
“Ci, ini mau diberesin semua?” Pegawai toko itu bertanya pada pemilik toko emas, hari telah sore dan biasanya mereka akan bersiap untuk tutup. Seluruh perhiasan harus dibereskan. Dikeluarkan dari etalase untuk display, dia masukkan semua perhiasana itu ke dalam lemari besi yang cukup besar, tidak setebal dan seaman brangkas tapi lemari besi yang tahan api dan berat.
“Iya masukin aja, aku hitung uang dulu.” Pemilik toko itu memerintah, sedang pegawainya yang sudha bekerja selama lebih dari lima tahun itu melakukan tugasnya, menaruh satu persatu perhiasan di lemari besi itu dengan terlebih dahulu menghitungnya agar tidak ada kecurigaan. Karena di pintu lemari bagian dalam itu, ada kertas yang tertulis jenis barang dan jumlahnya, pada judulnya ada tanggal yang di update setiap hari.
Kalau di kantor-kantor, kita menyebutnya sebagai checklist stok harian.
Pegawai itu masuk ke ruangan yang ada di bagian dalam toko, ruangan itu terpisah dengan pintu dengan dua daun pintu.
Saat sudah masuk ke bagian penyimpanan emas, dua daun pintu itu tertutup secara otomatis, karena memang sengaja dibuat seperti itu, menghindari ada orang asing masuk.
Di dalam ruang penyimpanan itu memang tidak ada apa-apa, hanya ada dua lemari besi yang sangat yang sangat besar itu.
Setelah mengisi satu lemari besi itu dengan emas yang dirapihkan, Pelayan itu hendak mengambil lagi emas dari etalase luar, dia berbalik dan terdiam, tubuhnya membeku, karena ... karena ... dari arah luar, ada sesosok wanita dengan pakaian aneh, pegawai toko itu tidak pernah melihat pakaian itu, hanya terlihat seperti gaun panjang yang menutup kaki. Lampu pada ruangan itu ... mati.
Dalam pikiran pegawai itu, dia merasa bingung, darimana perempuan itu masuk, sedang dia tak mendengar pintu masuk itu dibuka, karena kalau sampai dibuka pintu itu akan berbunyi dan juga saat tertutup otomatis juga akan berbunyi.
Pegawai toko itu masih dalam keadaan terdiam membeku, dia memperhatikan wajah wanita itu yang semakin lama semakin mendekat, saat memperhatikan wajah itu, Pegawai toko langsung menutup matanya, sungguh sangat mengerikan!
Wajah itu pucat sekali, pucat seperti mayat, pegawai itu pernah melihat mayat ibunya yang telah meninggal dunia, persis seperti itu, pucat sekali. Lalu matanya merah tanpa pupil, seluruh bagian matanya berwarna merah, lalu bibirnya ... bibir? Dia tidak punya bibir! Giginya langsung terlihat dengan sempurna, gigi itu runcing! Pegawai itu juga melihat rambutnya, rambutnya belah tengah, sebentar, bukan rambutnya belah tengah, kepalanya memang terbelah, tapi rambutnya tertata rapih, dikuncir setengah sedang sisanya digerai, lalu pada belahan rambut itulah terlihat kalau kepalanya memang terbelah, hingga bentuk kepalanya lebih lebar dibanding orang normal.
Pegawai itu masih memejamkan matanya ketakutan, tubuhnya gemetar karena sudah dapat dipastikan bahwa ... perempuan ini bukan manusia.
Pegawai itu terus saja memejamkan mata dan tidak bisa bergerak, hingga tangannya yang sedang memegang nampan kosong tempat perhiasan itu tadi dibawa, terasa dingin, dingin yang tajam, dingin itu seperti ketika kau memegang es batu, sungguh seperti es batu.
Pegawai itu mencoba untuk berteriak, karena kalau dia takut kesurupan!
Dia terus mencoba berteriak lalu ....
“Sum, kenapa!” Pegawai yang bernama Suminah itu lalu reflek membuka matanya. Saat membuka matanya, ruang itu yang tadinya gelap sudah terang lagi dan pemilik toko sedang memegang tangannya.
