Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 450 : Kamboja 12


__ADS_3

"Masuk akal Nding, jadi ... apakah pria itu bukan suaminya?" Alka membela adik jeniusnya.


"Kita tidak bisa memastikan sebelum menemuinya langsung, kenapa sih kita nggak bisa masuk ke sana, jadi ingat kasus anak ambar, kita kan tidak bisa masuk ke kamarnya, tidak aku ralat, kita bahkan tidak bisa masuk ke rumahnya karena lagsung mental." Aditia jadi ingat kejadian itu.


"Bedanya kita lemas di terowongan ini, sedang di rumah anak ambar, kita mental."


"Kalau di rumah anak ambar kita mental karena ada gesekan energi yang saling bertolak belakang hingga menjadi medan yang saling bebenturan, tapi di terowongan itu kita lemas, apakah karena ...."


...


Zubaedah terdiam sesaat, hal ini terjadi lagi, dia baru saja kembali dari kamar mandi, dia masih saja mengurus anaknya sendiri, suaminya yang masih koma, di rumah sakit, sesekali mertuanya menunggui, Zubaedah biasanya ke sana pagi hingga sore hari, sedang anaknya dijaga oleh orang tuanya. Sekarang sudah malam, bayinya dia taruh di ruang tengah, dia menidurkan bayinya di lantai beralaskan tikar dan kasur bayi yang cuku tebal.


Dia menaruh kasur itu di tengah-tengah, ada televisi menyala di ruang tengah itu.


Tapi saat dia kembali, anaknya sudah berpindah ke arah pinggir dari ruang tamu dan televisinya telah mati, tidak menyala.


Ini terjadi lagi, berkali-kali! Zubaedah berusaha mengabaikannya, tapi ini benar-benar membuatnya takut!


Zubaedah mengambil anaknya, menggendong dan mendekapnya, dia menangis dengan posisi duduk, lalu berkata, “Mas, kalau emang Mas yang jaga anak kita, aku senang, tapi kalau bukan, tolong jangan ganggu saya dan anak saya. Mas, kalau ini memang Mas, bangun Mas ... anak kita butuh kamu!” Zubaedah menangis tersedu, dalam tangisnya dia menunduk menaruh wajahnya di tubuh anaknya, sakit hatinya melihat bayi yang mungkin tidak lama lagi akan menjadi anak yatim.


Di dalam tangisnya, dia merasa kepalanya diusap oleh seseorang, reflek Zuabaedah menoleh dengan terkejut dan hendak menampik tangan itu, tapi ... dia menampik angin.


Zubaedah terdiam, tubuhnya kaku tidak bisa bergerak, bayinya tetap dia pegang erat, karena di hadapannya ada suami yang sangat dia rindukan.


Zubaedah menangis dengan tubuh masih membeku.


“Aku akan kembali.” Suaminya berkata lagi dengan wajah pucat, pakaian serba putih dan bibir yang kebiruan, khas seperti jenazah yang selalu dia lihat jika melayat ke tetangga yang keluarganya meninggal dunia.


Setelah mengatakan itu, suaminya menghilang, persis seperti butiran debu yang tertiup angin, lalu Zubaedah bisa menggerakan tubuhnya kembali, dia terjatuh dengan masih memegang erah bayinya, karena saat tadi dia merasa kepalanya diusap, dia reflek berdiri.


Zubaedah melihat sekeliling, tapi tak ada suaminya sama sekali, Zubaedah menangis lagi, kemana suaminya tadi, tapi kalau itu memang suaminya, kenapa tadi Zubaedah tidak bisa bergerak, sebenanrya dia ingin sekali memeluk suaminya dan berkeluh kesah. Tapi tidak mampu.


Lalu jika ini memang mimpi, kenapa sekarang Zubaedah tidak tidur, dia juga tidak dalam keadaan terbangun, bahkan jatuh setelah membeku tadi.


Saat masih begitu bingung dengan keadaan di rumahnya, tiba-tiba telepon genggamnya berdering, telepon itu ada di meja televisi, dia buru-buru mengangkatnya setelah tahu telepon dari mertuanya, saat ini mertuanya memang sedang mengunjungi anaknya.


“Edah, cucuku titip dulu di orang tuamu, kau segera ke sini ya Nak.” Terdengar suara mertuanya.

__ADS_1


“Ada apa Bu?” Detak jantung Zubaedah berdetak begitu kencang, firasat buruk mulai memenuhi kepalanya.


“Kamu ke sini aja dulu ya, nanti dikabari di sini.” Ibu mertuanya berkata seperti orang menahan tangis.


“Mas Dino nggak apa-apa kan, Bu?”


