
Kejadian itu membuat Pak Abdul segera berinisiatif memanggil dukun ternama di daerahnya untuk membuat ritual, dia merasa bahwa ini langkah terbaik, agar mereka bisa berdampingan, tapi dia tidak tahu, bahwa makhluk yang mereka ajak berdampingan adalah makhluk yang sangat jahat.
Hari ini ritual itu dilaksanakan, berkumpul seluruh pekerja yang masih sehat dan mampu berdiri, berserta dukun dan Pak Abdul.
Sebagai syarat, dukun itu meminta 8 sapi disembelih, kepalanya akan dikubur di keempat sisi gedung, sementara sisa dagingnya akan di sedekahkan ke pada yayasan anak yatim piatu.
Saat ini mereka mempersiapkan untuk mulai menanam, satu persatu kepala sapi tersebut. Sebelumnya kepala sapi itu dibungkus dengan kain kafan, lalu dibuatlah lubang galian pada sisi depan gedung sedalam lima meter ke bawah, setelah lubang itu sudah sesuai, ditaruhlah kepala sapi yang terkafani di lubang tersebut, lalu ditaburi bunga tujuh rupa.
Lubang pertama pada bagian depan gedung sudah selesai, lalu dilanjutkan dengan lubang ke dua, ke tiga sampai terakhir ke delapan.
Sudah masuk petang ketika lubang terakhir ditutup, sang dukunpun mulai membacakan mantra yang menurut Pak Abdul dia tidak mengerti, tidak terdengar seperti bahasa Jawa, Sunda ataupun bahasa Indonesia. Mungkin bahasa pulau sebrang, tapi dia juga tidak begitu yakin, karena hidupnya dihabiskan di pulai Jawa.
Beberapa orang meyakini bahwa, mengubur kepala sapi atau kerbau adalah untuk melindungi suatu tempat dari bencana alam, tapi beberapa orang meyakini, bukan itu tujuannya, sapi adalah lambang tertinggi dari seekor binatang, persembahan dengan kualitas terbaik, katanya mampu membujuk sang makhluk yang menguasai tempat tersebut.
Tapi mereka tidak tahu, yang diinginkan makhluk itu, bahkan lebih banyak lagi.
Setelah ritual itu selesai, sang dukun meminta waktu kepada Pak Abdul untuk berbicara berdua saja, sementara semua pekerja konstruksi pulang. Pak Abdul memang meminta satu hari ini untuk fokus pada ritual kepada managemen, jadi tidak ada jadwal untuk proses pembangunan.
“Apakah tempat ini sebelumnya sebuah tanah kosong?” Dukun itu bertanya, mereka sudah duduk di pos Security yang belum sepenuhnya jadi, sambil menyesap kopi hitam mulai berbincang.
“Betul Mbah.” Pak Abdul menjawab, pada dukun yang sudah berusia diatas 50 tahun, kepalanya sudah ditumbuhi uban.
“Terlalu beresiko sebenarnya kau membangun di sini, apa pemiliknya tidak memberitahumu?”
“Memang kenapa, Mbah?” Pak Abdul berusaha menyembunyikan bahwa pemiik lahan ini memang dari awal tidak setuju menjual tanahnya.
“Lahan ini adalah lahan perjanjian, lahan ini disediakan untuk .... “ Dukun itu menghentikan perkataannya.
“Untuk apa, Mbah?” Pak Abdul penasaran.
Sang Dukun menatap mata Pak Abdul, lalu menatap ke depan, setelah itu dia menghembuskan nafas dengan berat.
“Lakukan ritual ini setiap 5 tahun sekali, kalau kau tidak melakukannya, kau akan celaka.” Dukun itu bangkit lalu pergi setelah mengatakan itu.
Pak Abdul berusaha memanggilnya, tapi Dukun itu tetap berjalan tanpa menoleh, dia bahkan tidak mengambil bayarannya, Pak Abdul berfikir akan mampir ke rumahnya saja besok, mengantar uang jasa ritual itu.
Malam ini dia akan pulang dan beristirahat dulu, karena sungguh ritual ini berat sekali, seluruh tubuhnya terasa sakit.
...
Hari sudah pagi, ini hari libur makanya Pak Abdul bangun sedikit siang. Dia sudah merasa tubuhnya bugar kembali, istri dan anaknya sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan mereka seperti biasa.
“Bu, makan kopiku, kok tidak ada di meja makan.” Pak Abdul bertanya pada istrinya yang sedang masak di dapur. Jarak antara meja makan dan dapur tidak terlalu jauh tapi tersekat oleh papan gypsum, tidak ada jawaban dari dapur, tapi terdengar bahwa istrinya sedang memotong sesuatu.
