaut warga marah."
Di tempat lain, ibu angkatnya Alka terlihat sangat khawatir, suaminya belum kembali juga padahal sudah malam, sementara hujan masih saja deras, petir bersautan. Ibu angkatnya Alka masih mencoba berpikir semua pasti karena hujan makanya suaminya belum pulang juga.
"Bu, kenapa ayah belum pulang juga?" tanya Alka.
"Hujan Nak, makanya ayah belum pulang, kamu kembali ke kamar ya, bobo, besok kita pasti repot beberes pindahan, makanya sekarang bobo ya."
Alka menurut dan kembali ke kamarnya, dia memang lelah karena seharian sudah membantu ibunya beberes baju, mainan dan bukunya.
Malama semakin larut, ibunya masih menunggu suami pulang, tapi tidak juga ada tanda-tanda suaminya pulang, karena sudah larut, pada jaman itu telepon genggam belum banyak yang punya, termasuk orang kaya.
Jadi ibunya hanya pasrah menunggu saja.
Jam dua pagi Alka terbangun karena dia merasa ada yang duduk di samping kasurnya, dingin sekali rasanya sentuhan itu.
Alka bangun, dia takut itu adalah makhluk yang sering menggangunya itu masih berkeliaran.
Tapi begitu dia bangun, dia senang.
"Ayah sudah pulang?! ibu khawatir sekali tadi, ibu takut ayah kenapa-kenapa."
Ayah angkatnya mengusap kepala Alka, dingin sekali terasa tangannya itu.
"Ayah udah makan?" Alka tahu kalau ayahnya dari berangkat sampai sekarang di rumah, belum makan.
Ayahnya menggeleng saja.
__ADS_1
"Ayah mau Alka temani makan dulu?"
Ayahnya menggeleng lagi, dia lalu tersenyum dan memeluk Alka lalu membisikkan sesuatu.
"Pergi, pergi, pergi!" Suara terakhirnya nyaring sekali hingga membuat Alka berteriak karena telinganya sakit.
"Alka kenapa nak? Kenapa?" Ibunya masuk kamar tergesa-gesa dan langsung memeluk anaknya, dia takut anaknya kenapa-kenapa.
"Bu, tadi ayah di sini, ayah di sini katanya belum makan, tapi sekarang kemana ayah?" Alka berkata sembari menanangis.
"Alka ayah belum kembali Nak, ayah masih di pasar, kamu bobo lagi ya."
"Nggak sayang, ibu tidak tidur menunggu ayah di ruang tamu, ,sekarang kamu bobo lagi ya, ibu temani, kamu pasti khawatir juga pada ayah kan, seperti ibu, makanya sampai terbawa mimpi."
Alka bingung, ini kali pertamnya sebenarnya bersentuhan dengan ruh, dingin itu terasa menyakitkan karena pelukan ayah yang hangat itu berubah menjadi dingin dengan rasa sakit yang sepi.
Pagi tiba, seorang warga datang dengan panik, bisa dibilang tetangga yang masih sangat menghormati keluarga angkat Alka, kabar yang dia bawa akan membuat hancur hati Alka hingga energi jahatnya semakin membesar.
"Apa, apa maksudmu!" Ibu angkatnya berteriak histeris, Alka yang sedang sarapan lansung keluar melihat ibunya.
"Ada apa Bu?" Alka bertanya.
"Ayah Nak, ayah tersambar petir Nak, ayah sudah tiada Nak." Hal yang dikatakan ibunya tidak membuat Alka menangis, dia melihat kosong ke depan, sebenarnya ekspresi ini jauh lebih menakutkan dibanding menangis histeris, ekspresi ini adalah rasa sakit yang jauh lebih dalam dari sekedar kehilangan.
Tapi sayang, rasa sakit Alka yang dalam ini, ditangkap lain oleh tetangga itu, dia menangkap ekspresi Alka adalah karena dia tidak sedih atas kematian ayahnya.
Ibunya melihat itu, langsung mendorong masuk Alka dan meminta tetangganya menunggu di luar.
