
“Aku mau pipis.” Seorang istri berkata pada suaminya, mereka pasangan yang belum dikaruniai anak. Pernikahan juga baru berjalan selama satu tahun, masih punya banyak waktu untuk memadu kasih.
“Yasudah ayo aku temani.” Mereka berdua tidak tinggal di pedesaan, tapi di kawasan yang cukup kumuh, air ada, tapi kadang kering. Jadinya, harus mengambil air di sumur jika malam tiba. Karena di waktu itulah, air kerap kali kering.
“Yah Mas, airnya abis, nggak keluar dari kran.” Kamar mandi ala kadar mereka sudah tidak ada air lagi, hanya ada ember sedang untuk menampung air dan itu habis, tadi tidak sempat mengisi.
“Kita ambil di sumur belakang itu ya.” Suaminya berinisiatif.
“Tapi, kan ....”
“Ini darurat Asri, ambil sedikit aja, biar kamu bisa pipis.”
“Aku tahan sajalah Mas, besok pagi saja kita menumpang ke mushala buang air kecilnya.”
“Jangan, nanti kamu sakit.” Suaminya bergegas mengambil ember mereka yang lebih kecil lagi, lalu pergi ke sumur yang mereka maksud, berada di belakang rumah, di antara banyak rumah lainnya.
Sumur itu memang dari dulu adalah sumber mata air warga, dipakai bersama, pembangunannya juga dilakukan bersama.
Tiba sampai ....
“Mas, kau yakin? Ini sudah larut dan sumur itu ....”
“Dek, udah jangan mikir yang aneh-aneh, kita punten-punten aja, kan ini juga nggak niat jahat.” Suaminya berusaha menenangkan diri.
“Ya, kita nggak niat jahat, tapi sumur itu ....”
Suaminya tidak mau mendengar, dia terus saja jalan dan ketika sudah dekat sumur, dia mulai menimba.
Ada tali yang terbuat dari karet ban sebagai tali timbanya, dengan ember kecil sebagai penampung air yang di timba dari dalam sumur, lalu tali timba itu akan ditarik dan membuat ember itu naik membawa air dari dalam sumur.
Perlahan ember naik, inci demi inci, hingga tiba saatnya ember timba itu bisa diraih, suaminya mengambil ember itu, lalu menuang air yang ada di ember timba, ke ember yang dia bawa. Aman, istrinya terlihat lega.
Suaminya lalu mengulang lagi menimba dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, karena untuk memenuhi ember yang mereka bawa, harus menimba sebanyak dua sampai tiga kali.
Ember timba perlahan naik lagi, lalu ketika ember itu mulai sudah bisa digapai, si suami mengambil ember itu tanpa melihat ke dalam sumur, dia melakukannya terburu-buru, walau bersikeras mengambil air di sumur ini, sebenarnya dalam hati, dia juga takut.
Tepat saat dia menggapai ember itu dan menarik embernya ke atas untuk menuang air, dia merasakan ada yang aneh.
Kenapa ember itu tidak terasa keras, tapi terasa sangat lembek dan aneh, ember itu terasa seperti ... helaian rambut istrinya jika sedang dia belai.
Lalu dengan perasaan yang was-was, dia menoleh pada ember timba yang masih berada di dalam sumur, ember itu sebenarnya tinggal diangkat untuk dituang, tapi karena rasanya berbeda, suaminya berhenti menarik embernya, dia ingin melihat apa yang dia pegang sebenarnya, kenapa tidak seperti permukaan ember.
Saat dia melihat ke dalam sumur, ada suara aneh yang membuat suaminya langsung melempar apa yang dia pegang kembali ke dalam sumur, suara itu berkata ... “Sakit Mas ... sakit ....”
Suami istri itu melihat dengan jelas, bahwa yang dipegang suaminya adalah kepala, kepala seorang wanita yang tubuhnya menjuntai ke dalam sumur, tubuh itu menggantung pada tangan suaminya, mereka kontan lari bahkan meninggalkan ember yang sudah setengah terisi.
Suaminya menarik tangan istrinya agar mereka berdua cepat pergi, si istri berlari dengan terpaksa tanpa bisa menahan hajat yang sedari tadi dia tahan, tak terasa, dia buang air kecil dalam keadaan berlari, hingga pakaiannya basah.
...
“Kasus berikutnya adalah sumur Kak, kita harus ke sana, karan sumur itu cukup mengganggu warga.” Hartino mengingatkan kalau kasus yang dia dan Lais gulirkan sempat tertunda karena kasus Margayu.
