
Pak Efendi membuka pintu gedung begitu jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, setelah dibuka, biasanya Office Boy akan datang mulai mengerjakan pekerjaannya.
Saat Pak Efendi masuk ke dalam dan menyalakan lampu, dia langsung terkejut, ada seseorang yang bersandar pada meja resepsionis, bersandar dan terduduk di lantai.
“Pak Abdul! Pak, kok di sini?” Pak Efendi membantu Pak Abdul berdiri. Sementara Pak Abdul hanya terdiam menatap dengan kosong ke arah depan.
Pegawai lain sudah mulai ada yang datang, begitu melihat Pak Efendi sedang mencoba menenangkan Pak Abdul, mereka jadi penasaran.
“Pak Fendi, itu Pak Abdul kenapa?”
“Nggak tau Mas, ini saya temuin duduk di lantai nyender di meja resepsionis.”
“Wah, nggak pulang Pak Abdul? itu bajunya masih sama ama yang kemarin?”
“Oh iya ya, masa nggak pulang, orang kemarin udah kosong kok gedung. Tapi ….”
“Pak, Pak, sadar Pak.” Pak Efendi berusaha untuk menyadarkan Pak Abdul yang terlihat seperti orang linglung.
Seseorang yang merupakan pegawai salah satu tenant di gedung ini menghampiri Pak Abdul, pegawai ini terkenal dengan sebutan Ustad.
“Pak, ada air putih?” Lelaki yang terkenal Ustad itu bertanya.
“Ada, sebentar saya ambilkan.” Pak Efendi berlati mengambil air mineral dalam kemasan botol.
Lalu air itu diberikan kepada lelaki itu, air dalam botol itu dibuka, lalu dibacakan lantunan ayat suci Al Quran, setelah itu, airnya diminumkan paksa ke Pak Abdul, setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Pak Abdul pingsan.
“Bawa ke klinik kantor Pak.” Lelaki itu meminta beberapa orang mambantunya untuk membawa ke klinik kantor. Hal ini juga dilakukan untuk mencegah Pak Abdul menjadi tontonan para pegawai tenant.
Begitu sudah sampai di Klinik, Pak Abdul mulai sadar, dia terlihat ketakutan. Pak Efendi masih menemani Pak Abdul, sementara jadwal piketnya sudah selesai, jadi ada yang menggantikannya menjaga pos.
“Mas Umar, ini Bapak kenapa ya?” Rupanya nama lelaki itu adalah Umar, dia adalah seorang pegawai bagian IT pada salah satu tenant, memiliki kemampuan yang baik dalam soal agama dan mungkin juga ilmu ghaib, sepertinya Pak Efendi tahu itu, makanya dia bertanya.
Klinik hanya tinggal tiga orang, tidak ada siapapun lagi. Dokter jaga hanya ada di hari senin dan jumat.
__ADS_1
“Pak Abdul, Bapak semalam tidak pulang?” Mas Umar bertanya.
“I-iya.”
“Bapak kenapa? bisa ceritain ke saya?” Mas Umar duduk di sampingnya, sementara Pak Efendi duduk di ranjang samping lainnya.
“Hmmm.” Ada keraguan di hati Pak Abdul untuk menceritakan ini semua, dia takut kalau sampai pihak tenant tahu apa yang ada di gedung ini, mereka pasti akan enggan berkantor di gedung ini.
Melihat keraguan pada Pak Abdul, akhirnya Mas Umar membuka suara terlebih dahulu.
“Pada saat kami pindah untuk pertama kalinya ke sini, saya sudah merasa ada yang salah dengan gedung ini.”
“Oh ya Mas? emang ngerasa apa, Mas?” Pak Efendi terlihat penasaran.
“Saya ngerasa kalau gedung ini terasa panas, saat memasuki lift saya merasa sesak dan sedikit bau. Walau saya tahu, ini gedung baru, semua peralatannya pasti baru, ditambah, ada pengharum ruangan di lift tersebut. Jadi seharusnya bau anyir tidak akan terasa.” Mas Umar berbicara kepada kedua lelaki itu.
“Bau anyir?” Pak Efendi seperti teringat sesuatu.
“Saya bertemu dengan setan itu, setan merah. Sebenarnya gedung ini tidak boleh dibangun oleh pemilik tanah, tapi setelah dia meninggal, gedung ini akhirnya diperbolehkan dibangun oleh ahli warisnya.
Banyak gangguan yang kami alami saat pembangunan, akhirnya saya melakukan ritual, ritual itu membuat tanah ini sedikit tenang.”
“Tidak ada kemusrikan yang membuat tenang, Pak.” Mas Umar membantah.
“Iya, saya fikir ini ketenangan, tapi sepertinya, itu hanya penyangkalan dari saya, banyak pekerja kami yang menjadi korban. Tapi masalahnya, pembangunan gedung ini terlau banyak memakan biaya, jadi kami memutuskan untuk tetap menjalankan pembangunan itu. Setelah bangunan jadi, kami akhirnya bisa menyewakan ruangan untuk dijadikan kantor oleh para tenant. Tapi sepertinya gangguan ini tidak akan berakhir.”
