
Malam masih menghiasi langit, lima sekawan dan Lais sudah di vila, mereka menggelar sarung kebat yang sudah diberi mantra oleh Aditia, sarung ini adalah kain panjang bermotif batik khas orang Sunda, kain ini mempunyai nama, namanya adalah Majdusi, sarung yang digunakan untuk melihat ‘mereka’ yang tak terlihat dari jauh.
“Jadi ini alasannya kau menabur kopi sajen tepat ke tubuh para jiwa penasaran di tempat itu tadi, ini adalah media yang kau gunakan untuk menandai mereka agar bisa dilihat di kain ini?” Ganding bertanya pada Aditia yang sedang sibuk menabur kopi sajen di kain itu, kain itu digelar di atas meja bundar yang cukup besar sehingga lima sekawan dan Lais bisa mengelilingi meja itu, setelah kopi sajen ditabur, terlihat dengan jelas jiwa-jiwa di dalam pabrik itu.
Kau tahu, di jaman ini kita mengenalnya dengan tekhnologi kamera pencitraan atau CCTV, tapi mereka menggunakan teknik ghaib yang diajarkan nenek moyang Kharisma Jagat dalam melihat ‘mereka’ dari jarak jauh, tapi syaratnya adalah menandai terdahulu objek yang ingin dilihat, medianya adalah kopi sajen, kopi itu memang media terbaik dalam menghantar sihir.
“Ya, karena kita melihatnya dari dekat, kita tidak menyadari pegerakan ini, lihat.” Aditia menunjuk ruang jahit, mereka semua ternyata bukan bergerak tanpa pola, mereka bergerak seperti ….
“Mereka bergerak dengan terarah, kalau kita lihat dari atas sini, makhluk di ruang jahit, bergerak terus sesuai pola, polanya … angka delapan?” Ganding bertanya.
“Kalau terlihat darimu, itu angka delapan, coba lihat dari sisiku.” Aditia meminta Ganding merubah posisi, karena dia ada di samping Aditia, dia ingin Ganding melihat dari sisinya.
“Ananta!” Ganding kaget, karena kalau dari sisinya, angka yang dibentuk dalam pergerakan makhluk ini adalah angka delapan, sedang jika dilihat dari sisi Aditia saat ini, di mana Ganding sekarang berada, ini adalah Ananta bukan angka 8, itu adalah simbol untuk bilangan tak terhingga, kalau dari sisi Ganding sebelumnya memang terlihat seperti angka delapan, tapi dari sisi Aditia yang disampingnya, itu bukan angka delapan, tapi simbol bilangan tak terhingga.
“Kenapa simbol ini Dit?” Hartino sudah di belakang Ganding, dia juga melihat simbol yang sama.
“Untuk apa bilangan tak hingga itu Nding?” Aditia malah balik bertanya, tapi pada Ganding.
“Banyak literasi yang menjelaskan bahwa Ananta atau bilangan tak hingga yang sering disimbolkan seperti angka delapan tapi tidak tegak, tapi dibuat horizontal, adalah angka yang tidak terdefinisi sebagai angka karena tidak genap, ganjil ataupun prima, tapi ada satu literasi yang mengatakan bahwa arti Ananta atau bilangan tak hingga adalah simbol untuk sesuatu yang tidak ada ... akhir.”
“Mereka menggunakan teknik ini untuk membuat mereka terjebak dan bekerja selamanya pada mereka sebagai budak tanpa akhir.” Aditia menambahi.
“Mereka bekerja? Sebagai apa? ngapain?” Lais bingung, dari ilmu yang dia pelajari di negara orang, ini baru pertama kali dia dengar jiwa dijadikan budak.
“Mereka sedang mengumpulkan energi gelap, di seksi jahit ini, fungsinya adalah untuk membuat jahitannya terlihat lebih bagus, karena energi gelap membuat kualitas jahitan seolah terbaik, padahal sihir di dalamnya.
