
Semua orang berkumpul, mereka menunggu Aka pulang dari rumah ibunya Lani, tapi tidak kunjung tiba, akhirnya mereka sadar, bahwa ada yang salah.
Setelah berpamitan dengan keluarga Ranti, mereka berkumpul di guar, sementara Ranti masih belum bangun, tapi sekujur tubuhnya mulai kembali normal, tidak ada lagi luka lepuh.
Papanya Imran bermasksud memberi uang, tapi langsung ditolak oleh Hartino, mereka menolong mursni karena memang sudah menjadi tugas mereka untuk membantu, berkah yang Allah SWT berikan harus digunakan untuk yang membutuhkan.
"Aku yakin Kak Alka pasti sudah dibawa oleh punggawa Ayi Mahogra, kesalahan yang dia lakukan fatal." Jarni berkata, gua terasa sepi tanpa Alka.
"Peraturan itu baru ada setelah Ayi Mahogra memimpin, fatal memang, tapi alasannya bisa jadi pembelaan." Ganding berkata.
"Kalau begitu kita harus ke sana, ke Akademi Kharisma Jagat, kita harus ada bersamanya." Aditia kali ini yang meminta mereka untuk pergi ke sana.
"Kita tidak bisa datang kalau tidak diundang." Hartino menjawab.
"Aku bisa, karena aku Keturunan Kharisma Jagat, aku akan membawa kalian ke sana."
"Tapi ...."
"Kenapa kalian ragu?" Aditia kesal.
"Ayi Mahogra itu, sangat menakutkan." Hartino menjawab yang terlihat setuju.
"Apa! Apa kalian gila, apakah Alka akan diam saja ketika salah satu dari kalian dalam bahaya, kenapa kalian sekarang malah ingin menyerah?"
"Kau berani dengan Ayi?" Hartino bertanya hati-hati.
"Memang apa yag harus ditakutkan? Ayi orang baik, dia tidak akan berbuat semena-mena.
"Maka dari itu kami memilih percaya, Kak Alka tidak akan dalam bahaya, kita harus menerima hukuman ini dengan tenang." Ganding mencoba berdiskusi.
"Jadi maksudnya, kalian akan membiarkan Alka menerima hukuman ini?"
"Itu memang salah Dit." Ganding mengingatkan.
"Tapi aku heran, kenapa kalian tetap tenang walau Alka ke sana sendirian?"
"Karena Kak Alka tidak dalam bahaya, dia hanya harus menerima hukumannya saja, saat dia berbuat kesalahan itu, dia pasti sudah tau konsekuensinya. Sebelum melakukan itu, kak Alka berpesan agar kami tetap tenang apapun yang dia lakukan, jangan melakukan apapun tanpa perintahnya, kalau kita ke sana, kita akan dianggap pembelot karena tidak mau menerima hukuman itu, saat ini, hakim dari perghaiban adalah Ayi Mahogra, kita hanya butiran debu jika harus melawannya, Dit!"
"Nding! Ayi Mahogra tidak sejahat itu, dia baik, dia itu bijaksana, kita hanya harus memberitahunya kalau kesalahan Alka adalah untuk membantu orang."
"Bagimu Ayi Mahogra tidak menakutkan karena kau keluarganya, kau berada di tingkat yang sama dengan Ayi, sehingga kalian sejajar, sedang kami, Kharisma Jagat saja bukan, menatap matanya sungguh membuatku ngeri, apalagi saat dia berjalan, pasukan berselendang hijau sungguh menakutkanku, derap kaki mereka, wajah-wajah kosong dan dingin itu."
"Nding, kau melihatnya dalam keadaan marah, jadi wajah jikau melihatnya semenakutkan itu, padahal mah, dia sangat lembut dan tulus."
"Terserah Dit, kalau aku hanya akan menuruti apa yang kak Alka bilang, kami akan tetap tenang dan menunggu Kak Alka menyelesaikan hukumannya, terserah denganmu." Ganding menarik Jarni, lau Hartino pun ikut keluar dari gua itu.
