Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 357 : Kemala 6


__ADS_3

Ada begitu banyak ilmu yang tersebar di belahan bumi negeri ini, ilmu menjahit, masak, menanam dan ilmu sihir.


Semua dipelajari dengan baik oleh Rajima, termasuk ilmu sihir.


Jauh sebelum pinangan itu datang, ketika Rajima masih belia, dia sering main ke hutan, karena di suka menghapal tumbuhan dan belajar fungsinya dari alam, bisa dia coba memakan tumbuhan itu atau mencoba mengobati luka, beberapa berhasil, beberapa melukai dirinya sendiri.


Semakin hari Rajima semakin memperluas hutan yang dia jangkau, dia gadis pintar, tidak mau tersesat, makanya dia selalu menandai pohon-pohon yang dia lewati dengan menggores sekeliling pohon itu cukup dalam, agar terlihat dalam pikirannya, konon goresan di pohon itu masih ada sampai sekarang pada pohon-pohon yang masih berdiri tegak.


Semakin ke dalam, hutan semakin gelap, Rajima tak takut, karena semakin ke dalam, dia menemukan tumbuhan yang semakin bervariasi.


Saat sedang asyik memperhatikan tumbuhan, Rajima mendengar suara aneh. Suaranya memanggil namanya.


“Rajimaaaa ....” Suara yang lembut tapi cukup membuat merinding.


Rajima coba abaikan, tapi suara itu bahkan semakin dekat dan semakin terdengar.


Rajima hendak bergegas pergi karena takut, katanya memang hutan ini bukan hutan yang aman, ada demit yang suka mengganggu, tapi karena keingintahuannya pada tumbuhan lebih besar, makanya dia tetap saja nekat masuk hutan dan semakin dalam, karena selama ini tak pernah terjadi apapun padanya.


Rajima bergegas berjalan, makin berjalan, dia makin ketakutan, karena semua pohon terlihat bergoyang-goyang ke arah jalannya dia.


Rajima akhirnya berlari, tapi sayang dia tak memperhatikan arah larinya, sampai dia terjatuh dan tersadar, kalau dia bukannya keluar hutan, malah semakin masuk ke dalam, pohon-pohon rapat membuat sinar matahari sulit masuk.


Rajim melihat ke depan, sebuah gua. Gua itu terlihat sangat aneh, guanya berkilauan seperti terbuat dari emas, harusnya sebuah gua biasanya terbentuk dari bebatuan.


Dia takut tapi penasaran, maka dia bangun dan masuk ke dalam gua, kakinya melangkah perlahan dengan tubuh menyamping, maksudnya adalah, apabisa ternyata ada binatang atau demit di dalamnya, maka dia bisa langsung lari.


Semakin masuk, ternyata semakin terang di dalamnya, setelah berjalan sekian lama dia akhirnya menemukan sebuah pintu yang sama sangat berkilauan, terbuat dari emas yang sangat tebal, dengan ragu dan sungkan Rajima mengetuk pintu itu tiga kali.


Pintu terbuka, benarlah dugaan Rajima bahwa pintu emas ini sangat tebal.


Begitu masuk, dia melihat ada seorang wanita duduk di singgasana, lagi-lagi terbuat dari emas, wanita itu memakai pakaian adat sunda, pakaian yang biasa dikenakan oleh pengantin wanita, kebaya berwarna hitam, berbulu dan memiliki hiasan emas di beberapa bagian, kain jarik sebagai rok yang sangat berkilauan tidak seperti yang Rajima lihat pada pernikahan di kampungnya, kain jarik yang sangat indah.


Rambut wanita ini di konde dengan konde yang tidak terlalu besar, sedang rambut tersebut disematkan tusuk konde yang begitu indah berbentuk ... bunga anggrek bulan, bunga itu tumbuh didaerah yang terang, makanya Rajima melihat anggrek bulan ini ada di pintu hutan, di mana cahaya matahari masih masuk dengan bebasnya.


“Salam Nyai, saya Rajima, maaf masuk tanpa izin.” Rajima berkata dengan menunduk dan terduduk, dia tidak tahu siapa wanita ini, tapi di usia belia dia sudah punya sopan santun yang baik.


“Rajima, aku yang mengundangmu ke sini, makanya kau bisa mendapatkan jalan dan melihat guanya.”


