Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 399 : Toko Emas 29


__ADS_3

“Bagaimana kalau kita berbagi?” Adik menawarkan.


“Apa maksudmu?” Kakak tidak mengerti.


“Berbagi kehidupan denganku?” Adik tersenyum dalam tubuh kakak, sementara jiwa kakak yang terikat dia hanya terdiam, mudah mencerna apa yang dimaksud adik.


“Kau sangat ingin hidup lagi?” Kakak tiba-tiba bertanya dalam keheningan saat tadi.


Adik yang tadinya menyeringai tiba-tiba terdiam.


“Kau mau menukar hidupmu?”


“Mintalah padaku.” Kakak tiba-tiba menunjukkan keberaniannya.


“Kalau aku minta kau akan berikan?” Adik bertanya lagi.


“Untuk pertama dan terakhir kalinya, mungkin akan aku berikan, toh sudah tidak ada Mami, tidak ada kamu, hanya ada aku dan papi, hidup pasti rasanya akan sepi sekali.” Kakak berkata dengan lemah tapi tulus.


“Apa kakak benar akan memberikannya padaku kali ini? tidak seperti kaos putih itu?” Adik bertanya dengan sangat senang.


“Ya, aku akan memberikannya, tapi dengan satu syarat.” Kakak tiba-tiba mengajukan syarat, adik yang senang tidak peduli soal itu, dia mengangguk dengan tubuh kakaknya.


“Apa syaratnya kak?” Adik bertanya, mereka seperti orang kurang waras yang berbicara sendiri, padahal mereka berbicara dari kaca.


“Aku ingin kau menemui seseorang dulu, dia adalah orang baik yang pasti membuatmu akan senang.” Kakak membujuk.


“Aku harus bertemu dengan siapa?” Adik bertanya lagi.


“Minggu depan kita akan menemuinya ya, Dik .” Kakak menjawabnya.


“Baiklah, aku senang jika punya seseorang yang bisa dipertemukan denganku dan Cici, minggu depan kita akan bermain bersama kan, Ci?” adik bertanya dengan sangat senang, jiwa cici hanya mengangguk saja.


Lalu mereka berdua akhirnya tidur dalam ketengan yang entah bertahan sampai kapan.


Pagi datang lalu seperti biasa papi dan kakak sarapan, tentu hanya tubuh kakak, karena adik yang masih menguasainya.


“Makanmu masih banyak lagi?” Papi bertanya.


“Iya, kayak biasa, kan buat ....”


“Anak perempuan itu nggak boleh banyak makan! nanti kamu gendut.” Papi berkata dengan kasar.


“Biarin gendut, aku kan mesti kenyang.” Adik membantah dengan tubuh kakak.


“Jelek perempuan gendut, siapa yang mau nanti?” Papi mengejek.


“Nggak apa-apa nggak ada yang mau, emang aku nggak mau nikah!” Adik nggak mau kalah, tentu masih dalam tubuh kakak.


“Kalau begitu Papi nggak mau nampung anak yang nggak laku ah.” Papinya lalu melengos mengatakan itu.

__ADS_1


Adik terlihat kesal karena perkataannya sungguh membuat adik sangat kesal.


Papi pergi bekerja, adik yang bosan akhirnya memutuskan untuk ke toko emas, dia mau jaga bareng sama Sum dan salah satu pegawai baru yang merupakan kerabat keluarga mereka.


Saat sampai, adik menyapa Sum dengan riang , tapi Sum hanya melihat dan mencoba untuk tidak menatap matanya, adik dalam tubuh kakak tidak terlalu terganggu dengan sikap seperti itu, dia tidak terlalu paham kenapa Sum begitu, padahal dia sangat takut pada adik yang terlihat dari kaca kemarin itu.


“Kamu pegawai baru ya?” adik bertanya.


“Iya, kan kita saudara, kamu lupa ya?” Pegawai itu merasa aneh karena kakak tidak kenal padanya.


“Oh iya, maaf aku lupa.” Adik hanya mencari alasan, karena dia paling jarang datang ke rumah keluarga dan dia masih sangat kecil, jadi dia tidak ingat itu saudaranya, tapi kakak, seharusnay ingat karena mereka sempat serumah.


“Kok lu bisa lupa sama gue sih? kan kita sekamar waktu lu tinggal sama papaku.” Saudaranya terlihat kesal dan mengungkit.


“Ya namanya juga anak kecil, wajarlah.”


“Hah?” Pegawai baru itu bingung dengan perkataan seorang perempuan yang sudah dewasa.


“Kecil apaan lu! elu tuh udah bangkotan, mana gemuk dini lagi.” Pegawai itu memang terkenal ceplas-ceplos dalam berkata.


“Emang aku gendut?” Kakak bertanya.


“Iyalah, ukuran keluarga kita mah kamu paling gendut tau, jaga makanlah.” Kerabat itu terlihat sangat menggebu mengatakannya, kesal karena tidak diingat dan makanya dia sengaja mencemooh kakak.


“Papi juga bilang begitu barusan.” Adik dalam tubuh kakak terlihat kecewa dengan penilaian orang padanya, apalagi orang-orang dekat.


“Nah, apa kubilang, kau memang gendut, seharusnya kau diet tahu!” Pegawai itu terlihat bersemangat memberikan saran.


“Yaelah kamu masa, nggak tahu. Itu loh, tahan makan, jangan makan banyak-banyak, supaya badanmu turun beratnya.”


“Oh begitu, tapi aku kan makan mesti banyak.” Adik menjelaskan, tapi tubuh kakak yang berbicara.


“Ya kalau begitu terima aja, apalagi papimu itu keras tahu, makanya aku kaget kamu bisa gendut ini, padahal papimu sangat tidak suka kalau melihat orang gemuk.” Kerabat itu semakin memanasi.


