Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 198 : Tinung 2


__ADS_3

Ritual rubah wajah, atau Alka menyebutnya Raray Robah. Ritual ini dilakukan untuk menutup seluruh aura yang ada, termasuk wajah asli.


Kau tahu kan, bahwa penglihatan manusia itu tidak sama satu sama lain, makanya timbul cantik dan jelek. Karena penglihatan itu dipengaruhi oleh otak dan juga selera. Ritual ini menutup seluruh aura Alisha dan juga wajah aslinya yang terefleksi dari penglihatan.


Penglihatan pada wajah Alisha akan dikaburkan, melalui penguncian lima panca indera. Lima panca indera itu akan di kunci dengan sebuah jarum emas yang diteteskan sedikit darah jin pada setiap jarumnya.


Kenapa darah jin, karena hanya jin yang bisa merubah wujud, penguncian ini sekaligus mengambil sedikit kemampuan jin untuk merubah wujud, tidak spesifik menjadi apa, tapi wajah asli Alisha akan terlihat mirip dengan wajah dari jin yang memberinya tetesan darah. Walau tidak sama persis.


Lima panca indera yang di kunci dengna darah jin hingga wajahnya bisa menyerupai yang memberikan darah itu adalah, Mata, hidung, lidah, telinga dan dua telapak kaki.


Prosesnya akan sangat menyakitkan, karna penguncian ini menggunakan jarum emas yang terkenal sangat tajam tapi tebal. Orang berlomba untuk memakai susuk agar terlihat cantik, tapi berbeda dengan Alisha, dia malah menutup aura dan wajah aslinya dengan ritual agar bisa bertemu Hartino.


“Kau yakin?” Sekali lagi Alka bertanya sebelum dia menancapkan jarum emas yang sudah dua tetesi darah.


“Yakin, lakukan lah.”


“Kalau kau masuk sebagai Alisha, bukankah lebih baik?”


“Kau sudah mengatakannya berulang dan sudah kusebutkan alasannya.”


“Kau mau sampai kapan menipu seperti ini?”


“Sampai aku mampu melepasnya.”


“Kalau selamanya tidak bisa melepas bagaimana?”


“Maka tidak berubah selamanya.”


“Maka Alisha akan menghilang, kau tahu, wajahmu yang terlihat setelah ritual adalah, wajah Laisha, semua orang akan melihat dirimu berbeda, bukan lagi wajahmu.” Alka kembali mengingatkan.


“Aku tahu, makanya aku minta tolong padamu, karena kau itu cantik, jadi sedikit menyerupaimu tak apalah, daripada jin lain. Selain itu, hingga aku lihat Har benar-benar tidak mampu aku dekati lagi.”


“Kalau dia mencintai wanita lain dan menikahi wanita itu? kau benar akan berhenti?” Alka bertanya.


“Ya.”


“Maka perjanjian antara kita akan ditambahkan, kau boleh masuk ke kawanan, sebagai Laisha, aku membantumu dalam proses perubahan wajah, tapi jika Hartino sudah mencintai wanita lain dan akan menikahinya, maka perjanjian selesai, wajahmu akan kembali lagi. Kalau kau setuju, aku akan melakukan ritualnya sekarang.”


“Ya, aku setuju.” Alisha tidak main-main dengan janjinya, karena memang tujuan akhirnya bukan menikah.


“Baiklah, kalau kau melanggar dan kelak menghancurkan percintaan Hartino, maka kau akan terhukum dengan sangat berat, mengerti? Jika kau melanggar, maka bukan aku saja yang akan memburumu.” Alka berkata dengan serius.


“Ya, aku setuju.”


Alka mulai menusuk mata Alisha dari sebelah kanan ke kiri dengan jarum emas yang sudah ditetesi darahnya, Rania memastikan bahwa ikatan Alisha tidak akan lepas, karena setelah di tusuk dengan jarum emas Alisha kesakitan, dia berteriak seperti orang sekarat, matanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tapi itu hanya sebentar, sakit itu hilang begitu jarum masuk sempurna.


