Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 342 : Bangga 20


__ADS_3

Setelah pertemuan yang mengharukan itu, akhirnya kawanan kembali ke markas membawa ruh anak yang tanah kuburannya dijadikan kopi oleh dukun itu dan diberikan pada ibunya Bagus, yang ibunya harapkan adalah anaknya berubah menjadi baik, sesuai yang dia inginkan, dukun menyanggupi, tapi yang sebenarnya dukun inginkan adalah, anak itu dapat ditarik jiwanya oleh ruh anak yang tanah kuburanya diambil itu.


Kawanan sengaja membawa ruh anak itu agar bisa dikendalikan tanpa diketahui oleh dukun itu keberadaannya.


Begitu sampai markas, tanpa istirahat, mereka membawa ruh anak itu, ke kamar yang sudah dibersihkan dari semua jejak kawanan, kecuali Alisha, kamar itu telah di dekorasi ulang, semuanya dilakukan oleh Alisha agar tidak jika kedepannya anak itu terluka karena tidak sengajar, maka kawanan tidak akan kena Biksa Karma, karena kamar itu sudah diperbaharui oleh tangan Alisha.


Anak itu dikeluarkan dari botol, tubuhnya terikat, karena mantra yang Alisha pelajari sudah mengikat anak itu ketika keluar dari botol, ruh anak itu didudukkan oleh Alisha, kawanan berdiri jauh dari tempat ruh anak itu di dudukkan dalam keadaaan terikat, mereka tak ingin berdekatan, anak ini tak bergerak saja bisa membahayakan kawanan.


Alisha duduk berhadapan dengan ruh anak ini dan menatap ruh anak dengan tajam


“Kau siapa!” ruh anak itu bertanya.


“Tante!”


“Kau siapa!” Anak itu makin menjadi kasar.


“Tante!” Alisha menyabet betis ruh anak ini dengan satu lidi saja.


“Aw, sakit!” Tentu saja, itu adalah lidi yang sudah direndam dengan daun bidara dan sudah dimantrai oleh Alisha sendiri.


“Tante!” Alisha mengulang lagi.


“Kamu siapa ... Tante.” Ruh anak itu akhirnya patuh.


“Namaku Tante Alisha, aku bisa jadi ibu tirimu jika kau mau, kakak tiri juga tidak masalah atau kau mau aku jadi ibu angkat? Tapi aku tidak akan sebaik mereka yang di luar sana, aku akan menjadi ibu tiri yang jahat, kakak tiri yang bengis dan ibu angkat yang biadab, kau mau tahu rasanya?” Alisha menatap anak itu dengan tajam, perkataannya ditekan agar setiap kata bisa terdengar dengan sempurna, ruh anak itu yang tadinya terlihat berani, sekarang malah ketakutan dan menunduk.


“Katakan padaku, kau ingin aku jadi apa?” Alisha menatapnya lagi.


Alisha memang bukan perempuan yang lembut, dia sudah menempa hidup sedemikian rupa, hingga kelembutan pudar darinya. Hanya pada Rania dan Hartino Alisha bisa lembut.


“Aku mau pulang.”


“Kemana? Kekuburanmu lagi?” Alisha tertawa dengan kasar.


“Aku mau pulang ke rumah, Mbah.”


“Mbah? Dia tidak peduli padamu, buktinya dia tidak ke sini, kalau dia peduli pasti dia ke sini.” Alka dan kawanan sudah sepakat akan menggunakan teknik yang sama, yang digunakan ruh anak ini untuk membujuk Bagus ikut tadi, mengadu domba antara dukun itu dengan anak ini.


“Dia peduli! Kalau sampai dia menemukan tempat ini, dia pasti akan menghancurkan kalian!” Anak itu terlihat percaya diri walau dalam wujud ruh.

__ADS_1


“Kalau begitu mau bertaruh?” Alisha bertanya. Dalam titik ini Alisha menggunakan metode kesepakatan dari yang dia dapat saat mengajar di sekolah TK itu dulu, karena dia sudah menemukan kelemahan ruh anak ini, kelemahannya adalah takut ditinggalkan, semua orang sepertinya memiliki kelemahan ini.


Alisha bisa yakin itu, karena anak ini gelisah dan ingin segera pulang menemui dukunnya, ini adalah salah satu bukti, bahwa dukun itu mampu memanipulasi semua anak untuk tetap berada di sisinya, entah madu apa yang dia berikan, dia bicarakan hingga dia bujukkan pada ruh anak-anak hingga membuat mereka semua patuh dan tunduk.