__ADS_1
“Ya, kita akan tangani kasus itu, petakan dulu masalahnya.” Alka meminta Hartino mengulang penjelasan yang sebelumnya dia ceritakan.
“Kasus ini tentang sumur yang airnya suka berubah warna menjadi merah, jika kita cium baunya, air itu berbau amis, persis seperti darah, makanya sumur itu tidak digunakan lagi sebagai sumber mata air, beruntung mata ari dibangun pemerintah di tempat itu, walau memang kadang ada jam di mana air tidak keluar.”
“Baiklah, apa mitos yang kalian dapatkan dari sumur itu? kau tahu, kan, kalau mitos bisa menjadi pedoman kita.” Aditia bertanya.
“Gini Dit, jadi katanya, dulu itu di sana ada terjadi pelecehan dan penghilangan nyawa pada seorang perempuan, lalu katanya, tubuh perempuan itu dibuang ke sumur agar tidak ada yang tahu kalau dia mati, tapi akhirnya ketahuan karena orang tua gadis yang hilang, mencari anaknya dan ada seorang warga yang menemukan sepatu gadis itu saat menimba sumur. Makanya ditarik kesimpulan bahwa, gadis itu dibuang ke sumur itu.”
“Lalu mayatnya diambil dari sumur itu, Har?” Aditia bertanya lagi.
“Tidak, mayatnya tidak pernah diketemukan.”
“Berarit ada informasi yang harus kita dapatkan, karena tidak mungkin mayat itu hilang seketika atau menjadi larut dalam air dalam hitungan hari, butuh waktu sekitar tujuh sampai sepuluh tahun agar tubuh sepenuhnya habis dimakan waktu, walau itu adalah air, seharusnya tubuh malah mengambang dan menjadi bengkak.” Aditia mengemukakan asumsinya.
“Ya, makanya, selain mitos, kita juga harus tahu soal ... kutukan, ilmu hitam, santet, pelet dan yang lainnya.” Alka kali ini yang berkata.
“Kalau begitu, kita backpakeran lagi dong?” Ganding bersemangat.
“Ya, kita harus di desa itu untuk beberapa waktu, siapkan semua peralatan yang kalian butuhkan ya.” Alka mengingatkan.
Lima sekawan dan Lais bersiap mereka harus membawa pakaian, lalu membawa makanan, kitab yang dibutuhkan dan tentu saja, catatan bapak.
Mereka mampir ke markas untuk mengambil kitab dan beberapa botol kaca, jaga-jaga kalau di sana butuh penjara sementara untuk jin.
“Kak, apakah kau baik-baik saja?” Ganding bertanya, posisi mereka berdua berbeda ruangan dengan Aditia dan yang lain, makanya Ganding berani bertanya.
“Aku memang harus kenapa?” Alka bertanya.
“Menyakitkan, aku sulit tidur akhir-akhir ini, makanya aku sering mengunjungi Aditia dibalik dinding, hanya sekedar mencium wanginya.”
“Kak ... apa kita tidak membuat lanjo itu hilang sepenuhnya? Ritual?”
“Kau tahu kan, aku harus melakukan ritual itu dan terapinya selama berbulan-bulan, tidak mudah juga mengumpulkan para tetua untuk membantuku, aku tidak bisa meninggalkan kalian terlalu lama, seminggu aku tinggalkan kemarin saja, kalian babak belur, aku tidak mau mengulang kesalahan.” Alka memberi alasan.
“Tapi kak, kita bisa berhenti menangani kasus dulu jika memang kau ingin sembuhkan lanjonya.”
“Tidak, aku bisa mengatasinya.”
Ganding menatap Alka, dia tahu, ini semua pasti alasan, karena Alka sebenarnya mungkin enggan untuk melepaskan lanjonya, lanjo itu memang tinggal setengah, tapi efeknya masih sangat fatal, apalagi jika Aditia terluka.
Tapi Ganding bisa apa, Alka adalah pemimpinnya, tidak bisa dipaksa.
Ada keributan dari luar, entah apa, Ganding dan Alka menghampiri tempat di mana yang lain berada karena keributan itu.
“Ada apa?” Alka bertanya dan menghampiri mereka.
“Lais Kak.” Jarni menunjuk Lais yang sedang dipangku Hartino. Dia tiba-tiba pingsan.
“Sini aku gendong.” Alka menggendong Lais di punggung dan membawanya ke salah satu kamar di markas itu. Dia meminta semua orang untuk menunggu di luar, mereka patuh, kecuali Hartino, dia memaksa ingin ikut masuk.
