
"Kau harus siap, senang atau tidak, ini takdir keluarga kita." Seorang lelaki bernama Drabya berkata pada anaknya yang baru saja berusia 7 tahun, anak itu bernama Mulyana.
“Aku takut ayah.” Mulyana berkata sambil memegang pinggang ayahnya, lelaki yang sangat lembut dan rupawan itu.
“Jangan takut nak, kau dan aku akan lalui ini bersama.”Lelaki itu berjalan bersama anaknya, mereka masuk ke sebuah pintu yang tadinya tidak ada. Mulyana bingung, kenapa pintu itu tiba-tiba ada, pintu itu berada di bagian belakang rumahnya, seharusnya ini hanya dinding dari dapur belakang yang jarang sekali dikunjungi, karena dapur belakang ini jarang sekali dipakai, ada sebuah sumur yang tidak juga digunakan, karena Drabya adalah seorang lelaki kaya raya, keluarga bangsawan, karena masih keturunan keluarga kerajaan, Kesultanan Cirebon.
Mereka masuk ke pintu itu, setelah masuk, Mulyana semakin ketakutan, ada begitu banyak, begitu banyak jin yang berdiri dengan berbagai wujud, ada yang berwujud hewan sempurna, seperti ular, macan dan srigala. Ada yang berwujud setengah hewan dan setengah manusia, kepalanya dan tubuh manusia sementara kakinya kuda, ada yang berbentuk manusia dengan wajah yang mengerikan, ada anak kecil, ada makhluk seperti raksasa.
Sungguh menakutkan ….
“Aku takut Ayah.” Mulyana terus memegang pinggang ayahnya dan menutup mata.
“Jangan tutup matamu, lihat mereka baik-baik, mereka akan menjadi peliharaanmu, ingat ini nak, kau akan menjadi tuan mereka, maka jangan sekali-kali kau tunduk pada rasa takutmu.” Drabya lalu menarik anaknya untuk melepaskan pegangannya yang erat itu.
Lalu setelah pegangan erat terlepas, dia mendorong anaknya agar melihat semua makhluk itu dengan mata terbuka.
“Buka matamu, kalau tak kau buka, aku akan tinggalkan kau sendirian di sini, kau tidak akan menemukan jalan keluar, kecuali aku yang keluarkan. Maka patuhlah, lihat mereka.” Drabya memaksa anaknya untuk melihat.
Mulyana menangis sejadinya, dia tidak mau membuka mata karena ketakutan, sangat ketakutan.
“Aku hitung sampai 3, kalau kau tidak membuka matamu juga, aku benar-benar akan meninggalkanmu di sini sendirian.”
“Aku takut ayah, aku takut mereka datang terus!” Mulyana kecil menangis dan merengek, dia tak ingin melihat mereka yang selalu datang dalam mimpinya.
“Kau harus melihatnya Nak, karena kau akan memimpin mereka kelak jika aku sudah tiada, kakakmu tidak dapat diandalkan, hatinya terlalu halus dan hangat, tak pandai menjadi pemimpin, kau harus menggantikanku, kau harus menjadi Kharisma Jagat yang memiliki ilmu yang tinggi.
Abah bilang padaku bahwa kau orang yang dia pilih, bukan Suraep, maka kau harus menerima takdirmu, Abah tidak pernah salah memilih orang.”
“Aku nggak mau, Ayah, aku takut ayah.”
Mulyana tetap saja merengek dikeluarkan dari tempat itu, lalu ketika salah satu ular itu melilit tubuhnya, Mulyana histeris, dia terus saja melempar badannya ke arah tanah agar ularnya tidak melilit tubuh lagi, melihat itu Drabya buru-buru menarik anaknya lalu keluar dari gudang ghaib, tempat di mana semua antek-antek jinnya dia simpan.
Setelah keluar, ibunya yang seorang asli Sumatra langsung memeluk anaknya dan menangis melihat beberapa memar pada tubuh itu.
“Sudah Pak, sudah, sudah cukup kau menyiksa anak-anak kita.” Istri kedua itu menangsi sejadinya, dia menikahi istrinya setelah ibunya Suraep meninggal, istri keduanya wanita baik yang merawat anak tirinya juga.
