Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 402 : Toko Emas Tamat


__ADS_3

KEMBALI KE HARI ITU (KETIKA ADIK MENGEMBALIKAN TUBUH KAKAK)


“Jadi, siapa yang akan ikut mami pulang?” Mami bertanya pada tubuh itu, isinya masih 2 jiwa.


“Cici Mi, Cici yang akan ikut mami, adik biar di sini aja, temenin papi, ya kan Pi?” Kakak berkata, papi hanya mengangguk.


Kakak memeluk jiwa adik untuk terakhir kalinya, kakak sudah siap keluar dari raganya, kakak akan pergi bersama mami.


Lalu keluarlah dia dari raganya ....


“Loh! Dik!” Kakak bingung, karena dia tidak keluar dari raga itu, padahal sudah bersiap, adik menahannya dan dia keluar sendiri dari raga itu.


“Kau sudah memberikan tubuhmu selama ini padaku, kau tidak memaksaku mengembalikan tubuh ini padamu selama seminggu ini, walau sebelumnya kau merengek, Ci. Itu sudah cukup, aku tidak ingin lagi menjadi dirimu, terlalu berat menjadi dirimu. Maka aku yang akan ikut mami, kau ikut papi.”


“Dik, aku benar-benar ingin kau yang memiliki tubuh ini, izinkan aku yang mengalah kali ini.”


“Kau sudah melakukannya Ci, kau sudah melakukannya, aku berterima kasih, karena seminggu ini kau menjadi kakakku, hari itu, ketika kita ke taman bermain, hari itu hari paling bahagia dalam hidupku, aku bersamamu, Ciciku yang paling aku sayang.”


Adik berlari ke arah mami, mami lalu menggandengnya dan mereka berdua bersiap untuk ‘pulang’.


Sementara Kakak memeluk Papi dan melihat adik dibawa melayang entah ke mana oleh sosok mami.


“Hei ... aku tahu kau bukan Mami. Tapi, terima kasih ya, aku memang rindu padanya.” Adik berkata pada sosok maminya.


“Kalau kau tahu aku bukan mami, kenapa kau mau ikut?” Sosok itu bertanya.


“Karena, ternyata sulit menjadi orang dewasa, aku tidak suka, selalu kelaparan karena papi maksa aku untuk makan lebih sedikit, kelaparan itu tersiksa, untung cici selalu mengajakku mengendap-endap mencuri makanan.


Lalu, itu memang tubuh kakak, dari awal adik tidak mau ambil, itu punya kakak, seperti dulu adik nggak mau ambil baju putih itu selamanya, adik cuma mau pinjam aja, karena waktu itu butuh, tapi cici nggak kasih, jadinya adik harus tertabrak truk.


Seperti kemarin itu, adik nggak mau ambil tubuh cici selamanya, cuma sebentar aja, biar cici sama adik bisa bersama-sama, main bersama, ngobrol, curhat papi yang jahat, Bu Sum dan anaknya yang lucu, kakak Amanda yang baik sama ibunya.


Aku suka ngobrol sama cici, aku sayang cici.”


“Jadi adik sekarang nggak apa-apa pergi sendirian? Nggak sama mami, karena mami kan udah dikubur dan udah kembali pada Tuhan.”


“Nggak apa-apa, apakah adik kembali ke kuburan juga? Bukan ke tempat itu, taman surga anak-anak?” adik bertanya.


“Entah, Tante Alka nggak tahu, tugas kami cuma antar kamu ke gerbang itu, nanti di sana kamu akan dijemput, kami tidak bisa memastikan kamu akan ke mana.”


“Tante Alka, temant-temanmu punya wangi yang sangat enak diciumnya, kalian semua wangi sekali, apalagi lelaki yang sering bersamamu, kalian orang-orang … baik.” Adik berkata dengan malu.


“Kau suka wangi kami?” Alka terkejut.


“Ya, aku suka berada di sekitar kalian, tapi biasanya aku ngumpet, biar kalian nggak sadar.”


“Kalau begitu, sekarang aku tahu … kau akan kembali ke taman itu, ke taman surga anak.” Alka tersenyum padanya, tidak terasa mereka sudah sampai di gerbang itu.


Saat kaki mereka melangkah di gerbang itu, gerbang yang tidak akan diketahui titik koordinatnya selain kawanan, karena pemilik kunci titik koordinatnya adalah Kharisma Jagat dan dapat dimasuki oleh seluruh kawanan. Gerbang dengan warna emas berkemilauan itu terbuka dengan lebar, dua pintu gerbang yang tingginya menjulang ke langir itu, hingga tak terlihat ujungnya, sudah terbuka lebar pada kedua pintunya. Saat Alka melangkah dan hanya bisa sejauh 100 meter dari pintu gerbang itu untuk mengantar jiwa yang tersesat.