Makanya dia menggunakan teknik cari kelemahan dan membuat kesepakatan.


“Bagaimana? mau?” Alisha bertanya lagi.


“Aku tidak mau!”


“Takut kalau Mbahmu tidak datang? Atau takut dia kami habisi di sini?” tanya Alisha.


“Tidak! dia pasti menghabisi kalian semua.” Anak itu percaya diri lagi.


“Kalau begitu, terima tantangan kami.” Alisha membujuk dengan frontal.


“Baiklah, dia pasti datang, karena aku sudah membantunya untuk mendapatkan banyak anak-anak, mereka semua bisa tinggal di rumah mbah dan bekerja padanya karena aku yang menariknya, aku adalah ruh yang sangat mengabdi, mbah pasti akan mencariku.”


“Kutunggu sampai besok pagi, kalau mbahmu tak datang, maka dia adalah pengecut yang tidak terlalu menyayangimu, maka aku berhak meminta kau melakukan apapun yang aku inginkan, tapi sebaliknya, jika dia datang dan mampu mengalahkan kami, maka kami akan melakukan apapun sesuai permintaanmu. Bagaimana?” Alisha menyentuh harga diri ruh anak ini hingga dia terpancing.


“Baiklah, aku akan buktikan kalau mbah pasti datang dan mengalahkan kalian.” Anak-anak walau yang masih hidup atau sudah ruh sama saja, mereka merasa diri mereka tahu segalanya, mereka sok tahu dan merasa sudah sangat pintar, pada kenyataannya, kawanan tahu, dukun itu takkan datang.


Mana berani di ke markas ini, artinya seperti menyerahkan diri pada Polisi, sedang kejahatannya adalah kejahatan tertinggi, yaitu membunuh orang, maka hukumannya cuma dua, hukum mati atau penjara seumur hidup, cuma orang bodoh yang melakuan itu.


Dukun itu pasti lebih memilih melepas peliharannya yang sudah mengabdi padanya, daripada dia yang ditangkap, tipikal! Semua bos memang begitu, menyelamatkan diri dulu yang terpenting di atas segalanya.


Dan itu adalah apa yang kawanan ingin tunjukkan pada anak ini. Alisha dan kawanan akhirnya keluar dari kamar. Meninggalkan ruh anak itu sendirian, walau kawanan inginnya ruh anak ini menghubungi dukun itu secara ghaib, tapi sepertinya ruh anak ini tidak memiliki kemampuan itu, syukurlah dukun itu ternyata tidak melatih ruh anak untuk perlahan menjadi iblis, dia hanya menaruh ruh anak itu untuk menjadi media santet, menggunakan sumber daya yang ada tanpa melatihnya lagi, itu hal baik bagi kawanan.


Waktu bergulir, satu jam berlalu, dua jam berlalu, lima jam berlalu dan akhirnya pagi tiba, ruh anak itu menangis karena menyaksikan kenyataan, bahwa, mbah yang dia puja tidak datang juga.


“Bagaimana? apakah kau akan mengikuti yang aku mau?” Alisha sudah kembali kek kamar itu lagi, kawanan bersiap, karena mereka akan memburu dukun brengsek itu.


“Kau pembohong, pasti ada sesuatu yang membuat mbah nggak datang, kalian pasti sengaja tidak mau aku tahu kalau mbah datang, ya kan?” Anak itu terlihat sedang menghibur diri, dia juga menangis saat mengucapkannya, Alisha tidak berniat untuk menenangkan.


“Begini saja, untuk memastikan omonganku benar atau tidak, bagaimana kalau kawanku membantu, memperlihatkan padamu apa yang terjadi sebenarnya di kediaman dukun itu? kau tidak mau melihat apa yang dilakukan oleh dukun itu? hingga tidak ma menjemputmu?” Alisha membujuk lagi dan lagi.


“Memang bisa?” Ruh anak itu berhenti menangis dan bertanya, kena! Itu yang Alisha ucapkan dalam hati.


“Kupanggil temanku dulu ya, dia bisa memperlihatkan padamu tentang masa depan, tentang apa yang terjadi di kediaman mbah itu hingga kau tidak dicari, tapi ... kau harus bersikap baik, kalau kau sengaja untuk mencelakai kawanku, kau takkan kumaafkan!” Alisha mengingatkan.

