
Bagian 63 : Ruang Ujian 3
“Dit, kok malam sekali sih?” Rupanya ibunya Aditia menunggunya pulang, sekarang sudah pukul sebelas malam, butuh satu jam untuk sampai rumah biasanya tidak selama itu, tadi sempat lama nunggu ojek online, pesanan Aditia sering ditolak, saat diperjalanan pulang, tukang ojek bilang, kalau kebanyakan tukang ojek takut ke gedung itu, karena pernah beberapa kali dapat pesanan yang ternyata penumpangnya makhluk astral. Aditia akhirnya maklum kenapa tadi lama sekali dapat ojeknya, ternyata memang gedung itu terkenal angker.
“Iya bu, tadi ada kerjaan tambahan.” Berbohong pada ibu seperti sudah jadi kebiasaan.
“Tadi temen kuliah kamu datang, katanya mau ada tugas kampus yang dikerjain bareng, dia nunggu lumayan lama, tapi kamunya nggak pulang-pulang.”
“Hah? Temen kampus? Laki-laki atau perempuan?” Aditia bertanya.
“Laki-laki dua orang.”
Pasti Ganding dan Hartino, teman kampus Aditia biasanya akan menghubungi dulu jika ingin berkunjung, tidak pernah berkunjung tanpa janji, kalaupun mereka datang tiba-tiba, pasti langsung telepon, sementara daritadi yang telepon hanya Ganding dan Hartino saja, sudah pasti mereka, Alka mengirim bala bantuan untuk membujuk Aditia, tapi dia tidak ingin bertemu dulu.
“Oh.” Aditia menjawab ibunya singkat.
“Udah mandi dulu sana, makan abis itu.”
“Udah makan, pas sebelum pulang tadi, masih kenyang.”
“Hah? Kamu makan bekal ibu baru pas mau pulang? Kamu kalau makannya nggak bener gitu, jadi sakit loh.” Ibunya khawatir.
“Iya tadi makan siang diajak temen, jadi makan di luar, jadi makanan ibu aku makan tadi pas sebelum pulang.” Aditia kembali berbohong, dia juga sampai sekarang masih merasa aneh, kenapa tidak ingat makan siang, hari begitu terasa cepat di ruangan itu.
Selain itu, Aditia juga merasa aneh, kenapa banyak sekali hantu di gedung itu, kenapa juga dia harus kerja di tempat seperti itu, kenapa ‘makhluk-makhluk’ itu selalu berada di sekitar dirinya, Aditia mulai muak dengan semua ini.
Rasanya dia ingin melepas pekerjaan sebagai supir angkot ruh, untuk apa dia menjalankan amanah bapaknya, tapi sekarang, dia sudah sangat kecewa, kenapa dia harus menjaga amanah kalau ayahnya saja tidak percaya pada keluarganya sendiri.
Menjual angkot itu sepertinya akan menjadi salah satu prioritas Aditia sekarang, kawanan itu juga perlahan akan ditinggalkan oleh Aditia.
Aditia selesai mandi, dia lalu berbaring.
[Mau sampai kapan kau marah!] terdengar suara Alka di kepala Aditia.
Mungkin Alka mulai kehilangan kesabaran, dia sudah menunggu selama seminggu lebih tapi tidak ada kabar juga dari Aditia, maka komunikasi batin menjadi jalur alternatifnya, komunikasi batin ini kelihatannya lebih ampuh dibanding komunikasi melalui telepon genggam.
Aditia memejamkan matanya, dia mau pura-pura tidur.
[Kau fikir aku bisa dibohongi, aku masih merasakan aktifitas otakmu, bodoh!] Alka sudah kehabisan kesabaran, dia tiba-tiba ada di kaki tempat tidur Aditia.
“Kau ngapain di sini!” Aditia terlihat kaget karena Alka tiba-tiba datang tanpa permisi, tidak lewat pintu, tidak lewat jendela, tapi lewat jalur ghaib, menembus tembok.
“Baumu aneh.” Alka mendekati Aditia, dia mengendus tubuh Aditia.
“Jangan dekat-dekat, kita hanya berdua di kamar!” Untuk pertama kalinya Aditia kasar dan mendorong Alka.
“Kau bau busuk Dit, darimana? Sedang menangani kasus?” Alka penasaran dengan bau Aditia.
“Aku tidak lagi menangani kasus seperti itu, aku fikir akan mulai bekerja dan fokus pada keluargaku, mungkin angkot juga akan aku jual.”
“Kau gila! Itu amanah bapak, berani sekali kau akan jual?”