Rajima terkejut dan melihat ke arah Nyai dan begitu dia melihat wajahnya dengan jelas, saat itu dia takjub, wajah yang begitu cantik itu membuat dirinya tidak bisa berpaling, sangat cantik.


“Aku mengundangmu ke tempat ini karena aku kagum, kau seorang yang masih sangat belia, tapi mencintai hutan ini, kau jadikan hutan ini ladang ilmu. Sungguh perempuan yang anggun dan berbeda dari manusia kebanyakan.”


“Iya, maafkan aku karena sering mengusik Nyai di hutan ini, apakah hutan ini milik Nyai?” Rajima bertanya.


“Hutan ini hanyalah tempat tinggalku, hutan ini milik Tuhan.”


“Baiklah, apa Rajima diizinkan untuk tetap di datang ke sini Nyai?”


“Tentu saja, mari kita jaga hutan ini bersama, Rajima.”


“Terima kasih Nyai atas izinnya.”


“Rajima, ini ambil ini.” Nyai memberikan gelang kaki yang dia gunakan, gelang kaki itu memang mencolok dibanding semua perhiasan yang digunakan karena terlihat cukup besar dengan bulatan yang tebal, terlihat berat, tapi Rajima menerimanya dengan penuh sukacita.


“Terima kasih Nyai.”


“Pakailah.”


Rajima menuruti dan akhirnya memakai gelang kaki itu dengan senang hati.


Setelah memakainya, Rajima lalu diizinkan pulang, aneh, setelah keluar gua, dia langsung sampai di pintu hutan, yaitu tempat masuknya hutan, walau tidak benar-benar ada gerbang atau pintunya, Rajima tahu kalau ini adalah wilayah awal hutan.


Sudah gelap, padahal tadi dia datang ke hutan ini pagi, tapi sekarang kenapa sudah gelap? Rajima lalu pulang ke rumah, begitu sampai, orang tuanya sudah menunggu dengan cemas.


“Kau darimana!” Bapaknya terlihat marah.


“Dari hutan, Pak.”


“Anak perempuan kok main di hutan, ngapain kamu ke sana!” Bapaknya terlihat semakin marah karena Rajima ternyata masih main di hutan.


“Maaf Pak, Rajima hanya belajar tentang tumbuhan Pak, nanti bisa bantu warga yang sakit.”


“Apa itu! kau mau membantu warga untuk apa? itu tugas orang pintar, bukan tugasmu, kau hanya perlu belajar masak dan menjahit agar kelak rumah tanggamu bisa tenang dan suamimu sayang.”


“Pak, Rajima masih muda, tidak mau membicarakan hal itu.”


“Kau itu memang masih muda, tapi bukan berarti tak bisa dinikahkan, aku sengaja menunda pernikahanmu hanya agar kau semakin matang, jadi jangan terlalu terlena dengan penundaan yang aku lakukan, mengerti!” Bapaknya tidak mau mengerti apa keinginan anaknya, tidak heran, pada zaman itu, memang perempuan hanyalah beban bagi orang tuanya, pun dia adalah anak tunggal, tidak luput dari kewajiban menjadi budak seorang suami, saat ini dia hanyalah budak seorang bapak.


Rajima masuk ke kamarnya, dia menangis, saat menangis Rajima melihat gelang di kakinya, tidak ada. Kemana gelang itu? Rajima melihat sekitar kamarnya, kenapa gelang itu menghilang!


Apakah yang dia lihat di hutan itu hanya mimpi? Aneh! Tapi terasa nyata, bahkan saat keluar dari hutan itu, Rajima tidak habis tertidur.


“Kemana gelangku?” Rajima berkata sendiri.


Rajima lalu berdiri hendak mencari lagi, tapi tidak ketemu, ada yang aneh, karena setiap dia berjalan, bunyi suara kerincingan dari arah kakinya, Rajima mencoba untuk menggerakkan kakinya, ternyata benar dari sana suaranya, tapi tak ada apa-apa di kakinya, dia menyentuh kakinya dan tidak terasa ada apa-apa di sana.


Rajima lalu teringat sesuatu, dia pergi ke kaca yang ada di kamarnya, kaca itu cukup besar hingga membaut seluruh tubuh Rajima terlihat, termasuk kakinya.


Saat dia melihat ke arah kakinya, gelang itu masih ada di kakinya, terlihat dari pantulan kaca.