“Bapak sudah tahu, tanah apa ini?” Mas Umar bertanya.
“Belum, karena dukun yang saya mintakan tolong melakukan ritual, akhirnya meninggal dunia dengan cara yang aneh.”
“Meninggal kenapa, Pak?” Pak Efendi bertanya.
“Dia tidak sakit, karena ketika dibawa ke rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan tubuh Dukun itu baik-baik saja, tapi seluruh tubuhnya menghitam, sampai kuku-kuku tangan dan kaki ikut menghitam, akhirnya Dokter sepakat memberinya diagnose alergi, walau obat yang diberikan tidak banyak membantu, akhirnya Dukun itu meninggal karena tidak mampu makan dan minum lagi.”
__ADS_1
“Berarti itu gangguan jin, kemungkinan dia telah melakukan hal yang salah dan cukup fatal. Atau dia telah salah, memilih korban.”
“Maksudnya Mas?” Pak Abdul bingung.
“Setiap tanah yang tidak boleh dibangun, biasanya adalah tanah perjanjian, tanah tersebut diberikan kepada jin yang telah membantu seseorang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tanah ini saksi atas kesyirikan yang telah dilakukan oleh sang empunya. Wajar jika tanah ini terasa panas.” Mas Umar mengemukakan pendapatnya.
“Tanah perjanjian?”
“Ya Pak Abdul, tanah ini dijadikan tumbal oleh si pemilik agar Jin memiliki tempat untuk tinggal. Seperti manusia, jin juga butuh tempat tinggal. Ketika tempat ini akhirnya dijadikan tumbal atas perjanjian pemilik tanah, maka tanah ini haknya si Jin tersebut, walau cara yang mereka lakukan dalam bertransaksi itu salah dan bisa dilaknat Allah. Makanya seharusnya dari awal, Pak Abdul tidak usah ikut membantu pembangunan ini. Tapi sudah lewat, sudah terjadi, gedung sudah jadi. Saya tidak yakin juga, apakah kita semua akan mampu lama ngantor di gedung ini, semoga tidak akan ada kejadian lagi ….”
Brak!!!
Pintu klinik ditutup dengan kasar, Mas Umar melihat ke arah pintu, tidak ada orang. Dia akhirnya memutuskan mendekati pintu dan mencoba membukanya.
“Tidak bisa dibuka.” Mas Umar berusaha membuka pintu itu.
Saat berusaha membuka pintu, Pak Efendi berteriak, dia melihat Pak Abdul mencekik dirinya sendiri, Pak Efendi berusaha untuk melepaskan tangan dari lehernya Pak Abdul, sementara wajah Pak Abdul sudah mulai memerah.
Ruangan terasa sangat panas, hanya dalam beberapa detik, keringat sudah mengucur dari pelipis tiga orang tersebut, padahal mesin pendingin nyala maksima.
Mas Umar langsung berlari ke arah Pak Abdul dan menarik tangan itu, tapi tidak berhasil, tangannya sangat kencang.
Sudah tahu ini tidak akan mampu membantunya, akhirnya Mas Umar kembali membacakan ayat-ayat Ruqyah. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka sama kasarnya dengan saat menutup tadi, lalu Pak Abdul sudah tidak mencekik dirinya sendiri.
“Mas Umar, tolong saya, Mas.” Pak Abdul akhirnya menangis seperti anak kecil, dia bilang bahwa tadi perempuan bergaun merah darah mencekiknya, sementara yang terlihat adalah dia mencekik dirinya sendiri.
“Pak Abdul, bukan saya yang bisa menolong Bapak, tapi Allah, Pak Abdul jangan mencampuri urusan orang yang telah syirik. Jelas bahwa ahli waris tidak mengetahui apa yang telah orang tua mereka lakukan, makanya mereka gampang saja jual tanah ini. Ini sama saja, kalau Pak Abdul masuk rumah orang sembarangan, merubuhkan rumah mereka dan akhirnya menjadikan rumah mereka sebagai rumah Pak Abdul, jelas mereka marah, karena tanah ini adalah tanah pertukaran untuk kesyirikan mereka, wujud dari keberhasilan mereka menyeret sang pemilik ke neraka. Pak Abdul mau ikut ke sana juga?” Mas Umar terdengar kesal mendengarnya, karena dia harus ikut terseret ke dalam kejadian menakutkan barusan.
“Saya harus apa Mas Umar?”
“Bertobat, sisanya biar Allah yang tunjukan jalan. Yang pasti saya akan menyarankan kantor untuk segera pindah, karena saya sudah sering sekali mengalami kejadian yang menakutkan.”
Lalu Mas Umar pergi meninggalkan Pak Abdul dan Pak Efendi.
__ADS_1