
Aditia dan Alka segera mengendarai angkot mereka dan bergegas ke terowongan itu.
Begitu sampai sesuai arahan dari dua orang yang bertemu di restoran itu, Alka dan Aditia turun sebelum masuk terowongan.
“Ini masih siang, tapi terowongan itu terlihat sangat gelap, kita bahkan tak bisa melihat bagian dalamnya, padahal matahari bersinar terang.” Aditia dan Alka belum masuk terowongan, mereka masih berdiri agak jauh dari jalan masuk terowongan.
“Aku sudah menelpon Hartino, aku meminta semuanya datang ke sini.”
“Kau merasakannya?” Aditia bertanya pada Alka.
“Ya, sesak sekali dadaku, energi ini kuat sekali.” Alka memegang dadanya, Aditia juga.
“Kita masuk duluan?”
“Kita masuk duluan.” Alka setuju, mereka berjalan mendekati terowongan, semakin mereka mendekat, kaki mereka semakin lemah, seolah-olah berjalan menanjak selama berjam-jam yang akhirnya membuat kaki mereka lemas.
“Kita tidak sampai-sampai bukan?” Alka bertanya pada Aditia, karena mereka merasa berjalan, tapi tak kunjung sampai di jalan masuk terowongan itu.
“Iya, kita tak sampai-sampai, kakiku lemas.” Aditia merasakan hal yang sama, mereka berdua jatuh dengan posisi seperti bersujud, kelelahan.
“Kita tidak diizinkan masuk.” Alka menyimpulkan.
“Tak ada juga kendaraan yang masuk ke sini, aku merasa, orang-orang dari jalan besar itu, seperti tak melihat terowongan ini, lihat itu.” Aditia menunjuk orang-orang dari jalan utama sebelum belok ke terowongan ini, jala nit utak terlalu jauh, tapi entah kenapa, orang-orang yang lewat tidak ada satu pun yang berniat belok, seorang belokan ke arah terowongan ini tak terlihat, “apa terowogan ini di jaga oleh pagar ghaib?” lanjut Aditia.
“Tidak mungkin, karena kita dapat informasi ini dari dua orang di restoran itu, kan? lalu satu lagi, dua korban terakhir, ditemukan oleh orang yang lewat, bahkan tukang ojeknya juga tertabrak truk kan? berarti memang tempat ini masih bisa dilihat.” Alka menolak kesimpulan yang Aditia katakan.
“Lalu kenapa mereka tidak ada yang belok satu pun?” Aditia bertanya.
“Mungkin karena memang terowongan ini terkenal angker dan gelap, terowongan ini juga dua arah kan? makanya mereka takut tabrakan di terowongan gelap ini.”
“Kak, Dit.” Hartino dan yang lain sudah datang, mereka terlihat sangat tergesa-gesa.
“Kalian sudha datang? Apa kalian merasakan sesuatu?” Alka bertanya pada kawanan.
“Ya, aku merasa sesak nafas.” Alisha menjawab duluan.
“Aku juga.” Yang lain ikut setuju.
“Kami tidak bisa masuk ke terowongan itu.” Aditia tidak berbasa-basi.
“Kenapa?” Ganding bingung.
“Coba aja.” Aditia meminta yang lain masuk ke terowongan.
Kawanan masuk, tidak termasuk Aditia dan Alka, mereka masih lemas.
__ADS_1
Kawanan terus berjalan mencoba mendekati paling tidak jalan masuk saja, tapi makin berjalan, jarak semakin terasa jauh.
Tak lama kemudian mereka semua tumbang, jatuh seperti Aditia dan Alka.
Kawanan kembali ke tempat Aditia dan Alka.
“Apa yang terjadi, kenapa kami tak sampai-sampai ke sana?” Hartino bertanya.
“Lihat ini.” Alka menunjukkan sesuatu.
Ternyata yang Alka tunjukan adalah video saat mereka berusaha masuk.
“Kami jalan di tempat dengan tatapan hampa begini?” Hartino bingung.
“Aneh.” Ganding juga bingung.
“Kita tak diizinkan masuk, hanya itu jawabannya.” Aditia mencoba memebrikan jawanan.
“Apakah dipasang pagar ghaib juga di sini?” Ganding bertanya, walau dia kurang bisa merasakan pagar ghaib, spesialis pagar hanya Jarni dan Aditia, sedang Alka terkadang saja.
“Tidak, para korban ditemukan oleh orang yang lewat.” Aditia menyangkal itu.
“Tapi tak ada yang lewat satu pun.” Hartino sangsi dengan perkataan Aditia.
“Aku sedikit lebih pintar dari dia!” Hartino tidak terima.
“Apakah mungkin masuk jalur undangan? Kita dan yang pernah masuk ke terowongan itu.” Ganding mengatakan pendapatnya.
“Maksudmu seperti kasus janur kuning dulu? Janur kuning di kuburan itu?” Jarni bertanya.
“Tidak mungkin juga, kalau kita diundang, kita bisa masuk dong, ini kenapa hanya di luar terowongan saja?” Alka tidak setuju.
“Bukan pagar, bukan undangan, lalu kenapa kita tak bisa masuk?”
“Jalur orang dalam kayaknya, makanya mereka bisa masuk.”
“Har!!!” Yang lain kesal, karena Hartino masih bisa bercanda.
“Eh bentar deh, bisa jadi omongan suamiku benar loh.”
“Alisha, ayolah, bucin sih bucin, tapi nggak gitu juga lah.” Jarni kesal mendengar suami istri itu mulai terlihat saling membela.
