Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 488 : Nyebrang 20


__ADS_3

“Mungkin dia memang orang jahat? Selama ini dia hanya menyamar dan sekarang di sini, di tempat ini, dia menunjukkan sifat aslinya.” Hartino ikut asal nebak.


“Dia orang jahat? Apakah mungkin? Aku sangat percaya padanya.” Aditia tidak suka kalau itu terjadi.


“Kau memang selalu cepat percaya orang Dit, lupa kejadian Alya? Kau bahkan sangat percaya padanya, padahal dia hanya memanfaatkanmu untuk bisa menaklukan khodam ayahnya.” Hartino mengingatkan itu, Alka terdiam sesaat, bukan cemburu, hanya saja, dia tak suka tentang cerita itu, saat dia dan kawanan belum bisa menunjukkan diri dan membantu Aditia, mereka melihat dari jauh, bagaimana Aditia ditipu dan masih tergila-gila pada perempuan itu.


“Sudah, jangan bicarakan hal yang sudah lewat, terlebih orangnya sudah almarhumah, sekarang fokus pada kasus ini, aku juga butuh penjelasan kenapa Ganding terusa saja berjalan bolak-balik di jalan persawahan ini dan menemukan Alka akhirnya, kenapa kau bisa menemukan jalan ini?”


“Itu semua karena perhitungan dan ingatan yang matang, Dit. Jadi, begini ceritanya, aku mengerti tentang kata, perhatikan sawahnya, bukan jalannya.


Sadarkah kalian, ketika kita berjalan tadi, aku terus saja bolak-balik, sadar kan?” Ganding bertanya, ini hanya untuk memastikan saja.


“Ya, tentu saja, jalanmu itu seperti bimbang, hal yang jarang sekali kau lakukan, bimbang dan ragu, kau selalu yakin dengan langkahmu.”


“Siapa bilang aku bimbang, aku bolak-balik itu bukan karena bimbang, justru karena aku yakin, makanya aku jalan seperti itu.”


“Maksudmu, Nding? Yakin bagaimana? kau itu seperti kehilangan arah, tau!” Hartino protes.


“Kalau begitu, ayo kita jalan bersama, tapi aku minta, kalian semua tetap jalan di aspalnya, tapi mata kalian jangan pernah sama sekali lepas dari sawah itu.”


“Hah? maksudnya?” Hartino bingung, Aditia diam saja, karena dia juga sama, sebingung itu seperti Hartino.


“Ah! Menyebalkan kamu, Har! Yaudah jalan semua, tapi lihat arah pandangan aku ya, aku melihat ke arah sawah itu, sekarang ayo jalan, jangan lihat aku, jangan lihat jalan dan jangan lihat ke depan, pokoknya lihat sawahnya.”


Yang lain mengangguk dan bersiap jalan, termasuk Alka, mereka semua sudah lengkap.


“Perhatikan sawahnya, jangan cuma dilihat ya!” Ganding mengingatkan.


Saat mereka berjalan, pada satu titik tertentu, mereka tumbang satu persatu, pusing.


“Sawahnya! Sawahnya! Berputar!” Hartino berteriak.


“Kau melihatnya kan? Sawah itu berputar, sawah itu mengelilingi jalan yang kita tempuh ini, tidak ada ujung, karena ini zona ghaib, saat kita jalan, banyak orang akan memperhatikan jalanannya atau memperhatikan jalan ke depan, tapi aku teringat kata-kata bapak, perhatikan sawahnya, jangan jalannya.


Maka saat kita jalan, jangan lihat jalan atau lihat ke depan, tapi lihat sawahnya, lalu perhatikan.


Sawah itu berputar pada titik tertentu, ketika dia berputar, artinya, posisi jalan yang tadinya ada di belakang kita, menjadi dihadapan kita, maka dari itu ... kita terus berputar di jalan persawahan ini, karena ketika kita akan melangkah lebih jauh atau akan keluar dari jalan persawahan ini, entah apa atau siapa, membawa kembali kita masuk dengan memutar jalannya.

__ADS_1


Dan sekarang kalian perhatikan, angkanya begini, 1 5 3, satu kali putar, kita harus berjalan lima langkah sebelum putar badan, lalu setelah itu, tiga langkah kemudian pasti sawah itu berputar lagi, jangan putar balik, karena dia hanya menipu, sawah itu melakukan putaran 2 kali setelah kita melakukan tiga langkah, artinya posisi kita sudah benar, jadi perhatikan sawahnya.


Manusia awam yang terjebak, tidak sadar, karena patokan jalan orang adalah, berjalan ke depan, maka kau akan menemukan jalan keluar, padahal, kau malah diputar dan tidak sadar sawahnya berputar, sawah yang tadinya di kiri, menjadi di kanan, karena putaran itu.


Kita takkan sadar, karena jalan ini terasa diam saat sawahnya berputar, padahal, ketika sawahnya berputar, kaki kita terus diarahkan untuk kembali mundur dan akhirnay tersesat.


Makanya, ketika berjalan tadi, aku akan putar balik, karena arah kita sudah diputar oleh persawahan itu, agar segera menginjak jalan yang sama berulang kali. Tapi mereka tak berhasil, aku menemukan lubangnya, sawah itu terlihat jelas berputar kan, Har? Kau bahkan pusing saat melihat sawah itu berputar.”


