
“Itu dia.” Parmin menunjuk Winda yang sudah masuk kuliah, disampingnya ada Arif Yang juga sudah masuk kuliah, sementara Nola belum masuk kuliah karena dia sedang memulihkan keadaan dan juga melakukan beberapa hal, seperti mengunjungi ibunya.
Sedang ayahnya sudah kembali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
“Mereka sudah kembali ke kampus tapi Nola pulang ke rumah kakek neneknya yang ada di luar pulau, kau mau bicara pada mereka?” Parmin bertanya.
“Sebentar, ada yang aneh.” Aditia memperhatikan Winda.
“Apa yang aneh? Ganding bertanya.
“Gesture tubuh wanita itu sangat berbeda dengan yang aku lihat terakhir saat di hutan, Nding apa kau lihat wanita itu mungkin ketempelan? Karena dia terlihat bukan seperti dirinya. Setahuku, Winda yang aku lihat di hutan terlihat agak tomboy dan lumayan grasak-grusuk, tapi kenapa di sini dia terlihat lembut dan anggun?”
“Kau yakin Dit?” Ganding bertanya.
“Tidak juga, aku hanya bertemu sebentar, tapi biasanya kesan pertam itu melekat, kesanku pada wanita itu berbeda saat di hutan dulu, tapi aku tidak melihat ada ruh yang menempel di raga Winda.”
“Kau curiga dia kerasukan?” Ganding bertanya lagi.
“Ya, tapi tidak terlihat, kau tidak lihat apa-apa?”
“Kau itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dariku, jadi mana mungkin aku bisa lihat sedang kau tidak. Aku tidak melihat apapun.” Ganding menjawab.
“Mau temui mereka?” Parmin bertanya.
“Dibanding mereka, aku lebih penasaran pada lelak iitu.” Aditia menunjuk Heru, dia terlihat baru saja datang.
“Dia itu keponakannya Melati kan?” Ganding bertanya.
“Ya, dia keponakan jiwa yang hilang itu.”
“Ayo temui mereka.” Ganding dan yang lain akhirnya mendekati Winda, Arif dan Heru.
“Hei kalian, apa kabar?” Ganding menyapa. Heru terlihat gusar.
“Hei Kak, kalian di sini?” Arif terlihat santai dan senang bertemu dengan Aditia.
“Iya, lagi menyelidiki Melati, dia kan hilang kami perlu latar belakang untuk mencarinya, karena kemungkinan dia hilang itu belum kami temukan petunjuknya.”
“Oh gitu Kak, Adit, ini Heru keponakan Melati, tanya dia aja.” Arif berkata dengan enteng, padahal Heru terlihat sangat gemetar.
“Iya, aku memang ingin bicara padamu, tapi tidak di sini, aku ingin bicara padamu di rumahmu.” Aditia mengajukan permintaan, Heru enggan sebenarnya, makanya dia tidak menjawab dengan cepat.
“Ini untuk menemukan tantemu, ibumu sakit kan? kita harus mempertemukan mereka, aku janji, begitu Melati ketemu, aku akan izinkan kau dan ibumu bertemu dengan Melati, tidak seperti kesepakatan kita sebelumnya, bahwa Melati hanya boleh bertemu denganmu, setelah itu dia harus pulang dengan bus itu. Bagaimana?” Adiita menawarkan perjanjian.
“I-iya Kak.” Heru akhirnya setuju untuk ikut ke rumah mereka.
“Aku ikut Her, boleh?” Winda tiba-tiba mengajukan diri, padahal dia tidak diajak.
__ADS_1
“Wah, kalian jadian ya?” Arif tiba-tiba berkata hal yang membuat Heru kesal.
“Baru PDKT aja kok.” Winda menjawab, tentu itu bohong, karena jiwa Melati di sana, mana mungkin Heru memacari tantenya sendiri.
Mereka pergi terpisah, Heru dengan mobilnya dan Aditia, Ganding dan Parmin dengan angkot jemputan.
“Angkot Mulyana masih bagus saja.” Parmin yang duduk di samping pengemudi berkata.
“Bapak kenal ayah saya?”
“Tentu saja, khodammu saja aku kenal, masa ayahmu tidak? Dia pernah menolong regu kami keluar dari gunung di suatu kota, kami saat itu sedang latihan, tapi kami dikerjai jin setempat hingga akhirnya tersesat, kami saat itu dua puluh orang, kelaparan hingga satu minggu.
