
Begitu masuk rumah itu, kawanan melihat begitu banyak makhluk di sana, semuanya berkumpul, seperti sebuah kost-kostan setan, sekarang mereka sedang makan bersama. Begitu melihat kedatangan Alka dan kawan-kawan, mereka acuh tak acuh, Alka tidak bermaksud mengusir, terserah saja mereka mau apa, yang penting tidak mengganggu.
“Terasa nggak? begitu masuk langsung terasa dingin kan?” Pak RT bertanya, dia memeluk dirinya sendiri tanda kedinginan, padahal memang di luar udara dingin, maklum, ini kan pedesaan, seharusnya kalau benar dia merasakan kehadiran ‘mereka’, tidak terasa dingin, tapi terasa pengap karena begitu banyak makhluk yang ada di sana dari berbagai umur dan jenis.
“Ya Pak.” Aditia hanya tersenyum.
“Ini juga masih kotor, jadi harus dibersihkan dulu, mau saya panggilkan warga desa untuk bantu-bantu?” tanya Pak RT.
“Tidak usah.”
“Kalian kan, enam orang doang, nanti lama loh bebersihnya.”
“Pak, kami banyak kok.” Aditia tersenyum penuh arti.
“Maksudnya?”
“Ya berenam tuh banyak Pak.” Ganding mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah kalau begitu.”
“Oh ya Pak, boleh tanya sesuatu nggak?” Aditia bertanya tiba-tiba, yang lain mengangguk, karena ini memang harus ditanyakan.
“Boleh, silahkan tanya.”
“Apakah benar di sini ada mitos, bahwa anak perempuan yang lahir dengan tanda lahir diwajah akan meninggal pada usia enam bulan?”
Pak RT terdiam sebentar, dia lalu mengajak semua orang untuk ke halaman, duduk di teras yang terlihat lebih bersih dibanding di dalam, sepertinya dia akan menceritakan kejadian terakhir yang cukup panjang, sehingga memilih tempat yang lebih enak untuk bercerita.
“Jadi, begini ceritanya ....”
ANAK PEREMPUAN BERTANDA LAHIR
Terdengar suara teriakan seorang ibu yang hendak melahirkan, dia mengejan dengan teriakan agar bayi lahir.
Di desa ini melahirkan masih dilakukan di rumah, oleh seorang mantan pembantu bidan, bisa dibilang dukun melahirkan. Dia pernah ikut bekerja di klinik bidan di kota selama belasan tahun. Lalu setelah sudah menikah, dia tidak bekerja lagi dan membantu orang-orang di desa itu untuk melahirkan.
Seoran pasutri siap menantikan anak mereka, pasutri ini memang tidak pernah memeriksakan diri ke Dokter atau bidan di kota, terlalu jauh untuk ke sana dan juga biayanya cukup mahal. Mereka hanya menggantungkan nasib pada dukun melahirkan yang bernama Nuraeni ini, Dukun melahirkan punya alat pendeteksi detak jantung, alat yang sangat bermanfaat di tempat terpencil seperti itu, paling tidak, setiap ibu yang sedang hamil, bisa tahu bahwa anaknya baik-baik saja tanpa perlu ke kota untuk memeriksakan kandungan.
Selama ini juga, Nuraeni berhasil membantu banyak ibu untuk melahirkan, padahal usianya tidak muda lagi, hampir lima puluh tahun.
Semua warga percaya padanya, dia juga orang baik yang kadang membantu tanpa pamrih, tidak dibayar sama sekali. Karena hidupnya yang sederhana dengan suami yang bekerja sebagai petani, sudah cukup baginya.
Seperti saat ini dia sedang membantu pasangan suami istri yang siap untuk menyambut kelahiran anak mereka.
Setelah menunggu pembukaan lengkap selama hampir seharian, anak itu lahir dengan selamat. Tapi begitu Nuraeni melihat wajahnya. Dia gemetar.
