Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 158 : Aditia 18


__ADS_3

“Pak, kenapa saya di sini?” Aditia bertanya pada Dirga yang sudah ada di rumah kosong itu lagi.


“Tidak ada apa-apa, hanya sekedar ritual buang sial Dit, ayah yang lakukan.”


“Apakah Adit melakukan kesalahan lagi Pak?”


“Tidak kok, Adit anak baik, jadi itu yang perlu Adit pertahankan saat ini hingga selamatnya. Mengerti Dit?”’


“Ayah mana Pak?”


“Sedang pemulihan, Adit ikut Bapak dulu ya, kita akan ke luar kota.”


Dirga tidak akan membawa Aditia pulang, karena dia tidak boleh tahu kalau ayahnya sakit karena menyelamatkan dia. Sementara Aditia akan dititipkan ke salah satu Kharisma Jagat yang Mulyana kenalkan. Dia akan di sana sementara waktu sampai Mulyana sembuh dan Aditia juga harus belajar banyak di tempat Kharisma Jagat yang dititipkan Aditia dikediamannya.


Kharisma Jagat ini bernama Aki Dadan. Orang-orang disekitarnya mengenal dia adalah ketua perkumpulan silat se-Jawa Barat. Tidak ada yang tahu, bahwa dia adalah Kharisma Jagat dengan ilmu yang cukup tinggi.


“Aki ini anak Mulyana, Mulyana sudha menghubungi Aki bukan?” Dirga sudah sampai dia mengantarkan Aditia kepada Aki Dadan.


“Ini anak Mulyana? Aditia menjadi Kharisma Jagat termuda, tepat setelah dilahirkan. Anak yang sangat berbakat, tapi mudah tertipu.”


Aki Dadan bukanlah orang yang ramah, dia selalu melatih orang dengan keras. Dia tidak percaya bahwa orang bisa menjadi hebat karena tempaan bukan kehangatan apalagi keramahan.


“Aki tolong jagain ya anak Mulyana, saya pamit karena ada beberapa urusan.”


“Kami disini tidak menerima penitipan bayi, kami di sini hanya menerima pemuda yang ingin meningkatkan ilmu, jadi jangan terlalu berharap kau akan nyaman di sini.”


“Iya saya mengerti Ki, terima kasih karena sudah menerima saya di sini.” Aditia tidak mengambil hati, karena dia tahu, selama ini mungkin hanya ayahnya saja yang mendidik dengan cara yang hangat.


Dirga pamit, Aditia diantar ke sebuah ruangan yang cukup besar, sulit kalau mengatakan ini aula karena dindingnya terbuat dari bilik, tapi cuku untuk menampung sekitar lima puluh orang.


“Semua orang yang berlatih, tidur di sini, baju dan keperluanmu, kau tarus di lemari kayu sana, semua menaruh campur bersama yang lain, jangan gunakan barang orang tanpa izin, kau juga boleh marah kalau barangmu digunakan orang lain. Selain itu, kalau kau ada masalah dengan sesama murid, kalian harus selesaikan sendiri. Mengerti?!”


“Mengerti Ki,” Aditia berkata.


“Kalau begitu kau taruh semua keperluanmu di lemari, setelah itu kau bergabung dengan kami, kalau sore begini kami akan mulai berlatih kuda-kuda.”


Aditia menuruti, dia menaruh barangnya di lemari kayu dengan rapih lalu pergi ke lapangan untuk ikut pelatihan dengan Aki Dadan.


Ada dua puluh orang, biasanya lebih banyak, tapi saat ini lagi musim pulang kampung, sisa yang tidak pulang kampung, karena keluarga mereka di luar pulau atau mereka tidak punya keluarga dan diangkat anak oleh Aki Dadan.


“Perkenalkan ini Aditia, dia bergabung berlatih dengan kita mulai hari ini, bergabung dengan barisan.”


Aki Dadan memulai latihan, untuk melatih kuda-kuda, bukan hanya otot kaki yang diperlukan, tapi juga keseimbangan, karena begitu kakimu yang diserang, maka keseimbangan adalah kunci dari pertahanan.


Aditia dan yang lainnya harus berlatih berdiri dengan satu kaki, dimulai dari kaki kiri sebagai tumpuan dan kaki kanan diangkat dengan cara di tekuk, sementara tangan dibentangkan kanan dan kiri.


