
Nola terbangun, karena dia merasa ada yang menepuk bahunya, saat dia bangun, ternyata itu adalah supir bus, Nola kaget dan melihat sekitar, dia ada di bus kampus, dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, oh ya dia ingat, saat terakhir dia naik bus sehabis rapat menyambut Dirgahayu Universitas.
Nola lalu berjalan ke depan untuk turun dan akhirnya naik ojek motor ke arah kostannya.
Dia turun dan mencari tukang ojek, tidak ada tukang ojek, pasti dia orang terakhir yang naik bus, makanya ojek belum kembali lagi, Nola akhirnya memutuskan untuk menunggu ojek saat hendak berjalan ke depan, tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil, Nola! Nola! Nola!
Nola akhirnya menoleh ke belakang dan ....
“Bo-Bobby!” Seketika dunianya berputar dan suara nyanyian lawas itu terdengar lagi.
Nola ternyata mimpi dalam mimpi, dalam mimpinya yang dia pikir dia sudah bangun dan hendak pulang ke kost, ternyata itu hanya mimpi di dalam mimpi.
“Bob! Kita masih di bus?”
“Iyalah, makanya gue bangunin elu, siap-siap turun lagi.” Bobby menarik tangan Nola, sedang yang lain masih terus mengikuti mereka.
Turun dari bus, mereka berlari, berhenti sebentar istirahat di pohon besar, lalu berlari lagi bertemu pertigaan.
“Bob! Jangan kanan! Jangan kanan, demi Tuhan jangan kanan!” Nola berteriak.
“Kanan Nola, kemarin kita ke kiri!”
“Terserah, aku akan ke kiri, kalian akan bertemu nenek dan anak yang bermata bolong kalau kalian ke kanan, maka kua harus ke kiri sekarang, kau ingat? Kau akan bertemu nenek itu.” Nola mencoba meyakinkanan.
“Itu kalau kau belok kiri.”
“Tidak Bobby, itu kau belok kanan!” Nola memaksa.
“Nola, berarti kita berpisah sekarang, tidak bisa bersama lagi, maafkan aku.” Bobby melepaskan genggamannya.
“Tapi Bob.” Nola tidak mau belok kiri sendirian, karena dia sangat takut, sangat amat takut sendirian, selain itu, dia ingin selamat bersama, dia tidak ingin mereka selalu terjebak di bus itu.
“Nola, kita berpisah di sini ya ....” Bobby hendak pergi.
“Bobby sebentar, kita buat kesepakatan ya?” Nola tiba-tiba berkata yang tak masuk akal, lagi keadaan darurat malah mau buat kesepakatan.
“Apa kesepakatannya?”
“Lihat ini, aku akan menempelkan ... sebentar, nah ini ketemu, aku akan menempelkan saputanganku, di sini, di sisi kanan, ini artinya adalah jalan yang kita pilih, kau ingat, kalau orang tersesat di gunung, dia akan menandai jalan yang dilalui dengan apapun agar saat berputar, mereka sadar, maka aku menandai pohon di sebelah kanan ini sebagai tanda kalau kita hari ini, jalan ke sebelah kanan, memilih sebelah kanan, jadi besok, kita harus memilih kiri, bagaimana? apa kau setuju?” Nola memakai kata hari ini dan besok untuk meyakinkan Bobby dan kawanan, karena mereka biasa menggunakan kata kemarin. Makanya Nola akhirnya memakai kata pergantian hari agar mereka bisa setuju.
Bobby dan kawan-kawan setuju, lalu mereka memilih jalan kanan, lalu seperti sebelumnya bertemu dengan nenek dan cucu bermata bolong, jembatan lalu kembali lagi ke bus dengan lagu potong padi itu.
“Bobby ayuk, sekarang kita akan memilih sebelah kiri.” Nola kali ini yang kembali memegang tangan Bobby, lalu mereka berlari, beristirahat di pohon besar, lalu bertemu pertigaan.
“Kita ke kanan.”
“Bob, lihat ini, ini adalah saputanganku, kemarin kita sepakat bahwa kita menandai jalan ini dengan saputanganku, ini adalah jalan yang kita pilih kemarin Bob, ayo kita pilih jalan kiri sekarang juga.” Nola menarik tangan Bobby tanpa meminta persetujuan, mereka sudah berjanji dan tak boleh mengingkari.
