
Alka akan memulai pernyataannya.
"Begini Pak, kami ini adalah orang yang menemukan mayat-mayat itu, mayat-may Ay itu berada di gua bagian dalam puncak, jarak antara puncak dan gua itu lima meter ke bawah. Orang yang membawanya pasti adalah orang yang cukup kuat hingga mampu membawa ke sembilan belas mayat-mayat itu."
"Betul Pak, Anto adalah Pecinta alam, jadi di cuaca seperti itu dan juga medan yang berat, dia biasa melakukannya." Ardin mencoba memberikan dukungan pada Alka, padahal Alka sedang mencoba menjatuhkannya ke dalam jebakan yang cukup dalam.
"Memang seharusnya orang yang mengenal alamlah yang bisa naik turun dalam jangka waktu yang cepat, orang yang biasa datang ke gunu lng tersebut."
"Tuh kan Pak, Anto sangat keterlaluan Pak, Bapak harus segera menyisir hutan untuk mencari dia." Ardin masih yakin kalau Anto tidak akan pernah diketemukan karena dia membuangnya jauh ke dalam jurang.
"Tapi kata Anto kamu yang bunuh seluruh saudarnya." Alka menembak langsung pernyataan Ardin.
"A-apa?" Ardin terlihat berkata dengan bergetar.
"Kamu sudah bertemu dengan Ardin?" Polisi bertanya.
"Ya, sudah Pak. Dia mengatakan bahwa Ardin yang membunuh semua orang." Alka kembali mengulang kata itu.
"Tidak mungkin, kau pasti bohong, dia bohong Pak. Tidak mungkin Anto mengatakan itu padanya."
"Kenapa tidak mungkin?" Alka bertanya dengan mata mendelik.
"Karena ... karena Anto sudah ... hilang." sedikit lagi, tapi dia masih bisa mengendalikan keadaan.
"Ya betul, kita harus bicara dengannya baru pernyataan keduanya bisa dikonfrontasi." Polisi berkata.
"Wanita ini pasti berbohonh Pak, apa yang kau mau, mana buktinya Anto berbicara padani?" Ardin pura-pura terlihat sedih dn frustasi.
"Ya, dimana kau bertemu dengan Anto?" Pak Polisi bertanya.
"Di hutan, aku bertemu dengannya di hutan."
__ADS_1
"Kalau begitu kau harus membawanya ke sini, coba kau bawa dia ke sini, agar semua orang percaya." Ardin tahu Alka tidak mungkin membawa Anto ke sini.
"Tidak bisa Pak."
"Tuh kan, kau pasti pembohong, apa maumu sebenarnya? Pak tangkap dia, jangan-jangan dia komplotannya."Ardin menggeser keyakinan Polisi.
"Alka kenapa kau tidak bisa membawa Anto? Bukankah kau bilang berbicara dengannya?" Pak Polisi terhasut.
"Bisa saja, tapi akan sulit." Alka kesal.
"Tidak mungkin Pak, tidak mungkin dia bisa menghadirkan Anto, dia mengada-ngada, Anto hilang di hutan, kalian harus segera cari dia di hutan, kalian harus menyisir hutan." Ardin bermaksud mengelabui Polisi dan berharap mengulur waktu, agar bisa mengambil seluruh harta Nanto.
"Nggak perlu sisir hutan Pak, Anto ada di kamar mayat." Alka langsung mengatakan itu dengan jelas.
"Apa maksudmu?" Pak Polisi tampak bingung.
"Iya, Bapak kalau mau interogasi Anto, dia ada di kamar mayat, kepalanya hancur, bisa nggak ya tuh ditanyain?" Alka sarkasme, Ardin terlihat pucat.
"Anto sudah meninggal?"
"Kamu jangan bercanda, ini masalah serius, bisa bicara pada intinya saja?" Pak Polisi terlihat marah.
"Kami menemukan jasad Anto di tepi jurang, kami mengambil jasad itu dengan teknik khusus, kami kebetulan adalah tim penyelamat profesional, kami sengaja menyisir lokasi yang tidak dijamah oleh Tim SAR, asal Bapak tahu, kami yang menemukan mayat keluarga dan saudara Pak Nanto, kami menemukan mereka langsung pada hari pertama kami bergabung, sedang Tim SAR sudah enam hari mencari tapi tidak ketemu."
"Bisa utarakan kesimpulannya saja?"
"Kesimpulan kami yang membunuh mereka semua termasuk Anto adalah pria ini Pak." Alka langsung menunjuk pada wajahnya.
"Tidak Pak, saya tidak membunuh mereka, Anto yang membunuhnya!" Ardin berteriak.
"Yasudah kalau kalian tidak percaya, silahkan tanyakan langsung ke Anto apakah dia membunuh?" Alka tidak mau kalah.
__ADS_1
"Periksa mayat Anto, cek sidik jari di seluruh tubuh dan pakaian Anto, jika kita menemukan sidik jari lelaki ini, artinya dialah pelakunya." Pak Polisi menyuruh beberapa anak buahnya memeriksa tubuh Anto, tubuh Anto memang sudah Alka sembunyikan, dia menyuruh Ganding segera turun dan mengambil mayatnya, tapi mayat itu disembunyikan oleh Jin pengawal Ajimantrana, sehingga ketika dibawa turun haya Ganding dan Hartino yang melihat, entah mengapa insting Alka mengatakan bahwa, Anto yang mayatnya ditemukan berbeda lokasi adalah kunci.
Makanya Alka menyembunyikan mayat itu, agar kelak jika ada yang menggunakan mayat itu untuk kepentingannya maka Alka bisa langsung tahu bahwa dialah pelakunya, seperti Ardin saat ini, Alka tahu dialah pelakunya karena dia menuduh mayat yang hampir tidak mungkin ditemukan, maka Si Pembunuh dengan percaya dirinya menuduh saudara sendiri.
