
Alka dan yang lain sudah mendapatkan kembali angkot mereka yang kemarin sempat mogok. Alka meminta Hartino membeli salah satu rumah yang dekat dengan hotel. Alka kalau sudah murka, dia tidak lagi perduli soal uang.
Dia ingin rumah itu menjadi basecamp, bagaimana mungkin seorang Alka dikerjai oleh kakek tua yang suka berhubungan dengan setan jahat itu.
"Jadi, kita harus apa?" Ganding yang masih dalam wujud ruh bertanya.
"Har, sudah dapat semua yang aku butuhkan?" Alka bertanya.
"Sudah, semuanya yang kau butuhkan Kak." Hartino bersemangat sekali.
"Kalau begitu, aku akan melakukannya satu persatu. Kalian semua aku bagi menjadi dua bagian. Ganding dan Jarni awasi hotel, Aditia dan Hartino pergi temui Selly, tanyakan apapun yang tidak kita lihat di Lembah Aru itu pada Selly, siapa tahu ada yang terlawat. Sedang aku, aku akan melakukannya sendirian. Aku tahu, pasti kakek itu sudah antisipasi, tapi dia tidak tahu sedang mengerjai manusia setengah jin!"
Alka berjalan ke luar, sementara yang lain ikut perintah Alka.
Terget Pertama sudah terkunci. Alka masuk ke dalam pagar rumah itu dengan mengendap, ini siang hari, tentu saja tubuh jinnya tidak bisa semua lihat.
Saat masuk dan sudah sampai di pintu, dia melihat ada pagar ghaib. Tentu saja dia menjaganya, tidak mungkin akan melepaskan.
Alka memutar, dia mencari celah, karena pagar Ghaib tidak boleh dirusak, kalau dirusak maka akan lagnsung ketahuan oleh dukun yang memasangnya.
Alka berpikir, apa yang harus dia lakukan? Kalau kita tidak bisa masuk, berarti kita harus membuatnya keluar.
Alka menelpon seseorang dari tempatnya berdiri, tidak lama seorang lelaki yang berumur sekitar 50 tahunan keluar, tubuhnya masih terlihat fit walau umur sudah lumayan banyak..
"Hei." Alka menegur, lelaki itu tersenyum dan Alka mendapatkan apa yang diiginkannya.
Target kedua, Alka pergi ke rumah lain, begitu sampai dia melakukan tekhnik yang sama seperti yang dia lakukan pada target pertama hingga akhirnya mendapatkan mereka.
Ini yang Hariyadi tidak ketahui, bahwa Alka bukan jin pesuruh.
Setelah itu dia pergi ke target ketiga, keempat dan kelima. Alka mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sementara di tempat lain, Aditia dan Hartino memutuskan untuk bertemu Selly dan suaminya. Ada yang harus mereka tanyakan.
Begitu sampai, Suaminya Selly langsung menyambut Hartino saja, tentu karena Aditia kan tidak terlihat. Sementara Selly sedang berbaring di ruang tengah, dia menonton televisi dengan santai.
"Eh, nggak apa-apa Bu Selly, udah santai aja." Hartino mencegah Selly ikut bangun menyambut dia.
"Mau minum apa Pak?" Suaminya bertanya.
"Tidak perlu Pak, saya ke sini karena ada hal mendesak, mengenai hotel itu," Hartino berkata.
"Oh begitu, baiklah, ada apa Pak?"
"Seperti yang kalian tahu, Selly telah kembali ke tubuhnya, saat itu, saat dia diĀ sana, kami ingin bertanya, apa yang dia rasakan, kenapa dia masih sadar, sedang yang lain tidak?"
"Bukankah karena kehamilan? bukankah kalian bilang kalau Selly bisa sadar karena dia hamil."
"Ya, betul, tapi apakah Selly melihat sesuatu saat dia di sana?" Hartino bertanya lagi.
"Melihat apa ya?" Selly bertanya dari ruang tamu yang tidak tersekat itu.