Aneh, kenapa gelang itu terlihat dari kaca tapi tidak terlihat dengan matanya? Rajima terdiam sesaat, lalu teringat tentang cerita demit yang ada di hutan itu.


Katanya penunggu hutan itu adalah seorang dewi yang turun dari khayangan, dewi itu bernama Dewi Sundarwani, dewi itu sengaja tinggal di hutan untuk menjaga kelestarian hutan guna menjaga keseimbangan bumi ini.

__ADS_1


Walau Kesultanan Cirebon bercorak islam, tapi budaya lama masih dijaga oleh para warga desa yang orang tuanya masih menanamkan prinsip Hindu dan Buddha yang dianut oleh kerajaan Majapahit, kerajaan yang runtuh pada tahun 1400an dan berganti menjadi Kesultanan Cirebon, karena Kesultanan Cirebon baru berdiri pada abad ke 15 dan 16 yaitu pada tahun kisah ini berjalan, maka agama dan budaya masih bercampur walau satu abad sudah berlalu sejak Majapahit runtuh.


Kisah tentang dewi dari khayangan tentu merupakan kisah yang biasa diceritakan dari nenek moyang kepada para cucunya.


Kisah tentang Dewi Sundarwani adalah dewi yang alam, dia menjaga alam seluruh negeri dengan kekuatannya, agar alam menjadi suci dari kejahatan manusia, menghukum siapa saja yang berani merusak alam.


Satu yang mereka tidak tahu, bahwa Dewi Sundarwani adalah jin yang memang menjaga hutan, tugasnya tidak ada yang pernah benar-benar tahu, seperti semua jin pada umumnya, jika ingin sesuatu darinya, maka buatlah perjanjian dan Jin Sundarwani selalu mendekati orang-orang yang dia anggap istimewa, semua jin suka manusia yang istimewa, baik ketampanan dan kecantikan yang dijadikan nilai tambah di matanya, maka Rajima adalah wanita yang sempurna, untuk … seorang murid.


Gelang kaki adalah penanda bahwa Rajima miliknya, hingga tak ada yang boleh menyentuhnya muridnya, baik bagi jin lain maupun manusia, kabar mengenai pernikahan Rajima sudah terdengar, bagi jin Sundarwani, tak masalah dia menjadi selir raja, tapi sepertinya Rajima tidak suka itu, Jin Sundarwani mengirim beberapa anak buahnya untuk menjaga Rajima,  agar orang-orang takut padanya, tentu anak buahnya harus berwujud … menakutkan, maka sejarah pocong yang menghantui dimulai di sini.


Setelah mendapatkan gelang itu, hari Rajima berjalan seperti biasa, sampai surat raja itu datang, Rajima sedih dan menyendiri, apalagi besok adalah hari di mana Rajima harus pergi ke kerajaan untuk menyerahkan dirinya.


Rajima termenung seharian di dalam rumah, tidak tahu harus berbuat apalagi untuk memutus tali perjodohan ini.


Kata orang jika Rajima menolak raja, maka siapa lagi yang akan menikahinya, karena pucuk tertinggi dengan segala kebaikannya sudah ditolak, jika saja lelaki lain akan menikahinya, maka akan menyakiti hati raja yang ditolak dengan kasar, lalu siapa yang berani menyakiti hati raja?


Rajima tak peduli soal itu, tapi bagaimana dengan orang tuanya, apakah dia akan menjadi orang tua yang sengsara dengan prilaku anak perempuan satu-satunya ini?


Tentu saja orang tuanya akan dianggap remeh, maka ketika hari itu tiba, Rajima akhirnya ikut saja dengan dibawa oleh tandu oleh para pengawal yang berjumlah dua belas orang dan tiga orang dayang.


Pengawal itu membawa tandunya di bahu pada empat sisi masing-masing tiga orang, Rajima membawa semua hadiah raja, dia juga sudah berpakaian sangat mewah dengan semua perhiasannya.


Bapak dan ibunya berpelukan, bapaknya bahkan berterima kasih pada Rajima karena sudah membuat hidupnya menjadi sangat mulia karena menerima menjadi selir raja.


Rajima tidak menanggapi apapun, karena baginya, kehancuran hidup sudah di depan mata.