“Ci! Ci! Tadi ... tadi ... tadi ada ....”
“Ada apa Sum?” Pemilik toko bertanya sambil menggoyang-goyankan tubuh Suminah, karena dia takut kalau ada perampok tadi.
“Itu Ci, ada ... ada ... setan!” Suminah akhirnya bisa mengatakan itu dengan jelas,
“Apaan sih, setan apa!” Pemilik toko itu malah terlihat kesal dan kecewa, dia pikir apa, tapi malah setan.
“Beneran Ci, tadi ada perempuan pakai gaun yang panjang, mukanya ... mukanya ... pokoknya serem banget deh Ci, saya tadi nggak bisa bergerak Ci, beneran nggak bisa bergerak!”
“Kamu kerja di sini udah tahunan, pernah emang liat yang begituan? Udah jangan ngaco, kamu kecapean tuh, anakmu kemarin kan ulang tahun dirayain, kamu kecapean gara-gara itu pasti.”
“Tapi Ci ....”
__ADS_1
“Udah jangan dipikir lagi, ini aku tuh ke sini mau kasih ini buat anakmu, kemarin aku nggak bisa datang kan karena toko masih buka, acara kami siang sih, ini kado buat anakmu.”
Pemilik toko itu lalu memberikan dompet perhiasan, dompet khas kalau kita beli emas di pasar, pasti akan di dikemas dengan dompet kecil berresleting dengan warna cerah seperti itu.
“Ini apa Ci? Kok repot banget?” pegawai itu membua dompetnya dan melihat isinya, sebuah gelang yang sangat bagus, gelang emas, entah berapa gram.
“Ci! Jangan ah, ngerepotin banget sih.” Sum menolah hadiah itu karena takut kalau menyusahkan majikannya.
“Ambil Sum, kamu udah kerja lama di sini, belum pernah kan, aku kasih anakmu hadiah, udah ambil aja. Ini ulang tahun ke berapa Sum?”
“Ke lima tahun, Ci.”
“Yaudah, kamu pulang gih, biar sisa emasnya aku yang masukin.”
“Beneran Ci, makasih banyak ya.” Pegawai itu lalu mengambil tas yang ada di depan, dekat etalase perhiasan dijual. Setelah itu pamit pulang.
Pemilik toko itu lalu melanjutkan pekerjaan Sum yang belum selesai.
Dia mengambil emas yang ada di etalase, setelah selesai mengambilnya dengan nampan khusus, dia lalu masuk ke ruang penyimpanan, membuka lemari besi lain dan memasukkan emas-emas itu ke dalam lemari.
Saat sedang menata emas itu, hawa pengap muncul, lampu lalu padam.
“Jangan main di sini, di rumah aja ya, kamu nakutin Sum tuh.” Pemilik toko dengan tenang tetap menata emasnya, lalu lampu menyala lagi setelah selama satu menit mati.
Setelah selesai menata emas, dia lalu mengunci lemari itu dan keluar dari ruang penyimpanan, mengunci pintu masuk ruang penyimpanan itu, keluar dari tokonya, menarik rolling door dari atas untuk menutup tokonya, setelah itu dia mengunci rolling door itu di bagian bawah dengan gembok yang sangat mahal.
Dia melewati banyak meja-meja dagang yang telah kosong, karena penjualnya sudah pulang, hanya tersisa beberapa orang yang sibuk nongkrong sambil merokok, tapi mereka duduk agak jauh.
Setiap satu langkah, pemilik toko itu merasa bahwa dia diikuti, karena langkah kaki di belakangnya begitu kentara.
Dia lalu berhenti dan berkata, “Main di rumah aja, jangan di sini.”
Lalu suara langkah itu berhenti.
Setelah keluar pasar, pemilik toko emas itu naik ojek untuk sampai rumahnya, begitu sampai rumah, dia disambut oleh seorang wanita yang sudah cukup dewasa, anak dari pemilik toko ini, tidak heran, pemilik toko emas ini sudah berumur lima puluh tahunan, makanya anak perempuannya sudah dewasa.
“Tumben cepet Mam, nggak enak badan lagi?” Anak perempuannya bertanya.