__ADS_1


Alka melepas adik dengan tubuh yang masih menyamar sebagai mami, Alka memeluknya dengan pelukan paling hangat, lalu berkata, “Adik anak baik, adik anak hebat yang mau cici, mami dan papi bahagia. Semua kecelakaan yang terjadi hingga membuat orang-orang itu meninggal dunia, bukan karena niat adik yang buruk, itu karena adik masih kecil dan tidak paham. Adik tunggu papi dan cici di taman surga anak ya, kalian kelak akan berkumpul lagi.” Alka menitikkan air mata.


“Terima kasih sudah menjadi mami, terima kasih sudah peduli pada keluargaku dan tidak memaksaku keluar dari tubuh cici dengan cara yang kasar padahal kalian bisa kan? Terima kasih kakak yang cantik, kau dan teman-temanmu orang baik.” Adik membalas pelukan itu dengan erat dan dia masuk ke dalam pintu gerbang yang sudah terbuka itu.


Lalu dari kejauhan Alka melihat, sosok yang sangat bersinar, dengan sayap yang sangat banyak, keseluruhan tubuhnya berwarna putih menyambut kedatangan adik dan menuntunnya untuk masuk.


Alka melihat bahwa, adik dijemput malaikat, adik memang akan kembali ke taman surga anak, mitos itu salah, tidak semua anak ambar akan disiksa ketika kembali. Adik kembali ke taman surga anak.


Alka melihat gerbang itu perlahan tertutup dengan bunyi gemuruh, lalu menghilang. Titik koordinat ini sudah dihapus, kelak kalau akan ada yang dijemput dan dipulangkan lagi, titik koordinatnya akan diberikan ke pada Aditia sebagai pemegang kunci, Kharisma Jagat yang tugasnya mengantar jiwa yang tersesat, karena tidak semua Kharisma Jagat memiliki tugas itu, tugas dengan ancaman yang cukup tinggi dan taruhannya nyawa. Makanya Ayi sangat sayang Aditia dan seluruh keluarganya, karena mereka menjaga tugas itu dengan baik dan segala daya upaya dikerahkan.


Alka kembali ke kawanan, ke markas ghaib itu, Alka melihat Aditia dan Hartino sedang main game, kalau melihat mereka serius main game berdua begini, mereka terlihat sangat normal, seorang pemuda bujangan yang suka menghabiskan waktu dengan bermain, tapi kenyataannya, Alka miris mengingat betapa dua pemuda itu sangatlah selalu kelelahan dan bahkan Hartino harus rela untuk menikah tanpa perayaan sama sekali, padahal mereka berdua dari keluarga yang kaya raya. Sungguh menjadi kawanan sangat menyakitkan.


Lalu Ganding sedang membaca di sofa, tak jauh dari mereka, Aditia dan Har duduk di lantai berkarpet tebal menghadap televisi, di mana game itu di proyeksikan di sana.


Jarni … Jarni sedang duduk memainkan peliharaannya, ular mini, tentu kalau orang biasa, akan melihat Jarni sedang bicara sendiri, memainkan ular yang tidak terlihat pula. Sungguh dia tidak bisa terlihat normal dari segi manapun. Bahkan dia lebih suka bicara dengan ularnya dibanding manusia. Ularnya patuh, manusia seringkali bersikap jahat dan tidak pakai hati.


“Alka, sudah pulang?”Aditia yang sedang asik bermain menyapa tanpa menoleh.


“Iya sudah.”


“Bagaimana kak? Dijemput si hitam atau si putih?” Ganding bertanya.


“Si putih, berbeda tapi, dia punya sayap yang sangat berkemilauan.”


“Wah berarti kembali ke taman surga ya.” Ganding paham, yang lain mendengar sekenanya saja.


“Hmm, keliatan ya?”


“Iya Kak.”


Yang lain menghentikan kegiatannya dan mulai menghadap Alka, mereka tahu, Alka sedang butuh dukungan atas perasaannya, karena dibanding yang lain, Alka yang sangat sensitif, sifatnya berbeda dengan Alisha yang nekat dan tidak terlalu peduli perasaan orang, Alka hati-hati karena terlalu peduli pada manusia.


Alisha datang dan membawa gorengan bakwan, dia memang koki yang selalu bisa diandalkan.


“Ada apa ini?” Alisha bertanya.


“Belum dijawab sama kakak, sini kamu.” Hartino menarik tangan istrinya hingga dia duduk di samping Hartino.


