
Sementara Teddy mencari cara mempertemukan pemilik hotel dengan lima sekawan, lagi-lagi lima sekawan harus menghadapi pasukan Jepang yang seperti tidak ada lelahnya. Tentu saja, dia itu kan ruh yang cukup kuat, mengingat betapa lamanya mereka di sini dan kemampuan mereka semasa hidup, bukan sesuatu yang bisa dihadapi dengan tanpa persiapan.
Beruntung cambuk Alka telah dikembalikan padanya, Ayi memberinya keringanan atas satu tahun hukumannya. Ayi Mahogra pelan-pelan memaafkan dan memberinya kesempatan menebus dosa. Karena Ayi tahu, bahwa tanpa senjata, Alka akan kesulitan memimpin lima sekawan dan membuat adik-adiknya tetap aman.
Pertemuan malam itu, antara Ayi dan Alka membuat Ayi luluh atas satu jawaban Alka yang membuat Ayi tahu, bahwa Alka tidak seperti ayahnya, saat itu Ayi tahu, Alka mirip seperti dirinya, kehilangan ayah dan haus akan perhatian ayah. Kalau Ayi punya Malik, kalau Alka punya Mulyana. Tapi bertemu ayah yang seolah perduli padahal menjebak, itu bukan salahnya, dia hanya anak yang ingin memiliki ayah.
Sebab itu lah Alka mendapatkan senjatanya lagi. Pertemuan malam itu dengan Ayi membuat Alka berjanji satu hal.
“Dit, kanan! Kanan!” Alka berteriak, dia sedang di waktu istirahatnya bersama Ganding dalam lingkaran perlindungan Jarni. sementara Hartino dan Aditia sedang bertarung.
Hartino bisa dibilang memiliki teknik bertarung yang jauh lebih mumpuni dibanding Aditia. Walau keduanya bisa ilmu bela diri, ditambah khodam yang sudah mahir, tentu bertarung bukan hal yang sulit. Tapi menghadapi para pasukan dan wanita 713 itu, sungguh sesuatu yang melelahkan, tidak kalah, tidak juga menang, selalu hasilnya seri hingga pagi hari.
Pagi ini perkelahian kembali selesai setelah pintu diketuk oleh Teddy, semua pasukan lenyap.
“Kalian masih bertarung?” Teddy dengan wajah polos lagi-lagi kaget karena melihat lima sekawan kelelahan, berkeringat padahal suhu kamar sangat dingin. Wajah lima sekawan juga terlihat luka-luka, serta bajunya robek di beberapa bagian.
“Kau pikir kami apa? main galasin? Atau main tujuh batu pahlawan?” Hartino masih judes, ini pertarungan terberatnya, bukan karena musuhnya memiliki ilmu tinggi, tapi karena musuhnya tidak habis-habis, dia kelelahan.
“Tenang Pak, sarapan akan kami antar ke sini.”
“Kami tenang kok, toh kami bayar sarapan itu berkali-kali lipat.” Ganding kesal, pertarungan lima sekawan disandingkan dengan sarapan saja.
“Tidak perlu Pak, karena pemilik hotel ini bilang, kalian tidak perlu membayar, dia sangat berterima kasih karena kalian mau membersihkan hotel ini.”
“Kau pikir kami orang miskin? Kami tetap pada janji kami, bahwa akan membayar hotel dengan perjanjian awal. Masalah pembersihan, kalau kalian berniat membayar, beramal saja atas nama kami, kepada anak yatim, rumah panti jompo atau sebagainya. Pertolongan kami tidak ditarifkan karena tujuan kami bukan uang.” Ganding kembali kesal dengan ucapan teddy.
“Pak duduk, katakan padaku, kapan bisa bertemu pemilik hotel ini?” Alka bertanya.
“Siang ini, dia akan datang ke hotel, sulit loh membujuk dia datang, karena dia tidak terlalu suka datang ke sini.”
“Baiklah kalau begitu, kita bertemu nanti siang. bolekah kami istirahat dulu karena kami perlu mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi pasukan Jepang lagi jika memang belum menemukan solusi untuk melakukan pembersihan.” Ganding meminta Teddy keluar.
Teddy lalu keluar dari 713 dan akhirnya bertemu dengan Supri yang masih berjaga di lobby.
“Mana Selly, kok masih kamu yang jaga?” Teddy terlihat kesal, dia tadi tidak begitu memperhatikan yang menjaga meja front office saat naik ke 713 saking senangnya bisa melihat pemilik hotel dan mempertemukan dengan lima sekawan, dia bersemangat untuk membantu menyelesaikan masalah hotel. Siapa tahu dia kelak akan dipromosikan, itu harapannya.