“Aku butuh uang untuk keberlangsungan keluargaku, Ka. Jadi aku mohon, jangan ikut campur.”
“Kau punya cukup uang untuk keluargamu, pendidikan dan cita-citamu Dit! Bahkan lebih dari cukup.”
“Itu uang ayah, bukan uangku. Dia saja tidak percaya memberikan uang itu untuk keluarganya, jadi aku tidak akan pakai uang itu, harta atau warisan, apalah namanya. Pokoknya aku tidak mau!”
“Menjual angkot itu keterlaluan Dit! Fikir baik-baik, kau hanya sedang marah, tapi impian dan cita-citamu dan bapak itu sama, jangan menyerah.”
“Aku tidak menyerah, aku tidak ingin melakukan hal yang tidak berguna untuk keluargaku, itu saja! Jadi tolong pergi.”
“Kau tidak ingin bersamaku lagi?” Alka duduk di kasur Aditia, pada detik ini Aditia terkejut, pesona Alka membuat Aditia sedikit gugup.
“Aku ingin, tapi percuma, ayah juga tidak ingin kita bersama, kan? Kau yang bilang.”
“Aku ingin kau tetap di dekatku Dit, berjuang bersama.”
“Baiklah, tapi satu syaratnya, jadi istriku, kita menikah, maka aku akan melakukan apapun yang kau mau.” Aditia tahu, Alka menyerah dan tidak menerima lamaran aneh ini.
“Kau keras sekali, kau memberi syarat yang pasti tidak akan pernah aku penuhi, aku tidak ingin kau menyerah.” Lalu Alka menghilang, sama seperti kedatangannya yang begitu mengejutkan, kepergiannya pun, diam-diam.
Aditia sedih melihat ekspresi Alka, tapi ini lebih baik, cinta dan dunia ghaib, bukan prioritas Aditia saat ini, dunia nyata lebih kejam, kebutuhan Dita dan Ibu jauh lebih penting, soal harta itu? Itu hanya fatamorgana, ayah saja tidak percaya memberikan harta itu untuk keluarganya, maka Aditia hanya akan membiarkan hal itu terus berjalan sesuai keinginan ayahnya.
…
Aditia bangun pagi, dia sudah mandi dan berpakaian rapih, sepertinya hari ini dia akan terlambat, kakinya sakit sekali, seperti orang yang olahraga berat di hari sebelumnya.
“Dit, kamu makin pucet, nggak enak badan?” Ibunya bertanya.
“Masa sih Bu? Ini kaki Aditia emang pegel banget, nyeri gitu. Mungkin kecapean.”
“Aditia nyaman di kantor? Kalau berat, udah keluar aja, ibu masih bisa kok biayain kalian, tunggu kamu lulus baru kerja.”
Aditia malu, kenapa dia tadi mengeluh, ibunya saja tidak pernah mengeluh, tekadnya semakin bulat untuk membahagiakan dua wanita yang paling dia cintai. Prioritasnya adalah mereka, kebutuhan mereka dan kebahagiaan mereka.
Aditia salim saat akan pergi, dia lalu berkata, “Aditia betah kok, capek memang, tapi Aditia suka kerja di sini. Jadi ibu ngak usah khawatir ya, Ibu sama Dita tenang aja, Adit akan kerja keras.
__ADS_1
“Ya, Nak. Tapi kalau sudah tidak kuat, kau harus bilang, kita cari solusinya sama-sama ya.”
“Oh ya Bu, angkot akan Adit jual, jadi tabungan kita akan cukup untuk biaya kuliah Dita, Adit mau Dita lulus dan jadi Dokter sesuai mimpinya. Jadi kalau nanti ada yang tanya, Ibu kasih tahu aja, kalau memang kita akan jual angkotnya.”
“Iya Nak, makasih ya.”
Aditia lalu pergi dengan ojek online, seperti biasa, saat sampai ternyata Ibu Ningsih sudah datang kata security, Aditia buru-buru masuk ke gedung kantor, Aditia tidak lupa bawa kerisnya, saat melewati wanita dengan wajah hancur, wanita itu terlihat takut saat Aditia lewat, pasti karena kerisnya.
Aditia masuk lift dan naik ke lantai dua, saat sudah keluar lift, ternyata ada Nita.
“Nit, kok di sini?” Nita langsung memeluk Aditia, walau sudah umur dua puluh dua tahun, Aditia tidak pernah bermesraan dengan perempuan, dia agak kikuk.
“Dit, gue takut, nggak berani gue lewat ruang ujian itu.”