"Melihat apakah ada yang lain selain yang Selly lihat berulang? Penari, centeng dan lapangan di atap itu, selain itu apakah ada yang Selly lihat?"
"Ah ada! itu yang cukup ganggu sebenarnya."
"Apa itu Bu Selly?" tanya Hartino.
"Ada sesosok makhluk yang membunyikan gong, dia itu membunyikan gong hingga para penari keluar entah dari mana."
"Loh, bukannya centeng itu yang membunyikan gong?" Hartino bingung, karena dia tidak ke bawah untuk mencari Selly sebelumnya, dia berada di atap, bertarung.
"Har, gue sama Alka memang kurang ngeh sih, siapa yang bunyikan gong saat itu. Kenapa elu tanya itu?" Aditia bertanya, Har menatap Aditia, isyarat untuk diam dulu.
"Bukan, itu adalah sosok yang berbeda, dia seorang kakek-kakek yang bertubuh sedang seperti manusia biasa, tapi bedanya wajahnya pucat."
"Tapi dia tidak ada pada saat kita menghancurkan Lembah Aru?" Hartino bertanya lagi pada Selly.
"Iya, dia tidak ada."
__ADS_1
Hartino mengangguk, dia lalu pamit dan akhirnya kembali ke markas. Rumah dekat hotel yang mereka beli hanya untuk misi ini.
"Aku sudah mengurus semua target, sekarang kasih tahu aku semua temuan kalian. Karena aku tak mau lagi terkejut karena kita kurang persiapan. Ingat, kemarin kita kalah karena kita gegabah."
"Aku dan Aditia sudah menemui Selly, dia berkata ada yang lain lagi, ada sosok yang tidak keluar dari Lembah Aru, dia satu-satunya yang tidak terlihat saat kita akan menghancurkan lembah itu."
"Berarti ada satu lagi, bagus Har, kita memang harus tahu apa yang tidak kita ketahui agar tidak dikelabui."
"Iya Kak, tapi Nding, gue bingung deh, kenapa ya, kok elu tahu kalau Maya sakit? anak kakek itu? padahal aku belum sempat mencari data tentang detail keluarga Hariyadi kemarin, makanya kita terjebak dengan kepolosannya."
"Oh itu mudah Har. Saat Maya sampai ke kamar 713 itu, dia terlihat sesak nafas dan juga berkeringat. Usianya masih muda, tapi hanya berjalan dari lift ke 713 yang jaraknya tidak jauh saja, dia kesulitan begitu. Apa lagi kalau bukan sakit jantung, aku pernah membaca jurnal tentang gejala sakit itu."
"Wah kau gila, bertaruh tanpa data, hanya melihat saja." Hartino kagum tapi juga mengejek.
"Tapi aku benar kan, karena saat Hariyadi menelpon Dokter keluarganya, Maya memang sakit."
"Itu kau beruntung saja." Hartino menyangkal.
"Tidak ada yang lebih hebatlah dibanding Kakak yang merubah wujud menjadi Hariyadi, hingga Maya percaya saat dia mendengar suara ayahnya dan tertipu datang ke 713, bahkan saat bertemu ayahnya yang dia sangka sakit keras hingga menyuruhnya datang malam-malam ke sana, dia langsung memeluk ayahnya dan akhirnya ditarik ke dunia ghaib oleh kak Alka, untuk menjadi sandera. Rencana kita yang tanpa persiapan itu sebenarnay hampir sempurna, tapi ya ternyata ada Supri yang menyebalkan itu. Aku tidak merasa curiga sedikitpun." Ganding menjelaskan hal yang mungkin tidak sempat mereka jelaskan saat kejadian kemarin.
"Dan orang hebat ini memilihku untuk bangun duluan, bukan Adit atau bahkan Jarni." Hartino terlihat sumringah, dia akhir-akhir ini sedang sensitif, hal seperti ini saja bisa membuat dia senang.
"Kau tidak tahu kenapa kakak memilihmu?" Ganding tertawa terbahak-bahak.
Alka melihat itu juga tertawa.