Tapi Nuraeni berusaha untuk tetap melakukan tugasnya dengan baik. Memotong tali pusar, mengeluarkan ari-ari dan terakhir memandikan bayi itu.
Bayi yang cantik, tapi dengan tanda lahir di wajah yang cukup besar.
Begitu bayi itu diberikan kepada ibunya, ibunya berteriak histeris, suaminya juga sama.
Mereka tahu akan seperti apa nasib anak itu.
Mereka tidak terlalu perduli dengan tanda itu, yang mereka takutkan adalah tidak mampu menjaga anak itu dengan baik, hingga akhirnya diambil Tinung.
“Kami harus apa Mbah Nur?” tanya suaminya.
“Saya tidak tahu, selama membantu melahirkan, tidak ada yang selamat.” Nuraeni menangis, dia juga bingung, karena dia hanya dukun beranak, bukan seorang dukun ilmu ghaib.
“Apakah anak ini juga akan bernasib seperti mereka?”
“Hanya Tuhan yang tahu, tentang takdir anak itu Pak.” Nuraeni berusaha menguatkan.
“Mbah Nur, tolong kami, apakah mungkin membawanya ke kota, dengan begitu bisa saja dia terhindar dari Tinung bukan? karena dia di desa ini, mungkin kalau ke kota anak ini akan selamat.”
“Kalian kan tahu, itu tidak berguna, sudah pernah ada yang pindah dan tetap saja sama, dia mengejarnya.”
__ADS_1
Suami istri itu saling memeluk erat, anak itu menangis mengiringi ketakutan orang tuanya akan kehilangan dia.
Nuraeni pulang dengan membawa kekhawatiran yang sama.
Begitu sampai rumah, suami dan anaknya sedang duduk di ruang tamu.
“Bagaimana? anaknya sudah lahir?” tanya suami Nuraeni.
“Sudah.” Nuraeni duduk dengan lemas.
“Kenapa? jangan bilang ... anak perempuan dengan tanda lahir?”
“Iya Mas, aku benar-benar sedih, takut kalau anak itu akan tidak selamat lagi!” Nuraeni menutup wajahnya, dia menangis.
“Kau tidak punya tanggung jawab untuk menyelamatkan mereka dari Tinung, kau sudah berusaha sekuat tenaga untuk membantu penduduk desa ini melahirkan, bahkan tanpa pamrih. Jadi, jangan terlalu terbebani.”
“Aku merasa tidak berguna, karena setiap mereka minta dibantu, aku hanya bisa bilang tidak bisa bantu.”
“Nur, kau tahu kan, bahwa itu bukan dalam kemampuan kita.” Suaminya yang sangat bijak mencoba menenangkan istrinya, sementara anaknya yang baru berumur delapan belas tahun, seorang anak perempuan yang cantik sedang sibuk membaca, dia sebentar lagi akan ke kota untuk melanjutkan kuliah, Nuraeni sudah mengumpulkan cukup uang akhirnya untuk menguliahkan anaknya dari jasanya membantu melahirkan. Karena kadang dia juga membantu melahirkan dari desa sebelah.
“Iya Bu, jangan terlalu sedih, itu bukan tanggung jawabmu.”
“Kalau nanti kau sudah jadi perawat atau bidan seperti mimpimu, kau akan tahu rasanya Nak, anak yang kau bantu bawa ke dunia ini, harus menyerah pada takdir yang salah, kau tahu kapan dia harus kembali pada Tuhan. Rasanya seperti tidak mengerjakannya dengan baik, rasanya kau ikut andil dalam kejahatan itu.”
Keluarganya Nuraeni hanya bisa terdiam dan akhirnya makan malam dan tertidur.
Hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan, lalu akhirnya waktu itu tiba. Anak itu sudah berumur enam bulan. Seperti biasa, warga akan melakukan bantuan maksimal pada pasangan suami istri itu.