“Iya, papi tadi udah komplain, suruh aku kalau makan jangan banyak-banyak, tapi kan kemarin aku boleh makan banyak, kenapa sekarang aku tidak boleh makan banyak?”


“Kemarin kalian kan abis dapat musibah, karena mami meninggal dunia, mungkin papimu sengaja melonggarkannya, eh sekarang kau malah kebablasan. Nanti papi pasti memaksamu untuk diet.”


“Aku tidak mau diet, soalnya aku suka makan banyak dan harus.”


“Yaudah, telen aja kalau papimu menghina, yang penting makan banyak. Aku aja kalau sarapan hanya teh hangat saja, tidak bisa yang lain, menjaga berat badanku supaya pacarku nggak ninggalin aku.”


“Aku sih nggak mau ya punya pacar, ribetlah.”


“Wah papimu pasti akan semakin murka, jangan-jangan kau akan diusir lagi.”


“Masa papi sejahat itu?”


“Lah kau lupa? Dulu waktu kecil kau kan dikeluarkan dari rumah, karena kau bertengkar dengan adikmu, itu karena papimu memang orang yang tegaan. Masa anak kecil dibuang ke rumah keluarganya, kau itu nangis terus waktu itu, kau bahkan merasa dirimu itu nggak berharga, kau bahkan sempat mau kabur karena merasa nggak ada yang mau, lupa ya kamu?” Pegawai baru itu bertanya.

__ADS_1


“Cici begitu?” Adik keceplosan bertanya dengan memanggil nama kakaknya.


“Cici, cici! Aku lebih tua dari kamu, harusnya kamu yang panggil aku cici tahu!”


“Eh iya, sorry.”


“Kamu mening periksa ke Dokter deh, aneh nih kamu, masa banyak lupanya.”


“Tapi, apa lagi aygn kamu ingat dengan yang terjadi padaku ketika tinggal di rumahmu?” Adik bertanya karena penasaran, masih dalam tubuh kakakk.


“Oh ya ada lagi, ketika ulang tahunmu dirayakan, pas umurmu setahun itu, tapi dulu kamu ulang tahun nggak dirayain pas yang umur setahun, kamu nangis meraung-raung, orang tuamu bilang katanya kau akan dirayakan ulang tahunnya, tapi kau menolak karena keburu sakit hati.” Pegawai sekaligus kerabat itu menjelaskan lagi.


Padahal ketika itu, jelas, keluarga mereka belum kaya seperti ketika adik lahir hanya mampu saja, toko emas juga sempat sangat sepi, adik lahir keadaan keuangan keluarga mulai membaik, hingga akhirnya bisa mereka rayakan ulang tahunnya, sayang, ketika ulang tahun kakak juga mau dirayakan, kakak sudah keburu sangat kesal dan tidka ingin lagi. Ditambah kakak saat itu juga sudah mulai tinggal di rumah kerabat.


"Ulang tahunnya aku jadi nggak dirayain?" Adik tidak mau keceplosan lagi."


"Iya enggak."


"Kasihan ya."


"Iya, tapi ada lagi yang lebih parah, pas adikmu sakit, demma tinggi, itu musim ujan kalau nggak salah, jadi kamu sakit juga, demam juga. Adikmu diantar orang tuamu ke Dokter, tapi kamu malah dianter kita-kita, kata papimu biar kita aja yang anter orang tuamu lagi anter adik. Kau sata itu bahkan nggak mau makan, nggak mau minum, yang kau lakukan hanya melamun, mamaku yang benar-benar merawatmu loh."


"Oh gitu, kasian ya Cici." Adik keceplosan lagi.


"Ita, kasian kan kamu. Makanya aku nggak heran ketika kau dan adikmu bertengkar di pinggir jalan dan akhirnya adikmu meninggal dan kau tidak mennagis kan saat itu?


Siapa yang mau kehilangan lagi setelah disakiti orang tuamu berkali-kali. Adikmu adalah penyebabnya, itu yang kau pikirkan."


"Aku nggak nangis saat adik meninggal?"


"Nggak, kau itu bahkan terlihat ... lega."


Adik marah mendengarnya, karena kakak melakukan itu, artinya kakak memang tidak sayang, hal yang adik coba sangkal selama ini.


"Aku lega kenapa?"


"Lah kamu lupa? Kamu kan bilang juga pas di rumah saat aku jenguk, katamu gini, untung dia sudah mati, baguslah, nggak ada yang ambil barangku lagi pokoknya."


"Aku ngomong gitu?" Adik semakin marah hingga keluar air mata.


"Iya kami bahkan bilang, sekarang perhatian mami dan papi hanya untukmu. Aku ikut seneng tuh, karena kamu hebat, akhirnya bisa mengalahkan adikmu, tanpa tanganmu kotor. Kecelakaan itu, bisa saja terjadi pada siapapun, bahkan yang katanya masih bayi, duh aku jadi rindu mami, dia baik banget tau."


"Ibuku?" Kakak bertanya dengan polos.


"Iyalah, siapa lagi!" Kerabat itu sekarang merasa menguasai keadaan.


"Mamiku memang baik."


"Tapi mamimu itu lebih sayang adik, kamu bilang gitu kemarin itu, orang tuamu memang sangat menyayangi adikmu dan kau mungkin tidak." Kerabat itu setelah mengatakannya langsung pergi hendak mengambil barang yang ketinggalan dari rumah.

__ADS_1


Adik berpikir keras, ada apa dengan hatinya, kenapa perih sekali, dia tidak suka dengan kondisi ini.


Adik akhirnya izin pulang pada Sum, hal yang Sum tunggu sejak tadi.


__ADS_2