
Tidak ada perubahan atas semua yang sudah dilakukan oleh Aditia dan Alka, Jarni masih saja tergila-gila dengan Raja jin itu. Aditia sudah kelelahan, Alka sepertinya sudah tidak kuat dengan hinaan-hinaan yang selalu dilontarkan padanya.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Aditia meminta Alka memikirkan jalan keluar yang lain, sudah 5 hati mereka ada di sana.
“Aku sudah tidak tahan di sini, makanan busuk itu yang terus dimakan Jarni sangat menjijikan.” Nada bicara Alka sudah kesal.
“Kita keluar saja dari sini, pulang ke dunia kita.”
“Tapi Alka bisa gila , Dit.”
“Kita minta bantuan Hartino dan Ganding, kita kerjakan seperti biasa, dengan tim, kamu ngerasa nggak sih, kita lemah jika hanya berdua. Ganding dan Hartino pasti punya cara lain, kau tahu, kan, mereka itu terkadang puny aide brilian.”
“Kau yakin?”
“Ya, kita juga harus menggali tubuh gadis itu, untuk dimakamkan dengan layak, ingat masalah itu juga belum selesai.” Aditia mengingatkan.
“Baik, mati kita lakukan.”
Mereka bertiga menghadap Raja, Jarni masih saja terus berlari ke arah Raja jika melihatnya, padahal pengawal selalu mendorongnya dengan kasar.
“Ada apa kalian ke sini?” Raja Jin bertanya.
“Kami bertiga memutuskan untuk pulang Raja.”
“Kau yakin? Kan, kau tahu, kalau kau pulang bersama Jarni, dia akan menjadi gila.” Mbah Kanjawani berkata, Raja hanya mendengar sembari menikmati makanannya, tentu saja busuk.
“Kami yakin.” Aditia menjawab.
“Baiklah, terserah saja, aku juga sudah tidak tahan melihat wanita itu, sangat menjijikan wajahnya.” Raja itu menghina Jarni, padahal di bangsa manusia, Jarni cukup cantik, rambut panjang, kulit putih bersih, tubuh langsing, hanya dia lebih pendiam saja. Tapi di bangsa jin, dia terlihat sangat jelek, sama seperti Alka.
“Kalau begitu kami pamit segera.”
“Aditia terima kasih sudah mampir ke kerajaan kami, sebagai hadiah, ini kami punya sekedar souvenir untukmu dan juga untuk temanmu yang lain.”
Raja memerintahkan dayangnya memberikan sebuah bungkusan kecil seperti kantung yang ditutup dengan cara diserut talinya.
“Buka setelah kalian keluar dari sini.” Itu pesan Raja jin.
Mereka diantar oleh Mbah Kanjawani, Alka menidurkan Jarni, Jarni digendong oleh salah satu pengawal Mbah Kanjawani. Ini dilakukan agar perjalanan mereka pulang menjadi lebih mudah bagi mereka semua.
Setelah keluar dari Kerajaan, mereka sampai di pasar, pasar sangat ramai, tidak ada yang menarik bagi manusia di sana, lalu mereka harus naik perahu tanpa layar tanpa dayung, sungainya mengantar mereka ke sebrang dengan sendirinya, hanya melalui perintah Mbah Kanjawani, lalu mereka menyusuri hutan.
Setelah menyusuri hutan, Alka mengarahkan mereka pada tubuh setan wanita itu, yang selalu berteriak ila karena ingin ikut, mereka harus mengevakuasi mayat wanita itu, belum lagi mencari identitasnya, tidak bisa hanya menguburnya saja.
Setelah mayat di gali, Alka memasukan mayat itu ke dalam kantung mayat yang sudah disiapkan oleh Hartino, Hartino sudah datang karena dijemput oleh pengawal Raja jin yang sudah keluar hutan pinggir tol duluan, jadi mereka sampai bersamaan, melihat Jarni pingsan, Hartino kaget dia membantu Alka mengurus mayat setan wanita itu dulu.
Mayat sudah di angkot Aditia, Jarni sudah dijemput supir Hartino, dia masih pingsan, rencananya akan dibawa ke gua Alka, dia akan terus ditidurkan untuk sementara waktu.
Sementara Alka dan Aditia harus segera mencari identitas dari mayat wanita ini.