Mereka akan menjaga bergantian di rumah itu selama 24 empat jam. Mereka melakukan semua cara terbaik menjaga bayi itu, bahkan memberikan sajen, hal musrik yang seharusnya tidak dilakukan, tapi mereka terlalu putus asa.
Jam dua malam, beberapa warga lelaki sedang duduk-duduk di halaman pasangan suami istri itu, mereka tidak mengantuk karena disediakan kopi dan juga kue basah untuk teman bergadang, ini hari ketiga setelah bayi itu berusia enam bulan.
Istrinya ada di ruang tamu, mereka juga tidak tidur, mereka mengelilingi bayi itu untuk dijaga.
Tapi ....
Suara langkah terseret terdengar, suara tembang lirih terdengar, nyanyian yang sudah lama sekali tidak pernah mereka dengar. Tembang yang biasanya digunakan untuk bermain, permainan itu biasanya dimainkan oleh tiga sampai lima anak, anak-anak itu akan menekuk salah satu kakinya ke belakang, sembari saling membelakangi, kaki mereka yang ditekuk itu dikaitkan satu sama lain dengan simpul yang saling mengunci, lalu mereka mulai menyanyi.
Jajahean
Kadempet kohkol
Jejeretean
Kali ini yang bernyanyi adalah seorang perempuan dengan gaun putih selutut, jalannya diseret, suara yang seharusnya riang berasal dari anak-anak, tapi sekarang terdengar lirih dari mulut perempuan itu.
Anehnya, suara itu terdengar penuh magis, semua yang mendengarnya berawal sayup terhipnotis dan perlahan mulai berdiri, seiring suara itu makin terasa dekat, semua orang yang mendengarnya di rumah itu melihat dengan tatapan kosong, seolah jiwa mereka tertawan, lalu eprlahan melakukan gerakan permainan dari nyanyian tersebut.
Mereka saling membelakangi, menekuk kaki ke belakang lalu mulai lompat-lompat sambil ikut bernyanyi. Mereka bernyanyi dengan tatapan kosong.
Wanita yang berjalan diseret itu sampai juga di tempat bayi yang dijaga sebelumnya, rapi sekarang bayi itu sendirian, semua orang dewasa sibuk bermain dan bernyanyi.
Wanita itu menunduk, dia melihat wajah bayi itu, persis seperti wajahnya. Menghitam pada sebagian wajah.
“Cantik.” Wanita itu berkata lirih, dia mengusap wajah itu dengan tangannya yang menghitam.
Setelah itu, dia pergi, semua orang yang tadinya bermain, terdiam. Mereka bingung kenapa posisi mereka telah berubah, semua orang terlihat seperti sedang sedang bermain.
Ibu dari bayi itu berteriak histeris.
“Kenapa?” tanya suaminya.
“Anak kita ... anak kita tidak bernafas!” Bayi itu telah kembali kepada Tuhannya.
Ibunya histeris kembali dan ayahnya terduduk pingsan. Lagi-lagi mereka kalah oleh Tinung, Tinung berhasil kembali mengambil bayi bertanda lahir mirip sepertinya.
“Lalu apa yang terjadi dengan keluarga yang ditinggalkan, Pak?” tanya Ganding. Mereka semua masih duduk di halaman rumah itu dan Pak RT sudah selesai menceritakan korban Tinung yang terakhir.
__ADS_1
“Ibu bayi itu menjadi sedikit ... kurang waras, karena dia kehilangan anaknya dalam waktu cepat, ayahnya masih terus mencari cara agar istrinya kembali waras, sedang warga, semua was-was saat hamil, bahkan banyak pernikahan terjadi di luar desa. Para wanita memilih menikah dengan lelaki di luar desa ini, karena mereka percaya benih lelaki di desa ini terlalu menakutkan dan berbahaya. Karena itu terbukti, wanita yang menikahi lelaki desa lain, bisa melahirkan anak yang sempurna baik lelaki ataupun perempuan. Tanpa harus ketakutan.