“Apa korban yang lain tak sadar kalau sawahnya berputar? Lalu 1 5 3 itu kau dapat hitungan dari mana?” Hartino masih bingung.


“Tidak akan sadar, karena saat berjalan, mana ada orang memperhatikan kanan dan kiri, pasti semua orang akan memperhatikan arah depan, sedang sawah itu ada di kanan dan kiri jalan. Soal hitungan, aku menghitung variable dari putaran itu, putaran pertama dan kedua, aku mengikuti tren putaran sawah itu, hingga setelah aku hitung dengan cermat, muncullah angka 1 5 3.”


“Untung kau menemukan lubangnya, Nding, jadi kita bisa ketemu Alka.” Aditia bersyukur.


“Sekarang kita harus apa?” Hartino mengingatkan kalau ktia harus melakukan hal lain untuk kasus ini.


“Kita akan berjalan dengan memperhatikan sawahnya.”


“Kok gitu Nding?” Hartino bertanya.


“Kalau ... entah apa atau siapa itu memutar terus jalan persawahan ini, pasti sebenarnya dia sedang menyembunyikan sesuatu di sini, sesuatu itulah yang membuat tempat ini jadi angker.


Semua orang berjalan dengan ritme langkah yang sama, saat harus putar balik, semua mengerti, mereka terus berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya mereka melihat sawah itu tak lagi berputar.


“Nggak muter lagi Nding.” Hartino berkata, karena mereka terus maju ke depan.


“Iya aku juga tidak melihat sawah itu berputar lagi.” Ganding mengiyakan.


“Jalan maju saja ke depan, lihat itu, ada Wak Eman.” Alka berkata sambil menunjuk pria yang berjalan dengan sangat tenang di hadapan mereka.


“Wak, kenapa menghilang?” Aditia bertanya.


“Aku tidak menghilang, hanya bersembunyi saja, sedang kalian, terus masih aku awasi.”


“Wak, jangan pergi lagi ya, bahaya.” Ganding berkata dengan sopan.


“Menghindari bahaya, hanya untuk pengecut, itu yang aku pelajari dari dulu.”

__ADS_1


Cara bicara yang aneh, Wak Eman tidak pernah bicara dengan gaya seperti itu.


“Wak, apa sekarang mau ikut kami mengejar entah apa?” Alka bertanya dan berusaha membujuk.


“Aku memang sedang mengerjar mereka.”


“Kau ini siapa?” Aditia akhirnya berdiri paling depan, semua orang bersiap, mereka mengeluarkan senjata pusaka masing-masing.


“Hei anak muda, kalian mau durhaka? Berusaha bertarung dengan yang lebih tua!” Wak Eman berkata, tubuhnya melayang, itu membuat yang lain semakin yakin, lelaki ini tidak beres.


Alka juga ikut melayang, karena hanya dia yang memiliki tubuh jin, sedang yang lain masih bersiap.


“Kalian yakin akan bertarung denganku?” Wak Eman terlihat senangdan tertawa dengan sumringah.


Aditia menyerang duluan, dia mencoba melepaskan tombaknya, tapi sayang, tombak itu ditangkap, lalu dikembalikan pada Aditia dengan cara yang sama, tapi tombak itu tuannya adalah Aditia, sehingga tak akan mencelakainya.


Alka melesat dan mencoba untuk menyabet Wak Eman dengan cambuknya, Wak Eman berhasil menghindar dan menarik ujung cambuk itu, hingga membuat Alka ikut ketarik ke arah Wak Eman, Alka menahan cambuk itu, tapi sayang, terlalu kencang hingga akhirnya  Alka jatuh dan cambuknya terlepas.


Ganding dan Hartino langsung mengeroyok lelaki tua itu, mereka menggunakan sejata pusaka masing-masing, tapi tak ada yang kena Wak Eman sungguh sangat hebat, mampu menghalau semua serangan kawanan dan menyerang balik.


Kawanan terus menyerang, tapi Wak Eman tak pernah kalah, malah kawanan selalu dipukul mundur.


Karena kesal, Aditia akhirnya membaca mantra dan ketiak dia membaca mantranya, Wak Eman lalu turun dari tubuh melayangnya dan dia berdiri tegak, melihat ke arah Aditia dan ....


“Astaga!” Aditia terkejut, sangat amat terkejut, hingga dia akhirnya mengerti semua ini, kenapa ayahya dulu membangun tempat ini seperti labirin yang membuat manusia menyebrang.


“Kalian anak muda yang sangat payah.” Wak Eman setelah mengatakan itu langsung mendekati kawanan, dia tahu kalua dirinya pasti menang.


__________________________________________


Catatan Penulis :


Mangga, ditebak-tebak.


Aku mulai sadar, sepertinya bukan aku yang pintar atau cerdas, tapi kalian saja yang terlalu percaya aku.


Oh ya, di part-part ini aku sudah tebar banyak clue ya, seperti biasa, akan aku kasih tahu begitu part akhir, apa saja clue yang aku kasih.

__ADS_1


Agar kalian paham, bagaimana alur ini sebenarnya sangat sederhana, tapi kalian terlalu percaya aku dan akhirnya ... terjebak lagi ... maafkeun ya.


__ADS_2