
“Siapa dia?” Ayi Mahogra yang bernama Sarika Puspita bertanya.
“Abiyasa, Pangeran negeri ini, Putra Mahkota, Ayi Mahogra.”
“Kau tahu aku Ayi Mahogra?” Sarika bertanya.
“Tentu, namamu begitu dikukuhkan, langsung menggema ke seluruh penjuru Kharisma Jagat, boleh aku tahu, apa yang kau lakukan di hutan ini?” Tanya Abah Wangsa, masih dengan membungkuk.
“Aku sedang menghimpun jin hutan untuk menjadi sekutu, kau tahu, Kharisma Jagat senang menyerang. Aku harus bersiap menundukkan kalian semua.” Sarika berkata seolah itu hal biasa. Padahal maksudnya adalah peperangan.
“Tanda apa ini?” Sarika bertanya, di kening Abiyasa terlihat sinar yang aneh, seperti kerlip yang indah.
“Tanda apa?” Abah Wangsa bertanya, karena dia tidak melihat apapun.
Saat itu Sarika atau siapapun belum tahu, bahwa itu adalah tanda Kharisma Jagat Agung, jodoh dari Ayi Mahogra, kelak apa yang menjadi catatan Ayi Mahogra dijadikan Mudha Praya sebagai tuntunan menyusun perjodohan adat, karena ini Mudha Praya memaksa semua Kharisma Jagat untuk menikah dengan jodoh adatnya, padahal pertemuan Ayi Mahogra dengan Kharisma Jagat Agung adalah takdir, tidak semua orang memiliki takdir yang sama.
Pramudya Aksara tidak memiliki tanda kerlip di dahinya walau dirinya telah dikukuhkan sebagai jodoh adat Ayi Mahogra pada kepemimpinan Seira, Pram memang benar Kharisma Jagat Agung yang hanya mmapu mencintai satu wanita dalam hidupnya, tapi bukan berarti Ayi Mahogra adalah jodohnya, karena Pram tidak mampu membuat Ayi jatuh cinta, sehingga kerlip di dahi itu tidak muncul.
Berbeda dengan Abiyasa dan Sarika ....
Aditia melihat ini langsung terkejut, dia menyesal tidak membawa telepon pintarnya, dia ingin memfoto Ayi Mahogra abad pertama dan memperlihatkannya pada Ayi Mahogra Seira, Aditia ingin menunjukkan leluhur Ayi pada abad pertama ini.
“Bawa ke gubuk kita, di bahumu saja Panglima Erlangga, kita obati.” Sarika memerintah, Erlangga seperti biasa, selalu menuruti titah Ayi Mahogra, dari zaman ke zaman.
Setelah sampai gubuk di hutan, Sarika mencabut anak panah dari bahu Abiyasa, setelah tercabut, Ayi memberikan pengobatan alternatif pada bahu Abiyasa, sementar dia belum bangun juga.
Keesokan harinya Abiyasa terbangun, perlahan matanya terbuka, saat kesadarannya sudah pulih dia kaget, karena berada di tempat asing.
“Di mana ini? apa aku sudah meninggal? Apa ini sudah di surga?” Abiyasa bertanya.
Sarika tertawa terbahak-bahak, “Kenapa kau bilang ini surga?” Sarika penasaran.
“Karena kau melihat bidadari, katanya bidadari hanya ada di surga.” Sarika terdiam, pipinya memerah, dia malu.
“Ka-kau, sudah pulih? Apa bahumu masih sakit?” Sarika salah tingkah karena dipuji oleh seseorang yagn menarik baginya, kerlip di kening Abiyasa semakin kentara.
“Jadi aku bukan di surga? Di mana ini dan kau siapa?” Abiyasa bertanya.
“Aku Sarika.”
“Ka-kau Ayi Mahogra?” Abiyasa langsung turun membungkuk, bahunya sakit sehingga dia meringis.
“Kau untuk apa menunduk, kita hanya berdua, jadi tidak perlu protokol. Aku memang Ratumu dari garis Kharisma Jagat, tapi kau adalah pangeran Negeri ini, jangan tundukkan kepalamu padaku.” Ayi Mahogra menghormati Abiyasa sebagai seorang calon pemimpin negeri ini.
“Baiklah Ayi, terima kasih karena telah menolongku.”
“Ceritakan padaku, siapa yang melakukan ini padamu? kenapa kau bisa terkena anak panah menembus dibahu itu?” Sarika penasaran.
“Entahlah Ayi, ini mungkin tindakan pembelot.”
“Aku paling benci pengkhianat, aku akan membantumu mencari pelakunya.”
“Tapi Ayi, apakah itu tidak merepotkanmu?” Abiyasa sungkan dan sedikit merasa terhormat.
“Tidak masalah, aku banyak waktu, aku baru saja selesai menaklukan jin di hutan ini, mereka sekutu kita, tapi aku boleh mengajukan syarat?”