"Sayang dengar ibu baik-baik, lihat ibu Nak, Nak!" Ibunya berusaha menyadarkan anaknya, dia memang bukan ibu kandungnya, tapi diat tahu, betapa Alka sangat terpukul hingga hilang akal yang kosong.
Ibunya tahu saking terpukulnya Alka, di sampai kehilangan kesadaran walau masih terlihat baik-baik saja.
"Alka sayang, lihat ibu, ibu tidak punya siapapun selain Alka saat ini, kalau sampai Alka celaka, ibu bersumpah akan menyusulmu kemanapun, termasuk ke alam baka, maka itu, tegarlah, tegarlah di sisi ibumu, kau boleh menangis, tapi tidak boleh hilang akal seperti tadi, mengerti Nak!"
Alka mengangguk, airmatanya mulai turun, dia menangis sesegukan dengan ibunya, mereka berdua lalu kembali keluar dan diantar ke lokasi yang katanya mereka tersambar petir, ibunya kaget, kenapa jenazah suaiminya habis terbakar, tidak seperti tukang tenda kemarin, kenapa tubuh itu tida bersisa seperti, seperti dibakar.
"Hei itu si anak pembawa sial! Lihat ayahnya meninggal sekarang karena memelihara anak pembawa sial itu." Seseorang berteriak, warga yang akhirnya sadar Alka ada di sana, jadi memusatkan perhatian pada Alka.
'Kau anak pembawa sial! Aku dan calon suamiku akan menikah sebulan lagi, kau membunuhnya, anak sialan!" Seorang wanita menghajar Alka membabi buta dengan tangan kosong. Ibunya langsung memeluk Alka hingga pukulan itu diterima langsung oleh punggung ibunya.
"Ayahku tidak mati tersambar petir! Ayahku dibunuh!" Teriak Alka, dia tahu karena tidak ada sisa efek petir seperti di rumahnya, efek petir harusnya tersisa di aspal jika memang aspal itu disambar oleh petir, aspal dimana ayahnya tergeletak, tapi tentu, Alka yang sudah dikenal sebagai anak pembawa sial, tidak bisa membuat warga percaya.
"Diam kau anak sial, kau harusnya ikut mati, bukan calon suamiku!" Perempuan itu masih saja mencoba memukul Alka, beberapa warga juga mulai maju hendak memukul ibu dan anak itu, tapi beruntung ada Polisi dan juga Pak Kades yang baru saja datang, mereka berdua menyelamatkan Alka.
"Pak, anakku bukan anak sial." Ibu dan anak itu berada di mobil Pak Kades membawa mereka dengan mobil mengikuti ambulans yang membawa dua mayat yang katanya tersambar petir itu.
"Ibu tidak perlu menjelaskan padaku, karena aku percaya kalian, aku akan memastikan kalian selamat, jangan pindah dulu, karena akan bahaya, aku takut kalau kalian akan dicelakai juga oleh orang yang membunuh suamimu, Bu."
"Ayahku dibunuh Pak, karena kalau tersambar petir, pasti ada sisa di aspalnya Pak, seperti di rumah kami, Pak Kades harus mengatakan itu pada Pak Polisi supaya diusut."
"Alka pinta sekali sudah tahu tentang usut, Bapak percaya Alka, kau harus kuat Nak, untuk ibumu, dia sekarang butuh kamu. Tadi sakit dipukul tante itu?" Pak Kades bertanya.
Alka mengangguk.
"Kalau begitu nanti kita periksa ya ke Dokter juga, karena takutnya Alka terluka."
"Terima kasih Pak Kades." Ibunya berkata, sementara ambulans melaju dan mobil Pak Kades juga mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Suasana sendu membuat hari itu terasa sangat kelabu, Alka paling terluka karena dia merasa bersalah, ayahnya pasti dibunuh karena dirinya, Alka anak lima tahun dengan tingkat berpikir yang dewasa, merasakan sakit rasa bersalah yang sangat kuat, Alka tidak sadar, bahwa dendam membangkitkan sifat yang dia bawa dari lahir, sifat iblis yang membuat desa itu, menjadi desa mati kelak.