Nita sepertinya trauma dengan kejadian semalam, dia mungkin tidak terbiasa dengan dunia ghaib, itu yang Aditia fikirkan.
“Iya, sini gue anter.” Aditia melepaskan pelukannya dan menuntun Anita, wajar dia ketakutan, mungkin hanya Aditia yang sensitif yang mampu merasakan ‘mereka’.
Setelah ruang ujian terlewati, Nita dan Aditia masuk ruangan, mereka berpapasan dengan Ibu Ningsih.
“Dit, saya pulang dulu, kamu kerja pulang tepat waktu ya, saya ada urusan.” Ibu Ningsih bergegas pergi.
“Tapi, Bu ….” Aditia tidak sempat memberitahukan kejadian semalam, ada yang ingin dia pastikan, tapi terlambat.
“Yaudah, biarin aja Dit, dia eman suka seenaknya gitu.” Nita lalu pergi ke mejanya, seperti biasa, ruangan ini penuh dengan orang yang bekerja bersungguh-sungguh, semua hanya tersenyum aneh dan bekerja kembali.
Aditia lalu ke mejanya dan mulai bekerja.
Tidak terasa waktu kembali menunjukan pukul lima, Aditia tidak ingat kenapa dia tidak lapar dan makan siang, sepertinya semua orang lupa waktu kalau sedang di kantor ini.
Tidak ingin mengulang kejadian semalam, Nita dan Aditia bergegas pulang mereka memutuskan keluar bersama, Nita bilang lebih aman jika bersama Aditia, yang lain juga ikut pulang tepat waktu.
Saat sudah berada di luar gedung tapi masih di areal halaman gedung, Aditia melihat Alka mendekati mereka berdua.
“Dit.”
“Ka, ngapain ke sini?” Aditia tidak bertanya bagaiman Alka tahu kantornya, semalam saja dia bisa datang ke kamar melalui komunikasi batin.
“Dit, gue perlu ngomong.”
“Sorry nggak bisa.”
“Dit.”
“Mbak, Aditia nggak mau ngomong sama Mbak, pulang bareng gue aja ya.” Nita menarik tangan Aditia.
“Alka!” Aditia menepis tangan Alka yang akan menarik tangannya.
“Gue pulang bareng Nita, sorry.” Aditia lalu menggapai tangan Nita untuk berjalan bersama, Alka merasa sakit pada hatinya, perasaan yang sangat tidak nyaman ini, membuat Alka berlari dan menarik Aditia.
“Dit, lu harus pergi sama gue, sekarang!” Alka menarik Aditia sekuat tenaga, Nita jatuh karena kekuatan Alka tentu saja lebih besar, hal itu lagi-lagi membuat Aditia menepis tangan Alka dan menolong Anita berdiri.
“Dit, gue ….”
“Berhenti di situ, gue nggak mau lu sakitin Nita, ngerti! Kalau Nita sampai terluka, gue nggak akan pernah maafin lu.”
“Dit, terakhir gue janji, gue janji ini akan jadi terakhir, tapi denger gue dulu.” Alka mendekati Aditia, tapi tidak berani memegang tangannya.
Aditia berbalik dan menghadap Alka sekarang, dia menarik tubuh Alka dengan kasar dan berbicara tepat di depan wajahnya.
“Kita selesai, dia wanita yang sedang gue deketin, jadi jangan pernah datang untuk menemui gue lagi, gue nggak mau dia terluka karena lu, lu bukan manusia, gue takut lu nyelakain dia.”
Bagai badai di siang bolong, mendengar itu air mata Alka tumpah, seketika langit menjadi mendung, suara petir menyambar saut-sautan.
Aditia tidak perduli, dia dan Nita akhirnya naik taksi untuk pulang.
[Aku nggak tahu kalau cinta rasanya semenyakitkan ini.] Alka memegang dadanya dan mengatakan itu dalam hati, sakit sekali, walau Aditia tahu, itu hanya karena Aditia sedang marah, tapi rasa sakit ini terasa nyata, penolakan ini begitu membuat Alka perih.
…
“Lu nggak apa-apa?” Nita bertanya.
“Nggak.”
“Dia siapa? Cewek lu?”
“Bukan siapa-siapa.”
Pengemudi terlihat memandang tidak suka pada Aditia dan Nita, sepertinya dia merasa terganggu karena Aditia dan Nita berisik.
Setelah mengatar Nita pulang, Aditia lalu mengarah ke rumahnya.