“Sudah Ayah, adikku kesakitan, cukup ayah.”
“Jangan kau memanjakkan mereka Bu, kau itu melahirkan anak yang dipilih Karuhun, kau harus menerima, bahwa takdirnya adalah Kharisma Jagat yang agung, maka dari itu, dia harus aku didik sedini mungkin agar tidak takut pada mereka, mereka yang sebenarnya harus ditundukkan oleh Mulyana.”
“Anakku hanya perlu menjadi pria yang bertanggung jawab, sudah cukup kau saja yang menjadi Kharisma Jagat, jangan paksa anakku. Sudah cukup!”
“Bu, kalau kau tak membiarkannya menjadi Kharisma Jagat, maka dia akan diincar banyak orang untuk ditaklukkan, bahkan akan banyak jin yang mengincar, maka dari itu, aku mohon dengan teramat sangat, aku mohon, tolong jangan cegah aku untuk melatihnya.”
“Aku saja Ayah, aku saja yang kau paksa, jangan adikku.”
“Kau anak yang baik, tapi maaf, Abah tidak memilihmu, dia inginkan Mulyana, maka aku harus memebrikan Mulyana sebagai Kharism Jagat, aku mohon, kalian orang yang harusnya paham ya, aku tidak bias mundur!”
…
__ADS_1
Mulyana bersekolah, dia sekolah rakyat untuk baca tulis, hingga nanti akhirnya dia akan sekolah di SMA ketika itu memang sudah ada sekolah dengan tingkat yang setara dengan SMA lalu melanjutkan kuliah dengan kakaknya.
Mulyana anak yang sangat pandai, dia cemerlang pada bidang akademik, dia juga orang yang selalu ramah dan supel pada siapapun yang dia kenal, walau akhir-akhir ini dia berubah, banyak hal yang membuatnya berubah, salah satunya adalah … dia jadi murung, dia selalu ketakutan dan menangis tiba-tibat, katanya … kenapa orang-orang gosong itu berdatangan dan hendak menangkapnya.
Maka tak lama kemudian, tempat itu terjadi kebakaran yang membuat banyak jiwa menjadi korban.
“Yan, kemarin kamu bilang orang-orang gosong itu mau menangkap kamu?” Aep bertanya, mereka sedang istirahat sekolah, usia mereka memang tak terpaut jauh.
“Ya, kenapa?”
“Kemarin kebakaran di situ Yan, mungkin kau … melihat masa depan.”
“Hah? Masa depan gimana sih, kamu?” Anak 7 tahu, mana paham soal itu, walau mungkin yang dilihatnya memang benar masa depan.
“Ya, kamu lihat korban-korban itu, lain waktu, kalau kamu liat begitu lagi, kamu kasih tahu kakak ya, kita cari tahu, kira-kira akan ada apa di sana.”
“Ih mbung ah, nggak mau aku, nggak suka aku, takut.”
“Kenapa takut? Kan ada kakak,” Suraep berkata. Dia membahasai adiknya dengan panggilan kakak, bukan Aa seperti orang Sunda pada umumnya karena, ibunya berasal dari Sumatera, sehingga panggilan kakak biasa disebutkan di sana, kelak bahkan Aep dipanggil Paman karena ibu mereka memang membiasakan panggilan menurut dengan gaya di keluarganya.
“Coba ke kamar mandi sekolah yuk, katanya mah, di sana serem euy.”
“Mbung (nggak mau)!” Mulyana kesal karena dipaksa.
“Daripada maneh disuruh lagi sama Ayah loh, dipaksa ke sana, mening aku temani, gimana?” Nyali Suraep memang bagus di umur ini, padahal dia sedang ikut melatih adiknya, karena dia ingin adiknya berani, dia tahu, ayahnya takkan berhenti, dia ingin adiknya selalu ingat, dia akan selalu ada untuknya.
“Yan, kalau kamu lihat ada yang menakutkan, tanyain aja, dia maunya apa, biar kita tahu, siapa tahu bisa bantu.”
“Mbung!!!” Mulyana ketakutan lagi, dia urung menginjakkan kaki di kamar mandi itu.