Perjalanan ke arah kerajaan sudah dimulai, lokasi kerajaan tidak terlalu jauh, hanya berjarak tiga hari jika dilakukan dengan jalan kaki, memang bisa apalagi selain jalan kaki? Sedang delman atau kereta yang ditarik dengan kuda saja baru ditemukan pada abad ke 18 atau sekitar tahun 1800an dan kuda hanya boleh ditunggangi raja ketika itu.


Maka membawa orang dengan tandu yang berbentuk bangku di pundak adalah salah satu cara yang digunakan sebagai transportasi bagi wanita yang istimewa bagi raja.


Itupun harus melewati malam dengan istirahat, membuat api jika kebetulan berada di wilayah yang terkenal hewan buasnya, walau jarak tiga hari itu dianggap dekat tetap saja sangat bahaya jika dilakukan sendirian.


Mereka berjalan dari pagi, lalu beristirahat ketika malam tiba, para dayang menyediakan tempat untuk Rajima tidur, sebuah kain yang cukup lebar agar tubuh Rajima tidak terkena tanah, semua berjaga dengan bergantian.


Malam tiba, lolongan anjing mengagetkan semua orang, Rajima hanya terdiam, karena pikirannya kosong dan tidak peduli pada apapun sama sekali.


“Lolongan anjing tanda ada hantu di sini, hati-hati, kita membawa selir raja, kemungkinan mereka suka orang istimewa raja.” Seorang dayang berkata.


[Omong kosong macam apa itu, memang siapa raja hingga mampu membuat setan mengusik hidupnya.] Rajima berkata dengan kesal dalam hatinya.


“Merapat, lindungi selir Rajima.”


Belum juga peresmian pernikahan, dia sudah dipanggil selir.


“Kenapa kalian begitu takut dengan setan? Toh selama kita tidak mengganggu, maka mereka juga takkan mengganggu.”


“Sudah terkenal Yang Mulia Selir, kalau wanita raja itu selalu diganggu oleh jin setempat, untuk membaut raja marah.”


“Memang apa untungnya jin itu membuat raja marah.”


Ada suara aneh dari balik pohon besar, suara seperti sesuatu melompat, awalnya hanya lompatan yang terdengar samar, setelah itu lompatannya menjadi sangat banyak, llau keluarlah dari pohon itu segerombplan makhluk yang melompat dengan busana putih lusuh yang menutupi seluruh tubuh, itu adalah pocong-pocong  dengan wajah yang sangat hancur, mereka melompat-lompat mendekati para pengawal, karena melihat hal yang mengerikan, pengawal kocar-kacir tanpa melindungi selir, sedang para dayang pingsan, yang tak kasat mata pasti jauh lebih mereka takuti, padahal para pengawal yang banyak itu biasa menghadapi perang, tapi perang dengan pocong membuat mereka kehilangan keberanian.


Pocong itu mengejar para pengawal yang lari terbirit-birit, sedang Rajima hanya duduk saja bersila, yang aneh, para pocong itu hanya melewatinya saja, tidak berbuat apapun. Rajima bersila dengan mata terpejam, karena dia melihat cahaya yang begitu bersinar mengelilinginya, dia tahu, kalau Dewi Sundarwani menemuinya.


“Apa kabar wahai ananda.” Dewi itu bertanya.


“Dewi Sundarwani, kabar ananda baik.”


Dewi Sundarwani bersila di hadapannya, lalu bertanya lagi, “Kalau kau baik-baik saja, lalu kenapa kau masih saja bermuram durja seperti itu?”


“Ananda hanya tidak suka dengan takdir yang Tuhan berikan. Tapi harus terima bukan?”


“Kata siapa harus terima? Yakinkah ini takdir, atau hanya sekedar keserakahan raja itu? bukankah ratunya sudah ada, selirnya puluhan, lalu kenapa kau harus masuk ke lingkaran takdirnya kalau bisa melawan, aku memberikan gelang kaki itu bukan untuk hiasan, kau tahu cara memanggilku bukan? kau hanya harus membunyikannya sebanyak 7 kali, maka aku akan datang.”


“Aku sungkan, ini urusan takdir, aku tak ingin kau meninggalkan kediamanmu.”


“Hanya meninggalkan kediaman tak masalah bagiku, itu hal sepele, sedang menolong ananda adalah hal yang aku akan lakukan.”


“Apakah ananda bisa meninggalkan pernikahan ini?”


“Tentu saja bisa, buatlah perjanjian denganku.”


“Perjanjian?”