Untuk seksi pola dan lainnya, semua sama, tanda Ananta dibuat oleh jiwa-jiwa ini untuk membuat pola seolah terbaik dan setiap helai benangnya terlihat berkemilauan dibanding baju yang lain. Sihir yang digunakan sungguh sangat sesat, mereka memberikan sihir pada setiap proses pembuatan baju ini, pantas bajunya sangat laku, kita yang tidak bisa melihatnya, karena ketika mereka memperlihatkan baju pada kita, mata kita tidak tertipu dan mungkin ada yang sengaja menutupi sihir itu karena tahu kita berbeda.” Alka menjelaskan asumsinya.
“Ini sungguh kejam, karena siapapun yang memakai baju dengan ilmu sihir seperti itu akan menjadi pribadi yang congkak, karena baju itu membuat orang-orang merasa dirinya cantik atau tampan berlebihan, ini akan membuat orang lupa diri. Baju ini sungguh malapetaka bagi siapapun yang mengenakan, pabrik ini harus ditutup.” Ganding kesal.
“Bagaimana nasib seluruh buruhnya?” Lais protes.
“Buruhnya bisa kita carikan pekerjaan, tapi masalanya, bagaimana membuat perusahaan ini bangkrut.” Aditia mulai tahu bahwa dia dan lima sekawan bukan orang biasa dan bisa membantu rakyat bawah.
“Putus dulu sihir Anantanya, lalu setelah itu kita harus ... menghabisi semua jiwa yang ada di sana.” Aditia terdiam. Dia baru sadar, kenapa Alka meniu Erin, karena dia sudah dua beberapa langkah jauh di depan Aditia, dia tahu Erin dan yang lain tak terselamatkan, walau dia berusaha mencari cara untuk menyelamatkan yang lain sebelum Aditia menemukan jawabannya, karena Aditia pasti tegas membantai ... mereka.
“Dit, aku mohon!” Alka memohon, Alka tidak berubah, dia hanya berusaha menyelamatkan banyak jiwa karena takut Aditia menemukan jawaban duluan.
“Kenapa kau menyembunyikannya?” Aditia bertanya pada Alka.
“Karena aku tahu kau tidak akan segan membantai mereka.”
“Jadi bukan karena Kakak berubah?” Ganding keceplosan.
“Berubah? Kenapa aku mesti berubah?” Alka bertanya.
__ADS_1
“Ya, kami sempat curiga kalau Kakak berubah, karena Kakak mau mengorbankan Erin. Kami takut Kakak terkena sihir di sana.” Ganding mengalihkan pembicaraan, karena tidak mungkin bagi mereka cerita yang sebenarnya. Curiga bahwa Lanjonya terikat, Alka kembali ke sisi jahatnya, mengingat dia terlahir dari semua keburukan di dunia ini karena pernikahan terlarang antara jin dan manusia.
“Oh, ya tidaklah, aku ini setengah jin, jadi ya tidak bisa terpengaruh.”
“Ya, begitu.” Aditia tenang, karena Ganding bisa membantu menguasai keadaan.
“Kalian sudah menyiapkan semua sajen yang aku minta tadi?” Aditia bertanya.
“Sudah, kami menyiapkan banyak uang di sajen-sajen itu, melawan uang, harus dengan uang. Kita pasti menang.” Hartino optimis.
“Sebentar deh, tapi ... kenapa kita harus bantai jiwa-jiwa itu?” Lais masih bingung.
“Ada ratusan jiwa di sana, jika kita sadarkan bahwa mereka semua sudah tiada, selama ini hanya sebagai budak sihir Ananta, maka mereka pasti tidak mau ‘dijemput pulang’ karena merasa tidak yakin dengan yang terjadi, lalu menjadi jiwa penasaran membawa energi gelap yang mereka kumpulkan dalam sihir Ananta di pabrik itu, maka kau bisa bayangkan apa yang terjadi?”
“Oh, dengan jumlah sebanyak itu, maka mereka akan membuat kekacauan. Tapi kenapa harus dibantai? Bukankah seharusnya di tahan saja, di botol-botol seperti biasa.” Lasi protes.
