
Pertemuan antara pemilik hotel dengan lima sekawan akhirnya terlaksana. Mereka bertemu di ballroom hotel yang cukup besar, mereka bertemu dalam suasana yang santai karena disediakan meja bulat yang besar di tengh ruangan dengan berbagai hidangan yang terlihat lezat.
Pak Hariyadi Tedja Januar, dia adalah pemilik hotel, Hartino sudah mencari tahu siapa dia.
Bisnisnya sangat banyak, ada yang bergerak di bidang batu bara, minyak dan juga perkebunan kelapa sawit. Tiga jenis bisnis yang bisa membuatmu kaya seketika.
Anehnya hotel kecil ini tidk dipugar dan dibiarkan apa adanya, hanya perbaika kecil pada beberapa kamar yang atapnya sudah hampir ambruk saja. Perbaikan itu dilakukan karena memang kamarnya hampir ambruk.
Hotel benar-benar terlihat tidak mewah, padahal dengan begitu banyak bisnis yang dimiliki oleh Hariyadi, tentu tidak sulit mengeluarkan biaya untuk memugar hotel ini menjadi hotel mewah. Dulu saat dibangun, hotel ini memang seperti hotel yang berada di antah berantah, karena tahun itu bisnis hotel belum begitu menjadi primadona.
Tapi sekarang berbeda, walau lokasinya di suatu desa, tapi desa ini begitu banyak lokasi wisata, tentu dengan pemandangan yang sangat mumpuni.
Hotel ini tentu saja akan jauh lebih laku jika diubah menjadi resort atau hotel mewah, sayangnya hotel ini malah dibiarkan berjalan apa adanya saja.
"Benar Pak, ini mereka berlima yang akan melakukan pembersihan." Teddy menjawab dengan bersemangat. Dia memang jarang sekali bertemu pemilik, dia ingin memamerkan semua jerih payahnya menangani masalah hotel ini.
"Siapa yang akan mewakili untuk menjelaskan?" Hariyadi tidak menghiraukan Teddy, dia ingin salah satu anak muda di hadapannya yang menjelaskan.
"Jadi begini Pak ...."
"Ted, biarkan mereka yang jelaskan." Akhirnya Hariyadi memotong perkataan Teddy, dia ingin mendengar langsung dari salah satu lima sekawan. Seperti biasa, Ganding yang akan menjelaskan.
"Pertama, sebelum saya jelaskan, mau kah Bapak membantu untuk menjawab beberapa pertanyaan kami?" Ganding bertanya.
"Silahkan."
"Pertama, apakah Pak Hariyadi yang membangun hotel ini?"
"Ya, aku yang membangun hotel ini."
"Apakah Bapak atau keluarga Bapak ada yang melakukan melakukan praktek penglaris pada hotel ini?" Lanjut Ganding.
"Tidak, keluarga kami tidak suka melakukan itu. Kami semua kerja keras untuk mencapai posisi seperti ini."
"Kalau begitu, kenapa di setiap sudut hotel ini kami melihat begitu banyak bayangan hitam?"
"Kalian yang jelaskan, karena saya dan Teddy tidak tahu soal itu."
"Baiklah, anggap saja tidak ada praktek penglaris di hotel ini tapi. Tapi bagaimana dengan kiriman dari pesaing?"
"Mana mungkin, tidak ada satu pun pesaing kami di sini, kalian tidak lihat hotel lain yang lebih baik kan? Hanya hotel kami disekitar sini.
"Mereka datang pasti ada sebab, karena mereka begitu banyak, ditambah, soal semua yang terjadi pada perempuan yang merupakan pegawai hotel ini, pasti ada alasan kenapa mereka koma dan akhirnya meninggal. Sejak hotel ini berdiri, belasan wanita mati."
"Mati itu milik Tuhan Nak, saya suka kalian datang dan begitu perhatian, kalian boleh melakukan bersih-besih, saya tidak larang"
Hariyadi berdiri, dia hendak pergi. Untuk umurnya yang sudah sangat tua, cara jalan dan bicaranya sungguh tidak mewakili umurnya.
Dia masih terlihat sehat dan bugar untuk orang seusianya.
Hariyadi pergi dan Teddy mengantarnya keluar.
__ADS_1
"Sudah kuduga, dia tidak akan membantu, gimana Kak? Udah liat badannya? Ada yang menempel?"
Pertemuan ini memang dilakukan bukan untuk meminta penjelasan, karena siapa juga pelaku pesugihan yang mau mengaku, layaknya pencuri yang jelas tidak akan mengaku hingga tertangkap tangan.
Begitu juga dengan Hariyadi. Tapi kepercayaan dirinya sangat mengganggu Alka.
"Tidak, aku tidak menemukan apapun."
"Sama." Empat lainya menimpali.
"Jadi maksudnya lelaki itu bersih?" Hartino bertanya.
"Terlihatnya bersih, andai kita bisa baca pikiran orang, jadi lebih mudah mendeteksinya." Aditia berkata perkataan konyol.
"Kemungkinan dia melakukan pesugihan atau praktek penglaris gimana?" Ganding bertanya pada Alka.
"Dia sedang menantang kita." Alka akhirnya bicara setelah mendengar semua adiknya berdiskusi.
"Maksudnya?" Aditia bertanya.
"Dia melakukan sesuatu pada hotel ini, dia pelakunya, tapi dia sangat yakin kita takkan mampu untuk melakukan permbesihan, makanya dia datang dengan tenang dan mengizinkan kita melakukan pembersihkan."
"Jadi, gimana? Kalau mereka hasil perjanjian dengan jin, kita nggak bisa apa-apa kan?" Hartino bertanya.