“Tentu saja, apa itu?” Abiyasa bertanya.
__ADS_1
“Aku ingin kau menyediakan makanan untuk aku dan Panglima Erlangga. Bisakah?”
“Hanya itu?”
“Ya, memang kau bisa beri apalagi?” Ayi bingung.
“Aku bisa memberikan apapun yang Ayi mau.” Abiyasa bersunggung-sungguh.
“Kalau begitu, aku ingin makanan yang banyak, apa kau sanggup?”
Abiyasa tertawa mendengar itu, seornang Ayi Mahogra terhormat, hanya ingin makanan, tidak yang lain, tentu saja, jika dia ingin kekuasaan, maka Kharisma Jagat harus tunduk, tapi benar kata kitab Kharisma Jagat itu, bahwa akan ada kedatangan Ayi Mahogra, menjadi abad pertama dalam kedamaian Kharisma Jagat, orang yang sangat bijaksana dari orang terbijaksana, orang yang cerdas dari seluruh manusia yang cerdas dan orang yang berwibawa dari semua petinggi dunia.
Tapi tetap saja, dia adalah seorang gadis dengan umur yang masih belia.
Setelah membaik, Abiyasa akhirnya kembali ke kerajaan, kerajaan gempar, semua orang kaget karena kedatangan Putra Mahkota yang disangka telah tiada karena hampir dua minggu dia menghilang. Tentu waktu itu, belum ada satuan waktu yang pasti.
Raja ternyata sakit-sakitan saat anaknya hilang, sehingga secara tatanan pemerintahan, Perdana Menteri dan Ratulah yang memimpin kerajaan, Abiyasa tahu, bahwa ada yang bermain di belakangnya, mungkin Ratu Diah terlibat.
“Anakku yang sangat tampan, syukurlah engkau kembali.” Ratu Diah mengunjungi pendopo Putra Mahkota. Dia memasang wajah sedih dan bahagia.
“Terima kasih karena Ratu sudah menunggu hamba dengan tanpa menyerah, apakah sekarang ayahku sakit?” Abiyasa langsung menembak pertanyaan.
“Ya benar anakku, dia sakit, aku harus menggantikannya dalam banyak urusan kerajaan. Itu karena kau juga hilang, perhatianku terbagi.” Ratu Diah merasa dirinya adalah orang yang paling berjasa, padahal kerajaan porak-poranda.
“Terima kasih Ratu Diah, maka mulai saat ini aku akan menggantikan semua urusan ayahku.” Abiyasa terlihat lebih menantang dibanding berbicara lembut pada ibu tirinya, Ratu Diah tahu, bahwa Abiyasa hanya menggunakan adab saat berbicara dengannya, maksud hatinya berbeda.
“Baiklah kalau begitu, tapi kalau kau masih lelah, kita bisa menyerahkan urusan kerajaan pada Perdana Menteri wajah Putra Mahkotaku.”
“Maksudmu, pamanmu?” Abiyasa mulai kesal, karena Ratu Diah memang menaruh semua orangnya di tatanan kerajaan, kelak Abiyasa akan memangkas habis orang-orang Ratu Diah.
“I-iya dia adalah kakekmu, dia bisa membantumu untuk ....”
Setelah Ratu Diah pergi, Ayi Mahogra keluar dari persembunyian, dia tidak ingi dilihat oleh siapapun.
“Siapa dia?” Ayi bertanya.
“Ibu tiriku, Ratu Negeri ini.”
“Ibumu?”
“Sudah tiada.” Abiyasa terlihat bersedih.
“Ibumu Kharisma Jagat?”
“Ya, ibuku Kharisma Jagat.”
“Dia pasti wanita hebat.”
“Terima kasih Ayi, sudah menghiburku.”
“Ya, tapi ayahmu salah memilih pasangan, dia bukan orang baik, energi hitamnya terlalu pekat, tidak kah kau lihat itu?” Ayi bertanya.
“Energi pekat? Maksudnya?”
“Berarti hanya aku yang melihat, aku akan selidiki dia, kenapa energinya begitu hitam, kalau dia mengguanakan sihir hitam, kita harus memberinya pelajaran.”
“Tapi Ayi, izinkan aku yang menghukumnya.”
__ADS_1
“Baiklah, ini urusanmu, aku hanya akan membantumu mendapatkan siapa yang melakukan pengkhianatan padamu.” Ayi lalu pergi setelah mengatakan itu.
Hanya butuh waktu tiga hari, Ayi Mahogra sudah menemukan siapa pelaku yang memanah Pangeran, tapi sayang, semua orang yang menjadi pelaku dan saksi sudah dibantai entah oleh siapa, Ayi menebak itu adalah suruhan Ratu, walau telah terusut, tapi Abiyasa belum juga bisa menghabisi Perdana Menteri, orang yang ingin dia singkirkan dari kerajaan.