“Kamu ke sini yang tenang ya, cucuku titip dulu ke ibumu, kamu naik ojek aja ya, cepat, jangan lama-lama, aku takut kau terlambat.” Mertuanya berkata dengan tegas agar mantunya tidak banyak bertanya.


Pecah tangis Zubaedah, dia menutup teleponnya, bergegas mengambil tas yang biasa dia bawa jika akan menitipkan anaknya, menaruh beberapa potong pakaian, popok bayi dan juga kaleng susu beserta botol dot, perlengkapan itu akan dia bawa untuk menitipkan anaknya.


Setelah merasa cukup, walau dia tidak yakin, karena melakukannya sembari menangis, Zubaedah keluar dari rumahnya, menutup pintu dan menguncinya, saat dia hendak jalan ke luar pagar rumah, tiba-tiba ada dua pemuda dan pemudi menghadangnya.


“Mbak, maaf masih ingat kami?” Dua orang itu menyapa.


“Ya, kalian petugas asuransi itu kan? maaf saya tidak bisa ngobrol sekarang ya, saya harus ke rumah sakit, saya harus ke sana, mertua saya bilang saya harus segera ke sana.”


“Oh, kalau begitu, ayo saya antar.” Aditia menawarkan diri. Pemuda dan pemudi itu adalah Alka dan Aditia yang memutuskan untuk datang ke rumah tukan ojek online itu, sedang Jarni dan Ganding akan berjaga malam ini di dekat terowongan dengan pagar ghaib yang jauh lebih baik dibanding Aditia, mereka berharap kali ini agent itu dapat tertangkap hingga mereka bisa tahu apa yang terjadi sebenarnya.


“Tidak usah, saya harus ke rumah orang tua saya dahulu, untuk menitip anak, jadi mesti muter-muter, terima kasih ya.” Zubaedah menolak.


“Tidak apa-apa, Bu. Kami juga perlu melihat keadaan Pak Dino untuk kelengkapan dokumen Bu, karena kami kan belum melihatnya kemarin itu.” Alka membuat alasan agar Zubaedah mau diantar.


“Baiklah, maaf kalau saya merepotkan.” Zubaedah menitikkan air mata, karena pertolongan Tuhan sangat tepat waktu, karena sebelum ini, Zubaedah bingung ingin naik apa supaya cepat ke rumah sakit, karena ojek pangkalan jauh, sedang telepon genggamnya bukan telepon pintar yang ada aplikasi ojek online, telepon pintar suaminya rusak karena kecelakaan itu, hancur bersama motornya.


Zubaedah naik ke angkot Aditia, dia bingung kenapa mereka memakai angkot, bukan mobil pribadi, tapi tidak Zubaedah tanyakan, dia tidak terlalu peduli.


Begitu sampai rumah orang tuanya, Zubaedah masuk sendiri ke rumah orang tuanya dan tidak menawarkan mampir karena mereka tidak sedang bertamu, tapi sedang buru-buru.


Setelah menitipkan anaknya, memberikan semua keperluan anaknya pada ibunya atau nenek dari anaknya itu, dia lalu pamitan dan hanya bilang bahwa kondisi suaminya mungkin gawat, karena mertuanya minta dia datang buru-buru.


Ibunya tidak banyak tanya, mengambil cucu dan perlengkapannya, lalu meminta ayahnya Zubaedah mengantar anaknya.


“Tidak usah Yah, ini ada yang antar, petugas asuransi yang mau kasih santunan, kebetulan datang tadi untuk bertanya soal kecelakaan, ini sekarang mau sekalian liat keadaan Mas Dino, aku pamit ya, doain supaya Mas Dino bisa cepat sembuh Yah, Bu.” Zubaedah segera berlari kembali ke angkot jemputan itu.


Lalu Aditia segera mengemudi ke rumah sakit, pantas saja Zubaedah sendirian di kontrakannya, ternyata rumah orang tuanya tidak terlalu dekat, perlu waktu berkendara selama setengah jam untuk sampai ke rumah orang tuanya.


“Kita pakai angkot karena tadi mobil perusahaan lagi dipakai, ini angkot sewaan, biasanya kami pakai dalam keadaan darurat.” Alka menjelaskan, hanya agar Zubaedah tidak curiga.

__ADS_1


“Iya, angkot tapi ACnya dingin ya, pantas, ternyata angkot sewaan ya, ini narik di mana angkotnya?” Zubaedah hanya bersikap ramah saja, walau hatinya masih berkecamuk tentang suaminya.


“Nggak narik, ini angkot hias, biasanya disewain sama ikut pawai aja.” Alka menjawab, Aditia meliriknya, Alka mengucapkan maaf hanya dengan gerakan bibir agar tak didengar oleh Zubaedah yang duduk di belakang.