“Nggak Jar, bisa aja kan ada agent yang memancing mereka masuk? para korban maksudku, lalu para saksi dan juga kendaraan lain, semua masuk karena pancingan karena ada maksud.” Alisha membela diri kali ini, bukan suaminya lagi.
“Agent, maksudmu manusia yang sengaja menumbalkan orang-orang itu?”
__ADS_1
“Klise nggak sih? tapi ini klasik kan Ka, apalagi alasannya selain tumbal, di negeri ini memang pertumbalan selalu jadi momok yang diminati. Gampang mungkin, nyawa orang melayang, yang menumbalkan sejahtera dan gemilang.” Alisha menari saat mengatakannya.
“Kamu bisa diem nggak sih pas ngomong?” Jarni mulai kesal karena Alisha kalau ngomong selalu sambil menari.
“Bisa saja, tapi aku suka cara Rangda menjaga tubuhku agar tetap bugar dan ideal, jadi kenapa harus kutolak?”
“Aneh kamu berdua.”Jarni yang jarang bicara sudah terlalu lama menahan keluhan ini, walau akhirnya ketika keluhan itu dilontarkan, tetap saja mentah, tak ada manfaat juga.
“Kalau ada agentnya, berarti para korban itu bertemu dong dengan agent itu kan? kita harus temui korban kalau begitu.” Ganding mengusulkan, karena percuma di sini juga, mereka tidak bisa masuk.
Kawanan tidak diserang, tapi tidak diizinkan masuk oleh tuan rumah dari terowongan itu.
“Nding, korbannya koma, gimana cara kita berbicara pada mereka?” Aditia menjelaskan.
“Kita cek Dit, jiwanya masih di tubuh atau ....” kawanan melihat ke arah terowongan, lalu mereka sepakat untuk segera ke tempat korban, tapi tidak semua, hanya Alka dan Aditia untuk ojek online lalu Jarni dan Ganding untuk supir taksi.
Sementara Alisha dan Hartino memilih untuk mencari informasi sebanyaknya di sekitar terowongan itu.
...
“Maaf kedatangan kami ini mendadak, karena jujur kami juga baru dapat datanya.” Alka dan Aditia menyamar menjadi petugas Jasa Raharja untuk asuransi kecelakaan, jelas ini bohong, karena kalau kecelakaan biasanya keluarga korban yang mengurus ke kantor untuk claim asuransinya, sedang perlakukan khusus dengan datangnya pegawai jarang sekali ada.
Tapi beruntung, Aditia dan Alka tidak ketahuan.
“Iya, saya sebenarnya sudah urus asuransinya, sudah dipakai untuk perawatan juga, dibantu BPJS, walau untuk pasien koma, ada aja biaya lain.” Zubaedah mengeluh, wajahnya pucat dan dia terlihat kurus sekali.
“Kondisi bapak bagaimana, Bu?” Alka bertanya.
“Masih sama, koma Bu, padahal kecelakaannya tidak parah, walau motor hancur, tapi badan suami saya memar saja, tidak luka parah, kalau kata Doter mah ini bagian kepala yang kena, makanya jadi koma.” Zubaedah menangis mengingat itu.
“Anaknya masih kecil ya.” Aditia sedih melihatnya.
“Iya, kasihan suami saya, tapi kami juga harus melanjutkan hidup, saya bingung, walau banyak bantuan dari sana-sini, tapi kan, uang mah cepet aja habis, mana saya juga harus ngurus anak, mau kerja cari nafkah gimana?”
“Baiklah Bu, kami akan segera bantu untuk claim asuransinya, nilainya mungkin lebih dari 40 juta rupiah, bisa dipakai modal untuk dagang kue bu, ibu bisa buat kue?” Alka berkata seperti cenayang, tapi memang dia cenayang, mengenai angka yang dia sebutkan, tentu saja itu bantuan dari kawanan untuk korban.
“Wah, iya, saya bisa masak kue basah, Alhamdulillah, kalau begitu berkas apa saja yang perlu saya siapkan?” Zubaedah bertanya.
“Tidak perlu berkas yang rumit, hanya fotokopi KTP dan Kartu keluarga saja, tapi ibu harus jelaskan kronologis yang ibu tahu sejak suami ibu pergi, hari di mana ibu dia belum kecelakaan itu.” Alka menjelaskan.
“Oh baik, hari itu rencananya suami saya mau cari uang buat beli susu anak saya yang habis, kami memang tidak punya uang simpanan, jadi ngojek hari itu, ya untuk makan hari itu, dia pergi saat selesai magrib, abis solat dan makan, dia pergi ngojek, kayak biasa. Katanya mau mangkal di pangkalan biasa bareng ojol lainnya, tapi tidak ada yang aneh saat itu. Tapi kenapa harus ada penjelasan sebelum kecelakaan ya Bu? Ini bukan pembunuhan kan? ini kecelakaan kan, Bu?” Zubaedah curiga.
"Hanya sebagai laporan lengkap saja, agar kronologi runut, hingga kami tahu, tidak ada penyebab yang mencurigakan seperti mabuk atau kelalaian dari pengendara lainnya." Aditia cepat mencari jawaban, agar istrinya tidak curiga lagi.
"Oh gitu, nggak sih Bu, Pak, suami saya nggak mabuk dan hari itu dia sehat. Kalau mau tahu gimana dia hari itu, coba tanya ke pangkalan, ini saya kasih alamatnya."
__ADS_1