
Kawanan berkumpul di makas ghaib, Aditia dan Alka sudah memulihkan diri di gua Alka tadi, sekarang mereka sudah berkumpul, hari memang sudah sangat larut, tapi mereka terbiasa bekerja malam hari hingga pagi, jam tidur mereka memang kadang terbalik dengan orang normal, menemui ruh kan nggak mungkin dibuatkan janji, misal pada jam sepuluh pagi, kalau begitu, pekerjaan kawanan pasti lebih mudah.
Tapi pekerjaan yang bersinggungan dengan ruh kan memang tidak menentu, makanya tidur itu seperti sebuah kemewahan bagi mereka, walau memiliki kekayaan yang banyak, tapi mereka selama hidup selalu melayani orang-orang yang membutuhkan, bahkan merelakan jam istirahat agar kasus selesai.
“Soal gelang itu aku dan Jarni sudah mengamatinya dengan baik, lalu kami menemukan sesuatu yang mungkin kalian harus tahu.
Apakah dari kalian ada yang tahu asal-usul emas?” Ganding bertanya dulu sebelum masuk ke inti.
“Yang aku tahu, emas bukan berasal dari bumi, aku pernah membaca artikelnya, tapi kan kau tahu Nding, kalau aku tidak terlalu suka membaca, aku hanya paham intinya saja.” Aditia menjawab, sementara yang lain memang tidak tahu soal asal-usul emas.
“Betul, emas itu memang bukan berasal dari bumi, emas itu bukanlah salah satu unsur pembentuk bumi walau emas berada di inti bumi, kita harus menambangnya jika ingin mendapatkan emas.
Kalau memang bukan berasal dari bumi, maka emas itu dari mana? Kalian bisa lihat ini,” Ganding memperlihatkan pada layar yang ditembak dengan proyektor. Sebuah artikel mengenai asal-usul emas, “di sini dikatakan bahwa, emas itu awalnya tidak ada di inti bumi, bisa dilihat dari batuan paling tua di dunia yang ternyata tidak terkandung emas di dalamnya, padahal batuan tua itu bisa jadi petunjuk kita apa saja unsur pembentuk bumi, Kalau emas memang bukan salah satu unsurnya, lalu dari mana emas itu berasal?
Begini asal muasalnya, sektiar 5 sampai 6 milyar tahun lalu, ketika inti bumi sudah terbentuk, meterorit yang mengandung logam mulia, menabrak bumi, karena tabrakan ini, maka seluruh bagian bumi terlapisi banyak unsur, salah satunya adalah unsur yang mengandung emas, waktu berjalan setelah tabrakan meteorit itu, hingga membaut lapisan emas itu masuk ke inti bumi, maka emas-emas yang ditambang itu adalah unsur yang dulu melapisi bumi karena tabrakan meteorit itu.
Jadi emas, tidaklah serta merta ada pada inti bumi seperti yang kita sangka selama ini.”
“Tidak heran Abah pernah bilang padaku begini, ‘EMAS ITU, BAHAN MURNI YANG DATANG DARI KASIH SAYANG TUHAN’. Jadi kemungkinan benar bahwa emas dikirim Tuhan karena kasih sayangnya, ditabrakkanlah meteorit itu agar emas mampu melapisi bumi dan akhirnya masuk ke intinya, sesuai dengan prinsip agama kita bahwa, kita harus berusaha untuk mendapatkan keberkahan itu maka emas yang datang karena kasih sayang Tuhan harus diusahakan didapatkan dengan cara menambang.
Pertanyaanku Nding, apa hubungannya cerita ini dengan kasus kita?” Aditia bertanya setelah mengemukakan pendapatnya mengenai emas yang pernah dia dengan dari Abah Wangsa.
“Kau tahu kenapa emas ini bisa jadi media untuk mencelakai orang lain?”
“Karena logam mulia, bahan yang sangat murni, makanya bisa jadi media, karena kemurniannya itulah, maka dia disukai oleh energi jahat, ketika energi jahat bersinggungan dengan manusia, maka energi itu menjadi senjata paling ampuh untuk menyerang si pemakai emas itu.