Mereka melakukannya, lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, lima belas menit mulai ada yang goyang, Aditia kelihatan kesulitan, banyak keringat keluar dari dahinya, tapi dia terus bertahan dan mencoba tenang, ini kali pertama dan kemampuan keseimbangannya cukup baik.


Dua puluh menit beberapa murid jatuh, Aditia dan sepuluh orang lain masih bertahan.


Aki Dadan menatap mereka satu persatu, menyuruh orang yang telah tumbang mengganti kaki, dari kaki kiri sebagai tumpuan menjadi kaki kanan, kedua tangan masih dibentangkan ke kanan dan ke kiri.


Aditia akhirnya jatuh pada saat waktu menunjukan setengah jam, yang lain masih bertahan.


Aki Dadan mendekatinya dan menyabet kaki kiri yang telah kelelahan karena dijadikan tumpuan sebelah saja lalu berlanjut menyabet kaki kanannya.


Aditia jatuh dan menatap tajam ke arah Aki. Aki kembali menyabet tangan Aditia.


“Kau tidak diperkenankan menatap tajam diriku, kau ingin berkelahi denganku?”


“Maaf. Kalau boleh tahu, kenapa kakiku disabet, padahal yang lain jatuh lebih awal tapi Aki tidak menyabet mereka.” Aditia meminta maaf dan menundukan kepalanya tapi rasa penasaran karena ketidak adilan tetap membuat Aditia berani bertanya.


“Kau bertanya kenapa aku memukul kaki kirimu?”


Aditia mengangguk.


“Kau, turunkan kaki kirimu, lalu ganti kaki kananmu menjadi tumpuan.” Perintahnya pada seseorang yang sebenarnya masih kuat berdiri dengan kaki kiri sebagai tumpuan. Tapi terpaksa harus mengganti tumpuan karena perintah Aki.


Orang itu menurunkan kaki kiri lalu mencoba berdiri dengan kaki kanan saja dan membentangkan kedua tangannya kanan dan kiri.


Hanya butuh waktu lima menit menumbangkannya.


“Sekarang kau lakukan, berdiri dengan kaki kananmu.”


Aki memerintah Aditia sekarang menukar kaki sebagai tumpuan, kaki kirinya masih pedih karena disabet oleh rotan.


Aditia mulai melakukannya dengan kaki kanan, walau kaki kirinya pedih, tapi dia masih bisa melakukannya, lima menit berlalu, sepuluh menit hingga dua puluh menit akhirnya Aditia tumbang.


“Apa kau sekarang sudah mengerti alasanku menyabet kakimu tadi?”


“Maaf Ki, aku tidak mengerti.”


“Kau masih merasa aku kurang adil?”


“Ya, maafkan aku Ki.”


“Kau memang benar, aku hanya menyabetmu, seharusnya aku menyabet sepuluh orang terakhir agar bisa berdiri lebih lama.”


“Aku tidak mengerti Ki.”


Seseorang datang lalu menjawab, “Kaki kirimu yang digunakan sebagai tumpuan terlalu lama akan mengalami kelebihan beban hingga ia akan mengalami cedera otot, sedang kaki kananmu yang ditekuk terlalu lama, akan mengalami kram. Aki menyabet kaki kiri dan kaki kananmu untuk membuat ototmu normal kembali setelah mengalami trauma akibat berdiri satu kaki dan menekuk kaki satunya untuk belajar keseimbangan. Ini menjawab, kenapa Ari hanya mampu berdiri lima menit, sedang kau sampai dua puluh menit.


Ari setelah setengah jam lebih berdiri dengan kaki kirinya saja, begitu berganti kaki tanpa sabetan Aki, mengalami cedera otot yang tidak langsung terasa, begitu lima menit berlalu maka cedera itu mulai terasa dan membuat kedua kakinya lemah secara bersamaan.”


“Jadi maksudmu, sabetan itu sebenarnya seperti sebuah perawatan bagi cedera ototku?” Aditia bertanya.


“Ya, begitulah.”


“Ami tumben mampir.” Seorang lelaki menggoda gadis itu. Ternyata dia adalah cucu Aki Dadan, dia mengantar makanan untuk Aki, sebenarnya yang memasak di tempat Aki Dadan ini untuk para murid silatnya. Tapi terkadan g Ami mengirim makanan untuk kakeknya itu kiriman dari ibunya, menantu Aki Dadan.


“Ami, masuk ke rumah dan taruh rantangnya ke meja makan Aki, setelah itu pulang. Sudah mau gelap.”