“Aku hanya sedih, kenapa banya kruh tersesat yang membuat dadaku sesak, anak ambar, anak-anak yang sebelumnya kita pulangkan bahkan lebih banyak, anak-anak it udijemput dengan si putih, aku tahu akhir mereka adalah surga, seperti anak ambar ini, mereka mencium aroma kita itu wangi, bukan busuk, karena kalau anak itu sudah menjelma menjadi iblis, mereka akan mencium aroma busuk dari tubuh kita, tapi anak ambar itu suka dengan wangi kita, maka aku tahu akhirnya dia adalah surga.


Tapi  aku sedih, sesak saat harus mengantar mereka, berpisah dengan orang terkasih, orang tua, saudara dan semua yang mereka cintai.


Melihat mereka bahagia, tapi namanya perpisahan selalu menyesakkan dada, aku merasakannya.” Alka menitikkan air mata.


Kawanan mengerti kenapa Alka bisa sesensitif ini, karena mengantar jiwa tersesat, membawa orang berpisah dari hidupnya dan juga keluarganya, sedikit banyak akan mempengaruhi Alka, dengan hati yang sangat lembut.


“Makanya, lain kali jangan kamu yang antar.” Aditia duduk di hadapan Alka dan memegang kedua tangannya.


“Kan hanya aku yang bisa menyamar menjadi maminya, makanya kali ini aku antar dia sendirian.”

__ADS_1


“Sini aku peluk.” Aditia memeluk Alka, yang lain ikut termasuk Alisha, pelukan itu memberi energi baik pada Alka yang sedang sendu.


“Bagaimana kalau kita masuk pada kesimpulan, supaya Ganding bisa menulis di kitab kisah kita.” Hartino memberi ide, agar Alka bsia semangat lagi. Semua orang setuju.


Ganding membawa kitab yang sudah berjilid-jilid itu lalu mulai menulis, kesimpulan.


“Kenapa saat itu kau yakin pasti tidak akan ketahuan kalau kau menyamar menjadi sepupu dari kakaknya, tempat di mana dia tinggal setelah adiknya lahir itu?” Ganding bertanya pada Alisha, karena ketika itu dia tidak sempat bertanya, usulan itu emngalir begitu saja, mereka perlu melakukan beberapa landasan agar adik tidak nyaman untuk hidup lagi.


“Karena aku tahu, adik pasti menempati tubuh kakaknya, saat dia menempati tubuh kakak, pasti kakak diikat saat itu, jadi kalau aku menyamar pun, pasti dia takkan tahu, anak itu meninggal di umur 12 tahun, saat itu berarti dia belum besar pun baru akan beranjak remaja, sehingga biasanya, tidak terlalu tertarik mengenal keluarga, apalagi saat itu keluarganya sibuk dengan pekerjaan dna bisnisnya, jadi sudah dapat dipastikan, adik tidak akan terlalu kenal pada sepupunya, berbeda hal kalau kakak, dia pasti kenal sepupunya.


Beruntung dugaanku tepat, adik tidak mengenaliku, di percaya aku sepupu mereka, maka semua cerita tentang apa yang kakak rasakan, aku ceritakan ulang. Kalian ingat kan, ketika kakak kita minta untuk melakukan ritual itu, ketika kita hendak ke rumah dari apartemen papinya, aku banyak bertanya tentang masa lalu, apa-apa saja yang pernah membuat dia sakit hati, dari situ aku sedang mengumpulkan banyak informasi, jika saja itu kelak bisa digunakan.


Dan aku benar, kita bisa pakai untuk membuat adik semakin merasa bersalah, aku seperti seorang sepupu yang menyebalkan bukan?” Alisha tertawa, dia memang pandai bersikap menyebalkan, si nekat yang tidak terlalu peduli perasaan orang.


“Lalu usulan Kakak tentang mata-mata, kenapa Abah Wangsa yang ditugaskan? Kau menyuruh Karuhun tertua untuk bekerja, padahal ada khodamku dan khodam Hartino.” Ganding bertanya.


“Karena hanya abah yang mampu menyembunyikan sosoknya dalam tubuh papi, kau tahu kan, papi harus ditidurkan agar Abah Bisa masuk, lalu Abah menyembunyikan energi, bau dan juga sosoknya, agar Anak Ambar itu tidak bisa mendeteksinya, kalau khodam kalian kan ….” Aditia yang menjawab, bukan Alka, dia sedang menyombongkan diri karena Karuhunnya lah yang memiliki ilmu tertinggi, hingga tidak bisa terdeteksi oleh makhluk ghaib lain.


“Itu masuk akal. Tapi tujuan Alisha menyamar jadi sepupu dengan tubuhnya sendiri, kenekatan yang sangat hakiki, lalu Abah merasuki papi dengan hati-hati, apa sih tujuannya?” Ganding bertanya karena itu semua harus dibukukan.