Tapi ini hanya berlaku untuk emas murni yang terpapar energi jahat, bisa jadi ruh yang tersesat, jin jahat atau ruh lain yang tidak terdefinisikan seperti yang sedang kita cari saat ini. Mereka membuat emas-emas itu sebagai media untuk ... cadangan energi.”
“Cadangan energi, kalau dia dijadikan cadangan energi, darimana dia dapatkan sumber energinya? Emas-emas ini maksudku, seperti lampu-lampu jalan yang memiliki cadangan energi dari matahari agar bisa menyala otomatis pada saat gelap, lalu ... brengsek! Sumber energinya adalah pemakai emas itu! tidak heran para pemakai emas itu ... jadi lemah dan memar itu dikarenakan energi mereka dipaksa diambil dan area leher adalah salah satu bagian tubuh manusia yang terlemah, makanya ibunya Amanda, Amanda dan anaknya Sum memiliki memar di leher sampai ke bagian punggungnya. Begitu Nding?”
“Tepat, Dit! Itu dia emas dan korbannya.”
“Jadi benar ini pesugihan?? Berarti bukan ruh tersesat dong, tapi jin? Lalu kenapa baunya berbeda dari jin yang lain? Kenapa aku tidak bisa langsung mendeteksi jin itu?”
“Kalau itu aku masih tidak ketemu Dit, jawabannya, karena itu harus kau yang temukan, aku hanay meneliti emas ini dan energi gelapnya.”
“Baiklah, ada yang harus kalian tahu juga, bahwa kami diserang di rumah itu, Pemilik toko emas jelas memelihara ‘sesuatu’ yang berbau aneh itu.”
“Kalian diserang? Kenapa kau tidak memanggil kami!” Hartino kesal mendengarnya.
“Tidak secara langsung, bahkan kami tidak melihat wujudnya, tapi saat kami memasuki rumah itu, bahkan satu kaki kami pun tidak bisa melewati pintu masuknya.”
“Pagar ghaib?” Hartino bertanya.
“Semacam itu, tapi lagi-lagi tidak bisa aku sadari, aku dan Alka terkibuli. Aneh kan?”
“Baiklah, aku masuk ke bagian latar belakang pemilik toko emas itu ya.” Hartino meminta izin melanjutkan temuannya, karena Ganding sudah selesai dengan miliknya.
“Iya Har, lanjutkan.”
“Pemilik toko emas ini sudah punya toko emas dari sejak orang tuanya, bisa dibilang ini adalah toko emas warisan, dari ayah dan ibunya si Pemilik toko. Tapi toko emas itu belum sebesar sekarang. Pemilik toko emas itu mewarisi toko sejak menikah dengan suaminya, sedang suaminya hanya pekerja di pabrik yang cukup besar di luar kota.
Kehidupan mereka tidak kekurangan dan tidak berlebihan saat awal-awal menikah. Tidak perlu menunggu waktu lama, karena pada tahun yang sama, mereka dikarunia seorang anak perempuan. Hidup mereka setelah anak pertama lahir, menjadi jauh lebih sulit, karena kerusuhan di negeri kita ini, toko emas mereka menjadi salah satu toko yang ikut dijarah.
Menghabiskan semua emas yang mereka miliki. Menyisakan sebagian yang sempat di sembunyikan.
__ADS_1
Kelak emas sisa yang tidak seberapa itu menjadi modal lagi bagi mereka, karena toko tetap ada, tidak dibakar oleh massa.
Tahun berganti, anak mereka sudah berumur 10 tahun, lalu pemilik toko emas itu memiliki seorang anak lagi, seorang anak perempuan jua, dia lahir setelah kakaknya berumur 10 tahun,anak itu anak kesayangan, atau anak emas pemilik toko emas itu, karena untuk mendapatkannya, mereka harus menunggu selama 10 tahun.
Anak itu menjadi anak kesayangan bukan hanya karena ditunggu selama itu, tapi juga karena anak itu katanya membawa keberuntungan, karena setelah anak itu lahir, toko emas berkembang pesat, keuntungan toko bisa menjadi modal ayahnya untuk membangun pabrik. Pabrik yang cukup besar sampai sekarang.”