Jujur aku dan rekanku sudah menyerah pada hari ketujuh, tapi saat kami sudah siap untuk mati bersama dan tidak ingin jalan lagi, tiba-tiba aku mendengar suara lelaki berteriak, ‘di sana’! itu adalah ayahmu, dia menemukan kami, hanya dia yang bisa menemukan kami.
Rupanya dia melakukan mediasi dengan penunggu gunung itu, penunggu gunung itu marah pada regu kami karena ada satu orang yang berkata kotor dan menghina di gunung itu, padahal itu pantangan, karena satu orang, dua puluh lainnya harus menderita. Ayahmu bilang pada hari ketiga dia baru bisa menemui penunggu gunung itu, setelah itu dia melakukan mediasi agar diizinkan untuk menemukan regu yang hilang.
Aku dengar, penunggu gunung itu akhirnya diajak berkelahi oleh ayahmu, karena kalian, memang tidak bernegosiasi dengan jin yang jahat. Kharisma Jagat dari tanah Pasundan memang tidak tunduk pada permintaan jin, banyak dukun melakukan itu dengan melakukan praktek sajen, tapi kalian tidak, kalian selalu memilih bertarung dibanding menjadi budak jin.
Ayahmu memang agak lain, dia bukan dukun, bukan kiai, ustad atau apapun sebutan untuk orang yang biasa menangani permasalahan ghaib.
Tapi kemampuannya sungguh tinggi, dia melakukan mediasi dengan meminta agar bisa melawan penunggu hutan itu satu lawan satu. Ketiak akhirnya setuju, perlu dua hari untuk mereka bertarung dan akhirnya ayahmu menang, jin itu memberikan lokasi kami yang diputar-putar oleh penunggu gunung itu, perlu waktu dua hari lagi untuk menemukan kami, karena ternyata kami masuk jauh ke dalam hutan di gunung itu, padahal kami merasa telah mengikuti jalan setapak, saat akhirnya dijemput, semua orang juga bingung, kenapa kami bisa membelah hutan perawan dan hutan itu tidak terlihat habis kami lalui. Ayahmu bilang, bahwa kami semua dijebak ke dunia ghaib, makanya jalan itu terlihat berbeda.”
“Pak, terus temen bapak yang jadi penyebabnya lolos gitu aja?” Ganding dari belakang tiba-tiba bertanya.
“Tidak, dia tidak bisa bicara satu palah katapun selama dua tahun, kata ayahmu dia akan sembuh tapi tidak tahu berapa lama, itu hukuman atas apa yang dia lakukan di gunung itu, tidak sopan dan tidak menghormati adat di tempat baru. Ingat, di tempat baru setiap tamu harus patuh, pun jika bertentangan dengan hati. Kalau tidak suka, ya jangan ke sana. Ayahmu memberiku wejangan itu.”
“Iya, betul begitu kenapa?” Parmin bingung.
“Lalu bisa saja kecelakaan bus itu juga karena satu orang yang DIHUKUM DENGAN CARA HIDUP!” Ganding dan Aditia langsung sadar sesuatu.
“Nding, kamu mengerti?”
“Tentu saja, walau ilmu tinggian kamu, tapi aku lebih jenius darimu, jadi benar Melati dalangnya?”
“Sebentar, kalian nih bicara apa sih?”
“Pak, kecelakaan bus 404 itu sebenarnya aneh, kenapa bus baru bannya bisa bocor? Seolah memang dikerjai. Lalu saat bus itu dipanggil kembali oleh raja jin untuk memenuhi perjanjian, bus itu tertinggal, kalau dia hanya tertinggal seharusnya bus itu gentayangan saja, bukan kena gelang yang menyesatkan hingga terus mengulang kejadian pada satu titik di mana Bobby dan yang lain harus mengulang terus menerus satu kejadian dan kembali ke bus itu lagi dan lagi.”
“Berarti dari awal ada yang sengaja mengerjai bus itu dan akhirnya membuat bus itu kecelakaan, jadi kemungkinan dari awal Melati bisa saja dalangnya?” Parmin berkata.
“Bisa jadi Melati dalangnya. Tapi kita harus mencari motifnya.” Aditia semakin bersemangat, walau dia dan Ganding belum sadar, kalau Melati ada di tubuh Winda.
Mereka sudah sampai di rumah Heru, saat masuk ke rumah itu, Aditia merasakan hawa dingin yang biasa dia rasakan jika ada makhluk ghaib.
“Ini ibuku, ayahku masih kerja, sedang kakek dan nenekku tahun lalu meninggal dunia karena sakit, mereka meninggal di tahun yang sama. Kami hanya tinggal berempat di sini.”