Desa ini perlahan menjadi sepi. Makanya kedatangan kalian adalah sebuah kebaikan, dengan adanya listrik kelak, mungkin kami bisa hidup lebih modern. Kadang setan bisa diusir dengan kemodernan.”
Alisha tertawa, dia spontan mengatakan itu, dia saja yang telah sangat tersentuh kemoderan dan teknologi bisa terjebak dengan klenik, Pak RT hanya mengandalkan listrik berharap desa ini menjadi lebih baik. Itu yang Alisha tertawakan.
“Lais!” Alka memperingatkanya.
“Maaf Pak, tapi menurut saya, yang perlu dilakukan itu mencari sumber masalahnya, bukan malah berharap pada hal lain.”
“Ah, kami terlalu sibuk dengan kebutuhan sehari-hari yang semakin mencekik, jadi kami tidak punya cukup ilmu dan juga dana untuk mencari tahu soal itu. Di desa ini tidak ada ustad ataupun dukun untuk bisa membantu kami, makanya kami biarkan saja.”
“Baiklah Pak, kami mau siap-siap dulu untuk membersihkan rumah ini, terima kasih karena telah mau menceritakan mitos di kampung ini, terima kasih juga sudha khawatir dengan kami.” Aditia mengusir Pak RT dengan lembut.
“Baiklah kalau begitu, nanti akan ada makanan yang kami kirimkan untuk kalian, jadi jangan khawatir, kalau makanan, masih bisa kami sediakan.”
“Oh soal itu juga Pak, kami sudah bawa bahan makanan yang cukup untuk kami di sini selama beberapa hari, kami juga bawa alat masak di angkot yang kami bawa. Jadi Bapak tidak perlu repot ya, kedatangan kami untuk membantu, bukan untuk menyusahkan apalagi membuat rugi, kami tamu yang tahu diri Pak.” Hartino memberitahu mereka memang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
Selain peralatan masak, mereka juga membawa genset dengan tenaga solat portable yang tidak berisik tapi berukuran kecil untuk menyediakan kebutuhan listrik di rumah ini, bahan makanan beku dengan box khusus yang bisa menahan makanan beku tidak rusak. Kasur lipat, baju dan juga keperluan lainnya.
Makanya butuh waktu dua hari untuk bisa ke desa ini.
Mereka masuk rumah, pintu di tutup, lalu Alka berkata dengan suara yang lantang.
“Semua boleh di sini, tapi kami mau bebersih dulu, jadi, jangan ganggu!” Semua makhluk yang ada di situ akhirnya bubar sementara karena kawanan akan membersihkan rumah ini dengan semua khodam mereka.
Butuh waktu tiga jam agar rumah itu layak untuk ditempati, mereka akan tidur di dua kamar yang berbeda, laki-laki di satu kamar dan semua perempuan di kamar satunya.
Saat ini semua perempuan sedang masak makan malam, tentu yang paling jago masak adalah Alisha, Alka hanya pandai membuat ramuan, sedang Jarni sama sekali tidak bisa masak.
Mereka bertugas menjadi asisten Alisha dalam memasak, mereka akan makan yang gampang saja, ayam goreng dan sambal sebagai penambah rasa.
Jarni kesulitan memastikan ayam goreng itu sudah matang dengan sempurna atau belum, sementara Alka memasak nasi yang sudah diberi tahu Alisha bahwa takarannya harus sesuai, karena lauk pauk enak tanpa nasi yang enak adalah sia-sia.
“Kenapa Jarni?” Alisha bertanya, dia sedang menata piring plastik untuk makan.
“Ini udah matang belum ya?” Jarni mengamatinya seolah itu adalah soal matematika saat ujian.