“Mau diantar Mi?” Seorang lelaki menggoda lagi.


“Nanti kalau kau antar, kalau ada bahaya, paling kau hanya bisa mengajakku lari, itu kan kemampuan terhebatmu?” Ami seorang remaja yang terlihat sangat tegas, tapi juga cantik.


Diantara semua murid hanya Aditia yang tidak terpukau dengan kecantikan Ami, dia malah sibuk memikirkan tentang sabetan tadi, apakah benar efeknya seperti yang perempuan remaja itu katakan, Aditia berniat membuktikannya nanti.


Ami melihat Aditia tidak memperhatikannya jadi penasaran, bagaimana bisa seorang lelaki baru tidak terpukau dengan dirinya. Ami terbiasa dengan puja puji sejak dini, dia terkenal sangat cantik di desa kakeknya, mirip Aditia, terkenal sangat tampan dan tinggi budi pekerti.


Aditia memang paling bersinar diantara yang lain, dia sangat tampan, itu juga membuat Ami merasa kesal, seharusnya lelaki remaja seperti Aditia yang mengantar Ami pulang. Tapi kenapa pemuda itu malah sibuk memikirkan hal lain.


Latihan selesai, Ami masih di tempat pelatihan kakeknya, dia ikut makan malam bersama di ruangan besar yang dijadikan tempat tidur juga bagi semua murid tanpa tempat tidur dan tanpa kasur, Aki juga tidur di sana, beralaskan karpet cukup tebal tapi tidak setebal kasur.


“Ami tidak pulang?” Goda perempuan lain.


“Tidak, Ami capek, nanti saja.” Dia menjawab pria itu, tapi melirik Aditia, Aditia terlihat makan dengan lahap, dia memang kecapean, saat yang lain selesai langsung mandi dan bersiap makan malam, dia masih mencoba membuktikan perkataan Ami tentang sabetan dan efeknya pada kaki yang cedera otot.


Ami kesal, Aditia masih saja tidak menoleh, dia sibuk makan dengan lahap, sementara semua pria remaja dan dewasa sibuk makan dengan menatap Ami seperti sebuah hiburan yang sangat menyegarkan.


Karena tidak tahan ingin berbicara dengannya, Ami bertanya pada Aditia, “Kau murid baru?”


Aditia diam, dia sedang fokus makan.

__ADS_1


“Ami mendekatinya dan bertanya lagi di hadapannya.


“Kau murid baru?” tanyanya lagi.


“Oh, iya maaf, aku murid baru.”


“Dari mana?”


“Jakarta.”


“Ayahmu seperti kakek dan ayahku?” tanyanya lagi.


“Maksudnya?”


“Kau belum diberitahu siapa dirimu ya?”


Aditia hanya mengangguk tanda tak perduli.


“Kau pasti kesal tadi dengan kakekku?”


“Tidak, aku hanya terbiasa bertanya saja, kalau ada yang aku pikir salah, agar aku tidak membenci orang dan memendam. Makanya aku bertanya.”


“Kau tipe remaja yang berbeda ya ternyata.”


“Tidak juga, banyak yang sepertiku, kau hanya belum bertemu dengan banyak pria saja.”


“Beruntung aku bertemu dengan tipe sepertimu di sini.”


“Aku juga beruntung.”


“Beruntung bertemu denganku?”


“Beruntung dititipkan di sini, jadi aku tahu kalau kaki kram itu mesti disabet biar stabil lagi.”


Ami menatap Aditia dengan kesal, kenapa pria ini bodoh sekali, Ami tidak mungkin juga pacaran, dia dan keluarganya tidak suka hubungan semacam itu. Tapi dia juga tidak suka diabaikan oleh orang baru. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti itu selama ini.


“Kau mau nambah makannya?” Ami bertanya lagi.


“Tidak, kata ayahku, kalau bertamu, tidak boleh makan berlebihan, bicara berlebihan dan tidak boleh bicara sembarangan.”


“Kau anak yang sangat baik ternyata.”


Aditia bangun tiba-tiba.


“Ada apa?” Ami bertanya.


“Tidak apa-apa, aku mau taruh piring kotor, sudah selesai makan!”


Ami menatap Aditia dengan tatapan sangat kesal. Ada dirinya di sini, masih ingin mengobrol dengannya dan dia akan ditinggalkan karena piring kotor! Benar-benar lelaki yang menyebalkan, itu yang Ami pikirkan.