“Kau tunggu di sini, dia saudariku, jadi biar aku yang menanganinya.”
__ADS_1
“Tapi aku bisa membantu Kak.” Hartino memaksa.
“Tidak bisa, mungkin aku perlu memeriksa tubuhnya dan melepas pakaiannya, jadi aku mohon padamu, tunggu di luar.” Alka membuat alasan yang jitu.
Hartino tidak dapat berkutik lagi, Alka menutup pintu lalu membaringkan Laid di tempat tidur.
Alka menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Lais mulai sadar, wajahnya pucat.
“Kau kenapa?” Alka bertanya.
“Entah, mungkin tidak enak badan saja.” Alisha membuat alasan.
“Tidak aenak badan? Seorang wanita yang ditumpangi jin dengan umur dan kemampuan yang tinggi, tidak mungkin tidak enak badan saja!” Alka kesal.
“Aku baik-baik saja, tubuhku mungkin tidak terlalu kuat menahan jin yang bersarang ini, makanya terkadang tubuhku menolak.”
Alka menerima alasan itu karena memang terkadang hal itu bisa saja terjadi.
“Alisha, aku takut kalau mantra yang kita sepakati bersama sehingga wajahmu terlihat mirip denganku, juga membebani tubuhmu, bagaimana kalau kau istirahat dulu, maksudku absen dari kasus sumur ini?” Alka memberi ide.
“Tidak! kau gila, aku sedang dekat-dekatnya dengan Hartino, aku tidak mau kehilangan momen.” Alisha menolak mentah-mentah.
“Tapi kesehatanmu lebih penting, kau akan membuat kasus ini berlarut jika sakit lagi.”
“Aku mohon Alka, aku tidak ingin pergi dari kawanan ini, aku sangat suka berada di sini, aku mohon.” Alisha menggunakan kata yang lembut dan perasaan yang mendalam, dia tahu tidak mungkin bertarung dan memaksa Alka untuk mengikuti maunya. Alka lemah dengan kata lembut dan permohonan, apalagi orang yang mulai dia percaya dan sayangi. Lais telah mengambil hati kawanan dengan jerih payahnya.
“Baiklah, tapi kau harus patuh padaku, ketika aku bilang istirahat, kau harus istirahat, atau kau akan aku pulangkan dan aku patahkan matra itu, mengerti!” Alka mengancam.
“Terima kasih Kakak.” Alisha tumben memanggil Alka dengan sebutan kakak, dia juga bergelayut di tangan Alka, jika seperti ini mereka berdua, persis seperti sepupu, atau adik kakak malah.
Alka keluar dan menemui yang lain.
“Lais baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat, kau tahu, jin dalam tubuhnya terlalu tinggi ilmunya, makanya kadang Lais harus mengistirahatkan tubuh agar bisa menyeimbangkan khodam yang dia miliki.” Alka mengarang.
“Aku ingin melihat dia, bolehkah?” Hartino memelas.
“Lihat sana, tapi jangan lama-lama.” Alka memperingati.
Hartino masuk, saat dia masuk dia melihat Lais berbaring tapi tidak tidur, yang lain tidak ikut masuk dan kembali mempersiapkan yang mereka butuhkan untuk ke tempat sumur itu berada.
“Aku baik-baik saja kok, Har. Kau tidak perlu khawatir.” Lais mencoba terlihat sehat.
“Kalau kau merasa lemah, kau harus bilang, aku tahu bahwa ilmu yang kau miliki mungkin lebih tinggi dariku, kau bahkan lebih kuat dariku, tapi tidak ada salahnya kau mengatakan saat kau lelah, Lais.” Hartino duduk di ranjang di mana Lais tertidur.
“Ya, Har ....” Lais berkata tapi tertahan, membuat Hartino penasaran.
“Ada apa?” Hartino bertanya.
“Jangan terlalu perhatian, nanti aku salah sangka.” Lais mengatakannya dengan wajah menghadap Hartino.
“Kau ini, lagi serius malah bercanda.” Hartino kesal.
__ADS_1
Lais tertawa, mereka berdua lalu sama-sama tertawa, momen yang dari dulu Lais ingin lakukan, tertawa dengan bebas, tanpa sedikitpun kebohongan yang Hartino lakukan, sekarang semua hal yang ingin Lais tahu tentang kekasih jiwanya itu, sudah dia ketahui, maka jika dia harus pergi dari dunia ini pun, dia sudah siap.