Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 50 : Janggit Benthangan 5


__ADS_3

Empat kawan terpisah, semua memiliki medan masing-masing, pada tahap ini, tentu sudah masuk ke dimensi yang berbeda, bukan hutan yang terdapat di jalan tol lagi, tapi kerajaan jin yang telah mereka datangi.


“Punten, saya hanya ingin membantu, saya tidak ada maksud yang lain.” Aditia berkata pada sosok yang telah menyerupai Alka.


“Kalian yang merusak daerah kami, tapi kalian juga yang bilang akan melakukan kebaikan dengan menerobos.” Kali ini sesosok yang menyerupai Alka telah berubah wujud menjadi lelaki tua yang berpakaian cukup berbeda dari manusia pada umumnya.


“Punten saya Aditia, saya minta maaf kalau bangsa kami melakukan hal yang mengganggu daerah kalian, tapi seperti kalian, kami ada yang jahat ada juga yang baik.” Aditia berusaha menjelaskan.


“Banyak bicara kau!” Lelaki itu mengeluarkan tombak dari tangannya dan bermaksud menyerang Aditia.


Dengan sigap Aditia mengeluarkan keris kecilnya, saat keris itu keluar, tiba-tiba lelaki tua itu berhenti.


“Kasep?” Lelaki itu bertanya.


Aditia juga jadi tidak menyerang, “Kata ‘mereka’ begitulah panggilanku.”


“Kau anak Mulyana?”


“Betul.” Ternyata jin lelaki tua ini mengenal ayahnya Aditia.


“Seharusnya kau dari tadi bilang, ada apa kalian kemari?” Tiba-tiba lelaki tua itu berubah menjadi ramah, wujudnya juga menjadi lebih baik, wajah tua yang sangat teduh.


“Mohon maaf, saya boleh tau nama anda?”


“Tidak perlu, yang perlu kau tahu, saya adalah kenalan ayahmu.”


“Bagaimana Mbah mengenal ayah saya?”


“Kau pernah dengar perjanjian antara manusia dengan jin tentang jalan tol yang mereka bangun dengan menembus gunung?” Jin tua itu bertanya.


“Pernah dengar, baru-baru ini.”


“Perjanjian tersebut ditulis pada Kitab Prasamaya, kitab tersebut dikunci dengan darah jin dan manusia, dengan begitu dunia kita tidak diijinkan saling bertubrukan, tapi harus jalan beriringan, artinya kita berdua harus saling tidak mengganggu wilayah satu sama lain.”


“Ya, saya juga dengar tentang hal itu, baru-baru ini.”


“Ayahmu salah satu pemegang kitab tersebut, di Negeri ini ada lima kitab yang tersebar, salah satunya dipegang olehnya, apakah kau tidak tahu hal itu?”


“Tidak Mbah, bahkan saya baru tahu soal ini dari Alka baru-baru ini.”


“Alka? Saba Alkamah? Anak haram jin dan manusia?” jin tua itu cukup menyinggung, tapi Aditia berusaha sabar, karena dia ada di wilayah jin, jadi harus tetap santun.


“Saba Alkamah.”


“Pasti ada alasannya kenapa dia tidak menurunkan kitab itu, karena seharusnay kitab itu harus dipegang oleh keturunan dari pemegang.”


“Ya, bahkan bukan hanya soal kitab, soal perjanjiannya saja saya tidak tahu, di buku catatan ghaibnya juga tidak pernah dia bahas sama sekali.” Aditia juga merasa aneh, sepertinya ada sesuatu yang salah dari kitab itu, karena ayahnya ternyata menyembunyikan hal tersebut.


“Baiklah, sekarang katakan, apakah kau terlibat dengan tubuh yang dikubur di tempat ini lagi?” Jin tua itu bertanya.


“Tidak, kami tidak terlibat, tapi kami justru ingin membantu arwah yang kehilangan tubuhnya tersebut untuk kembali pulang kepada Tuhan, tapi tubuh itu harus diketemukan dulu.”


“Baik, kemarin sempat gempar, Raja marah besar karena bau dari tubuh itu mengotori udara kami, ditambah dia berkeliling mencari tubuhnya, sungguh menganggu.”


“Berarti dia juga mengganggu wilayah kalian?”


“Ya, aku ditugaskan mencari arwah itu dan mengurungnya, tapi kalau kalian beruntung dan bisa menemukan tubuhnya serta membawanya pergi, itu lebih baik.”


“Betul, bantu kami Mbah.”

__ADS_1


“Kau ini seperti ayahmu, suka menyusahkan kami.” Jin tua itu tertawa terbahak-bahak, ketawanya tetap membuat Aditia merinding, karena jelas, kekuatan mereka sangat timpang jauh.