Jarum-jarum berikutnya sama menyakitkannya bagi Alisha, dia bertahan walau rasanya hampir mati. Ini adalah rangkaian rasa sakit yang dia hadirkan sendiri untuk cintanya yang gila.


Ritual selesai, Alisha lemas, dia tidak akan bangun untuk dua jam ke depan.


“Rania, aku ingin bicara, Alisha belum bangun, jadi kau bisa tenang dulu. Setelah ini kau tidak akan melihat wajah aslinya.”


Rania ikut Alka, mereka melakukan ritual di markas Mulyana, kawanan tidak tahu itu.


“Ada apa?” Rania bertanya.


“Orang tua Alisha bagaimana? mereka tidak akan menemukan putri mereka?” Alka bertanya. Tidak bermaksud ikut campur, tapi Alisha terlihat dari keluarga yang baik-baik saja.


“Sudah diatur, kemarin kami melakukan penerbangan palsu, orang tua Alisha sudah mengantarnya ke bandara untuk kembali ke Australia, Hartino juga tahunya begitu, dia menganggap Alisha sudah kembali ke Australia.”


“Wah, dia benar-benar tidak main-main dengan niatnya.” Alka takjub dan juga sedikit takut. Ini sangat bahaya, Alisha bukan wanita yang lemah.


“Ya, dia sudah belasan tahun menginginkan ini.”


“Aku kasihan padanya, dia dan Hartino terjebak dalam keegoisan masing-masing. Tapi itu pilihan mereka, aku tidak bisa membuat mereka mengabaikan yang menjadi keyakinan masing-masing. Satu lagi, kenapa kalian menculik ruh itu?” Alka penasaran hal ini.


“Kami tidak mengoleksi jin untuk alasan jahat, Alisha menahan jin-jin itu karena mereka adalah tangkapan, mereka yang dikirim untuk menjahati orang karena kiriman, Alisha membantu dari berbagai negara dengan gratis, jin itu ditangkap dan di simpan di botol itu untuk membuat mereka sadar. Beberapa sudah dilepaskan dengan perjanjian darah, agar mereka insaf. Tapi yang masih di ruang gelap, itu karena jin itu masih jahat.

__ADS_1


Tujuan kami menculik ruh itu ... untuk memancingmu datang. Alisha tahu, kau akan menemukan cara masuk ke dalam ruang gelap apartemen itu. Makanya kami menculik ruh itu, bukan untuk koleksi.”


“Baiklah, lalu kenapa tidak menemuiku saja dengan cara yang jauh lebih beretika, daripada bertarung seperti kemarin?”


“Bagaimana caranya menemuimu atau memanggilmu tanpa lima sekawan? Kalian terlalu rekat.”


“Oh begitu. Alisha selalu memilih jalan berat, aneh sekali.”


“Menurutku, dia pejuang, terserah kau mau anggap dia apa.” Rania memang sangat buta dalam menilai Alisha.


Setelah dua jam, Alisha bangun, Rania takjub, dia tidak melihat wajahnya Alisha di sana, tapi wajah yang asing, agak mirip dengan Alka, tapi tidak terlalu menyerupai, hanya mirip saja.


Ternyata wajah cantik Alisha yang terlalu cantik, sulit ditutupi sempurna, beruntung dia berubah menjadi orang ar huising yang hanya mirip Alka saja.


“Sekarang namamu Laisha, aku akan memanggilmu dengan nama Lais.”


Lalu mereka berpisah, Alka harus mempersiapkan beberapa hal untuk kasus baru.


...


Butuh dua hari untuk mempersiapkan kepergian ke desa itu, namanya desa Hadas Curug. Terdapat air terjun yang tidak terlalu besar di desa itu, dulu Patung Tinung paling bersar di taruh di sana. Tapi berjalannya waktu, orang tidak menyembah lagi patung, makanya patung itu makin lama makin usang dan perlahan hancur.


