Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 84 : Borok


__ADS_3

Ganding datang setelah dua jam ditelepon oleh Aditia, tepat setelah kelas selesai.


Ganding dan Aditia langsung ke ruangan di mana wanita yang pingsan dengan nanah dari sekujur tubuhnya mengalir hingga mengeluarkan bau busuk yang luar biasa.


Sayang, wanita itu sudah tidak ada di sana lagi, tentu saja sudah pulang dikemput keluarganya, tapi identitasnya bisa mereka datapatkan, setelah melihat ruangan bekas wanita yang bernama Ami itu Ganding dan Aditia makan di kantin kampus.


“Menurutmu gimana?” Aditia Bertanya, maksudnya apakah ada bau atau jejak yang aneh.


“Baunya busuk banget Dit, gue juga cium bau yang aneh, semacam bau daun kamboja, tapi teselimuti bau busuk.”


“Jadi, menurut lu ini aneh, apakah kita perlu untuk datangi Ami?” Aditia bertanya.


“Gue sih yakin, ini ada yang aneh, kalau mau ke sana harus sama tim Dit, gue nggak bisa kalau disuruh mutusin sendiria, lagian kenapa sih? Elu sama Kak Alka masih perang dingin?” Ganding bertanya.


“Nggak kok, gue nggak kenapa-kenapa, nggak tau juga kalau dia, naik gunung gitu aja, bukan nunggu kita libur dulu.”


“Elu mah nggak peka, dia malu sama lu, karena elu tegur langsung tentang tindakan dia yang personal ke Ardin, tapi kalau gue sebagai pemimpin tim ini, gue bakal lakuin lebih berat dari itu Dit, mungkin menggal kepalanya.” Ganding berkata.


“Gue tahu, gue juga bukan Provos kali, Polisinya Polisi, Alka bebas mau lakuin apapun, kita bakal dukung, tapi jujur gue ke ganggu, karena gue takut Nding.”


“Takut kenapa?” Ganding bertanya.


“Takut kalau dia akhirnya harus ke persidangan lagi, gue melihat Ayi begitu dingin saat menghukum Alka, dia terlihat seperti siap menerkam Alka, jika saja Alka salah langkah lagi.”


“Ini yang elu kurang paham anak muda, jadi kalau elu bilang Ayi menunggu Alka salah langkah, kalau Kak Alka sengaja berbuat begitu, melawan hal-hal yang telah Ayi aturkan.”


“Hah, maksudnya Nding?” Aditia menyuap nasi gorennya, menu favorit dan termurah di kampus ini.


“Alka sengaja ingin terus bertemu Ayi Dit, dia sangat ingin Ayi menghukumnya setimpal, tapi selalu saja dia mendapatkan hukuman paling ringan, dia sedang mencoba menebus kesalahannya dan semua hukuman yang sudah dia dapatkan, dia merasa belum sepadan dengan apa yang telah dia lakukan, menghabisi orang yang paling Ayi percaya, kau tahulah, Pramudya Aksara, konon katanya, saking percayanya Ayi sama Pramudya Aksara ini, dia memulai perjuangan melawan Tetua itu dengannya, bukan dengan Malik yang sekarang menjadi suaminya.”


“Oh begitu, Alka mencoba menebus kesalahannya, Ayi ingin menerkamnya, tapi intuisi dan kebijaksaannya menghalangi menghukum Alka dengan tidak adil, sedang aku mencoba selalu menjauhkan Alka dari hukuman Ayi, sungguh rumit sekali ya Nding.”


“Kau fikir hubunganmu dan Alka hanya sampai di situ, Lanjo saja … maksudku, ya memang rumit.”


“Lanjo, apa itu” Aditia heran kenapa Ganding tidak meneruskan perkataannya.


“Ya itu, yang gue bilang, rumit, udah yuk ah, kita ke rumah wanita itu, jangan terlalu lama di sini.” Ganding berusaha terlihat datar dan tenang, Aditia tidak diperkenankan tahu soal Lanjo yang diderita Kak Alka, kalau dia sampai tahu, bisa jadi akan membuat hubungan mereka retak.


Aditia dan Ganding menggunakan angkot jemputan, ironis sekali, sebelumnya Ganding datang menggunakan mobil mewah berbahan bakar listrik, merk ternama yang baru dia beli, katanya dia beli itu karena Jarni ingin mobil yang suara mesinnya senyap, tapi sekarang dia malah ikut angkot Aditia.


Angkot itu memang lebih aman dari gangguan jin, Pak Mulyana sudah memagarinya dengan ilmu paling tinggi, sehingga bagi jin dengan ilmu hitam tinggi sekalipun, akan merasa silau saat angkot itu lewat dan tidak berani mendekatinya.