“Tapi Mbah, kalau dia sempat mengganggu dunia jin, kenapa dia juga bisa mengganggu dunia manusia, karena sudah ada korban kecelakaan karena gangguannya.”


“Ya, bisa saja, pada saat itu, ketika mereka membelah gunung kami untuk dijadikan jalan tol, Raja marah, sangat marah. Tapi para Tetua manusia menenangkan, mereka bilang bahwa wilayah tersebut memang hak manusia, maka Raja Jin akhirnya memaafkan dan melupakan kerusakan yang bangsa kalian lakukan, tapi ketika akhirnya kami terserang ratusan bahkan ribuan arwah penasaran yang berkeliaran dengan bau busuk di daerah kami, Raja jin marah, sungguh marah, karena kami tidak bisa menghalau serbuan para arwah yang berdatangan dengan tiba-tiba.


Kalian tidak tahukan, kalau bau arwah penasaran itu sangat busuk, kami tidka bisa makan dan minum dengan nyaman lagi, kami tersiksa dan sungguh terganggu.


Para Tetua manusia bilang bahwa pembangunan tol tersebut menelan banyak korban yang meninggal dan dikubur di sini juga, tanpa syariat yang benar, hingga mengotori tanah kami.


Raja jin kesal karena para Tetua manusia lepas tangan mereka tidak tahu harus berbuat apa, karena mungkin terdesak dengan para manusia aneh yang memiliki hidung sangat tinggi dan berambut emas itu.”


“Oh, maksudnya orang belanda?”


“Mungkin.” Jin tua yang hidup lama ini memang tidak memiliki pengetahuan tentang manusia yang cukup walau hidupnya lama, karena dia tidak pernah ingin masuk ke dimensi manusia.


“Maka untuk menyelesaikan masalah serangan arwah penasaran brutal itu, yang bahkan tidak sadar mereka telah meninggal dunia, Raja jin memutuskan untuk membuka pintu dua dunia.”


“Wah, itu pasti menyeramkan sekali.”


“Betul, aku sendiri yang menggiring para arwah brutal itu untuk keluar dari daerah kami dan bergentayangan di alam mereka hidup dulu, lalu aku menyaksikan, begitu banyak kejadian setelah jalan tol itu mulai digunakan. Kecelakaan karen ulah para arwah.


Raja jin mendengar itu sangat senang, dendamnya terbalaskan.”


“Tapi itu bukan kesalahan dari para manusia yang kecelakaan, itu salah rezim, karena korban banyak akibat perbudakan.” Aditia mencoba menjelaskan.


“Siapa yang perduli dengan urusan kalian, pokoknya kalau kalian mengganggu kami, maka kami akan membalas jauh lebih menyakitkan.”


“Punten Mbah, bisa dilanjutkan saja lagi ceritanya.”


“Lalu para Tetua akhirnya memohon pada Raja jin, mengingat korban semakin banyak, arwah gentanganyan semakin brutal karena massa mereka juga semakin bertambah akibat kecelakaan-kecalakaan tersebut, maka para Tetua akhirnya berfikir keras untuk menemukan jalan keluar yang aman bagi dua dunia.”


“Betul, kakek moyangmu salah satu Tetua tersebut, dia juga ikut menyusun kitab dua dunia itu, perjanjian-perjanjian yang diatur harus dipatuhi dua dunia, termasuk, tidak diperbolehkan lagi mengubur manusia di daerah kerajaan jin kami, yaitu sepanjang hutan di tol ini.”


“Wah, aku baru dengar soal ini.”


“Mungkin kau saja yang belum ingat, tidka mungkin sepertinya Mulyana lupa menceritakan ini.”


“Mungkin, Mbah.”


“Kitab Prasamaya itu, dikunci dengan darah manusia dan jin, ada sepuluh kitab yang dipegang masing-masih lima kitab oleh jin dan manusia, diturunkan setiap generasi agar tetap terjaga dengan baik, lalu jika sampai ada yang melanggar, mak kitab itu otomatis membuka dua dunia, kita sebut sebagai tabrakan dua dunia, itu yang membuat arwah itu dari yang menggangu daerah kami, jadi mengganggu kalian, karena menemukan pintu dimensi itu secara tidak sengaja.”


“Siapa yang mengubur wanita itu di sini?”


“Itu yang harus kalian cari tahu, pertama temukan dulu tubuhnya, aku akan ikut, karena akan sangat bahaya kalau kalian diketemukan oleh pasukan lain, karena perintah dari Raja adalah, Tebas untuk manusia asing.”


Aditia bergidik, tebas jika ada manusia asing, pantas saja tadi Mbah tidak ragu mengeluarkan tombaknya.