Mitosnya Tinung adalah Dewi yang disembah, tapi tidak saat ini. Karena Dewi itu telah dibuang oleh masyarakat jaman sekarang karena ketidakmampuannya lagi membuat desa itu makmur, wabah, kekeringan dan kerugian banyak dialami desa itu sekaligus walau mereka menyembah Tinung, maka dari itu patung Tinung perlahan tidak disembah lagi.


Patung itu dibiarkan terbengkalai, karena di desa itu ada beberapa patung Tinung kecil yang disembah harian dan patung Tinung besar yang disembah mingguan, Tinung besar terdapat di curug.


Patung Tinung tentu tidaklah kosong, lalu apakah benar patung Tinung berisi Tinung? Lalu kenapa patung itu banyak? Apakah Tinung ada banyak? patung itu pasti diisi jin-jin yang bahkan tidak tahu menahu tentang Tinung, mereka hanya mengisinya karena patung itu media kosong yang bisa saja diisi jin sembarang.


Lalu kenapa muncul nama Tinung? Siapakah dia sebenarnya.


Maka di sinilah Alka dan Hartino mengusutnya.


Jaman dahulu kala, ada seorang dukun terus memohon pada dewa untuk memberikannya keabadian, dukun itu belajar banyak ilmu. Ilmu hitam dan putih. Tapi yang dia dapat hanyalah pengetahuan, betapa kerdilnya dia.


Banyak orang yang memberitahunya tentang satu dan lain hal menjadi abadi, tapi semua itu omong kosong, tidak ada yang namanya hidup abadi. Dukun itu rupanya telah diberi hidayah sehingga mendapatkan pengetahuan bahwa, dia harus bertobat dan menerima kalau manusia itu cepat atau lambat akan kembali kepada yang menciptakan.


Tapi dia belum mengenal Tuhan, dia hanya mengenal Dewa.


Dukun itu juga akhirnya menemukan seorang gadis yang telah menambat hatinya, pernikahan terjadi, seorang anak perempuan dilahirkan, saat ... gerhana matahari.


Gerhana itu membuat anak perempuan itu lahir dengan tanpa dengan tanda lahir di wajah yang cukup besar.


Awalnya tetangga yang melihat, tidak begitu perduli, acuh. Tapi semakin lama, ketika terjadi musibah, anak itu selalu disalahkan, katanya anak itu membawa sial.


Musibah apapun akan menjadi salah bayi itu, karena fisiknya yang tidak sempurna.


Dukun itu marah ketika akhirnya gunjingan itu berubah menjadi sebuah serangan fisik, istrinya di dorong hingga jatuh saat dia sedang menggendong bayinya dan hendak membeli keperluan rumah tangga, oleh seorang pemuda yang sedang bergerombol. Mereka mengatakannya anak sial.


Semua hinaan dan cemoohan tersebut bertahan sampai anak peempuan itu dewasa. Wajahnya tetaplah aib yang tidak disukai tetangganya.


Mereka ingin pindah, tapi tidak mudah pindah dari sana, dukun itu juga banyak musuh karena dia dosa masa lalunya, desa ini tempat terbaik untuk bersembunyi.


Ketika dewasa tentu tidak ada pemuda yang ingin bersamanya, tapi tubuhnya yang indah, membuat beberapa pemuda akhirnya, merenggut mahkota milik gadis dewasa itu dan membuat dukun murka.


Dukun mengutuk semua orang di desa itu, tapi bukannya takut, warga desa malah berbondong-bondong untuk menghabisi satu keluarga.


Dukun dan istrinya tewas, sedang anak perempuannya dibakar hidup-hidup, lalu abunya dijadikan bahan untuk membuat patung, patung yang mereka namai, sama seperti nama anak dukun tersebut. Tinung.