Aditia heran, kenapa mereka bisa secuek itu dengan keadaan Alka, tidak habis fikir dia.
Aditia memutuskan untuk datang ke Akademi Kharisma Jagat sendirian, saat sudah sampai di pinggir hutan dengan angkotnya, dia memberi sinyal pada pengawal kedatangannya, tidak berapa lama seorang datang untuk menjemput, hanya Kharisma Jagat yang bisa memanggil pengawal tempat itu, tentu dengan tingkatan tertinggi saja yang bisa membuat pengawal menjemputnya.
Setelah sampai di depan gerbangnya, Aditia bertanya.
"Apakah Saba Alkamah ada di sini?"
"Oh anak yang melakukan kesalahan level tinggi itu? Ada, sidangnya sedang berlangsung."
"Apakah aku bisa datang ke persidangan itu?"
__ADS_1
"Bisa, persidangan terbuka, hanya saja yang disidangkan anak terampuni itu, semoga dia selamat juga kali ini."
Adiitia tidak heran dengan perkataan itu, maksudnya mungkin Ayi memaafkan Alka dulu terkait dengan tewasnya Pramudya Aksara, orang kepercayaan Ayi sekaligus yang sangat mencintainya.
Aditia berjalan menuju tempat persidangan, sidang itu diadakan di aula besar Akademi ini, Aditia masuk, ternyata banyak yang datang, Alka sedang duduk menghadap ke depan, sementara Ayi Mahogra belum datang.
"Alka!" Aditia berteriak, Alka melihatnya, wajah Alka langsung pucat saat melihat Aditia.
Dia mengibas tangannya, bermaksud meminta Aditia pergi, saat itu bertepatan dengan pintu depan tempat Ayi masuk terbuka, Alka panik seketika dia langsung duduk bersimpuh dan menaruh wajahnya di lantai, hal ini dilakukan agar Ayi Mahogra tidak melihat wajahnya, Aditia melihat Alka begitu ketakutan, seorang gadis pemberani yang luas pengetahuannya, seperti seorang anak kecil tak berdaya di hadapan Ayi Mahogra.
Ayi duduk di bangku Hakim, Alka tetap membenamkan wajahnya di lantai dengan kaki terlipat, posis duduk.
Ayi terlihat pucat sekali, semua orang menunduk sejenak, lalu Ayi memerintahkan berdoa dulu sebelum persidangan dimulai, Alka juga ikut berdoa wajahnya masih ke lantai.
Setelah berdoa selesai, Ayi membuka persidangan dengan meminta Penasehatnya membacakan dakwaan, mungkin bisa dibilang Penasehat tersebut adalah Jaksa Penuntut dalam sebuah persidangan.
"Saba Alkamah Binti Darhayusamang, menggendam anak berumur tiga tahun dalam waktu dua jam, mencuiik paksa anak itu dari walinya." Jaksa membacakan garis besar tuntutannya.
"Baik, katakan apa yang menjadi alasanmu." Ayi memerintah Alka menjawab, Alka tidak mengangkat wajahnya sedikitpun, Aditia juga melihat betapa gemetarnya Alka. Aditia masih tidak tahu kenapa begitu menakutkannya Ayi di mata mereka.
"Aku melakukan kesalahan, aku berhak menerima hukuman." Alka hanya menjawab singkat.
"Kau tahu hukumannya kan?"
"Tahu Ayi."
"Baiklah, senjata pusakamu akan aku disita, kemampuanmu akan disegel selama satu tahun, persidangan ini selesai, masa hukuman ...."
"Aku keberatan Ayi!" Aditia tiba-tiba berteriak, semua orang yang mendengar itu langsung mengeluarkan senjatanya.
"Maaf ayi, aku harus mengemukakan pendapat karena sidang ini tidak adil."