“Mbah, temen-temen saya gimana?”


“Saba Alkamah akan selamat, karena bau kami sedikit banyak sama, ada berapa manusia yang ikut? Apakah mereka punya khodam?”


“ada dua manusia, Jarni dan Ganding, mereka berdua punya khodam.”


“Itu lebih baik, paling tidak mereka pasti bisa bertarung.”


“Astaga, kukira mereka bisa selamat, tapi malah bisa bertarung, Mbah.”


“Kau fikir mudah penyusup masuk ke sini, kami menjaga gerbang pertahanan ini dengan sangat ketat. Yaudah ayo, aku takut mereka keburu mati, temukan dulu dua teman manusiamu, tidak perlu khawatir dengan Saba Alkamah.” Mbah langsung berlari, Aditia buru-buru mengikuti.

__ADS_1


[Dit! Dit!] Aditia mendengar seseorang memanggil, suaranya familiar, dia masih terus berlari sembari mencoba mendengar lagi.


[Dit, Dit!!!] Suara Alka ternyata, ini mungkin yang Ganding bilang, Alka mencoba menghubungi Aditia melalui komunikasi batin.


[Ka, ini kamu?} Aditia bertanya sembari masih berlari.


[Kamu dimana? Tubuhnya sudah ketemu.] Benar ternyata Alka.


[Aku sedang bersama si Mbah, kami akan mengejar Ganding dan Jarni, mereka mungkin dalam bahaya.]


[Fikirkan aku, sekarang!]


[Apa maksudmu?] Aditia bingung, dia tetap harus fokus mengejar Mbah, jalan ini sudah tidak semulus di dunia manusia, lebih banyak semak tinggi yang harus Aditia lewati.


[Fikirkan aku sekarang dan berharaplah aku ada di sana.]


[Baik.] walau Aditia bingun tapi dia melakukannya juga, sedetik kemudian Aditia hampir jatuh, karena tiba-tiba Alka muncul di sampingnya, dia ikut mengejar jin tua itu.


“Kok bisa?” Aditia bertanya sembari tetap berlari.


“Nanti saja jelaskannya, kita harus mengejar mereka dengan cepat, aku merasakan Jarni sedang dalam masalah, dia terus berusaha memanggilku.”


“Iya.” Mereka akhirnya mendengar seseorang berteriak dari jarak yang cukup dekat, sepertinya Ganding.


Saat sudah terlihat, ternyata benar Ganding, dia sedang jatuh tersungkur, dipukuli dua beberapa jin dengna pakaian yang mirip dengan si mbah.


“Berhenti!” si mbah buru-buru mendorong kumpulan jin itu, Ganding terlihat sangat lemah dan babak belur.


“Dia penyusup!” para jin masih marah.


“Bukan, mereka bawaannya Kasep, keturunan Mulyana si pembawa Kitab Prasamaya!”


Mereka mundur dan wajahnya tenang kembali tidak marah.


“Kami tidak tahu.” Salah satu jin yang tadi memukuli Ganding membantunya berdiri.


“Sakit tahu!” Ganding mengeluh.


“Sudah, jangan banyak cakap, kita temukan yang satu lagi!” si mbah berlari lagi, semua ikut, keduali Ganding, dia ditemani salah satu jin yang mencoba menolongnya.


Mereka  terus berlari, jin tua itu seperti berlari ke segala arah, tapi mereka tau bahwa jin tua itu hafal hutan ini.


Setelah berlari cukup lama, mereka masih saja tidak menemukan Jarni, jin tua akhirnya berhenti.


“Aneh, aku tidak bisa merasakan apapun di sini, sepertinya ....”


“Sudah dibawa ke Kerajaan!” salah satu jin berkata, jin tua menjadi pucat, wajahna yang sudah pucat menjadi semakin pucat.


“Kita semua harus menghadap Raja kalau begitu.” Jin tua itu melihat ke arah Alka dan Aditia.


“Yasudah, tapi, bolehkah Ganding dibawa ke rumah sakit dulu?” Alka memberi syarat.


“Ya, aku akan minta salah satu pengawal untuk mengeluarkan dia dari hutan ini, setelahnya dia harus mengatur sendiri siapa yang menjemputnya di pinggir tol.”


“Baik, itu masih bisa karena Ganding masih sadar.”


Lalu mereka semua kembali ke tempat Ganding dan memastikan dia akan keluar dari hutan dimensi lain ini dulu, baru keluar hutan pinggir tol.


Setelah memastikan Ganding baik-baik saja, mereka kembali ke jalan menuju kerajaan, Alka khawatir karena tahu, di sana tidak akan mudah, apalagi jika Jarni sudah ….

__ADS_1


__ADS_2