"Pak, jangan percaya wanita ini, dia pasti sudah menjebak saya, karena saya dan Anto pergi bersama, pasti ada sidik jari saya di tubuh Anto, kami kan berinterksi selama naik dan turun, ini akan tidak adil bagi saya Pak.
Lagian meninggalnya Anto mungkin saja karena dia tergelincir, wanita ini pasti komplotannya, tangkap dia Pak."
Ardin benar-benar cerdas, tapi dia tidak tahu kalau sedang menghadapi manusia setengah jin.
"Benar kata Ardin Pak, kalau di tubuh Anto mungkin saja ada sidik jari Ardin karena mereka dua hari terakhir berinteraksi bersama, tapi bagaimana dengan alat pembunuhan Pak? Mungkin nggak kalau sidik jari Ardin ada di sana secara tidak sengaja?" Alka membuat Ardin mulai pucat, dia mencoba mengingat, batu itu dia lempar juga ke jurang, tepat setelah dia melempar Anto ke jurang, apakah mungkin batu itu juga ditemukan? Ardin berfikir keras, alasan apa yang harus dia katakan.
"Kau memiliki alat pembunuhannya? Kalau itu ketemu, sudah dapat dipastikan bahwa sidik jari pada alat pembunuhan itu adalah pembunuhnya." Pak Polisi mengambil kesimpulan, Ardin tidak berkata apapun, karena dia tidak dapat berkilah lagi, tidak mungkin sidik jarinya ada secara tidak sengaja selain karena dia memang menggunakan senjata itu sebagai alat pembunuhan.
"Ada pak, ada di atas mayat Anto, kami tidak menyentuhnya, seolah Anto menjaga alat bukti itu agar kami temukan, bagaimana bisa alat pembunuhan itu tepat ada di perutnya, masuk ke dalam kain parasut yang melilit seluruh tubuhnya, walau tidak ikut terbungkus, tapi jelas alat pembunuhan itu sebenarnya dilempar terpisah, karena ada bekas luka tumbukan dari alat pembunuhan itu, artinya alat pembunuhan itu dilempar dan atas izin Tuhan bisa terlindungi di tubuh Anto." Alka menjelaskan, satu kantor Polisi menjadi melow, beberapa Polisi Wanita menangis mendengar itu.
"Kalian jangan terpengaruh oleh wanita gila ini, dia sekongkol dengan Anto, bisa saja Anto yang menaruh sidik jariku di batu itu, shingga sidik jariku menempel." Ardin mencoba berkilah, tapi ....
"Batu? Hanya pembunuh aslinya yang tahu apa alat pembunuhannya, karena dari tadi aku selalu bicara alat pembunuhan, alat pembunuhan saja, aku tidak pernah bilang bahwa alat pembunuhan itu batu. Kau tahu, artinya kau mengakui dengan sendirinya, bahwa kau adalah pelakunya!" Alka kali ini tidak sabar lagi, karena dia dari tadi menuduhnya sebagai sekongkolannya seorang pembunuh, menjijikan sekali kecerdasan orang ini.
"Tangkap dia! Dia sudah pasti pembunuhnya, karena sepanjang Mbak ini bilang alat pembunuhan, alat pembunuhan, aku membayangkan mungkin saja itu kapak atau golok, karena dua alat tajam itu bisa membuat kepala hancur, tapi hanya Ardin yang bisa menyebutkan dengan spesifik alat pembunuhan itu, berarti dia pelakunya." Polisi itu akhirnya percaya pada Alka.
"Pak, Pak, tapi saya tahu itu batu karena asumsi Pak, mana ada yang bawa golok atau kapak di hutan Pak, Pak, Pak jangan tahan saya Pak, dia wanita licik, pembohong." Ardin terlihat panik, perkataannya jelas mengada-ngada, Polisi tidak mau percaya lagi.
"Terima kasih sudah menjaga barang bukti dan mayatnya Anto, kita akan cari tahu apa motifnya membunuh saudaranya itu, bahkan salah satu korbannya adalah adik kandungnya sendiri, adik yang pernah mengisi di rahim yang sama, adik yang dari lahir sudah dia kenal, adik yang satu darah, manusia kadang memang lebih kejam dari binatang." Pak Polisi terlihat marah dengan kekejaman Ardin.
"Pak, boleh nggak saya bantu penyelidikan agar Ardin ini mengaku, dia orang cerdas Pak, dia pasti pakai cara hukum untuk menjawab semua pertanyaan Bapak, bukankah dia punya hak diam, saya takut dia menghambat penyelidikan." Alka menawarkan diri.
"Memang kau bisa bantu pakai cara apa?"
"Bapak tahu profesionalitas akan kalah dengan mata batin, penemuan mayat-mayat itu karena mata batin teman saya, namanya Aditia, dia yang menemukan mayat-mayat itu Pak, ada juga yang saya sembunyikan Pak, bahwa saat turun ke bawah, kami tidak bisa melihat Gua, sampai gua itu dibuka oleh teman saya yang Indigo itu, ternyata ada campur tangan ilmu hitam Pak, saya bantuin Bapak untuk melihat, apakah dia menggunakan ilmu hitam untuk menutup gua itu dengan tirai ghaib dan membawa mayat-mayat itu turun dengan tubuhnnya sendiri, gimana Pak? Boleh nggak ya?"
__ADS_1
"Bisa sih, kami juga suka minta tolong Cenayang untuk menemukan orang hilang, kalau kamu memang bisa bantu saya kira kamu dan kawanmu bisa dimasukkan ke dalam tim penyidik."
Alka tersenyum penuh arti ke Ajimantrana, karena dia dan Aji akan menyiksa Ardin nanti.