Sudah sampai rumah, Aditia lalu bertemu ibu dan Dita, mereka sedang menonton televisi, Aditia makan di meja makan, bekal yang lagi-lagi tidak termakan.
“Dit, kamu udah mandi?” Ibunya bertanya.
“Udah.”
__ADS_1
“Kok, bau busuk.”
“Hah?” Aditia mencium seluruh tubuhnya.
“Dit, kamu juga makin pucat Nak, serius ngak ada apa-apa?” ibunya bertanya lagi.
“Ibu apa sih! Tanya begitu mulu, udah Adit bilang kalau Adit nggak apa-apa! Tanya lagi, tanya lagi, aku capek jawabnya.” Aditia lagi-lagi bersikap kasar, masalah ini membuat dia benar-benar tidak mampu mengontrol emosinya, si Kasep kehilangan kebijaksanaan semenjak jauh dari kawanannya.
"Kak! Mulai deh!" Dita membela ibunya.
"Maaf Bu." Aditia telah sadar bahwa sudah kasar ke ibunya.
"Adit Ibu liat kamu akhir-akhir ini jarang solat, subuh Adit kesiangam, kalau di kantor solat nggak?" Ibunya tiba-tiba bertanya.
"Bu, Adit istirahat dulu ya." Tidak ingin menimbulkan keributan, akhirnya Aditia masuk ke kamar untuk istirahat.
Aditia memang menyadari bahwa semenjak kerja dia selalu lebih gampang marah.
Saat sedang istirahat dia teringat tadi sudah mengarang tentang Nita, bisa dibilang itu hanya langkah Aditia menyakiti Alka, karena dia merasa cemburu.
Bagaimana seorang ayah lebih percaya orang luar untuk seluruh rahasianya dibanding keluarganya sendiri.
Bagaimana mungkin Pak Mulyana lebih percaya Ganding, Jarni dan Hartino dibanding anaknya.
Hanya Aditia yang tidak tahu tentang rahasia ayahnya sendiri.
Tanpa terasa akhirnya dia tertidur, lalu dalam tidurnya dia merasa sudah berada di kantor. Aditia merasa bahwa dia sebenarnya telah tidur tapi entah kenapa ada di sini.
Kantor ini terasa gelap sekali, Aditia berjalan keluar, tapi tidak bisa membuka pintu, pintunya terkunci.
Aditia melihat ke arah wanita yang wajahnya hancur, siluet malam menambah kengerian kantor ini, Aditia tidak tahu apakah ini mimpi atau dia telah lepas raga.
"Hei, kau tahu kenapa aku ada di sini?" Pertanyaan konyol tapi entah kenapa Aditia merasa harus bertanya.
"Kasep, aku ingin keluar."
"Aku juga!"
"Tidak bisa, kita sudah terjebak di sini."
"Aku belum mati."
"Kau fikir kami yang ada di sini sudah mati?"
"Kalian belum mati?"
"Setidaknya belum semua."
"Aku ingin pulang." Aditia menyesal telah kasar pada ibunya.
"Aku juga ingin pulang." Jawab wanita muka hancur gitu.
"Kau sudah lama tinggal di sini?" Aditia bertanya.
"Entahlah aku lupa."
"Wajahmu kenapa?"
"Wajahku kenapa? Maksudnya?" Wanita muka hancur itu bingung.
"Wajahmu, hancur." Aditia kaget wanita itu tidak sadar.
"Hancur, maksudmu?"
Aditia memintanya ikut untuk ke cermin yang ada di dekat lobby, dia meminta wanita itu untuk mengaca.
"Mana?!!!" Tidak ada pantulan di kaca itu, baik wanita dengan wajah hancur, maupun Aditia.
"Kok, nggak ada pantulannya, ini kaca buat kita rapihkan penampilan kalau mau masuk kerja, biasanya Aditia selalu mengaca sebelum naik lift.
"Kau dan kami, akan terjebak di sini, untuk waktu yang tak terhingga, selamat datang."
Wanita itu lalu pergi kembali ke tempat biasa duduk, seolah melihat orang baru itu biasa.
Aditia jatuh terkulai, sepertinya dia lepas raga tapi siapa yang melakukannya?!
"Alka, Jarni, Hartino, Ganding!!! Tolong!!!!"
______________________________
Catatan Penulis :
Yuk tebak yuk, dimana Aditia? Selametin nggak? Abis bikin kesel si Aditia nih.
Jangan lupa dukungannya ya, boleh Vote, boleh juga isi bucket hadiah.
Terima Kasih AJP ADDICT.
__ADS_1