“Gampang kok kalau mau tahu ayam goreng sudah matang sempurna, pertama cara profesional. Kau perlu themometer dapur, tusukan themometer pada ayamnya, jika sudah menunjukan angka 73 derajat, maka ayam telah matang sempurna. Tapi, karena kita tidak ada thermometer dapur, maka kita pakai cara konvensional atau sederhana. Ambil pisau, lalu tusukan pada ayamnya, kalau keluar cairan bening, artinya sudah matang, tapi kalau yang keluar adalah darah, itu artinya belum matang. Coba kamu tusukan pisau ini.” Alisha memberikan pisau pada Jarni.
Jarni menusukan pisau di ayam yang sedang di goreng itu, lalu keluar cairan bening.
“Udah mateng!” Jarni senang sekali, seolah dia mendapatkan nilai A pada ujian sekolahnya, dia bahkan berjingkrak. Alka tersenyum melihat kelakuan adik kesayangannya.
“Gampang kan?” Alisha tersenyum.
“Ya, Lais. Ini adalah kali pertamaku memasak.” Jarni yang pendiam berbicara cukup banyak kali ini.
“Oh ya? baguslah, kau membuat kali pertamamu sempurna.” Alisha memujinya, Alka tahu, dia mendekati Jarni, dia juga pelan-pelan mendekati yang lain. Alka sudah mewanti-wanti bahwa yang paling sulit didekati adalah Jarni, lima sekawan memang punya masalah kepercayaan pada orang asing, tapi kadar pada Jarni bisa dua kali lipatnya tidak percaya orang asing.
Makanya Alka meminta Alisha lebih mendekati Jarni, karena kalau Jarni tidak suka padanya, maka tamat riwayatnya di kelompok ini. Sepertinya Alisha berhasil. Dia menyentuh kelemahan Jarni dan membantunya menghadapi kelemahan itu.
Makanan sudah siap, mereka tidak punya meja makan, makanya makan di ruang tamu tanpa meja dan bangku.
Makan lesehan di tikar yang mereka bawa, dengan piring plastik, nasi di magicjar dan ayam goreng serta sambal yang diulek. beruntung mereka membawa genset untuk bisa menyalakan peralatan elektornik termasuk menambah daya pada telepon genggam mereka.
Semua mulai makan malam, setelah lelah membersihkan rumah, mereka lahap sekali makan, semua memuji masakan Alisha, tapi Alisha tidak lupa memberitahu bahwa Jarnilah yang memasak ayamnya dengan baik, Jarni tersenyum bangga, karena selama ini dia terkenal tidak bisa masak. Bagi banyak orang keahlian memasak adalah mutlak yang harus dimiliki perempuan, tapi bagi Ganding, itu tidak terlalu penting, melihat kebahagiaan Jarni yang bisa memasak, Ganding merasa bahagia juga, walau memasak bukanlah menjadi keharusan bagi Ganding untuk tetap mencintainya.
AAliha memperhatikan Hartino, Hartino juga lahap sekali. Sisi yang tidak pernah dia lihat pada Hartino sebelumnya. Kemewahan yang selalu Hartino perlihatkan pada semua teman wanitanya, hingga membuat dirinya digilai dulu di sekolah maupun kampus. Itu semua sirna di sini, dia makan dengan kaki bersila, piring plastik seadanya dan makanan sederhana. Ini yang ingin Alisha lihat, ini yang ingin Alisha rasakan, merasa dekat dan kenal pada diri Hartino yang asli.
Alisha bahkan siap jika ini adalah hari terakhirnya untuk hidup, karena dia merasa, cukup.
________________________________
Catatan Penulis :
Di sini ada yang nggak bisa masak juga kayak Jarni? atau ada yang jago masak kayak Alisha? Kasih komentar ya.
__ADS_1
BTW jangan lupa untuk add aku di instagram ya IG : MUKA KANVAS, aku suka share di Story tulisan-tulisan pendek. Sekarang aku lagi nulis drama pendek aku dan dia, berupa tulisan interaksi yang romantis yang aku tulis setiap hari, siapa tahu bisa jadi contekan kamu yang lagi deketin doi, hehehheheh.
Terima Kasih.