“Ayolah Yan, kita hadapi bersama, kalau kamu berani di sini, kamu akan berani di sana, kakak ada kok, walau kalau di sana, kakak nggak keliatan.”
“Mbung!” Mulyana mulai menangis, kakaknya memeluk adiknya lalu tiba-tiba Suraep terdiam dan dia berbisik.
“Tolonggggg ….” Dengan suara yang parau.
“Kak … kakak kenapa?” Mulyana bingung, karena kakaknya tiba-tiba tatapannya kosong.
Suraep berjalan dengan jalan yang diseret terasa berat. Mulyana bingung, tapi tak mungkin meninggalkan kakaknya di sana, jika ada telepon genggam mungkin akan dia pakai, tapi tahun ini, masih tahun 1960an, mana ada telepon genggam.
“Ep, mau ke mana?” Mulyana menangis mengikuti kakaknya yang berjalan dengan kaki yang diseret, seolah kakinya itu terluka, kepalanya miring ke samping kiri, tangan kanannya menggendong, sungguh pemandangan yang aneh.
Aep lalu masuk ke dalam kamar mandi sekolah, Mulyana masih terus mengikutinya, dia berjalan pelan, lalu saat masuk, Aep sudah jatuh pingsa, tapi … di sampingnya … di sampingnya … ada sesosok yang sangat mengerikan berdiri di samping Aep, dia membelakangi Mulyana.
“Siapa kau!” Mulyana berteriak, dia berteriak karena takut, makanya dia menimbulkan suara yang sangat kencang.
Sosok itu berbalik, dia balik badan dan memperlihatkan bagian wajahnya yang penuh darah, bajunya lusuh, dia dengan sempurna sekarang menghadap ke Mulyana, dia tak menjawab, tapi mengeluarkan suara yang aneh, seperti orang sesak nafas, sosok itu lalu berjalan dengan kaki yang diseret, berbeda saat Suraep berjalan tadi, kaki pria ini terlihat patah pada bagian lututnya, hingga jalannya diseret.
Mulyana mundur, dia takut, tapi kakaknya di sana, dia harus apa?
__ADS_1
“Jangan mendekat! Jangan mendekat! Jangan ….” Mulyana menutup matanya, tapi makhluk it uterus mendekatinya, hingga bau anyir terasa di hidungnya, dia lalu mundur terus mundur hingga akhirnya dia keluar kamar mandi, tidak bisa lari karena kakaknya masih di dalam sana, dia mundur dan mencoba untuk melepaskan diri dari sosok ini, fokusnya adalah, bagaimana kakaknya bisa dia tarik dari kamar mandi itu.
Mulyana mengingat dengan baik bagaimana lelaki itu berjalan, selamban apa, jika Mulyana melepaskan diri dengan berlari memutar dan menarik kakaknya, kemungkinan selamat akan besar.
Dengan niat yang tegus, akhirnya Mulyana melakukan rencananya, dia berlari dari samping kiri sosok itu, sosok itu kembali ingin mengejarnya, dia lalu menarik kakaknya, tubuh kakaknya berat, dia minta tolong, terus meminta tolong agar mereka bisa diselamatkan, tapi sayang … sosok itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya, Mulyana bingung, karena menurut ilmu hitungan yang dia pelajari, jarak antara sosok itu hingga bisa ke hadapannya, cukup jauh, dengan kecepatan jalan yang lambat dikarenakan kaki yang patah itu, seharusnya dia tak ada di hadapan Mulyana secepat ini.
Mulyana lupa, kalau berhadapan dengan makhluk ghaib, tidak ada hokum probabilitas, dia hanya harus melawannya atau dihantui selamanya.
Maka benar saja, sosok itu kembali masuk ke tubuh Aep karena tak mampu masuk ke tubuh Mulyana, setelah masuk ke tubuh Aep, dia kembali bangun, masih dengan tatapan kosong, entah kenapa, Mulyana bisa merasakan sosok itu ada di dalam tubuh Suraep, maka ketikla Suraep berjalan keluar dari kamar mandi dengan berlari dan hendak menabrakkan dirinya pada sebuah tiang yang besar, tapi Mulyana segera menariknya dengan sekuat tenaga, dia menarik tubuh itu dan berusaha menahan kakaknya menabrakkan kepalanya ke tiang.