“Nol, jangan tarik-tarik, kita salah jalan ini.”
“Kau sudah berjanji kemarin.” Nola mengingatkan, walau kata kemarin terasa janggal bagi Nola.
“Tapi kita perjanjiannya sebelah kanan bukan kiri, kita kemarin ke kiri.”
“Lalu kenapa saputanganku ada di sebelah kanan?” Nola berbalik dan berkata cukup keras agar Bobby ingat dan tidak menjadi bodoh lagi.
“Baiklah, tapi jalan pelan-pelan, kita tidak tahu medan Nola, di sini bisa saja.”
“Ah!!!!” Desi berteriak, Nola dan yang lain tiarap, mereka menunduk dan bahkan menahan nafas.
“Ada apa?” Nola bertanya pada Bobby yang ikut tiarap di sampingnya.
__ADS_1
“I-itu.” Bobby meminta Nola untuk melihat ke arah depan.
Saat Nola melihat ke arah depan, dia melihat hal yang sangat mengerikan.
Ada segerombolan monyet berbadan besar dari monyet pada umumnya, jalan mereka tegak, mereka berjalan dengan sangat gagah, tinggi mereka bisa sampai sedengkul manusia, tapi yang menakutkan adalah, monyet-monyet itu tubuhnya seperti terbakar, hangus, bau gosong tercium, mereka berjalan ke arah tim Bobby, Nola melihat Desi ditarik oleh beberapa monyet, saat kaki Desi ditarik, Nola melihat kakinya perlahan gosong, lalu ke badan dan akhirnya muka Desi gosong.
“Bobby, ayo kita tolong Desi.”
“Kau tidak lihat, kalau tubuhnya bahkan sudah gosong, dia tidak selamat!” ada nada penyesalan dan menyalahkan Nola karena memilih jalan ini.
“Maaf Bobby.”
“Kiri itu identik dengan sisi neraka, aku yang salah, seharusnya aku tidak membiarkanmu memaksa kami memilih jalan ini.” Bobby menarik Nola dan meminta semua kawannya untuk bersembunyi di tempat yang lebih tertutup, di sebuah reruntuhan pohon, agar monyet-monyet neraka itu tidak melihat mereka.
“Nola! Kau membuat Desi mati! seharusnya dia bisa bertemu dengan orang tuanya jika kita memilih jalan kanan, kau malah!”
“Jalan kanan membuat kita kembali ke bus itu lagi!” Nola sedikit berteriak dan Bobby menutup mulut Nola agar dia tidak berteriak lagi.
“Sudah, ayo kita kembali ke pertigaan dan kita ke jalan kanan.” Bobby menarik Nola, sedang Nola tidak punya tenaga untuk menolak, dia ikut saja.
Seperti sebelumnya, mereka bertemu dengan nenek dan cucu bermata bolong dan akhirnya mereka berhasil ke jembatan, senang bersama dan ... kembali ke bus lagi.
Nola lelah karen rasa bersalah, saat kembali ke bus, dia lagi-lagi memutuskan untuk tidur.
...
“Melati, kau yakin ini jalannya? Kenapa aku merasa bahwa ini jalan yang sudah kita lewati ya?” Arif bertanya.
“Kita sudah lewat jalan ini memang?” Iya kita sudah lewat jalan ini tadi.
“Kalau begitu, kau yang pimpin jalan ya, aku takut kita salah jalan lagi.” Melati yang tadinya memimpin jalan akhirnya meminta Arif untuk memimpin.
“Sebentar Melati, berhenti dulu ya.” Arif terlihat sangat bersemangat, dia berlari dan mendekati suatu pohon.
“Kenapa Rif?” Melati mengikuti Arif dari belakang.
“Ini! ini! ini! Arif gemetar.”
“Iya, ini apa?” Melati terlihat sangat bingung.
“Ini saputangan Nola! Aku ingat karena saputangan ini pernah dia pinjamkan saat aku mimisan dulu karena kelelahan, Nola meminjamkannya padaku, lalu setelah aku pakai, aku cuci bersih dan kembalikan ke dia, ini saputangannya, dia pasti menandai areal pohon ini dengan saputangannya agar dia tidak berputar-putar di jalan yang sama!” Arif berteriak memanggil Nola, Melati ikut berteriak memanggilnya, ini adalah siang hari bagi Arif dan Melati.