“Tidak bisa, ini akan menyebabkan peperangan antara Kharisma Jagat dan jiwa-jiwa itu, karena jiwa itu bukan lagi hanya ruh biasa, tapi sudah menjelma menjadi jiwa yang hitam, kalau kita tidak membantai mereka sebelum mereka sadar, kerugiannya akan sangat besar. Aditia dan seluruh kelompoknya akan kembali berperang, kau tahu, Ayi sedang tidak bisa berperang, makanya Aditia melakukan ini untuk ketenangan kelompoknya.”
“Kau egois Dit, kau hanya memikirkan kelompokmu saja, bagaimana dengan perasaan mereka? bagaimana dengan keluarganya?” Lais tiba-tiba frontal.
“Aku memang egois, tapi mencegah peperangan adalah kewajibanku, setelah peperangan kemarin, wala kami menang atas musuh kami para Tetua, tapi ingat, kerugian kami juga besar, makanya aku tak mau perang itu muncul lagi dalam skala sekecil apapun. Membantai mereka sebelum mereka sadar satu-satunya cara pulang paling cepat.”
“Apa kau yakin tidak masalah, walau mereka hanya jiwa, tapi kau menjadi pembunuh saat membantai mereka.”
“Jadi masalah, aku mungkin akan menghadapi persidangan, ini juga yang mungkin Alka jaga, tapi itu semua hanya formalitas, mereka semua akan memilih seperti aku memilih jika dihadapkan dengan masalah yang sama.” Aditia membela diri.
“Kau ingin menyisakan siapa? Erin? Jangan tebang pilih Ka, kau tahu kenapa aku kejam begini, karena jiwa itu, jiwa-jiwa serakah yang bisa dibujuk dengan uang.”
“Jiwa serakah? Darimana kau tahu?” Lais kesal lagi dan bertanya.
“Sihir Ananta hanya kena pada orang-orang yang serakah, makanya ketika Erin dan Dinda yang berada malam itu, hanya Erin yang kena sihir, sedang Dinda tidak, mungkin Dinda tidak serakah.” Ganding yang menjelaskan.
“Kau yakin soal ini?” Lais bertanya lagi.
“Ya, makanya Aditia tidak perduli membantai mereka, masalah kelak jiwa itu kembali kepada Tuhan atau benar musnah, tidak ada yang tahu.” Ganding menambahkan.
“Baiklah, kalau begitu, aku ikut keputusan kalian.” Lais akhirnya setuju.
“Kita tunda dua hari, karena aku harus mempersiapkan tempat membantai mereka, aku butuh lapangan luas untuk mereka berkumpul, lalu setelah itu baru bisa membantai mereka, kita bantai tanpa peringatan, kalian juga harus siapkan stamina karena kita akan membantai mereka satu persatu.”
Jarni merinding mendengarnya, ada begitu banyak jiwa yang harus mereka habisi, kadang keputusan berat memang harus Aditia ambil untuk kebaikan bersama dan tentu umat manusia.
Mereka lalu istirahat sebelum besok kembali sibuk dengan pengusiran lagi.
...
__ADS_1
Pagi tiba, mereka sudah bersiap menyiapkan sajen uang yang diperlukan, saat kembali ke vila setelah makan siang, mereka terkejut karena ada seseorang yang menunggu mereka, seorang pria yang tinggi tegap, siapa itu?
“Bapak siapa ya?” Aditia bertanya.
“Saya Ardi.” Lelaki itu menunjukan lencana Polisinya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Aditia lumayan khawatir, karena baru kali ini didatangi Polisi selain Pak Dirga.
“Boleh saya masuk ke dalam?” Ardi merasa perlu ke dalam karena dia perlu berbincang lebih lama.
“Baik, silahkan masuk.” Aditia lalu meminta semua orang ikut masuk dan meninggalkan mereka berdua saja.
“Tidak, saya perlu kalian semua.” Ardi memaksa.