“Nggak tahu, dari semalem belum balik lagi, saya cari di mana-mana nggak ketemu.” Suprim menjawab.
“Lah kok! Aneh. Dia pulang tanpa pamit?”
“Enggak kayaknya, suaminya datang semalam, tapi Selly tidak ketemu juga, lalu saya suruh suaminya pulang, siapa tahu Selly sudah pulang duluan. Coba Pak, hubungi suaminya Selly, siapa tahu Selly sudah di rumah, saya tidak punya nomor suaminya.”
“Oh saya juga tidak ada nomornya, tapi kalau tidak salah di papan ada daftar nomor keluarga dekat yang bisa dihubungi untuk keadaan darurat, sebentar saya cek, apakah selly sudah menulis nomor keluarganya di kertas list yang ditempel di papan itu.” Teddy berlari ke ruangannya dan tidak lama kembali.
“Halo Pak, saya Teddy rekan kerja Selly di hotel, apakah Selly ada? Karena dia semalam pulang tanpa pamit, kami khawatir.”
“Pak! istri saya tidak pulang dari semalam, saya, keluarga dan warga sudah mencari kemana-mana, semalam kami mencari dekat hotel juga, tapi masih tidak ketemu. Dia tidak mungkin pulang sendiri, dia selalu bersama saya.
Pak saya mohon, bantu kami cari istri saya, cari di semua sudut hotel, pasti dia masih di sana, perasan saya tidak enak, ada firasat buruk karena beberapa hari ini Selly masih sering diganggu oleh ... setan dari hotel Pak! Saya mohon ... dia sedang tidak enak badan, sepertinya dia sedang hamil!”
“Astagfirullah! Baik pak, saya akan cari di dalam hotel, saya akan mengerahkan semua orang untuk mencari Selly, bapak tenang dulu, semoga benar dia masih ada di sini.” Teddy lalu menutup telepon dan langsung meminta semua pegawai untuk membagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok stanby agar hotel tetap berjalan dengan baik. Sisanya mencari Selly.
Pencarian dimulai, semua sudut hotel di cari, dari kamar mandi di luar kamar tamu, setiap kamar yang tidak ada tamunya dan kamar-kamar tamu yang terpaksa di geledah, takut kalau ada penjahat di dalam hotel yang tidak terdeteksi sebelumnya.
Tapi tidak ketemu, setelah dua jam mencari, mereka berkumpul lagi di lobby untuk melaporkan hasil pencarian.
“Pak semua tempat sudah kami cari, tapi tidak ketemu, tidak ada jejaknya, sama sekali. Sepertinya dia juga masih memakai seragamnya Pak, tidak membawa tas juga. Karena pakaian dan juga tasnya masih lengkap di loker.” Seseorang berkata, dia bisa memeriksa loker Selly karena dia diberikan kunci cadangan oleh Teddy.
__ADS_1
“Kalian yakin semua areal sudah disisir?” Teddy bertanya.
“Sudah Pak, semua tempat yang kami sering lewati sudah kami sisir.”
“Bagaimana dengan tempat yang jarang kalian lewati?”
“Sudah Pak, seperti ruang server, ruang panel listrik dan gudang, sudah kami cari di sana juga, tapi tidak ada,” yang lain menjawab.
“Kalau ruang yang tidak pernah kalian sentuh, coba pikirkan, kira-kira ruangan apa yang terlewat karena tidak pernah kita sentuh?” Teddy meminta semua berpikir.
“Oh ya Pak, ada satu tempat yang tidak pernah kita sentuh, tapi kan, pintunya dirantai, tidak mungkin Selly bisa kesana.” Supri tiba-tiba berkata dengan lantang.
“Dimana itu?” Teddy bertanya.
“Atap, atap hotel ini, kita tidak pernah ke sana karena itu area terlarang, pemilik hotel tidak memperbolehkan kita ke sana, makanya kita merantainya Pak, bahkan sebelum Pak Teddy kerja di sini.”