Aditia ke belakang, ada seorang wanita tua sedang mencuci piring.


“Bu mau Adit bantu?” tanyanya.


“Boleh kalau kamu mau mah,” jawabnya.


Aditia jongkok, karena tempat cucian piring ada di lantai, lantai yang hanya beralaskan semen di bagian belakang rumah, tapi terletak di luar rumah, sepertinya ini tempat wudhu dan juga cuci piring.


Beberapa murid berdatangan untuk menaruh piring kotor itu.


“Nih Dit, cuciin juga ya punya kita,” ucap salah seorang murid.


“Ya taruh aja di sana.”


“Emang begitu ya caranya bersikap, seharusnya dia mengatakan terima kasih kan ya, bu?”


“Anak muda itu berbeda-beda sikap dan sifat. Tidak semua orang sepertimu. Perduli dan mau melihat kesulitan orang lain. Makanya kamu berbeda.”


“Ah, enggak juga Bu, sebenarnya semua orang sama, tapi keluarga dan lingkungan yang membentuk seseorang.” Aditia menjawab dengan serius. Dia percaya karena ayahnya dan ibunya lah dia seperti sekarang ini.


“Dit sudah beres, sekarang kau kembali istirahat ya, kami semua senang kau di sini, aku setidaknya bisa ngobrol denganmu.”


Aditia berhenti sebentar, bukannya tadi piring-piring ini masih banyak, kenapa dalam sekejab selesai, tapi dia tidak mau pikir panjang, dia akhirnya bangkit dan kembali.


“Eh Dit, gue baru selesai makan, mau naro piring biar elu cuciin.” Ucap salah seorang murid saat Aditia sudah kembali di ruang besar itu.


“Masih ada ibu ... siapa ya namanya lupa tanya tadi. Masih ada ibu yang cuci piring kok di belakang,” aditia menjawab.


“Hah? siapa?” tanya murid yang lain, dia adalah yang tadi meledek Aditia di belakang saat mencuci piring.


“Itu loh, ibu yang tadi cuci piring gue bantuin.”


“Tadi elu sendirian lagi, makanya gue bilang jarang-jarang ada yang bantu cuci piring, karena kita di sini semua cuci piring sendiri, cuci baju sendiri dan yang bantu masak di sini juga laki-laki, tuh orangnya.” Murid itu menunjuk koki tempat latihan ini yang sedang ikut makan juga.


“Kau tidak lihat ibu tadi?” Aditia jadi khawatir.


“Nggak! sumpah deh!”


Beberapa orang mulai mendekati Aditia dan duduk mengelilingi Aditia.


“Emang pake baju apa?” tanya murid lain yang baru bergabung.


“Bajunya ya? tadi pakai baju warna kuning.”


“Daster?”


“Bukan.”


“Baju tidur?”


“Bukan, itu ... kebaya.”


“Hah, kebaya, kan cuci piring kok pakai kebaya?”


“Iya, kebaya, kain jarik, konde dengan tusuk bunga mawar merah dan ....”


“Dit, gue merinding! Jangan-jangan itu ... Mbok Asni!” Semua berteriak bersamaan.


“Mbok Asni?”


“Ya, dia itu seorang wanita paruh baya yang suka gentayangan di tempat ini, Dit.”


“Gentayangan, maksudnya bukan manusia?”


“Iya, hantu.”


“Bukan, setan tau!” sesama murid berdebat.


“Oh, gitu.”


“Kok elu biasa aja tanggapannya, elu nggak takut?”


“Nggak, emang kenapa?”

__ADS_1


“Dit, elu tuh bener-bener aneh, masa nggak takut?”


“Ya, soalnya ....”


“Dit! Kemari.” Aki Dadan memanggilnya dengan terburu-buru, semua orang kaget, Aditia mendekati Aki dan mengikutinya keluar, lalu mereka duduk di pinggir lapangan dengan minum kopi pahit.


“Adit tadi sudah ketemu Mbok Asni?”


“Aki tahu? Mbok Asni itu kata murid-murid setan atau hantu.”


“Dit, tidak semua orang di sini sama seperti kita, ada beberapa, tapi kebanyakan hanya pemuda biasa, kita biasa menyembunyikan jati diri kita. Jadi Adit harus pura-pura takut atau bahkan pura-pura tidak lihat ya.”