__ADS_1


“Ya, aku janji.” Kesepakatan pertama sudah dilakukan.


Alisha keluar kamar dan memanggil Alka, semua orang tahu apa maksudnya, lagi-lagi Alisha berhasil membujuk ruh anak itu untuk melakukan perjanjian dengannya.


Tak lama kemudian Alisha dan Alka sudah berada di kamar itu lagi.


“Ulurkan tanganmu.” Alka agak sedikit gemetar, karena takut kalau dia terkena Biksa Karma lagi, tapi saat anak itu mengulurkan tangannya, Alka tahu kalau anak itu takkan berniat mencelakai Alka yang kalau dia celaka sendiri, Alka tetap akan kena imbasnya, karena termasuk dalam daftar Biksa Karma.


Alka meraih tangan ruh anak itu, tentu saja dia bisa karena dia setengahnya adalah jin.


Lalu dia dan anak itu bersama-sama menjelajah suatu hutan, mereka berdua, Alka dan anak itu berlari bersama, tentu itu adalah suatu ilustrasi dari pikiran ruh anak itu yang Alka selami dari sentuhan tangan.


Setelah melewati hutan, mereka melewati sebuah kali, kali itu berada di bawah rel kereta api, saat Alka dan anak itu melewatinya, Alka melihat ada kereta yang sedang lewat, dia melihat nama kereta itu walau keretanya melaju dengan sangat kencang.


Lalu setelah melewati kali, Alka melihat ada sebuah rumah gubuk yang halamannya sangat luas, di halaman rumah itu terdapat begitu banyak anak yang sedang bermain, ruh-ruh anak maksudnya, Alka juga melihat Ani di sana, dia sedang asik bermain.


Saat Alka masuk ke halaman rumah itu, tiba-tiba ada suara yang menggelegar.


“Bodoh! Kenapa kau bawa dia ke sini!” Dukun itu berteriak walau tanpa wujud, suaranya cukup berat dan serak, saat suara itu terdengar, Alka dan anak itu terlempar kembali ke markas ghaib.


Hal tadi bukanlah skema yang sama saat lepas raga, itu berbeda, Alka hanya menyelami pikirannya yang telah lampua untuk melihat di mana lokasi dukun itu berada, tapi sialnya, dukun itu bahkan tahu ketika Alka mencoba masuk ke dalam ingatan ruh anak itu dan mengusir mereka.


“Lihat, dia bukannya menjemputmu, malah marah dan mengusir kita dari sana, kau masih percaya padanya?” Alka menabur benih pertikaian pada ruh anak itu.


Anak itu menangis sesegukan.


“Dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan keuntungan, kau hanya dapat makanan busuk kan? dia bahkan tidak mengizinkanmu menemui orang tuamu, benar kan aku?” Alisha hanya menebak, orang serakah pola langkahnya dapat ditebak.


“Katanya orang tuaku akan sangat sedih kalau aku menemui mereka dan juga mungkin membahayakan mereka, makanya aku tidak diberi izin untuk datang ke rumah orang tuaku.” Anak itu masih saja membela.


“Lalu kenapa Ani masih saja boleh bertemu orang tuanya? Kau tahu itu kan?” Alisha makin menjadi, dia hebat kalau soal pedas omongan.


“Aku tidak tahu, aku tidak tahu. Aku benci mbah, aku benci dia!” ruh anak itu akhirnya mengucapkan kata-kata yang ingin Alka dan Alisha dengar.


“Kalau begitu bantu kami,” Alisha berkata, karena dia yang melakukan perjanjiannya, dia ingin ruh anak itu menepati janji.


“Aku akan beritahu kamu, sekarang kau istirahat saja dulu, tapi di botol ya, kau suka kan? botol ini sudah kubuat nyaman dengan mantra.” Alisha menawarkan kenyamanan pada ruang kecil di sebuah botol. Ruh anak itu sepakat. Setelah menaruhnya kembali ke botol, Alisha dan Alka lalu kembali menemui kawanan.


“Gimana? dapat lokasinya?” Ganding bertanya.

__ADS_1


“Dapat, aku sudah tahu di mana itu, kita akan buru dia malam ini juga, aku sudah tidak sabar bertarung dengan dukun bejat itu.” Alka menjawab dengan pasti.


“Baiklah, kita akan bertarung habis-habisan malam ini, hidup dan mati bersama.” Aditia berteriak yang lain mengikuti termasuk Alisha.


__ADS_2