“Membuat adik sadar, bahwa hidup tidak selalu nyaman dan indah. Abah yang mendorongnya untuk tidak makan banyak, mengambil semua nasi di piringnya dan aku yang menyamar menjadi sepupu, menceritakan semua rasa sakit kakak yang dikarenakan kelahiran adik, itu semua untuk menyadarkan adik, betapa bukan cuma dia yang sakit selama ini, semua orang melewati rasa sakitnya, kakak juga menderita, bukannya senang dengan semua yang terjadi, membujuk dengan perlahan. Prinsip menghadapi anak kecil adalah, membujuk, kalau kita melakukan tindakan kekerasan, dia akan semakin keras dan tidak mau mendengar.


Kalau kita memohon padanya, dia akan merendahkan kita dan semakin besar kepala, maka yang harus kita lakukan adalah membujuk, memberi tahunya banyak pilihan, sembari mendorong dia perlahan untuk menuju pada pemikiran yang kita inginkan.


Karena sifat anak-anak itu, pertama, dia suka menyalahkan orang lain dan suka berbohong, itu alasannya kita tidak boleh langsung marah-marah padanya dan mengatakan dia salah, karena cara berpikir alaminya begitu. Ini langkah yang membuat kita semua memilih diam dan pura-pura percaya ketika ditipu adik.


Selanjutnya, anak-anak itu cenderung memiliki pola pikir yang impulsive, Anak-anak langsung menyerang balik secara spontan begitu mereka merasa disakiti atau ngamuk. Mereka bicara tanpa pikir panjang, melakukan sesuatu begitu saja tanpa berhenti sejenak untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin timbul dari tindakan itu. Alih-alih, menyimak sudut pandang orang lain, kanak-kanak secara impulsif menyergah omongan temannya. Ini satu lagi yang mendukung kita harus pura-pura percaya ketika adik dalam tubuh kakak memberikan tabung itu dan mengatakan bahwa dia ada di dalamnya, padahal masuk ke tubuh kakak.


Sifat anak-anak selanjutnya adalah, ingin jadi pusat perhatian, makanya aku menyamar jadi sepupunya dan menjadikan dia pusat perhatian, dengan menceritakan bahwa selama ini kakaknya sangat cemburu padanya, alasannya adalah karena, kakak tahu adik yang paling disayang, maka kesimpulannya adalah, adik pusat perhatian semua orang, aku memberikan apa yang bisa dia cerna sekaligus memastikan bahwa, adik akan merasa bahwa kakaknya adalah subjek yang lemah. Jadi bukan harus dilawan, tapi harus dilindungi, ini masuk ke sifat berikutnya.


Mekanisme pertahanan diri, jika orang dewasa mengenal pertehanan diri dengan banyak berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah, maka berbeda dengan anak kecil, anak kecil cenderung memilih cara yang keras, yaitu melawan balik, maka ketika kakak terlihat lemah, yang salah adalah adik, dia melawan dirinya sendiri untuk melindungi kakak.


Maka inilah yang aku dan Abah coba bangun, mendorong adik sekuat tenaga, agar berpikir kakak lemah dan dia harus mendapatkan tubuhnya kembali.


Bujukan ini sungguh sesuatu yang manipulatif, kita mendorong adik melakukan yang kita inginkan, melepaskan tubuh kakak, tapi sulit dipungkiri, bahwa hanya ini satu-satunya cara yang akan berhasil. Anak kecil itu sulit dipahami.”


“Dan kau hebat dalam memahami mereka, kami beruntung memilikimu Alisha.” Alka menanggapi penjelasan Alisha dengan kagum.


“Ya walau aku sempat agak ragu, karena takut adik mencelakai kakak dan papinya.”


“Nding, keluarga adalah keluarga, kasih sayang yang diikat darah, sulit untuk dimusnahkan, walau banyak kejadian, tapi penyesalan akan selalu ada. Aku percaya itu.” Alisha berkata dengan tulus, sebagai seorang kakak yang kehilangan adik angkat, Rania. Alisha tahu, sakitnya kehilangan saudara yang sangat kita sayang dan betapa menyesalnya karena tidak mampu menjaga.


Kakak sekarang pasti sangat menjaga dirinya dan juga papi, menjalani hari dengan tenanga dan bersemangat, hingga hari pertemuan itu terjadi lagi kelak.


Kawanan lagi-lagi berhasil menyelesaikan kasus dengan kepala dingin, kali ini memang berbeda, tidak ada pertarungan bahkan perdebatan, semua mengalir dengan baik, walau harus banyak trik yang digunakan, kesabaran adalah intinya.


Seperti kalian pembaca-pembaca hebatku, yang sabar menunggu, aku sangat berterima kasih.


Next masuk kisah baru ya.

__ADS_1


__ADS_2