Raungan bergemuruh, semua orang benar-benar marah, mereka tidak perduli Adiitia siapa, mereka hanya ingin menghabisinya, Ayi terlihat lemah sekali, dia tidak mau berteriak lagi, jadi Panglima dan Pangeran akhirnya menghalau semua orang yang hendak menyerang Aditia.
Setelah keadaan tenang, Ayi berkata, "Saba Alkamah, bicara pada Aditia sekarang."
Alka bangun, tapi dia masih menunduk tidak menunjukan wajahnya, setelah berdiri sempurna, dia langsung membelakangi Ayi agar Ayi tidak melihat wajahnya.
Alka berlari ke Aditia, dia tidak berani menginterupsi Ayi, makanya sebelumnya hanya diam saja.
"Dit! Kamu keterlaluan! Kau seharusnya nggak datang ke sini, bukankah sudah aku katakan pada yang lain agar tetap tenang, aku akan pulang setelah menerima hukuman."
"Kenapa kau tidak membela diri Alka? Seharusnya kau membela diri dan memberitahu Ayi apa yang sebenarnya terjadi." Aditia protes karena Alka hanya pasrah saja.
"Kau fikir Ayi tidak tahu soal itu? Kau fikir hukuman ini sepadan? Yang dia berikan itu sangat ringan, karena Ayi telah mempertimbangkannya dengan baik dan adil, karena Ayi sudah mempertimbangkan apa yang telah aku lakukan karena untuk mnlong orang."
"Aku tidak bisa menerima ini semua Alka! Aku hanya ingin persidangan ini adil." Aditia masih tidak mau menerima.
"Saba Alkamah, sekarang kau harus mengikuti ritual penyerahan pusakamu dan penyegelan." Seorang pengawal sudah ada di belakang mereka. Aditia menarik Alka, tapi tentu kalah, karena dia juga di tahan oleh eorang pengawal, Aditia hendak melawan tapi lemas, dari kejauhan Ayi ternyata membuat Aditia tidak mampu menggunakan kekuatannya di sini, dengan lemah mereka berdua terpisah, Alka harus mengikuti pengawal untuk ritual pelepasan benda pusaka dan juga penyegelan kekuatan selama satu tahun.
Sementara Aditia dibawa ke suatu ruangan, seperti biasa, sudah ada Ayi di sana, Aditia menatap Ayi dengan tatapan marah, Ayi duduk meminum kopi pahitnya dengan wajah masih pucat, dia semakin terlihat lemah, tapi tentu kekuatannya tetap tidak tertandingi.
"Adit marah ke Ayi?" Ayi Mahogra begtu lembut pada keluarganya, dia memang sudah menganggap Aditia seperti Aam, adiknya yang harus selalu diperhatikan.
"Ayi, Alka melakukan itu untuk menolong ibu Ranti yang kesurupan, seharusnya kau memaafkan dia."
"Adit, ada seeorang yang mencuri barang berharga di tempat ini, aku sudah menyeidikinya, ternyata dia adalah pegawai kami, setelah diinvestigasi, ternyata dia melakukan itu karnea anaknya sedang butuh uang untuk kuliahnya, cara tercepat untuk mendapatkan uang adalah dengan cara mencuri." Aditia mendengar dengan seksama.
__ADS_1
"Haruskah aku memaafkan dan melepaskannya?" Ayi bertanya.
"Tidak, kau haus menghukumnya,seharusnya dia bisa memilih jalan lan, misal bekerja lebih keras, lembur atau berbicara pada Ayi sebagai orang yang memiliki otoritas lebih tinggi, dia harus dihukum agar nanti orang lain juga tidak meniru jalur pintas itu ...." Aditia mulai paham apa yang Ayi maksudkan dengan semua perkataannya ini.
"Tapi kan, itu untuk anaknya, untuk kuliah anaknya. Sama seperti Alka, untuk menolong Ibu Ranti, haruskah aku meamaafkannya dan melepas begitu saja?"
"Tapi Ayi, ini soal hidup dan mati."