“Baiklah.” Aditia lalu mengiyakan.
“Kalian malam-malam ke pabrik seragam, ngapain?” Ardi membuka pembicaraan yang membuat semua orang jadi tegang.
“Maksud Bapak apa ya?” Aditia balik bertanya.
“Ini.” Ardi lalu memberikan telepon genggamnya yang sudah menampilkan layar CCTV dari pabrik itu dan tanggal yang tertera pada layar itu adalah tanggal kemarin malam, jelas bahwa salah satu kamera CCTV menyorot mereka, kamera itu ... ada dibagian luar gedung, cukup jauh.
“Saya tidak mengerti.” Aditia masih mencoba mengelak.
“Ini kalian, jumlahnya saja tepat, enam orang, kalian pasti sudah meretas CCTV di dalam gedung dan tidak sadar ada CCTV yang dipasang oleh Polisi, karena CCTV itu dibutuhkan untuk memantau kejahatan yang sempat marak terjadi karena pabrik itu cukup sulit dijangkau dari jalan besar. Karena sistemnya terpisah dan kameranya diletakkan tersembunyi, kalian tidak meretas kamera ini. Karena bukan kebetulan kamera CCTV pabrik rusak saat kalian terlihat masuk ke kawasan pabrik. Lalu kembali bisa berfungsi setelah kalian meninggalkan pabrik.” Ardi terlihat senang karena menangkap basah mereka.
“Baiklah, jadi Bapak bermaksud menuduh kami apa?” Aditia akhirnya membuka kesempatan berdiskusi. Di saat ini dia butuh Pak Dirga dan semakin menyesal telah membuatnya keluar dari Kepolisian.
“Kalian mungkin ada sangkut pautnya atas pembunuhan di pabrik itu, mungkin kalian hendak merusak barang bukti karena saat ini kasus Erin masih di tangani oleh kami dan Dinda sudah kami penjarakan, apakah kalian komplotannya Dinda?”
Aditia tertawa.
“Polisi macam apa anda? bahkan menahan orang tak bersalah, kau mau kutolong agar tak seperti seniormu melakukan hal yang salah?” Aditia kesal karena lagi-lagi salah tangkap.
“Apa maksudmu?” Ardi yang tadinya tenang jadi bingung dengan perkataan Aditia.
“Ikut kami ke pabrik itu lusa, aku akan pertemukan kau dengan Erin dan juga siapa yang sebenarnya membunuh Erin.” Aditia berdiri hendak mengusir Ardi.
“Sebentar anak muda, aku masih harus bertanya.”
“Pak Ardi, lain kali ke sini bawa surat ya, karena kau tidak boleh sembarangan menuduh orang dan seenaknya masuk properti orang dengan maksud mengganggu, kalaupun kau Polisi, kau harus melakukan semuanya dengan prosedur yang benar.” Ganding menahan Ardi yang hendak melawan Aditia.
“Kalian merasa anak-anak orang kaya makanya berani melawan Polisi? Kalian pikir akan lolos setelah membunuh seorang wanita tak bersalah?” Ardi naik pitam, di matanya, lima sekawan dan Lais adalah anak manja orang kaya yang suka foya-foya.
“Pak, kami lusa akan ke pabrik lagi tengah malam, ikut kami, kau akan mendapatkan bukti, tapi jangan bawa pasukan, kami takkan mencelakaimu, percayalah, kau akan mendapatkan apa yang kau butuhkan.”
__ADS_1
Ardi merasa gusar, tapi dia tidak bisa memaksa karena dia tidak membawa surat untuk penyelidikan, karena sebenarnya kamera itu tidak menangkap subjek dengan jelas, dia hanya menebak bahwa mereka pendatang dari kesaksian banyak orang yang mengatakan bahwa ada enam pemuda yang baru saja datang menginap di vila ini. Maka Ardi yakin mereka komplotan Dinda.
Kira-kira Ardi mau diapain ya? apakah Ardi akan menjadi Polisi ghaib juga seperti Pak Dirga?