“Har, sebentar, jadi anaknya ada dua? Tapi aku kok mendengar dia hanya punya satu anak, atau anak tunggal dari para tetangga.”
“Karena anak itu meninggal di umur 12 tahun Nding.”
“Hah? ada anak yang meninggal di rumah itu?” Yang lain berteriak seperti mendapatkan harta karun saja.
“Iya ada anak yang meninggal di sana.” Hartino meyakinkan semua orang.
“Apa mungkin anak itu tumbal pertama mereka?” Alisha bertanya tiba-tiba.
“Bisa jadi karena setelah anak itu meninggal, pabriknya semakin besar, toko emas bahkan menjadi semakin besar, yang tadinya hanya satu toko, menjadi tiga toko yang disatukan.” Ganding menjawab dengan semangat.
“Tapi bukankah dia anak kesayangan, lalu kenapa dia ditumbalkan, kenapa bukan anak yang pertama?” Aditia tiba-tiba bertanya.
“Karena biasanya tumbal dengan nilai yang paling tinggi adalah yang paling sulit dilepaskan.” Ganding mengingatkan prinsip ini pada kawanan.
“Masuk akal, berarti kalau ada tumbal, ada perjanjian bukan?” Alka bertanya.
“Ya, harusnya begitu Kak,” Ganding menanggapi.
“Berarti yang kita perlu lakukan adalah melepas perjanjian ini bukan?” Alka bertanya lagi.
“Ya, harusnya begitu.” Ganding menanggapi lagi.
...
“Maaf tuan putri, apakah dia begitu mengganggumu hingga kau harus keluar dari kamar ini?” Pemilik toko sudah di rumahnya lagi, dia meninggalkan anaknya bersama papinya di apartemen.
Kamar itu ditutup dari dalam, sementara pemilik toko emas itu berkomunikasi dengan tuan putri di kamar.
Tidak ada jawaban, hanya dupa yang dinyalakan saja yang terasa bergerak-gerak, seperti dimainkan.
“Dia tidak bermaksud mengganggu, dia hanya ....”
Tempat dupa terlempar dari meja sesembahan, tak ada angin yang bisa menembus jendela yang bahkan di paku itu. Jadi sudah pasti, ‘dia’ pelakunya.
“Aku tidak sedang membelanya, aku hanya mengatakan yang sebenarnya tuan putri.”
Kali ini semua makanan yang ada di meja sesembahan terlempar mengenai tubuh pemilik toko emas.
“Baiklah! Baiklah! Aku akan melakukan ritual yang kau sukai.”
Pemilik toko emas itu lalu mengambil gelang emas yang terbuar dari lempengan, gelang itu ada dua, pemilik toko emas itu memakai gelang pada tangan kanan dan kirinya, setelah gelang itu dipakai, dia duduk dengan kaki bersila, maka ... energinya langsung terkuras ke dalam gelang itu, pemilik toko emas terus membaca mantra, bukan untuk memperlancar agar energinya bisa disalurkan ke gelang emas itu, tapi agar dia tidak mati energinya dikuras dalam jumlah banyak
Energinya adalah salah satu makanan favorit tuan putri, sedang makanan yang disajikan hanya sajen, yang bisa dijadikan pengganti energi jika saja tuan putri tidak marah. Tapi ketika dia marah, maka ritual salur energi ini harus dilakukan agar tuan putri tenang.
Biasanya yang melakukan ini adalah papi, karena dia memiliki tubuh yang jauh lebih kuat, tapi semakin lama orang semakin tua, maka semakin beratlah ritual ini dilakukan, kemarin papi sudah melakukan ini dan tuan putri masih marah, makanya pemilik toko emas itu akhirnya mengalah, dia melakukan tanpa persetujuan suaminya, karena ini bisa jadi membahayakan dirinya, tapi tetap dia harus lakukan agar tuan putri tidak marah.
“Kau senang sekarang bukan? lihat, aku memberimu makan dari tubuhku tuan putri.” Pemilik toko emas itu membujuk.