“Kalau begitu, saya akan cari kunci rantainya, kalian beberapa orang temani saya ke sana. Saya sudah berjanji akan mencari di setiap sudut tempat ini, kalau pun tidak ada, setidaknya saya menjalankan amanah.” Teddy kembali ke ruangan dan mencari kunci itu, cukup lama untuk menemukannya, karena memang kuncinya tidak ada di key box tempat biasa semua kunci cadangan ditaruh. Tapi ternyata kunci itu ada di brangkas, aneh, hanya kunci dari atap hotel ini, tapi kenapa mesti sampai ditaruh di brangkas, untung Teddy bisa membuka brangkas itu karena di dalamnya terdapat beberapa surat penting juga, Teddy berhak mengakses brangkas itu.
Tanpa menunggu lama lagi, Teddy keluar dan membawa tiga orang pegawai bersamanya, sementara Supri masih menjaga lobby karena takut akan ada tamu.
Mereka sampai di lantai terakhir dari hotel ini dan naik ke tangga darurat untuk bisa mencapai pintu atap yang dirantai itu.
Benar kata Supri, pintunya dirantai dengan gembok yang cukup mahal, kalau tidak salah gembok itu berharaga jutaan, karena terkenal kuncinya tidak dapat duplikasi dan gemboknya tidak mudah di hancurkan.
Aneh, kenapa hanya untuk atap saja, harus diperlakukan istimewa. Teddy bingung, tapi dia memutuskan untuk membuka pintu itu.
Setelah rantainya dibuka, laluTeddy dan tiga orang pegawai lainnya langsung membuka pintu dan keluar, mereka berpencar mencari Selly, walau sepertinya lelucon sekali, mencari Selly di sini, karena pintunya saja bahkan dirantai.
“Pak! di sini!” Seseorang berteriak, Teddy langsung berlari ke arah kanan pintu, karena tadi Teddy ke arah kiri pintu.
“Sel!!!” Teddy menepuk pipi Selly dengan pelan, dia tidak mau Selly terluka karena pukulannya, Selly tidak juga bangun.
“Pak, kalau pun pingsan, masa nggak bangun, trus kenapa dia bisa di atas sini, padahal itu pintunya dikunci pakai rantai pula.” Salah satu pegawai terlihat sangat takut. Hotel ini bukan hotel yang aman.
“Bantu saya menurunkan dia ke lobby, kita hubungi keluarganya. Dan kamu ... jangan membuat rumor apapun tentang hotel ini ya, jaga nama baik tempatmu bekerja, tempatmu mencair nafkah.” Teddy memperingatkan pegawainya yang terlihat mulai ketakutan.
Selly di angkat oleh beberapa orang, untuk ukuran tubuh mungil, tubuh Selly terasa berat sekali. Mereka yang mengangkatnya berpikir, mungkin karena Selly pingsan, makanya tubuhnya berat seklai.
Begitu sampai lobby, Selly dibawa ke pantry, semua orang di suruh kembali bekerja, Teddy menghubungi suami Selly, meminta dia datang.
Tidak lama kemudian, suaminya datang, dia langsung menuju pantry bersama Teddy dan begitu dia mendekati istrinya dia terjatuh, suaminya Selly bangun dan memegang tangan istrinya dengan tangan kanan. Suami Selly menutup mata dan entah merasakan apa, Teddy tidak tahu apa yang dilakukan oleh suaminya Selly.
“Pak, istri saya kemungkinan dikerjai, saya tidak melihat aura dan energi dalam tubuhnya, mungkin Selly sebenarnya tidak ada di sini!” Suaminya geram, kenapa istrinya dikerjai.
“Aura? Energi? Trus ini kan, Selly.” Teddy bingung. Dia menunjuk Selly yang dianggap tidak ada di sini oleh suaminya.
“Saya sudah katakan bahwa Selly harus berhenti kerja, karena dia pulang selalu ketakutan dan tubuhnya lemah. Apalagi Selly sekarang hamil, saya sungguh menyesal terlalu lembek padanya!” Suaminya Selly menyesal.
“Lalu bagaimana sekarang kita?” Tanya Teddy pada suami Selly.
“Bawa Selly ke rumah sakit, kita harus menjaga tubuhnya, sementara mencari ruhnya, saya yakin masih di sini.”
“Ruh?” Polos sekali Teddy berkata.
“Ya, orang yang tidur tapi tidak bangun lagi, dia sedang dikuasai jin. Kita harus segera mencari ruhnya kalau terlalu lama bisa bahaya, bolehkah saya mencari istri saya di sini dan membawa orang pintar ke sini?” Tanya suaminya.