“Enggak, anaknya Sum kemarin kan ulang tahun, Mami suruh dia pulang cepet biar nemenin anaknya buka kado hari ini.”
“Oh gitu, yaudah makan dulu, tadi mbak udah masakin, si papi lagi tidur.” Anaknya meminta ibunya untuk makan.
Anak pemilik toko emas ini sudah lulus kuliah, kuliah sastra, sekarang pekerjaannya adalah penerjemah, dia menerima terjemahan untuk film-film luar yang sedang hits jaman ini, film-film ini biasanya tidak ditayangkan di TV, tapi di saluran berbayar, uang yang dia hasilkan cukup besar dari pekerjaan ini. Terlepas dari bayarannya, yang paling penting adalah, bisa dikerjakan di manapun, karena pekerjaan ini adalah pekerjaan freelance, tidak mengikat pegawai pada tempat dan waktu.
__ADS_1
Yang penting adalah pekerjaan selesai tepat waktu.
Anak pemilik toko emas ini memang introvert, dia tidak terlalu suka bergaul, anak satu-satunya ini lebih suka di dalam kamar dan bekerja, sisanya dia hanya akan sibuk scroll sosial media.
Ibunya khawatir kalau dia akan kesulitan dapat jodoh, tapi anaknya meminta ibunya mengerit bahwa pernikahan bukan hal yang bisa diburu-buru, kalau sudah dekat jodohnya pasti juga akan ketemu.
Pemilik toko itu masuk kamar, lalu dia hendak mandi, membuka bajunya, saat membuka baju, dia membelakangi kaca lemari.
Begitu bajunya sudah dibuka, maka punggung wanita itu terlihat dengan jelas pada kaca. Di kaca itu, tidak terlihat punggung dengan kerutan khas nenek-nenek, tapi punggung itu terlihat sangat menghitam, lebam menguasai bidang punggung itu dengan dominan.
Rasa sakit mulai menjalar, pemilik toko emas itu lalu buru-buru mengambil dupa dan membakarnya, dupa itu lalu disebar di sekitar kamar, suaminya yang sedang tidur merasa ada bau yang aneh dan dia terbangun.
“Mam, udah sampai.”
“Iya Pi.” Pmeilik toko emas itu masih saja menyebar asap dupa pada kamarnya.
“Mi, ‘dia’ tadi nggak ada di rumah.” Suaminya bertanya, dia sudah bangun dari tidurnya dan duduk bersila di tempat tidur.
“Ada, makanya mami bakar dupa. Tadi dia main ke toko, Mami udah suruh di rumah aja, tapi dia maunya ikut terus.”
“Mi, kita harus ke Dokter.”
“Pi, udah jangan mikir aneh-aneh, lanjut tidur aja, biar Mami bakar dupa dan sebarin asepnya di sekeliling rumah dulu ya.”
“Mi, jangan capek-capek.”
“Tenang aja Pi, Mami baik-baik aja kok.”
“Yaudah, Papi terusin tidur ya, tadi di pabrik sibuk banget. Banyak orderan masuk.”
“Iya.” Pemilik toko itu lalu keluar dan menyebar asap dupa ke seluruh rumah setelah berpakaian tentunya.
“Mi, bau tau.”
“Nggak boleh gitu! udah kamu santai aja, kamarmu Mami dupain dulu ya, kamu di sini aja.”
Anak perempuannya masih di ruang tamu sibuk dengan pekerjaannya. Seperti saat ibunya pulang tadi.
“Mami, masih aja percaya gituan, jaman udah maju nih, masih aja sibuk dupain rumah.”
Anaknya mengeluh.
“Jangan mengeluh ya, ingat, ini dibutuhkan, kamu jangan mengeluh, kita hidup enak ini harus banyak bersyukur.”
__ADS_1
Lalu pemilik toko melanjutkan menyebar asap dupa ke seluruh rumah dengan hati-hati, memastikan asap dupa terkena pada seluruh bagian rumah dan barang yang ada di rumah itu.
“Mau main, ayuk ....” Pemilik toko itu bicara dan mengulurkan tangannya.