“Bu ….” Pak Abdul bertanya lagi, masih tidak ada jawaban.
__ADS_1
Dia lalu menghampiri istrinya dengan wajah kesal ke dapur. Terlihat punggung istrinya dengan daster batik sedang memotong sesuatu, semakin lama, suara talenan dan juga pisau yang beradu semakin terasa kencang, Pak Abdul mulai berfikir, apakah dia melakukan suatu kesalahan hingg istrinya seperti sedang marah atau kesal, terlihat dari caranya memotong.
Pak Abdul berinisiatif untuk menegurnya duluan, sudah jadi kebiasaan kalau Pak Abdul melakukan kesalahan, dia harus segera meminta maaf, kalau tidak, bisa repot urusannya.
“Bu, kau kenapa? aku salah apa?” Pak Abdul berkata sambil meraih bahu istrinya, tepat saat tangannya menyentuh bahu itu, dingin sekali rasanya, tapi Pak Abdul tidak mampu menarik tangannya, dia tidak mampu bergerak.
Saat Pak Abdul masih berusaha menguasai tubuhnya, istri yang sedari tadi membelakanginya itu, akhirnya mulai berbalik, saat sudah menghadap Pak Abdul, betapa terkejutnya dia, wajah istrinya menghitam, pisau yang tadi dia gunakan ternyata sedang memotong-motong tangannya sendiri, darah muncrat ke segala arah, karena dia tidak berhenti berusaha memotong tangannya.
Pak Abdul lemas, mengerikan sekali, dia istrinya, tapi terlihat sangat menakutkan sekaligus menjijikan, untuk ukuran seorang lelaki yang biasa mengerjakan pekerjaan kasar, hal ini masih membuat Pak Abdul tidak mampu bertahan untuk melihat sekujur tubuh itu.
Di detik berikutnya Pak Abdul pingsan.
…
“Pak … Pak … bangun.” Samar suara seorang wanita terdengar, Pak Abdul merasa kepalanya berat sekali.
Tapi dia berusaha untuk membuka mata, selain itu terdengar suara-suara lantunan ayat suci yang membuat Pak Abdul cukup pusing.
Saat dia berhasil membuka matanya, dia melihat istrinya memakai jilbab berwarna hitam, dia sedang menangis tersedu-sedu.
Pak Abdul sempat terlonjak saat melihat istrinya, dia takut, sempat teringat bayangan wanita mengerikan berupa istrinya tadi.
Lalu seorang lelaki mencoba menenangkan Pak Abdul, dia memakai sorban di kepala, sarung dan baju koko, seorang Ustad sepertinya.
Lalu Pak Abdul reflek mengucapkan istigfar dan perlahan mulai tenang.
Dia melihat sekeliling, ada istri dan anaknya berkumpul, wajah mereka semua terlihat sembab, seperti menangis berhari-hari, beberapa saudara dekat juga datang, mereka membacakan lantunan ayat suci tidak henti, ada apa ini? Itu yang Pak Abdul tanyakan dalam hatinya.
“Pak Abdul sudah merasa tenang?” Ustad itu bertanya, yang ditanya hanya mengangguk saja, sembari terus berfikir, kenapa banyak orang, kenapa anak istrinya menangis dan siapa wanita yang menyerupai istrinya itu?
“Pak, apa yang terjadi, tiga hari yang lalu istri Pak Abdul menemukan Bapak pingsan di dapur.”
“Sebentar, ti-tiga hari yang lalu?” Pak Abdul kaget, rasanya baru tadi dia bangun pagi lalu kejadian mengerikan itu terjadi, tapi kenapa si Ustad bilang tiga hari yang lalu?
“Iya Pak, sudah tiga hari yang lalu, memang ada apa?” Ustad itu masih terus bertanya.
“Yang saya ingat, saya menemukan sosok mengerikan di dapur kami, saya fikir dia istri saya, karena pakai daster yang biasa dipake istri, tapi pada saat saya tegur dan pegang bahunya, terasa dingin sekali badannya. Lalu saat dia nengok ke arah saya, ternyata wajahnya hitam dan dia terus memotong tangannya, saya yakin itu bukan istri saya walau wajahnya mirip sekali. Lalu setelah itu saya tidak ingat apapun.” Pak Abdul menceritakan dengan wajah panik dan pucat, nada suaranya terkadang gemetar. Apalagi saat mendeskripsikan makhluk mengerikan yang dia temui di dapur.