“Sebentar, bagaimana kalau saya kenalkan dengan lima sekawan di 713, mereka pasti mau bantu, mereka sekumpulan anak kaya yang tidak punya kerjaan,tapi mereka punya kekuatan untuk membantu kita dalam hal ghaib Pak. Mereka tidak pamrih, kau hanya perlu meminta tolong, Pak.” Teddy baru saja ingat akan lima sekawan itu. Makanya dia memberitahu suaminya Selly dimana lima sekawan.
__ADS_1
Teddy dan suaminya Selly langsung naik ke lantai tujuh, begitu pintu dibuka, syukurlah lima sekawan masih bersantai, tidak tidur seperti sebelumnya yang mereka katakan akan istirahat.
“Ada apalagi sih!” Hartino membentak, karena dia yang buka pintu, sementara dia kelelahan dan ingin tidur.
“Pak Ganding, ini suaminya Ibu Selly, dia meminta bantuan kita apakah bisa mencari Selly.” Teddy mengabaikan Hartino yang kesal dan langsung masuk ke kamar.
“Pak, kita bukan Polisi, kenapa membawa ke sini orang yang kehilangan orang lain, seharusnya ke kantor Polisi.” Ganding Protes.
“Pak pegawai kami Selly tubuhnya ada, tapi ruhnya sepertinya hilang. Suaminya bilang gitu.” Teddy lalu memperkenalkan suaminya Selly pada lima sekawan.
Aditia mendekati suaminya Selly dan berkata.
“Kau lihat tubuh itu kosong?” Aditia bertanya.
Tapi suami Selly diam saja tidak menjawab, rupanya Aditia bicara dengan khodam milik suaminya Selly yang ternyata memiliki khodam itu.
“Ka! Lepas raga, sudah ada yang lepas raga ternyata, kau harus lihat ke dulu tubuhnya untuk memastikan saja.” Aditia memanggil Alka.
“Ya, kita harus lihat tubuhnya dulu, kalau benar lepas raga, berarti korban selanjutnya sudah ditentukan.” Alka berjalan ke luar ke arah lobby, dimana tubuh Selly ada di sana.
“Apakah kalian bisa ....” suami Selly bertanya.
“Kau kan sudah lihat, Aditia berbicara dengan milikmu, kau seharusnya menggunakan dia dengan baik, jangan hanya butuhnya saja.” Alka kesal, khodamnya terlihat sangat lemah, mungkin tidak diberi makan. Banyak orang menggunakan khodam tapi tidak memberi mereka makan.
“Makan? makan apa?” Suami Selly tidak paham.
“Makanya kalau punya begituan, kamu harus belajar juga cara memeliharanya!” Aditia kesal karena suami Selly tidak paham.
Mereka menuju Lobby untuk melihat keadaan Selly.
Begitu sampai, Alka melihat tubuh Selly, sekali lihat, Alka tahu, dia lepas raga.
“Istriku sedang hamil.” Suaminya terlihat sangat khawatir.
“Justru itu yang menolongnya, kehamilan dia membuat dia tidak bisa dipaksa ikut, karena janinnya merupakan kehidupan yang menahan Selly tidak lepas raga sempurna, tapi jelas, ruhnya telah lepas, dia pasti sekarang bingung cara kembali ke tubuhnya.” Alka menjelaskan.
“Tolong saya, tolong istri dan calon anak kami.” Suaminya lemas, dia tidak tahu masalahnya seberat itu. Walau dia bisa disebut orang pintar, tapi ini terlalu tinggi untuk ukurannya.
“Bertemu dulu dengan pemilik hotel, baru kita cari Selly.” Alka berjalan, sementara yang lainnya mengejar.
“Ka, kamu capek, kamu bertarung paling berat setiap malam. Kamu akan ambruk kalau terus begini.” Aditia mencoba membujuk Alka agar istirahat dulu.
“Kalau kita berhenti, lalu bagaimana dengan Selly yang ketakutan dan menunggu siapapun untuk menolong, dia juga sedang hamil tidak boleh terlalu lama tidur.” Alka memandang Aditia.
Sementara semua terdiam.
__________________________________________
Catatang Penulis :
Aku mengetik sembari ngantuk, ada tulisanku yang ngaco, ini salah satunya :
guci ini bukankah mirip dengan gambar
Aku cukup merinding melihat itu, karena sepertinya itu bukan tulisanku karena kita tidak bahas guci dan gambar, kalau nemuin kata yang nggak sesuai sama tema, kasih tau ya, itu pasti karena aku mengetik sembari ngantuk dan kadang ngaco nulisnya.
Terima kasih yang selalu maklum dengan semua kelemahan dan lubang dalam tulisanku, aku sayang kalian.
__ADS_1