"Memang kenapa?" Hartino bingung. Aditia yang diam saja jadi penasaran, apa alasan Alka memilih Hartino. Walau Aditia tidak menyangka dirinya yang akan dibangunkan, paling tidak Jarnilah yang menjadi dugaannya terhadap rencana Alka membangungkan salah satu diantara mereka.
"Karena di titik ini, Kak Alka tidak butuh tenaga dan kepintaran dari aku dan Jarni untuk melawan Hariyadi yang memiliki tubuh kita, tidak butuh ilmu tinggi dari Aditia untuk mengancam Hariyadi yang memiliki Tun di sisinya, tapi dia butuh rekan yang bisa mencari informasi, hal yang Hariyadi pasti miliki, kelemahan! Ya pilihannya, hanya dirimu." Dengan puas Ganding berkata, dia senang telah menjatuhkan harga diri Hartino yang dia lambungkan tinggi.
"Memang iya Kak?" Hartino bertanya seperti anak kecil yang baru sadar telah diperdaya kakaknya.
"Memang apa lagi?" Alka meledeknya.
"Pantas kau memilihku bukan memilih Aditia ...." Ganding melotot pada Hartino, dengan polos dia kelepasan.
"Ya maksudku bisa aja kamu, karena kan, ilmumu tinggi. aku pikir kakak mau frontal lawan Hariyadi." Hartino mencari alasan.
"Oh begitu, aku pikir ada alasan lain yang lebih baik."
"Memang kamu maunya apa alasan baik itu?" Alka bertanya.
"Ya misalnya kamu takut kehilanganku." Aditia menggombal.
"Aku memang takut kehilanganmu ... dan juga semua yang ada di sini." Alka buru-buru mengkoreksinya.
"Bisa nggak kita fokus dengan mengambil tubuh kami lagi Kak?" Ganding dan Hartino kesal melihat keromantisan yang tidak disengaja tadi.
"Ok baiklah, kirim undangan pada Hariyadi, aku tidak mau tubuh kalian berlama-lama di luar sana." Alka meminta Hartino mengirim undangan pada Hariyadi melalui Supri, sebuah undangan surat kaleng untuk bertemu di ballroom hotel.
...
"Jadi, apa yang mau coba kalian tukar?" Hariyadi dengan percaya diri berkata.
"Kau pikir kau siapa? kau juga punya kelemahan sepertiku bukan?" Alka kesal dengan sikap kakek tua ini.
"Kelemahanku sudah terjaga dengan baik, anak-anakku kan?" Hariyadi yang memiliki tiga anak berkata dengan lantang dan puas.
"Kalau mereka baik-baik saja, lalu ini siapa?" Alka mengeluarkan tiga tubuh yang tertidur, karena ruhnya Alka sekap seperti Maya. Saat ini anak pertama, kedua dan si bungsu Maya telah tertidur di sana, Alka memang menutup tubuh itu hingga tak terlihat oleh siapapun.
Hariyadi tertawa, dia tidak percaya bahwa itu benar-benar anaknya.
"Kau bercanda, aku tidak tahu kau siapa! atau apa! tapi itu bukan anak-anakku. Mereka aman di rumah, karena tidak ada benda ataupun sosok ghaib apapun yang bisa masuk ke rumah anak-anakku."
"Oh begitu, maka telepon mereka, katakan bahwa Alka telah membebaskan tugas mereka saat ini."
Hariyadi buru-buru menelpon anaknya yang pertama.
[Kau di mana?] Tanya Hariyadi.
__ADS_1
[Di pekarangan rumah.] jawab anak sulung itu.
[Kenapa kau dipekarangn rumah?] Hariyadi mulai berdebar.
[Kan aku nggak bisa masuk, tubuh dan wajahku bisa menyerupai anakmu, tapi dzatku tetap dikenali benda asing oleh pagar yang dukunmu buat, aku hanya standby untuk kau telepon.] Anak sulung itu tertawa nyaring, Hariyadi menutup teleponnya.