Tinung dibakar karena katanya bisa meredam kesialannya, serta abu tubuhnya bisa dikunci di patung itu. Patung perempuan yang akhirnya menjadi sesembahan warga desa.


Sungguh bodoh sekali mereka, patung yang mereka buat dari tubuh gadis sial, dianggap membawa keberuntungan, bukankah itu sebuah kebodohan tingkat tinggi? Sudah jelas bahannya sial, lalu eknapa patung itu menjadi keberuntungan dan disembah.


Itulah asal mula Tinung ada. Patung itu dibuat banyak karena secara tidak sengaja keadaan desa menjadi baik. Tapi bukan karena Tinung, hanya warga desa itu terlalu bodoh untuk melihat bahwa itu adalah pemberian Tuhan.


Tapi jaman berubah, anak muda lahir, teknologi semakin maju. Tinung perlahan terlupakan, Tinung menjadi patung kosong bagi warga yang telah lebih pintar, bukan hanya karena percaya Tuhan saja, tapi teknologi mengambil alih logika mereka yang merasa tidak memiliki keuntungan dengan menyembah Tinung.


“Tapi pertanyaannya Kak, apa yang membuat anak-anak bayi itu meninggal?” Mereka masih di markas setelah dua hari ini mempersiapkan segalanya untuk pergi ke desa itu, mencari informasi, menyiapkan benda pusaka dan lainnya. Mereka telah selesai membaca sejarah Tinung dari dark website yang Hartino ambil.

__ADS_1


“Agak kelam ya si Tinung itu kisahnya, kirain beneran kayak Dewi Sri kepercayaan dulu bahwa dia adalah dewi kesuburan. Tapi Tinung tidak seperti itu, dia hanyalah patung yang manusia buat untuk menenangkan hati mereka tentang masa depan yang menakutkan. Bukankah lebih mudah untuk mencari kambing hitam dibanding memperbaiki diri.” Ganding terlihat kesal dengan kebodohan warga desa itu.


“Tapi pertanyaannya adalah, kenapa dia kembali? Kenapa dia membunuh anak yang lahir dengan tanda di wajah, tanda yang bahkan tidak hadir karena mitos itu, kenapa anak-anak perempuan yang lahir di sana, ada yang bebas dari kutukan tanda lahir, ada juga yang memang lahir dengan tanda itu?” Aditia bertanya.


“Itu yang justru harus kita cari tahu. Lais, menurutmu gimana?” Alka secara spontan meminta pendapat Alisha yang terlihat terpana dengan cara kerja lima sekawan, dia selama ini selalu kerja sendirian, Rania tidak seperti mereka Rania hanya melakukan yang diperintahkan.


“Hmm, menurutku ... mungkin kita harus mendata dulu, anak yang lahir dengan tanda itu, dan tidak lahir dengan tanda, apa kesamannya, dari sana baru bisa ditarik benang merah.”


“Iya bener tuh Kak.” Hartino setuju, Alisha tersenyum mendengarnya.


“Baiklah kalau begitu, kita ke desa itu besok pagi, setelahnya kita membagi tiga kelompok untuk mencari tahu, karena sekarang, tim kita lengkap.” Alka berkata penuh makna, yang lain tidak sadar, kecuali Jarni. Jarni merasakan ada yang berbeda dengan wanita ini, kenapa Alka selalu memberinya kesempatan untuk berbicara dan seperti selalu melindunginya, mungkin Jarni merasa bersaing karena selama ini, adik favorit Alka adalah Jarni, tapi sekarang Alisha sepertinya mengambil alih di mata Jarni, tapi Jarni tetap diam, karena dia memang selalu menyembunyikan apa yang dia rasakan.


...


Matahari pagi sudah muncul, mereka berangkat dengan angkot seperti biasa ke desa itu, desa yang cukup jauh. Butuh waktu empat jam dari jakarta untuk sampai sana. Mereka menemukan gapura desa Hadas Curug, gapura yang sudah lama tidak dipugar itu membuat suasana desa semakin terlihat primitif. Walau katanya penduduk sudah mulai maju.