“Berempat Her? Siapa satu lagi?” Ganding langsung sadar, karena kalau dihitung, yang tersisa di rumah ini adalah hanya orang tua Heru dan Heru, jadi total hanya tiga orang, kenapa dia bilang berempat?”
__ADS_1
“Oh iya sama pembantu, dia lagi pulang kampung.” Heru mencari alasan, Winda duduk di ruang tamu bersama tamu yang lain. Ibunya Heru akhirnya di masukan ke kamar, Heru bilang takut ibunya mengamuk jika teta di sini.
Aditia memulai pertanyaan.
“Apakah tantemu benar melakukan praktik pesugihan?” Aditia langsung pada tujuan.
“Kalian percaya itu?” Heru kesal mendengarnya.
“Kau yang beritahu kami soal itu, karena keluargamu yang kenal tantemu, aku tidak, makanya aku bertanya, jadi jangan tanya keyakinan kami.” Ganding yang mengambil alih pertanyaan, dia memang jagoannya berdebat.
“Kalian sama saja dengan yang lain, percaya dengan hal seperti itu.”
“Yang lain siapa?”
“Teman-temannya tanteku, Winda sudah cerita semua padaku, tentang yang terjadi sebenarnya, bahwa istri dan pacar salah satu korban kecelakaan yang menyuruh Samidi untuk membunuh tanteku dan setelah itu keesokan paginya tubuh tanteku di kubur di kuburan dangkal dengan kain kafan hitam.”
“Kok ....”
Ganding menahan Aditia untuk bicara, dia tidak ingin Aditia membuka kecurigaan secara langsung, Aditia akhirnya tidak jadi bicara.
“Baiklah, lalu bagaimana jasadnya sekarang?” Ganding bertanya lagi.
“Samidi hilang, kami tidak bisa menemukan jasad itu sekarang.” Heru beralasan, jelas dia menunda agar jasad itu dikubur dengan semestinya, alasannya cuma satu, Melati masih ingin berada di dunia ini.
“Tapi Arif seharusnya tahu kan di mana jasad tantemu?” Ganding bertanya lagi, karena tahu, ruh takkan jauh-jauh dari tubuhnya, bukan tidak mau pergi, tapi tidak bisa, dia terikat dengan tubuh matinya, lain hal jika jiwa itu masuk ke tubuh lain, baru dia bisa lepas dari ikatan tubuh matinya.
“Dia bilang tahu, tapi saat kami mencoba untuk mendatangi tempat itu, kami tidak bisa menemukannya, makanya sampai sekarang kami belum bisa melakukan penguburan dengan layak.”
“Oh begitu ...,” Ganding terdiam sesaat, lalu melanjutkan lagi pertanyaannya, “Ibumu sehat sepertinya, tadi aku tidak melihat dia seperti orang yang hilang akal.”
“Tentu saja, hal seperti itu kan tidak terlihat dengan jelas, hanya orang yang tinggal dengannya saja yang paham.” Heru seperti sudah terlatih untuk menjawab semua pertanyaan ini, dia sepertinya sudah berlatih.
“Heru, kenapa kau mengajak Winda mencari temannya berdua saja ditambah dukun itu? seharusnya kau bersabar karena aku dan regu pencari sudah mencari.” Parmin jadi ingat, kalau Winda ikut hilang kemarin karena ulah Heru, ada salah satu Mahasiswa yang lihat, Winda berkeliaran dengan Heru sebelum akhirnya mereka masuk ke hutan.
Makanya Parmin tahu kalau Heru yang mengajak Winda ke hutan itu.
“Karena aku takut pergi sendirian, aku juga ingin teman-temannya Winda diketemukan, makanya aku mengajak dia.”
“Tapi itu berbahaya kan Her!”
“Iya, maaf ya Pak.” Heru terdengar sangat gusar daripada menyesal.
“Winda, Nola itu kidal ya?” Ganding tiba-tiba bertanya seperti itu pada Winda.
“I-iya ... kenapa memang?”
“Tidak, hanya bertanya saja, pemulihan orang kidal berbeda.” Ganding mengarang, karena sekarang dia sudah dapat jawabannya, dengan jawaban Winda itu, Ganding tahu, bahwa Winda bukanlah Winda.
__ADS_1
Ganding tahu bahwa Heru membicarakan WInda seolah Winda tak ada di sini, dia selalu menyebut nama Winda dibanding menyebut dia, padahal Winda kan ada di sini, itu menjadi jawabannya.