“Keluarin dia Ka, biar kita bisa tanya-tanya, dimana rumahnya, kita harus kembalikan dia ke keluarga.”
“Iya.” Alka mengeluarkan wanita itu, dia duduk di dalam angkotnya, berdampingan dengan tubuh yang sudah membujur kaku.
Setan wanita itu menangis melihat kantung mayatnya, Alka mulai berkomunikasi lagi dengannya, menggunakan bahasa arwah.
__ADS_1
Dia menunjukan rumahnya di mana, tapi sebelum itu, mereka harus menyerahkan mayat ini ke Polisi dulu, karena kalau mereka langsung kembalikan ke keluarga, bisa dituduh sebagai pembunuh, tentu Polisinya, Pak Dirga, siapa yang mau menerima laporan dengan dasar dunia ghaib?
“Benar, ini wanita yang Bapak lihat kemarin Dit.” Pak Dirga membenarnya ketika melihat mayat itu, mayat sudah di ruang forensic, di sana mayat tidak teridentifikasi disimpan sementara waktu, menunggu keluarga menjemput, kalau tidak dijemput keluarga, akan dikubur di tempat pemakaman umum yang bekerja sama dengan kepolisian.
“Kami sudah tahu rumahnya Pak, kita ke sana bersama ya.” Aditia berkata.
“Iya, kita ke sana sekarang, Dit.” Mereka akhirnya segera ke rumah wanita setan pinggir tol itu, naik angkot Aditia, bertiga.
Ketika sudah sampai, wanita setan it uterus menangis sambil berjalan di samping Alka, perlahan wujudnya menjadi jauh lebih baik, mengenakan busana terakhir yang dia kenakan, matanya tidak bolong dan tubuhnya tidak penuh darah.
“Assalamualaikum.” Pak Dirga memberi salam, tidak lama ada seorang bapak keluar, lelaki paruh bayar, mungkin umurnya sekitar enam puluh tahun.
“Ya, cari siapa Pak?” Merasa tidak kenal, yang punya rumah bertanya.
“Saya Dirga, saya Polisi, saya mau memberikan berita tentang … putri Bapak.” Pak Dirga sudah diberitahu Alka bahwa, lelakI itu adalah ayahnya.
Lelaki itu jatuh tersungkur, dia tahu, ini pasti kabar buruk, dari dalam ada yang berlari.
“Kenapa Pak, kenapa?”
“Ibu, boleh kita masuk? Biar kita bantu papah Bapak ke dalam rumah.” Pak Dirga langsung memapah lelaki paruh baya tersebut, Aditia buru-buru membantu Pak Dirga.
“Kalian siapa?” si bapak tidak bisa berkata, hanya lemas di sofa.
“Perkenalkan, saya Dirga, saya Polisi, kami datang ke sini, mengenai putri Ibu, dia ….”
“Astagfirullah, a-apa yang terjadi dengan anak saya?” ibunya mulai menangis.
“Begini, ini pasti berat buat Bapak sama Ibu, tapi harus kami sampaikan, kondisi putri kalian saat ini, sudah meninggal dunia.”
“Ya Allah! Ya Allah! Astagfirullah.” Ayah dan ibunya histeris bersautan.
“Saat ini petugas forensik sedang mengotopsi tubuh tersebut, maaf kami harus melakukan itu tanpa meminta izin, karena kami harus segera melakukannya, mengingat waktu kematiannya mungkin sudah cukup lama.” Jawab Pak Dirga.
“Astagfirullah Dina, putri ibu yang malang.” Ibunya menangis lagi, si ayah hanya bisa terdiam menatap kosong.
“Baik, maaf sekali, bisakah kami bertanya dulu sebelum kalian melihat Dina?” Pak Dirga bertanya.
“Bisa Pak, kami tahu, pasti Bapak mau bantu kami, tidak mungkin putri kami terkubur begitu saja, pasti ada yang berbuat jahat padanya!” Ibunya geram.
“Baik, terakhir bertemu dengan Dina kapan?” Pak Dirga mulai interogasi.
“Dua minggu lalu, katanya dia akan berangkat untuk panggilan kerja.” Ibunya menjawab.
“Dua minggu lalu, berarti memang sudah lama sekali ya. Lalu apakah soal kantor dan juga orang yang akan dia temui, ibu tahu?”