“Oh begitu, maaf Ki, Adit pikir di sini berbeda. Tidak seperti di rumah Adit harus menyembunyikan apa yang Adit lihat. Tapi ternyata sama saja, maaf Ki.”


“Ya, Adit harus banyak belajar, manfaatkan waktu di sini, kau hanya satu atau dua minggu di sini sampai ayahmu ....”


“Ayahku kenapa Ki?”


“Ayahmu menjemput.” Aki lupa kalau Aditia tidak boleh tahu keadaan Mulyana, makanya dia membelokkan perkataannya, untung tidak keceplosan.


“Itu Mbok Asni, dia pamit pulang.”


Aditia dan Ki Dadan mengangguk tanda tahu dia lewat dan hendak pulang.


“Mbok Asni sering ke sini Ki?”


“Ya, dia sering ke sini hanya sekedar mencari makan, ngobrol denganku atau terkadang kalau ada masalah dia akan bantu.”


“Oh begitu, lalu kenapa semua orang begitu takut dengannya, dia tidak menyeramkan, lebih menyeramkan yang aku lihat di sekitar rumahku.”


“Yang tidak seram, bukan berarti tidak bahaya. Ingat, kita itu beda alam, jangan biarkan dirimu terlena.”


“Maksudnya Ki?”


“Dunia kita dan dunia dia berbeda, mau sedekat apapun kau berteman, tapi mereka bukan dari kaum kita, khalifah di bumi ini. Mereka dari dzat yang berbeda, maka kita tidak tahu kapan mereka kan menguasai kita, maka tetapkanlah posisimu sebagai pemimpin, khalifah, bukan budak. Mengerti?”


“Tidak Ki, maaf.” Kelak kebodohan Adit seperti ini yang membuat Hartino dan Ganding kerap kesal. Aditia memang suka bertanya dan malas berpikir.


“Kalau mereka ingin berteman, terima. Tapi kalau mereka memerintah kau harus tegas menolak. Jangan menerima bantuan tanpa kau tahu bisa mengembalikannya. Misal kau minta informasi, maka tawarkan pertukarannya sesuatu yang sama, yaitu informasi. Jangan menawarkan mahar, karena itu artinya kau membuat perjanjian.”


“Mahar itu apa Ki?”


“Ya Allah Aditia! Kau ini sudah remaja, apa ayahmu tidak memberitahumu soal seperti ini?”


“Tidak, ayah hanya bilang aku tidak boleh kasih tahu yang aku lihat ke keluargaku, karena mereka akan takut.”


“Oh Mulyana masih sama, dia sepertinya berat menjadikanmu salah satu seperti kami. Baiklah, mahar itu adalah pertukaran yang membuatmu dan ‘mereka’ saling terkait. Misal kau minta bantuan melepas santet pada seseorang yang terjangkit santet melalui jin di bawah kemampuan jin yang berteman denganmu, kau harus menawarkannya sesuatu yang tidak hidup, tidak menjadikan penghidupan dan benar-benar putus atau mati.”


“Contohnya?”


“Jangan tawarkan dia tumbal karena ini jelas sesuatu yang hidup, bisa manusia, janin atau bahkan binatang, itu akan membuat ‘mereka’ menjadi semakin serakah dan meminta lebih. Makanan, kopi, kotoran atau sejenisnya, karena itu merupakan penghidupan, sekali kau berikan, dia akan menjadi kelaparan dan menempel padamu. Terakhir, sesuatu yang benar-benar putus, kau boleh memberinya keris, pakaian, kain kafan, benda pusaka, vas bunga. Karena benda mati membuat orang bahagia sesaat dan tidak akan terlalu suka padamu lagi.”


“Oh itu semua namanya mahar ya Ki?”


“Ya, semua yang aku sebutkan barusan itu mahar dan akibatnya.”


“Jadi, jangan beri sesuatu yang hidup, memberi penghidupan dan berikanlah benda mati. Aku akan ingat itu. Oh ya, satu lagi Ki, kalau tumbuhan gimana?”


“Tumbuhan itu benda mati atau hidup?”


“Hidup Ki.”


“Trus kau masih bertanya!” Aki kesal.


“Ya berarti nggak boleh, tapi kenapa kalau orang lain dari daerah lain itu berbeda ya Ki, mereka suka berikan makanan atau bahkan yang lebih jahat tumbal.”