Sial, tubuhnya terlalu berat untuk ditahan, padahal Mulyana bahkan sepatunya sudah terasa panas karena dia menekan kakinya dengan kencang ke aspal hingga menimbulkan gesekan.
Tapi itu tak cukup, kakaknya menerjang tiang dan … kepalanya bocor, setelah itu dia pingsan.
Mulyana menangis, banyak orang yang akhirnya memperhatikan dan berusaha menolong, di antara semua orang itu, Mulyana melihat sosok yang dia lihat di kamar mandi, keluar dari tubuh Aep dan berjalan dengan santai kembali ke sekolah, dia bahkan melempar senyum dengan wajah penuh darahnya, seolah dia puas dengan apa yang sudah dia lakukan pada Aep.
Aep di bawa ke Dokter terdekat, mereka menyebutnya, Mantri, Aep tidak sadarkan diri, ayah dan ibu mereka datang dengan tergesa-gesa, ayah terlihat lemas karena melihat Aep masih bersimbah darah pada wajahnya.
Mulyana menangis, dia lalu bilang kepada ayahnya apa yang terjadi, bukannya mendapatkan dukungan atau ditenangkan, ayah malah berkata, “Andai kau mampu melawannya dan melawan rasa takutmu, mungkin … kakakmu tidak akan celaka.” Omongan yang cukup jahat untuk anak 7 tahun, ibu yang mendengar itu, menarik anaknya.
“Bukan kau yang salah, sosok itu yang salah, kakakmu juga tidak salah, kita obati kakakmu, lalu kau juga akan menjauhi hal seperti itu, tidak perlu sekolah lagi, sekarang kau hanya akan aku ajarkan di rumah.” Ibunya tidak terima anaknya disalahkan.
“Sampai kapan kau akan membelanya, dia akan selalu bertemu dengan banyak jin atau ruh yang gentayangan, dia harus dibekali ilmu, agar bisa menghalau mereka yang hendak mencelakai orang yang dia sayang.”
“Aku tahu maksudmu, tapi dia terlalu kecil.”
“Dia dari lahir terberkati dengan begitu banyak kemampuan, kau tidak perlu takut, yang perlu kita lakukan adalah, kita harus membuka batas yang dia buat karena ketakutan, salahku ketika dia lahir, aku tak langsung sadar bahwa Abah memang menginginkannya, aku kira Aep yang akan abah pilih, tapi ternyata Yana, jadi aku salah persiapan, aku malah menyiapkan Aep untuk menerima status Kharisma Jagat itu.”
“Aku tidak mau bahas itu dulu, Pak., Sekarang anak kita sedang sakit, kepalanya bocor dan sudah dijahit, kita juga harus waspada, takut kalau luka itu menjadi hal yang mencelakainya, sekarang kita pulang dulu dan bicarakan itu nanti.”
“Baiklah ayo kita pulang.”
...
“Kak, maafkan aku ya.” Mulyana berkata dengan mata berkaca-kaca, dia merasa sangat bersalah.
“Aku tidak ingat apa yang terjadi.”
“Kata ayah, kamu kesurupan, setan di kamar mandi, si setan yang jalannya diseret itu masuk ke dalam tubuhmu dan mau mencelakaimu, aku sudah berusaha menarikmu, tapi tidak bisa, kau kuat sekali kak.”
“Oh begitu, tak mengapa Dik, bukan kau yang salah, maaf kalau aku lemah dan akhirnya kesurupan.”
“Kak, aku berjanji akan belajar ilmu bela diri dan ilmu yang ayah ingin aku kuasai, agar aku bisa melindungimu, melindungi ibu dan ayah, aku takkan takut lagi masuk ke dalam ruangan itu, tapi … aku mohong, jangan tinggalkan aku ya Kak.”
“Dik, apa kau yakin?”
“Ya, aku ingin menjaga kakak dan keluarga kita, aku akan menjadi Kharisma Jagat yang Agung.”
“Kau itu anak yang baik, kau akan menjadi hebat, aku tahu itu, tapi jangan paksakan, kalau takut, kau ingat ini ya, aku akan selalu di sampingmu, Dik.”
__ADS_1