“Tidak, saya tidak tahu sama sekali.”
Alka sudah bertanya, tapi Dina yang sudah menjadi Arwah juga tidak ingat, dia hanya ingat rumah dan orang tuanya, tapi tidak punya ingatan tentang apa yang terjadi sebelum dia meninggal, makanya dia jadi hilang akal saat di kerajaan jin dan tol itu, karena dia hanya ingin ikut orang untuk pulang ke rumahnya. Makanya dia selalu berkata ILA berulang yang artinya ikut dalam bahasa arwah.
“Apa Dina tidak memberitahu dia dapat panggilan kerja dari perusahaan mana atau direkomendasikan oleh temannya siapa?” Pak Dirga bertanya lagi.
“Seingat saya tidak, kami orang tua yang cukup kolot, jadi tidak mengerti soal itu, anak kami Dina juga sangat mandiri, dia anak yang berbakti, dia melakukan semuanya sendiri, anak kami yang cantik dan mandiri.” Ibunya mengingat itu semua dan kembali menangis.
“Sulit kalau begitu, tapi kita jadi tahu, sekitar dua minggu yang lalu, kita bisa cek CCTV sekitar tol, semoga saja ada.” Pak Dirga mengehela nafas panjang.
__ADS_1
Lalu mereka akhirnya membawa orang tua Dina si setan perempuan untuk melihat mayat anaknya, setelah mengantar, Aditia dan Alka izin pulang, sementara Pak Dirga masih harus ke kantor Polisi karena masih banyak kerjaan.
“Ka, gimana? kita harus mulai darimana?” Dina si setan manusia masih di bagian belakang angkot.
“Nggak tahu, CCTV sepertinya belum bisa membantu Dit.”
“Lalu?”
“Kita tanya Dina, ada nggak temen-temen yang dia ingat, mungkin kita bisa tanya temen deketnya, pacarnya, siapa tahu dia pernah cerita tentang kantornya atau pokoknya yang mendekati kita pada orang yang menyebabkan kematian Dina ini,”
“Dia inget emang, Ka? Sama temen-temennya?”
Alka mulai bertanya, dengan bahasa arwah tentunya.
“Katanya dia ingat satu orang, satu nama, dia mungkin temannya, seorang wanita, kita tanya orang tua Dina, siapa wanita itu.”
“Jadi balik lagi ke rumah orang tua Dina?” Aditia bertanya.
“iya.”
“Oh iya, emang apa sih isi dompet serut itu?” Aditia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Loh, emang kamu nggak tahu, kalau kerajaan jin suka bagi-bagi souvenir?”
“Nggak, emang isinya apa?”
“Buka aja kalau penasaran, kalau kamu suka, punyaku juga kamu ambil aja.” Alka berkata.
Aditia menepikan angkotnya dan membuka souvenir kerajaan bangsa Saba itu, saat dia membukanya, dia sungguh terkejut.
“Koin emas?”
“Iya, emang koin emas.”
“Emas beneran?” Aditia bertanya lagi.
“Iya, emas beneran, emas murni, beratnya pasti 33 gram per koin, itu ada tiga koin, kan?”
“Apa! serius! Alhamdulillah, ini bisa bantu ibu sedikit, kasian ibu, harus memikirkan biaya kami.” Tidak sengaja Aditia mencurahkan ke khawatirannya.
“Hah? Maksudnya? Kenapa ibumu?”
“Tidak-tidak, ini hanya masalah keluarga.”
“Serius deh, Dit, kenapa?!” Alka kesal.
“Ibu ngeluh, soal biaya pendidikanku dan pendidikan Dita, salah satu dari kami harus memutuskan putus kuliah.” Aditia terpaksa mengatakannya.
“Apa ini masalah biaya?”
“Apa lagi?”
“Astaga, Pak Mulyana sampai akhir tetap mempertahankan membohongi kalian ya.”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Kalian nggak semiskin itu Dit, nanti setelah ini selesai, masalah Dina, masalah Jarni, aku akan kasih tahu kamu, siapa sebenarnya Bapak dan kalian nggak perlu tuh bingung soal uang, sepele itu, tapi nanti ya.”
Aditia bingung tapi dia akan bersabar menunggu saja dulu.