“Ya, perjanjian, aku bisa membantumu mengingkari pernikahan ini dan membuat semua yang kau inginkan terjadi. Yang kau khawatirkan adalah orang tuamu bukan? maka aku akan membuat raja menerima penolakan ini tanpa mencederai keluargamu, bagaimana?”


“Apa itu memungkinkan terjadi?”


“Ya, mungkin saja, jika ananda mau melakukan perjanjian denganku.”


“Maka aku mau melakukannya, jika memang bisa membuat semau kembali seperti semula, aku mohon.”


“Maka ayo lakukan perjanjian.” Dewi Sundarwani mengulurkan tangannya, ketika akhirnya dijabat, maka masa perjanjian dimulai tanpa waktu akhir yang pasti.


Ketika perjanjian itu sudah dimulai, Dewi Sundari menghilang, para pocong juga sudah menghilang dan pengawal tertidur, hingga pagi datang.


“Selir maafkan kami karena tertidur dan tidak menjaga anda dengan baik.” Pengawal dan dayang meminta maaf, Rajima hanya mengangguk, semua orang bingung karena bangun dengan formasi yang tidak semestinya, saling berjauhan dan memiliki mimpi yang sama.


Yaitu bermimpi dikejar pocong, tapi semuanya sepakat ini hanya mimpi, Rajima dan semua orang akhirnya melajutkan perjalanan, setelah perjalanan tiga hari terpenuhi, mereka sampai kerajaan, gerbang kerjaan terlihat dan mereka disambut dayang yang terlihat lebih senior, dayang itu meminta Rajima turun dari tandu dan harus mempersiapkan diri bertemu dengan raja, dia dibersihkan dengan ritual yang sangat rumit, mandi kembang, memakai wewangian dengan diasap dan terakhir pembersihan alat kelamin, agar siap jika dibutuhkan oleh raja, Rajima hanya mengikutinya saja tanpa menolak atau berbuat masalah, karena akan ada pertemuan dengan raja setelah ini.


Ritual pembersihan diri sudah dilakukan, lalu Rajima bertemu dengan raja, seperti yang sudah dia ketahui, bahwa akan ada waktu dia berdua saja dengan raja, ini adalah sesi perkenalan, di mana raja melihat wajah Rajima untuk pertama kalinya, dia juga akan menguji calon pasangannya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan sekitar.


Karena Rajima terkenal dengan kecerdasannya, dia akan diuji dengan ilmu pengetahuan.

__ADS_1


Rajima masuk ke kediaman raja dengan berbagai protokol yang berlapis, dia duduk dihadapannya, raja lalu mulai berkata.


“Kau memang cantik persis seperti yang mereka katakan, wajahmu sungguh sangat bersinar, akan menyenangkan melihat wajah yang indah ini setiap harinya.”


“Terima kasih yang mulia raja.”


“Rajima, apa keinginan terbesarmu dalam hidup?” Dalam titik ini, biasanya para selir akan bilang mengabdi pada raja dan memberikan semua yang dimiliki untuk raja, begitulah seharusnya seorang selir bersikap. Tapi Rajima, tentu saja berbeda.


“Keinginan terbesar hamba? Apakah diizinkan untuk dikatakan, yang mulia raja?”


“Tentu saja, katakanlah.”


“Apapun yang aku ingin katakan apakah diizinkan? Apapun?”


“Ya, kecuali jika kau ingin membunuhku, tentu itu tidak boleh kau katakan.”


“Tapi boleh dilakukan?” Rajima memandang raja, raja melihat Rajima dengan terkejut, lalu setelahnya tertawa, tawa yang begitu lepas.


“Maka kau sedang mengoreksi kata-kataku bukan? bahwa hal seperti itu sepatutnya tidak akan dikatakan, tapi dilakukan?”


“Iya yang Mulia.” Rajima tersenyum.


“Senyummu begitu menyenangkan. Jawabllah, apa yang paling kau inginkan Rajima?”


“Aku ingin berguna bagi banyak orang yang mulia, aku ingin bermanfaat bagi yang membutuhkan dan aku ingin tetap berbakti walau melakukan semua itu.”


“Berguna bagi banyak orang? Tapi jika kau menjadi selirku, maka kau tidak diperkenankan untuk bertemu banyak orang.”


“Maka dari itu hamba bertanya yang Mulia, apakah diizinkan mengutarakan keinginan hamba yang paling besar di dunia ini, maka itu jawabannya.”