Dia menelpon anak-anaknya yang lain, semua jawabannya sama, mereka ada di pekarangan rumah yang tidak berpagar ghaib. Para penjaga rumah tidak ada yang curiga bahwa anak-anak Haryadi adalah jin teman-teman Alka yang menyamar menjadi apa yang Alka perintahkan, seperti mereka menyamar menjadi Ganding, Jarni dan Hartino saat mereka harus menjalankan tugas dan tidak bisa pulang ke rumah.
"Bagaimana kau menembus pagar itu! Supri!" Hariyadi terlihat kesal dan berteriak pada ajudannya yang menyamar menjadi Security itu.
"Pagar masih aman Tuan, tidak ada yang jebol, jadi dia pasti berbohong, kau telah ditipu, itu bukan anak-anakmu!" Supri berusaha meyakinkan tuannya.
"Kau percaya dia?" Alka bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak tahu bahwa Supri adalah dalang dari kotornya sikapmu terhadap para korban?" Alka berkata lagi.
"Mau bicara apa lagi kau, mau memecah belah kami?"
"Bukankah kau dan Supri dulu adalah teman seperjuangan saat melawan pasukan Jepang? bahkan dia yang mengajukan dukun untuk mengunci pasukan itu di Lembah Aru, begitu bukan? walau dia lebih muda darimu, tapi umur kalian tidak terlalu jauh, lalu kenapa kau dan dia memiliki wajah yang terlihat jauh berbeda.
Kau tak curiga bahwa Supri memiliki Tun dalam versi yang lebih tinggi? Tun hanyalah jin sepele yang tidak ada apa-apanya, bukan dia yang menciptakan Lembah Aru, karena Tun hanya mengikuti perintah atas janji yang Supri berikan padanya tentang lelaki manusia yang mau berhubungan dengan jin sepertimu.
Supri adalah orang serakah yang ingin kekuasaan atasmu dan mungkin banyak lagi orang kaya lainnya dengan mengajukan perjanjian dengan jin seperti Tun. Jin bodoh yang suka dengan nafsu dunia.
Supri dan khodamnya telah menipumu, bahkan mungkin bukan cuma kamu." Alka menutup penjelasannya.
"Tidak kau bohong!" Hariyadi berteriak.
Alka telah memasang pagar yang jauh lebih baik lagi di sekitar ruangan ballroom, dia tidak membiarkan khodam Supri masuk ke sana, khodam yang suka bersembunyi itu, sekarang kena batunya dia.
"Khodammu takkan bisa masuk Supri, mau aku katakan pada Hariyadi, apa yang sebenarnya telah membuat dia masih terlihat bugar?" Alka berkata, Supri mendengarnya dia hendak lari, tanpa khodam dia hanya manusia biadab yang kosong.
"Apa yang sebenarnya membuatku menjadi lebih muda dari usiaku? bukankah aku memang abadi!"
"Hariyadi, kau bodoh sekalil. Kau tidak sadar, anak sulungmu telah meninggal saat umurnya sepuluh tahun, lalu lahirlah anak ini," Alka menunjuk anak yang sulung yang tertidur karena ruhnya disekap Alka, "usia sepuluh tahun itu telah diambil Supri dan khodamnya untuk mengganti usiamu yang seharusnya telah selesai. Lalu, cucumu dari anak pertama, dia meninggal pada usia lima belas tahun. lagi-lagi umur itu diambil untuk menambal umurmu bodoh! makanya usiamu yang 90 tahunan, bisa terlihat seperti 70 tahunan. Itu karena umur anak cucumu yang digadaikan oleh Supri kepada khodamnya!" Alka benar-benar merasa murka.
"Tidak, kau bohong hanya untuk mengelabui kami bukan!" Hariyadi masih menyangkal.