Mereka sudah masuk desa dan langsung ke rumah Pak RT, namanya Pak Bagus, Pak RT ini sudah dihubungi oleh Ganding sebelumnya, mereka bilang berkunjung untuk penelitian, mereka akan membangun listrik tenaga surya di sana, itu alasan yang cukup baik, mengingat listrik di sana memang belum sebebas di kota.


Listrik punya jam tertentu untuk menyala, pada malam hari jam sembilan malam sampai jam tiga pagi, sisanya listrik tidak menyala.


“Ini enam orang aja?” Pak Bagus bertanya.


“Iya Pak, kami penelitian memang enam orang, tapi nanti pembangunan listrik tenaga suryanya kaan dibangun oleh perusahaan yang profesional. Kami hanya meneliti.


Ganding tidak sepenuhnya bohong karena mereka memang akan membantu membangun listrik itu dengan dana perusahaan, sekalian untuk company profile yang bisa dijadikan materi untuk investor. Karena perusahaan yang mereka pimpin salah satunya adalah penemu teknologi listrik tenaga surya dengan dana yang kecil. Jadi, satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


“Oh begitu, baik kalau begitu kita ke rumah kalian menginap ya.” Pak Bagus mengajak mereka ke tempat tinggal sementara mereka ke sini.


“Jauh Pak?” Tanya Aditia.


“Nggak kok, jalan kaki paling sepuluh menit.” Pak Bagus menjawab sambil terus berjalan.


“Baik kalau begitu Pak,” Aditia berkata.


“Tadinya warga mau kasih kalian rumah kosong di tengah desa, tapi saya nggak tega.”


“Kenapa Pak?” Ganding penasaran.


“Ya biasalah De, namanya rumah kosong, ada aja penunggunya, penunggunya itu iseng, suka ganggu. Saya nggak mau kalian tidak betah di sana, karena kan kalian akan membantu kami membangun listrik di sini. Masa saya kasih rumah angker.”


“Itu aja Pak!” Semua berbarengan berkata dengan kata yang sama.


“Maksudnya?” Pak Bagus bingung.


“Rumah itu besar nggak?” Hartino mencoba untuk memberi alasan yang logis.


“Iya besar sekali, cuma kosong.”


“Nah itu aja Pak, biar kami punya ruang yang besar untuk berkerja, kalau numpang rumah warga takut ganggu.” Hartino masuk pada situasi yang tepat.


“Oh begitu, tapi itu serem loh tempatnya, angker. Kalian nggak akan tahan.”


“Kami ini memang suka yang angker-angker Pak, kebetulan saya novelis, jadi sekalian buat bahan, Temen-temen saya ini juga nggak percaya setan Pak, mereka nggak akan takut.” Alisha yang kali ini ambil bagian.


“Oh begitu, kalian yakin? Di rumah itu bukan setan biasa seperti pocong atau kuntilanak loh.”


“Loh memang ada setan luar biasa, Pak?” Hartino meledek seperti anak kota yang arogan, padahal mereka tahu itu perkataan yang sombong, tapi untuk menghayati peran saja.


“Ya, rumah itu tidak pernah ditinggali sejak puluhan tahu lalu, rumah itu bukan rumah sembarangan orang.”


“Lalu itu rumah orang sespesial apa sih Pak?” tanya Hartino lagi.


“Itu rumah bekas dukun yang anaknya dulu dibakar karena dianggap anak sial ....”


“Itu aja!” enam orang itu berteriak berbarengan lagi.


“Yasudah kalau kalian tidak takut mah, tapi kalau nanti nggak betah, kalian bilang aja, saya akan tetap minta tetangga kami siapkan rumah lain ya.”

__ADS_1


Lalu mereka menuju rumah kosong ini.


Hari ini adalah perdana Alisha ikut dalam kasus, apakah Alisha berguna? Menurut kalian?


__ADS_2