Sementara keadaan ayahnya memburuk, Ratu juga jarang menemani Raja, dia sibuk dengan urusan kecantikannya, padahal dia tidak cantik baik fisik maupun hati.
Semakin lama bersama, tumbuhlah benih cinta pada Ayi Mahogra dan juga Pangeran Abiyasa, tentu Ratu Kharisma Jagat dijodohkan dengan Kharisma Jagat Agung oleh Tuhan, bukan oleh Mudha Praya, bahkan setelah ini mereka tidak pernah membuat peraturan tentang jodoh adat, karena tahu bahwa jodoh datang dari Tuhan, bukan dari setan seperti Mudha Praya.
Raja meninggal dalam keadaan mengenaskan, Ratu berkabung dengan pergi ke rumah keluarganya, sementara Abiyasa menyusun rencana untuk emnumbangkan perdana Menteri, dia ingin mengganti semua orang kepercayaan Ratu Diah agar bisa memimpin kerajaan dengan tegas dan adil, tidak tajam ke bawah dan tumpul pada para bangsawan.
Tapi tidak mudah, karena Perdana Menteri sangatlah licik, dia mengumpulkan bala tentata untuk memihak padanya.
Sedang saat itu juga Abiyasa mengumumkan pernikahan, tapi Ratu menolak dengan keras pilihan Abiyasa, karena Sarika berasal dari kalangan rakyat jelata.
Bagi Ratu Diah yang bukan seorang Kharisma Jagat tentu tidak mengerti, bahwa posisi Ayi Mahogra bahkan lebih tinggi dari Raja yang memimpin sekarang, yaitu Abiyasa.
Tapi aulit terbantahkan bahwa wewenang memilih calon Ratu memang dimiliki oleh Ibu Suri. Yaitu Ratu Diah yang sekarang naik jabatan menjadi ibu suri tanpa anak kandung.
Posisinya cukup tinggi untuk dilawan.
Tapi Abiyasa terlalu cerdas untuk menyerah, dia menuruti kemauan Ibu Suri, tapi dengan syarat, dia akan menikahi siapapun yang memenangkan kompetisi pemilihan calon Ratu kerajaan Sunda.
Tapi kompetisi harus dilakukan dengan adil.
Kompetisis itu boleh diikuti oleh semua orang, siapapun berhak ikut tidak terkecuali kalangan bawah.
Maka Sarika Sang Ayi Mahogra bisa diikutsertakan. Abiyasa yakin, takkan ada yang mampu menandinginya.
"Kau yakin mau aku ikut kompetisi itu?" Pada suatu senja Sarika bertanya, mereka berdua sedang menghabiskan waktu bersama, Raja Abiyasa sesekali keluar kerajaan berkeliling tanpa jubah dan mahkota, hanya bersama Dorapala kepercayaannya, tiga orang saja.
"Kau takut Ratuku?" Raja Abiyasa bertanya.
"Kau bertanya seperti itu pada Ayi Mahogra?" Sarika tersinggung.
"Maksudku, kau takut melukai calon lain?" Abiyasa tertawa terbahak-bahak.
"Itu maksudku, aku ini tidak sabaran, aku takutnya malah mencelakai orang."
"Maka dari sini kau bisa belajar wahai Ratuku, belajar untuk pura-pura jadi wanita biasa, sepertiibuku dulu, tak ada satupun yang tahu dia adalah baguan dari kekuasaan Kharisma Jagat yang cukup tinggi."
"Jadi kompetisi ini caramu melatihku menjadi wanita biasa? Kau ingin aku menjadi wanita biasamu?" Ayi bertanya.
"Tidak, aku ingin kau yang ada di sisiku."
"Kau ini penggombal ulung."
"Memang, kalau tidak ulung, kau akan menghabisiku." Abiyasa makin tertawa, karena Ratu cantiknya kesal dengan wajah yang semakin cantik.
"Tapi aku punya satu syarat." Kalau berbicara dengan Ayi Sarika, pasti selalu dengan syarat.
"Sebutkan." Abiyasa menantang balik.
"Jika aku berhasil memenangkan kompetisi itu, aku menolak adanya selir, karena kalau cemburu, aku tidak melabrak, tapi menyantetnya. Kau tahu kan, ilmu menyerang organ tubuh dengan cara ghaib."
"Ini yang aku suka darimu, tidak bertele-telez aku terima syaratnya, aku takkan memiliki selir, lagi pula, kalau memilikimu, aku tidak butuh wanita lain, siapa yang bisa menandingimu?"
"Kau gombal lagi, aku mulai pusing mendengar gombalanmu, sudahlah, sekarang aku harus mengejar dukun laknat di kerajaan sebelah, sampai ketemu lagi nanti."
__ADS_1
Sarika dan Panglima pergi dengan cara Sarika naik ke punggung Panglima dan menghilang dari penglihatan.
Abiyasa memperhatikan dari jauh dan menatap kagum, betapa indahnya ciptaan Tuhan. Itu yang ada dipikiran Abiyasa.