Aditia kesal angkot kesayangannya yang sudah berubah banyak, mulai dari mesin yang sudah diganti keseluruhannya, AC yang dingin, cat yang sudah baru, bahkan lantainya sudah dikarpeti dengan karpet mobil pribadi, bangku penumpangnya sangat rapi berwarna coklat dan pintu bagian penumpang juga selalu ditutup.


Angkot hanya tampilan luar, sedang tampilan dalam begitu mewah untuk ukuran angkot.


Mereka sampai rumah sakit, Aditia memarkir mobil tapi sebelumnya dia menurunkan Alka dan Zubaedah di lobby rumah sakit.


Alka berlari mengejar Zubaedah yang terburu-buru ke ruang ICU, begitu sampai, dia melihat mertuanya menangis di luar ruangan.


“Bu, Mas Dino kenapa!” Zubaedah histeris melihat mertuanya sedang menangis tersedu di luar ruang ICU.


“Kondisi suamimu kritis, sekarang sedang ditangani Dokter.” Ibu mertuanya berteriak histeris juga, sedang ayah mertuanya hanya duduk termenung di di bangku tunggu di luar ruangan ICU.


Alka melihat keadaan sekitar, dia merasakan energi jiwa tersesat di sana, tapi entah di mana.


Alka berusaha merasakan energi itu lagi, mendekati ruang ICU lalu melihat ke dalam, Dino! Alka melihat Dino di sana, bukan ... bukan tubuhnya yang sedang diusahakan untuk stabil lagi oleh Dokter dan perawat, tapi jiwanya yang melihat dari dekat tubuhnya itu.


Aneh! Tanpa membuang waktu, Alka lalu merubah wujudnya menjadi wujud jin, tentu tanpa disadari oleh semua orang, dia harus menangkap jiwa itu. Ada yang aneh dalam raut wajahnya, kenapa dia terlihat ... tersenyum! Padahal dia diambang kematian!


Setelah sudah menjadi jin, Alka menerobos masuk ke dalam kamar itu dan menepuk bahu Dino, dia hendak menariknya, tapi belum juga menarik tubuh itu, Alka jatuh, dia tak mampu melayang lagi.


Dia lemas!


“Bu, bagaimana keadaan Pak Dino?” Aditia yang baru saja masuk dan sempat bingung harus kemana, karena pesan singkatnya tidak dibalas Alka, jadi agak lama untuk bisa menemukan ruang ICU.


“Sedang distabilkan, keadaannya kritis Pak,” Zubaedah menjawab, “ini petugas asuransi yang bantu kita untuk mencairkan dana santunan kecelakaan Bu, sama ama mbak yang ... Loh, mbaknya mana ya?” Zubaedah baru sadar kalau Alka tidak ada.


“Kemana Alka?” Aditia bingung, yang lain masih fokus dengan keadaan Dino dan tidak terlalu peduli dengan hilangnya Alka.


Aditia mencoba untuk mendeteksi energi Alka, dia merasakan energi itu ada di dekatnya, dia lalu mengintip ke dalam ruang ICU, Aditia melihat sekitar ruang itu dan ... Alka sedang terduduk dalam balutan wujud jin, sedang di dekatnya ada Dino, jiwa Dino tepatnya, karena tubuhnya masih berusaha diselamatkan oleh Dokternya.


Aditia emosi, dia merasa Dino menyerang Alka, karena Dino menyeringai ke Alka, sedang Alka terlihat tak berdaya, Aditia tidak bisa menerobos masuk, karena ruangan itu terkunci, dia bingung harus apa, lalu dia ingat sesuatu.


Dia mengeluarkan Abah dari dalam tubuhnya, Abah Wangsa tahu apa yang Aditia inginkan, dia buru-buru masuk ruangan ICU, tapi begitu Abah mendekati Alka, jiwa Dino menghilang seketika, seperti debu yang tertiup angin, sedang Abah berusaha membangunkan Alka yang hampir pingsan karena lemas, seperti manusia yang kurang gizi, tak mampu berdiri sama sekali.

__ADS_1


Abah memapah Alka dan mengeluarkannya dari ruangan itu, Aditia melihat Abah keluar dari ruangan ICU, dia pamit ke Zubaedah, Aditia bilang akan mencari Alka, padahal dia sudah melihat Alka yang sedang dipapah menjauh dari ruangan ICU oleh Abah, Aditia mengejar mereka dan memilih tempat lebih sepi untuk menanyakan pada Alka apa yang terjadi di dalam tadi.


__ADS_2