__ADS_1
“Aku akan tetap menjaga kamar ini agar kau bisa tinggal, kami juga akan terus memujamu seperti yang kau inginkan, maka sudahi marahmu ya, aku akan pastikan takkan ada lagi yang bisa memasuki kamarmu, tidak akan ada lagi, aku berjanji. Tapi tinggallah, jangan keluar dari kamar ya.” Pemilik toko emas itu membujuk.
...
“Mau sampai kapan Papi membiarkan mami dengan ide gilanya memelihara kamar itu, taukah kalian, kalau para pembantu sudah menyebarkan rumor tentang kalian melakukan pesugihan di kamar itu.”
“Aku tidak ingin kita membicarakan ini.”
“Papi atau mami yang gila sebenarnya? Sampai kapan kalian melakukan ini? untukku? bukan kan?!”
“Untuk masa depanmu, kau akan tenang menjalani hidup jika kami tiada.”
“Aku tidak butuh uang itu!”
“Kalau tidak butuh, apakah kau mampu hidup tanpa apartemen mewah ini? tanpa kartu kredit dengan limit yang besar itu? tanpa uang-uang yang kami berikan?”
“Tidak bisakah kita hidup biasa saja?”
“Bisa, kalau kau diam dan tidak banyak ikut campur.”
“Pi! Aku sudah besar dan aku berharap bisa dilibatkan dalam setiap keputusan di keluarga kita!”
“Ambil keputusan? Bagaimana bisa, dilarang ke kamar itu saja kau masih nakal.”
“Karena aku tidak mau kalian tersesat lagi!”
“Kami tidak tersesat, hanya kau saja yang tidak mengerti, makanya menikahlah dan bangun keluargamu, maka kau akan mengerti!”
“Bagaimana aku bisa menikah kalau aku malu memperkenalkan keluargaku yang aneh ini!”
“Carilah yang mengerti, tidak perlu yang kaya, yang penting dia menerima kita.”
“Pi! Aku ingin memberitahu kalian kalau kalian menyimpang, kenapa kau malah memintaku mendapatkan pria yang menerima penyimpangan kalian!”
“Selesaikan makanmu lalu aku tidurlah, sudah malam, jangan terlalu banyak memikirkan urusan orang tua.”
Papinya pergi, dia tidak ingin berkata atau berbuat kasar pada anaknya. Tapi anaknya ini memang sangat keras kepala, itu yang membuat dia tidak bisa dekat dengan orang tuanya, dari kecil dia memang sangat keras kepala.
...
“Wah, anak ibu udah nggak sakit lagi, udah nggak demam lagi.” Sum yang bermaksud mengompres anaknya karena biasanya setiap malam anaknya akan demam lagi.
“Anak kita udah sembuh, Sum?” Suaminya Sum bertanya.
“Iya, ini udah nggak demam lagi, trus memarnya juga hilang, tidak ada memar di tangan ataupun di leher.” Sum terlihat senang.
“Alhamdulillah kalau begitu.”
“Aku malu sudah berburuk sangka pada majikanku.”
“Berburuk sangka? Kenaa?” Suaminya Sum terlihat bingung.
“Karena ada tetangga yang beli emas di toko emas majikanku, dia cerita soal ibunya Amanda yang meninggal setelah membeli kalung itu, dia katanya memar di leher dan punggung juga seperti anak kita, jadi tetangga itu bilang, mungkin saja ada yang nggak beres sama toko emas itu. Aku sempat percaya, karena ini tidak mungkin kebetulan, karena anak kita memakai gelang dari toko emas itu, sama seperti ibunya Amanda yang membeli emas juga dari toko emas itu. Memar yang sama itu terlalu aneh. Tapi sekarang aku tidak mau berburuk sangka lagi, karena sekarang anak kita sudah sembuh dan memarnya mulai pudar.
Pasti ini karena masuk angin, aku mau kerok dulu deh anak kita, biar dia bisa tidur nyenyak, karena semenjak sakit anak kita sering bicara meracau, ketakutan dan berteriak-teriak saat tidur, semoga sekarang dia bisa lebih tenang saat tidur ya.” Sum bergegas mengambil bawang dan minyak kayu putih untuk mengerok anaknya dengan bawang.
__ADS_1
Anak itu jgua terlihat sudah sangat sehat, tentu saja, gelangnya kan ....