Mereka terus berjalan mencoba untuk mencari Nola dan berharap bertemu dengannya.
...
“Jadi, gini ceritanya Win ....” Heru mulai bercerita tentang Melati, tantenya.
Tahun 2005
“Mel, pasang dong lagunya, yang ituloh potong padi, kamu kan suka lagu-lagu kayak gitu.” Bobby mengejek Melati.
“Ini aku bawa, beneran aku pasang ya lagunya.” Melati terlihat kesal karena dia selalu diejek Bobby jika dia mendengar lagu lawas itu, tapi Melati memang suka semua yang klasik.
Mereka hendak studi tour ke luar kampus, mereka menggunakan bus kampus, baru saja bus keluar dari fakultas ilmu kesehatan masyarakat.
Melati maju dan memasang lagu potong padi pada radio bus, jaman ini masih menggunakan kaset sebagai media perekam lagu.
Semua orang kesal pada Bobby karena dia, akhirnya semua orang harus mendengar lagu lawas itu.
“Bob elu jangan aneh-aneh deh, elu tuh bener-bener, jangan lagu kayak gini juga sih Mel, nggak enak tahu.” Temannya yang lain marah, Melati lalu mendekatinya.
__ADS_1
“Ini lagi enak, jangan aneh-aneh kau, jangan sok gaul deh, ini enak banget lagunya.” Melati memang sangat suka lagu ini.
“Mel udah deh, yang lain kupingnya pada pengang tuh denger lagu ini, cepet keluarin kasetnya ganti lagu yang cadas, ya nggak Ren?” Bobby menegur Rendi yang asik mendengar walkman tidak menggubris
“Berisik lu.” Desi yang sedari tadi diam saja akhirnya ikut menimpali.
“Des, udah jangan ikut campur urusan orang gila.” Rosi yang biasanya cuek minta semua orang fokus untuk study tour mereka, tapi naas, tiba-tiba ban bus bocor, bus oleng ke kiri dan masuk ke kawasan hutan tanpa bisa dikendalikan, mereka memang belum keluar areal kampus dan masih harus melewati kanan kiri hutan, semua Mahasiswa dan Mahasiswi berteriak dan mengumandangkan takbir serta baca doa yang mereka bisa, semua ketakutan dan menjerit, bus makin berjalan masuk hutan tanpa terkendali, saat masuk hutan supir berusaha untuk mengendalikan bus dengan segala daya upaya tapi tiba-tiba mobil mereka menabrak pohon yang sangat besar, saat menabrak pohon itu Melati terlempar ke luar bus dan sedetik kemudian, bus meledak, membuat semua orang di dalamnya berteriak, terpanggang api panas, Melati tidak sadarkan diri, tidak tahu bahwa, mungkin hanya dia satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan itu.
...
“Jadi, tantemu selamat? Lalu kenapa dia masih dianggap orang hilang?” Winda bertanya sambil menyeruput es teh manisnya tanpa sedotan.
“Iya dia selamat dari kecelakaan itu, bahkan dia hanya luka ringan.” Heru terlihat tidak senang dengan hal itu, padahal kan tantenya selamat.
“Trus?”
“Tante Melati akhirnya kembali ke kampus setelah pulih betul, sudah memberitahukan apa yang terjadi pada Polisi dan kampus, dia tidak luka parah tapi cukup membuat trauma kejadian itu, apalagi, dia tidak tahu apa yang terjadi setelah terlempar. Tapi ....”
“Tapi?” Winda semakin penasaran.
“Beberapa pihak keluarga dari Mahasiswa menyalahkan Tanteku, katanya seharusnya dia paling tidak bisa menyelamatkan beberapa orang yang terjebak, bukannya selamat sendirian, lalu ada juga Mahasiswa lain yang kebetulan adalah pacar dari salah satu Mahasiswa lain yang ikut jadi korban, memfitnah tanteku, katanya tanteku itu miara jin untuk susuk di wajahnya, makanya dia sangat cantik, fitnah itu datang karena lagu yang tanteku suka adalah lagu lawas yang katanya muatan mistisnya sangat tinggi, tapi itu hanya lagi kan?” Heru kesal.