“Maka apakah menjadi selirku bukan sesuatu yang besar hingga tak cukup menjadi sesuatu yang kau inginkan?”


“Menjadi selir adalah suatu kemuliaan, tapi berguna bagi banyak orang adalah kepuasan, dan itu tidak bisa ditakar dengan kekayaan.”


“Maka kau tidak ingin menjadi selirku?”


“Jika saja menikah tidak mengikatku, maka menjadi istrimu bukan sesuatu yang ingin aku tolak, aku hanya takut kalau aku akan terikat dan jadi tidak berguna lagi untuk banyak orang.”


“Maka berguna untukku, itu bukan hitungan yang artinya bagi orang banyak juga?”


“Tanpa hamba pun, yang mulia sudah sangat hebat dan disayangi oleh semua orang, hamba hanya satu titik dari sekian banyaknya pasir di pantai yang mulia, maka jika satu titik ini hilang, pasir lainnya akan menggantikan, hamba ….”


“Apa yang bisa membuatmu berubah pikiran?”


“Jika pernikahan tidak mengikat.”


“Sedang menjadi selirku adalah ikatan yang paling kuat, karena kau akan hanya milikku seorang.”


“Maka hamba tidak ingin pernikahan ini.”


“Berani sekali kau mengatakan itu dengan lantang.”


“Hamba hanya mengungkapkan sesuai pertanyaan yang mulia, maka jika tidak berkenan, hamba hanya mampu berkata maaf.”


“Jika pun aku izinkan untuk pulang, maka mungkin keluargamu akan menanggung aib, karena anaknya tidak jadi selir, maka pemuda mana yang mau menikahimu setelah ini?”


“Aku tidak berniat menikah dengan siapapun setelah ini, karena hidupku bukan untuk diikat. Sedang orang tuaku, adalah satu-satunya alasanku datang ke sini.”


Raja terdiam, raut wajahnya begitu khawatir, tidak dapat dipungkiri wajah indah milik Rajima rasanya sangat ingin dimiliki, tapi ditolak dengan terang-terangan adalah sesuatu yang sulit diterima akal sehat, sebagai raja, dia tidaklah jelek dan juga belum terlalu tua, dia gagah dan tampan, kaya raya pemilik negeri ini, tapi seorang wanita yang berasal dari desa, berani sekali menolaknya.


“Keluarkan wanita ini.” Ego raja menguasainya. Harga dirinya dilukai oleh wanita yang baru saja dikenalnya, terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkan, bahkan mampu menumbangkan kerajaan sebelumnya, membuat raja sangat marah dengan penolakan dari seorang gadis muda.


Rajima keluar, dayang terlihat sangat terkejut dan mulai berlaku kasar pada Rajima, dia dilempar ke dalam sebuah kamar, Rajima bingung, kata Dewi Sundarwani tidak masalah menolak keinginan raja, lalu kenapa sekarang perlakukan raja berbeda?


Apakah dia dijebak oleh seorang dewi, tapi untuk apa? apakah Dewi Sundarwani adalah salah saru demit yang ingin raja terusik, hingga akhirnya membuar Rajima dibenci raja dan menciptakan polemik dalam kerajaan seperti ini?


Rajima ketakutan.


Sementara dikediaman raja, dia duduk dengan patihnya, patih bertanya ada apa dengan selir yang baru saja diusir keluar itu.


“Dia menolak menjadi selir.”


“Seorang hamba menolak? Kasar sekali, apa yang mulia mau aku penggal kepalanya?”


“Jangan.”


“Kenapa?”


“Dia sangat cantik, aku ingin dia menjadi selirku.”


“Kami bisa carikan yang lebih cantik dari perempuan itu yang Mulia.”


“Berapa banyak perempuan yang memakai gelang kaki Dewi Sundarwani sepertinya?”


Patih terdiam, karena jika urusannya sudah ghaib, patih tidak bisa berbuat apapun.


“Aku akan menaklukannya.”


“Kalau gagal bagaimana yang Mulia?”


“Maka aku akan menundukkannya.”


“Baiklah, sepertinya yang mulia ingin bermain.”

__ADS_1


“Tidak, aku ingin berburu. Kita lihat siapa kali ini yang akan menang, Sundarwani atau aku?”


Wajah raja menyeringai.


__ADS_2