"Bukankah kau telah merasa sakit-sakitan? lalu tiba-tiba kau merasa sehat kembali tanpa sadar bahwa Maya telah menjadi incaran Supri untuk menambal umurmu yang diambil dari umurnya Maya! Maya sekarat, ketika kau akhirnya bisa hidup abadi, semua anak cucumu akan dikorbankan untuk menambal usia yang kau inginkan. Umurmu itu berasa dari merampas umur anak cucumu brengsek!" Alka sudah pada batas kesabarannya.
Dia melayang dan menarik Supri untuk dihajar!
Setelah puas menghajar Supri Alka lalu berdiri lagi dengan tenang dihadapan Hariyadi, dia merubah wujudnya menjadi Hariyadi, sehingga Hariyadi terkejut, bagaimana bisa Alka berubah menjadi dirinya.
"Aku mengelabui anak-anakmu agar mau keluar dari rumah dan akhirnya aku tawan ruh mereka, aku tipu daya mereka seperti kau ditipu daya oleh Supri dan khodamnya di luar sana. Sekarang kembalikan tubuh adik-adikku. Maka aku akan kembalikan tubuh anak-anakmu. Tapi aku juga ingin kau benar-benar menghancurkan perjanjian dengan Tun yang mungkin saja kau sudah perbaharui. Itu bisa melemahkan khodam Supri dan memusnahkan Tun."
"Baiklah aku akan memberikan tubuh adik-adikmu." Hariyadi menyerah.
Supri berteriak, karena memang Hariyadi yang menyimpan tubuh itu saat ini bersama Tun, Supri menyerahkan tubuh-tubuh itu agar Hariyadi tetap percaya padanya.
Tun membawa tubuh adik-adiknya. pertukaran dilakukan satu-satu. Hingga semua orang kembali ke tubuhnya, anak-anak Hariyadi terlihat bingung.
"Aku hanya kan melakukannya sampai sini. Kita impas, masalah Tun, aku tidak akan melepasnya." Hariyadi hendak pergi.
"Kau mau kemana?" Alka kesal karena Hariyadi masih si pendusta.
"Sudah cukup, Supri akan aku habisi kau, tapi Tun tidak akan pernah!" Hariyadi hendak kabur, Tun membuka pintu, Khodam Supri sudah di masukan ke botol oleh teman-teman jin Alka yang lain. Dia memang bawa banyak bala bantuan di kasus ini. Jarang sekali dia melakukan ini, karena kalau minta bantuan jin, kau harus membalas dengan kesulitan yang sama.
"Lihat ini Hariyadi, cucu-cucumu ada di tanganku, aku akan membuat mereka mati sekarang juga, kau tahu, aku benci orang-orang tipe sepertimu!" Alka mengangkat salah satu cucunya Hariyadi, Alka tahu bahwa Hariyadi tetap mempertahankan Tun agar dia bisa tetap muda, mengenai anka cucu yang mungkin menjadi pertukaran, dia hendak mencari cara lain seperti mengorbankan pegawai untuk para pasukan Jepang itu. Orang lain mati tak apa, yang penting dia dan keluarganya selamat.
"Lepaskan cucuku!" Hariyadi memohon.
"Ucapkan mantera pelepas perjanjian, sekarang, aku tidak akan berkata dua kali, lihat ini!" Alka menarik kembali cucunya Hariyadi yang merupakan anak Maya, Maya berteriak dan memohon pada ayahnya, tapi Hariyadi ragu, dia lebih mencintai rupa mudany dibanding cucu sendiri.
Alka menggores leher anak itu dengan keris Aditia, ada darah yang muncul dari leher itu, kalian tahu kan, bahwa keris itu tumpul untuk manusia dan tajam untuk jin. Kalau keris mini itu bisa melukai anak itu, berarti anak itu ....
"Baiklah! baiklah!!!" Hariyadi menyerah, dia akhirnya melepas Tun dan begitu Tun musnah, Hariyadi berubah menjadi pria yang sanga tua dan bahkan tidak mampu bangkit setelah jatuh karena tidak mampu berdiri. Hariyadi kehilangan kebugarannya dan menjadi pria tua yang sangat menyedihkan di hadapan anak-anaknya.
__ADS_1