"Tapi kita kan memang tidak pernah punya format peperangan Har, kita coba dulu, kita lakukan perakuan untuk dua asumsi. Pesugihan dan juga praktek penglaris, jika dua itu gagal, mungin kita akan menemukan jalan.
Yakinlah, Tuhan bersama kita." Alka berdiri.
"Mencari Selly, kita harus menemukannya."
"Trus kita gimana?"
"Nding, siapkan semua ritual pembersihan, untuk pesugihan dan penglaris. Jika sudah, kau telepon aku, baru kita lakukan ritual pembersihkan.
"Alka! Aku ikut." Aditia mengejar Alka yang hendak melanjutkan perjalanannya keluar ruangan itu.
Aditia dan Alka jalan beriringan.
"Ka, kita carinya gimana?"
"Minta tolong Abah mencari, dia pasti lebih cepat," Alka menjawab.
"Baiklah." Aditia berbicara dengan Karuhunnya di dalam hati, komunikasi ghaib yang hanya Aditia dan abah Wangsa bisa lakukan.
Tidak lama Abah Wangsa terlihat dan dia menyapa Alka dengan menunduk lalu mulai berlari untuk mencari, Aditia dan Alka mengejarnya, mereka tahu, abah pasti mencium jejak Selly.
Mereka terus berlari lantai demi lantai, lorong demi lorong, setiap sudut tidak dilewatkan.
Tapi masih belum mendapatkannya, Aditia dan Alka yang sudah sejam ini mencari keberadaan ruh Selly sudah kelelahan.
"Bah, hampura, ini kenapa Abah seperti ragu setiap kali menemukan jalan buntu?" Aditia akhirnya bertanya, dia menghentikan abah yang berlari terus menerus selama satu jam ini tanpa arah.
__ADS_1
"Aku merasakan kehadirannya, tapi aneh, aku tidak bisa melihatnya."
"Kok bisa gitu Bah?" Aditia bertanya lagi.
"Kemungkinan, ada yang menciptakan dunia ketiga di hotel ini, dunia yang menjebak manusia terperangkap di dalamnya, manusia yang mati atau lepas raga."
"Hah, kalau pesugihan tidak begitu kan Ka, konsepnya? Maksudku tidak perlu repot-repot menciptakan dunia ketiga karena mereka hanya tinggal mencari korban untuk dikorbankan kepada jin yang melakukan pesugihan, setelah itu korban akan menghilang karena menjadi budak dari jin.
Tapi jin itu tentu saja akan berada di dunia ghaib yang bisa kita lihat, bukan dunia ketiga bukan?" Aditia bingung.
"Bah, berarti ini bukan pesugihan ya? Kalau penglaris gimana?" Tanya Alka.
"Mereka yang kita lihat itu, itu yang memenuhi semua bagian hotel, bukan korban pesugihan dan energi yang biasa menyertai keberadaan jin penglaris, tidak Abah rasakan, jadi kemungkinan bukan pesugihan dan juga penglaris."
"Lalu apa Bah?" Alka bertanya.
"Dit, kau tidak bawa catatan Mulyana?" abah bertanya.
"Bawa, ada di tasku tapi di kamar 713."
"Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar dan mencari catatan bapak." Alka dan Aditia berlari ke lift. Sementara Abah Wangsa kesal.
"Aku ditinggalkan begitu saja, dasar anak muda, seolah milik berdua." Setelah menggerutu, abah wangsa menghilang seketika, dia masuk kembali ke dalam tubuh Aditia.
Begitu sampai kamar, Aditia mencari buku catatan Bapak lalu setelah ketemu, dia mencari catatan bapak lembar perlembar. Lalu dia berhenti pada tulisan ....
LEMBAH ARU
Lembah bayangan yang diciptakan oleh dukun dan juga jin jahat yang mengunci ruh manusia untuk tujuan tertentu. Ruh menjadi bingung dan terjebak dengan ingatan terakhir sebelum meninggal.
Lembah Aru sangat berbahaya, karena jika ruhmu sudah masuk ke lembah itu, satu-satunya jalan keluar adalah, mantra pembalik yang harus dilakukan oleh pemesan atau orang yang meminta dukun menciptakan lembah itu.
Hanya si pemesan lah yang bisa mematahkan mantera penciptaan lembah aru itu.
"Dit, kemungkinan ini benar lembah Aru, pantas Hariyadi menantang kita. Dia sudah tahu, akan sulit bagi kita melakukan pembersihan."
"Tapi Ka, kalau memang wanita-wanita yang menjadi korban itu terjebak di lembah Aru, mereka dikorbankan untuk apa?"
"Entahlah, pesugihan bukan, penglaris juga tidak, lalu apa kemungkinan yang lain? Oh ya, kau sudah memberitahu yang lain untuk menghentikan persiapan ritual? Karena kita kan sudah tahu, kalau ini bukan soal pesugihan dan penglaris."
"Oh ya Ka, aku lupa."
"Adittttt!!!" Alka kesal, dia kasihan pada adik-adiknya yang sekarang pasti repot mempersiapkan semua kebutuhan ritual.
Tugas mereka berat sekali sekarang, belum lagi pasukan jepang dan wanita 713, lalu para korban dari sejak didirikannya hotel ini, mereka pasti terjebak di Lembah Aru, lalu Selly.
Alka bingung, yang mana yang prioritas, ditambah semua adiknya kelelahan.
Istirahat panjang tidak membuat mereka jadi lebih kuat ternyata.
Lelah ya lelah.
__ADS_1