“Beda adat dan keyakinan beda penanganan. Tapi bagi kita keturunan Pasundan, tidak ada kompromi untuk jin, ketika kita bilang pergi dari tubuh seseorang, kita tidak akan memberikan mahar, kita akan mengusirnya atau ‘mereka’ akan kita hajar habis-habisan. Keturuan Pasundan paling benci melakukan perjanjian dengan jin jahat, karena itu tandanya kita lemah. Sampai sini mengerti?”


“Ya, mengerti, tapi Adit tidak yakin akan sekuat Aki.”


“Dulu Aki seumurmu juga tidak yakin, maka kau harus belajar dan menempa diri, mengerti?”Aki menepuk dengan keras pundak Aditia hingga Aditia kesakitan.


“Sakit Ki, apa itu agar aku lebih sehat lagi?”


“Pukulan pundak tadi?”


“Iya, seperti sabetan tadi siang.”


“Nggak, itu aku hanya ingin menepuk pundakmu saja, kau itu terlal polos, tapi aku suka.”


“Aki! Aku pikir kau ingin memberi pelajaran lagi.” Aditia kecewa, dia kita pukulan pundak dengan keras itu adalah salah satu pelajaran.


Aki masuk ke dalam Aditia masih duduk di luar.


Walau dia sangat rindu ayahnya, ibunya dan adik kecil Dita. Tapi di sini terasa sangat nyaman, Aditia bisa latihan dan banyak mendapat ilmu. Dia sebenarnya suka saat ikut ayahnya ‘menjemput dan mengantar’, Tapi ayahnya cenderung sibuk dan jarang sekali memberi penjelasan, Aditia hanya melihat dan menangkap sendiri apa yang dilakukan ayahnya. Dia juga akhir-akhir ini sibuk jadi jarang ikut ayahnya lagi naik angkot jemputan itu.


Tapi Aki Dadan walau galak, tapi dia sarat ilmu dan itu membuat Aditia nyaman.


Aditia masuk ke dalam dan melihat semua orang setelah solat isya langsung bergegas tidur, bukankah ini terlalu dini untuk tidur, masih jam delapan.


“Kok udah siap-siap tidur?” Aditia bertanya pada salah satu kawan barunya.


“Ya tidurlah, besok mesti bangun jam 2 buat salat tahajud, lalu lanjut latihan tenaga dalam dini hari, setelahnya kita solat subuh dilanjut dzikir hingga masuk waktu dhuha.”


“Oh begitu, pantas kita harus tidur sedini ini.” Aditia akhirnya memaksa dirinya untuk ikut tidur.


“Ami udah pulang?” Tanya seseorang yang tidur di samping Aditia pada sisi sampingnya lagi.


“Udah, lagi dianter Aki. Kalau dianter Aki, siapa yang berani ganggu, jangankan begal, demit aja takut. Elu udah pada pernah liat dia ngobrol sama pohon di belakang sendirian nggak?”


Ternyata Aki Dadan tidak ada di tempat. Pantas semua orang mengobrol, padahal besok jadwal padat katanya, Aditia malas dengar, dia mau memaksa tidur saja.


“Eh katanya Ami juga sebenarnya aslinya nggak secantik itu lagi, katanya dia itu pakai susuk jadi kita semua terpesona sama dia,” ucap salah satu murid seenaknya.


“Iya ya, soalnya cantiknya di luar nalar sih.”


“Iya, gue yakin begitu.”


“Nggak! Ami nggak pakai susuk kok.” Aditia kesal jadinya bangun dan menjawab.


“Dih yakin banget lu, orang baru juga, mentang-mentang tadi disamperin Ami.”


“Nggak, aku bukan sok tahu, tapi aku tidak melihat ....”


Seorang murid yang tidurnya jauh menatap tajam Aditia dan menggunakan matanya untuk meminta Aditia diam. Dia adalah salah satu Kharisma Jagat juga. Dia meminta Aditia diam dan tidak menjelaskan.


“Tidak melihat apa?” Murid lain yang orang biasa mendesak Aditia meneruskan perkataannnya.


“Tidak melihat hal yang aneh, sama saja seperti perempuan lain, tidak terlalu mencolok.”


“Ah itu mah karena kamu merasa ganteng aja, jadi biasa dideketin cewek cantik.”


“Udah kita tidur aja, besok katanya kita harus kerja keras untuk latihan.” Aditia lalu tiduran lagi.

__ADS_1


“Huhhh! Kau mah sukanya bubarin penonton!”


__ADS_2