“Apa yang terjadi dengan tantemu kemudian Heru?” Winda sungguh penasaran.
“Dia kembali ke kampus dan menjadi seperti tersangka, karena satu-satunya yang selamat tanpa luka apapun di tubuhnya, memar kecil dan luka baret yang ringat menjadi bukti bahwa tanteku adalah penyebab kecelakaan itu, sangat naas memang kecelakannya, semua orang terpanggang di bus itu, semuanya tidak terkecuali. Hanya tanteku yang selamat tanpa luka berarti.”
“Lalu? Kenapa dia bisa hilang?”
“Tanteku sudah dibujuk keluarga kami yang bersyukur dia bisa pulang dengan selamat, untuk berhenti kuliah di sini, pindah kuliah saja, tapi tanteku tidak mau, dia bilang tidak salah, kenapa harus takut. Lalu tanteku tetap kuliah di sini, sampai akhirnya, waktu itu tiba, masih di tahun yang sama, mereka penelitian di dalam hutan lindung itu, waktu itu belum ada pita warna yang menandai daerah terlarang untuk dimasuki.
Hingga ketika akhirnya keluarga kami mendapatkan berita bahwa ... tanteku ternyata hilang di hutan, menurut beberapa kesaksian teman-temannya yang aku yakin sudah tidak menganggap tanteku adalah temannya, mereka bilang bahwa tanteku ngeyel dan minta jalan ke bagian dalam hutan yang tidak ada jalan setapak, yang lain tidak mau tapi tanteku malah berlari dan bermain-main.
Ibuku berteriak pada teman-temannya tanteku, dia tahu bahwa tanteku tidak seperti itu, bukan orang yagn ngeyel dan tau bahaya, makanya ibuku curiga bahwa ini ada campur tangan temannya yang sengaja mendorong tanteku untuk masuk ke dalam hutan dan akhirnya hilang.
Semua keluargaku meminta bantuan Polisi untuk mengusut kasus ini dan mencari tanteku. Hasil nihil, tidak ada satupun yang berhasil menemukan tanteku, bahkan kasus juga sepertinya tidak ditangani dengan baik.
Saat kami mencari informasi dengan membayar orang profesional dari pihak swasata, akhirnya keluarga kami tahu, bahwa dari pihak Polisi juga ada yang main-main dengan kasus tanteku, salah satu keluarga dari korban membayar Polisi karena dia adalah Pejabat. Dia ingin tanteku juga mati dan ikut menjadi korban, semua keluarga korban sepertinya tidak ikhlas jika hanya tanteku yang selamat.”
“’Makanya akhirnya foto tantemu masih ada hingga sekaran?” Winda bertanya.
“Iya, makany foto tanteku masih ada.”
“Lalu hubungannya dengan Arif dan Nola apa?” Winda bertanya.
“Kami berharap, dengan pencarian besar-besaran ini, tubuh tanteku ... paling tidak ... bisa ditemukan.” Heru berharap, raut mukanya sangat sedih.
“Oh begitu, baiklah akan aku coba untuk berbicara dengan Pak Parman ya.”
“Iya, bantu kami ya, kami benar-benar ikhlas dan yakin kalau tanteku sudah tiada, siapa yang bisa bertahan puluhan tahun di hutan itu, tapi paling tidak, izinkan kami mengubur tubuhnya dengan layak.” Heru terlihat sangat berharap.
“Aku berharap tantemu ditemukan, lalu teman-temanku juga.”
____________________________________
Catatan Penulis :
Jarang-jarang kan aku, kasih jawaban di awal gini, baik kan aku?
Sabar ya, part selanjutnya baru campur tangan lima sekawan, jangan buru-buru, karena buru-buru itu pekerjaan setan.
BTW yang nanyain soal barang jatuh di dapurku, iya kayaknya tikus deh, tikusnya juga baik, abis dijatuhin dirapihin lagi dong, pas paginya aku liat, eh dapurnya rapih nggak ada apapun yang jatuh. Nanti kalau ketemu tikusnya aku mau ucapin makasih, karena abis main diberesin lagi.
__ADS_1