“Baik, kalau begitu, coba Ibu ceritakan, apa yang terjadi selama tiga hari ini.” Ustad itu meminta istri Pak Abdul mendekat dan menceritakan kejadian setelah dia menemukan tubuh suaminya.
“Jadi begini Pak, saat Ibu menemukan Bapak pingsan, Ibu minta tolong tetangga bantu angkat, tapi ternyata kami bertiga tidak mampu mengangkat Bapak, sampe sekitar 10 orang kami baru bisa pindahkan Bapak ke tempat tidur. Setelah beberapa jam, Bapak bangun, tapi aneh.” Istrinya Pak Abdul seperti ragu memberitahunya.
“Aneh kenapa, Bu?” Pak Abdul penasaran.
“Bapak bangun, tapi tidak mau makan kecuali kotoran, Bapak minta kotoran untuk di makan, selain itu Bapak tidak mau makan, setelah makan kotoran, Bapak akan bengong saja di depan rumah, terkadang tertawa sendiri dan tiba-tiba menari sambil nembang, saat Bapak melakukan itu, Bapak seperti seorang sinden, Ibu ketakutan akhirnya memanggil Ustad untuk bantu melihat keadaan Bapak, karena tidak mungkin jika ini penyakit medis, Bapak juga tidak mungkin gila. Semua baik-baik saja sebelum Bapak pingsan.”
__ADS_1
“Jadi, saya kenapa Pak Ustad?” Pak Abdul bertanya dengan putus asa.
“Hmm, seharusnya Bapak yang jelaskan ke kami, apa yang sudah Bapak lakukan hingga di sempat di tawan oleh “mereka’.” Pak Ustad menjawab.
“Mereka? maksud Pak Ustad, siapa?” Pak Abdul bertanya.
“Jin-jin itu. Mereka berebut masuk ke dalam tubuhmu.” Ustad itu melihat ke segala arah, ada rasa takut dalam matanya.
“Saya … saya melakukan ritual Pak Ustad, agar tanah yang akan kami bangun itu tidak menyebabkan masalah dikemudian hari.” Pak Abdul mengaku.
“Bukan hanya masalah dikemudian hari, tapi masalah itu datang saat ini juga.”
“Lalu saya harus bagaimana Pak Ustad?”
“Bapak tanyakan itu pada si empunya yang melakukan ritual, karena dia yang memulai, maka dia yang harus selesaikan.”
Setelah mengucapkan itu, Pak Ustad pergi, dia hanya meminta Pak Abdul banyak banyak bedoa dan meninggalkan air untuk diminum oleh Pak Abdul.
Selain itu, Pak Abdul ingat, bahwa dia juga belum memberikan uang jasa pada dukun yang membantunya untuk melakukan ritual, besok dia akan ke rumah dukun itu untuk membayarnya.
…
Begitu hari sudah mulai siang, Pak Abdul datang menemui Dukun itu, rumah yang sama dia datangi saat akan memanggilnya beberapa hari lalu.
“Bu, Bapak ada?” Pak Abdul bertemu dengan istri dari si dukun.
“Ada Mas, tapi nggak bisa ke luar, ada keperluan apa ya?” Istrinya terlihat keberatan.
“Ini Bu, Bapak kemarin bantu saya untuk ritual, saya belum kasih uang jasanya, mau kasih uang itu sama ada yang mau saya tanyakan.”
Si Ibu lalu jatuh ke tanah dan setelah sudah tenang, dia menarik Pak Abdul untuk masuk ke rumahnya dan menunjukan kamar mereka.
Saat sudah masuk ke kamar, dia melihat pemandangan yang cukup mengagetkan, si Dukun terbaring seperti pesakitan, hanya dalam beberapa hari wajahnya menghitam, matanya kosong dan dari mulutnya keluar air liur.
“Kenapa dia, Bu?” Pak Abdul bertanya.
“Tidak tahu, sudah beberapa hari ini dia seperti itu, Pak. Dia tidak mau makan selain makan kotoran, kami terpaksa memberinya makan tanah karena dia tidak mau makan apapun.” Si istri dukun berkata sembari menangis.
Pak Abdul terdiam, wajahnya ikut pucat, ada apa ini, kenapa tanah itu membuat korban begitu banyak, tapi dia tidak bisa menghentikan pembangunannya, kerugiannya akan begitu besar, sedang dia tidak akan mampu mengganti kerugian itu.
______________________________
Catatan Penulis :
Selamat datang kembali di AJP.
__ADS_1