"Hidup siapa dan mati siapa yang diatur oleh seorang Saba Alkamah dan Aditia?"
"Buka begitu Ayi, memang hidup dan mati milih Tuhan tapi Alka berusaha sangat keras untuk menolong."
"Dit kalau memang takdirnya Ranti mati, maka tidak ada satupun yang mampu menunda apalagi membatalkannya, begitupun dengan hidupnya, dia akan sehat walaupun seluruh tubuhnya sudah gosong."
Ayi mendekati Aditia dan memberinya kopi yang dia racik sendiri.
"Kau tahu Dit, kenapa Ayi membuat hukum gendam bagi bayi adalah kejahatan tingkat tinggi? Selevel dengan pembunuhan pada manusia biasa?"
"Tidak." Aditia mulai terbuka.
"Karena ini adalah apa yang Ayi, Kak Malik dan Pram mimpikan, kami berhasil membuat kejahatan pada bayi-bayi Kharisma Jagat yang menikah dengan orang biasa itu berhenti, kau tahu kan, bagaimana dulu para bayi dan calon bayi itu dihabisi tanpa ampun oleh para Tetua karena mereka ingin melanggengkan pernikahan adat dan memegang kekuasaan dengan otoriter, pernikahan dan bisnis mereka kendalikan dengan cara barbar, bahakn seorang Ayi Mahogra saja mereka ingin taklukan, Ayi yang secara alami adalah seorang ratu dari Kharisma Jagat, selain itu, cara mereka memperlakukan bayi-bayi hasil pernikahan bukan jodoh adat itu sangat buruk dan hina
Mereka membunuh, menyiksa dan bahkan menghilangkan janin, bayi-bayi malang itu sungguh tidak berdosa."
"Tapi Alka tidak melakukan itu untuk menyiksa anaknya Lani."
"Kau fikir aku tidak tahu? Hukuman yang seharusnay Alka terima adalah, pencabutan ilmu, tapi aku hanya menyegelnya selama setahun dan menyita benda pusakanya. Itu hukuman yang cukup ringan bagi ekjahatan level tertinggi. Dampak gendam bagi bayi juga sangat buruk, anak itu isa saja mengalami proses hilang akal karena otak mudanya dibajak oleh Alka, walau dampak itu tidak langsung terlihat, apapun alsannya, memberi gendam pada bayi itu adalah hal yang sangat buruk dan hina."
Aditia kaget begitu mendengar efek gendam bagi bayi, tapi dai tahu, kalau Alka pasti sudah mempertimbangkannya dan tidak akan membairkan bayi itu sakit.
"Ayi, maafkan Adit ya, kami akan menerima hukuman itu dengan ikhlas."
"Tenang saja, berempat juga masih cukup kok untuk kasus-kasus harian kalian, Alka akan tetap mendampingi mendidik kalian, walau kekuatannya tersegel, anggap saja kalau ini media untuk latihan ya, pasti tanpa kekuatan Alka kalian akan lebih kerja keras untuk melewati batasan."
"Maksud Ayi?"
"Kau ini mirip sekali dengan Malik, cintamu sangat buta, melihatmu mengingatkanku padanya, rindu sekali aku dengan lelaki itu."
"Kak Malik kemana?"
"Sedang melakukan tugas seorang ayah."
"Ayi, maafkan Adit ya, tadi Adit sudah kasar dengan berteriak pada Ayi."
"Itulah keluarga Adit, salah itu manusiawi, memaafkan adalah cara keluarga untuk perduli."
"Iya Ayi, semoga kami semakin kuat dalam menghadapi setiapnkasus selama setahun ini."
Setelah itu Aditia menunggu Alka menyelesaikan ritual hukuman itu.
______________________________
Catatan Penulis :
Jangan lupa Vote, kalau yang bingung Ayi Mahogra itu siapa, cuss baca novelku yang udah tamat ya, judulnya KARUHUN, supaya tahu siapa Ayi Mahogra.
Terima Kasih.
__ADS_1