“Ini rumahnya Dit?” Ganding bertanya.


“Iya.”


“Gelap Dit.” Ganding berkata.


“Iya, lembab dan dingin ya.” Aditia mengiyakan.


“Yuk masuk.”


“Nggak tunggu yang lain?” Ganding sudah menghubungi semua orang, Alka juga katanya sedang dalam perjalanan pulang, tapi mungkin masih lama sampai, tapi selain dia, semua akan sampai dengan segera.


“Yaudah tunggu yang lain, rewel banget lu.” Aditia kesal.


“Itu bedanya kita Dit, kalau kami selalu melakukan apapun bersama, tapi elu udah kebiasaan kerjain apapun sendirian, makanya Alka sekarang selalu melarang kita melakukan apapun individual, tapi elu masih kebawa aja sama cara kerja lama.” Ganding mengingatkan.


Semua orang sudah datang setelah setengah jam menunggu.


“Yaudah yuk.” Aditia mengajak semuanya masuk.


“Bentar itu Kak Alka udah mau sampe.” Jarni berkata.


“Hah, masih lama dia, tadi chatting ke gue, katanya sekitar tiga jam lagi sampai.”


“Yuk.” Alka sudah di belakang Aditia, Aditia kaget karena Alka lepas raga, dia menggunakan tubuh jinnya yang indah dan unik itu.


“Kok bisa?”


“Aku cuma di segel, jadi tubuh manusia dan tubuh jinku masih tetap sama, aku bisa selalu lepas raga, kelamaan kalau bawa tubuh manusiaku untuk bisa sampai sini.” Alka menjelaskan ke Aditia yang selalu saja ketinggalan informasi.


“Tubuhmu di mana?”


“Di bis, lagi tidur.”

__ADS_1


“Eh bahaya! Masa tinggalin tubuh kosong gitu, nanti kalau ada yang iseng gimana?” Aditia masih saja rewel.


“Tenang aja, nggak akan kenapa-kenapa.” Alka menjawab dengan santai.


“Kau terlalu santai sama tubuhmu sendiri Ka!” Aditia kesal.


“Rewel banget sih Dit! Tadi aja elu yang ngeluh gue rewel, sekarang elu yang rewel.” Ganding kesal karena mereka belum bisa masuk juga, Aditia terlalu banyak ngeluh.


“Iya yaudah ayo masuk.” Aditia akhirnya mengalah, Alka hanya mengikuti dengan tenang.


Mereka mengetuk pintu, tidak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya membuka pintu gerbang, rumah ini memang cukup besar, terlihat dari luar, gerbangnnya saja cukup tinggi.


“Siapa ya?” Lelaki itu bertanya.


“Ini Pak, saya temannya Ami, mau menjenguk.” Aditia berbohong, kenal saja tidak.


“Temannya Ami? Serius kamu temannya Ami?” Lelaki yang adalah ayahnya Ami bertanya, seperti heran kalau Ami punya teman yang datang menjenguk.


“Iya, kami tuh pernah sekelas, tadi denger dia pingsan lagi, makanya kami jenguk, nih bawa buah juga buat Ami.” Aditia mengambil buah yang sudah Hartino bawa tadi.


“Alhamdulillah kalau begitu, ayo masuk.” Lelaki itu mengizinkan mereka masuk.


Setelah mereka semua masuk, mereka semua lalu ikut ke ruang tamu.


“Kalian semua ikut Om ke kamarnya Ami ya, dia lagi  makan disuapin ibunya, mungkin sekarang udah selesai.” Lalu mereka semua naik ke lantai dua, benar saja rumah ini besar sekali.


Kamar Ami ada di sebelah kanan tangga, begitu sampai di depan pintu kamarnya, lelaki paruh baya itu membuka, tapi sayang, pintunya dikunci dari dalam.


“Mah, buka pintunya.” Lelaki itu memanggil istri yang ada di dalam kamar anaknya itu.


“Ah!! Tolong! Tolong!!” terdengar teriakan dari dalam, jelas itu teriakan wanita, seketika lelaki ini mencoba membuka pintu sambil berteriak-teriak, tapi pintu masih saja tidak terbuka, dia akhirnya mendobrak pintu itu, tidak berhasil.


“Om, bisa kami aja yang dobrak?” Aditia berkata, lelaki itu akhirnya mundur masih dengan wajah sangat panik.


Aditia menyentuh daun pintu dengan kelima jarinya, lalu setelah itu menghentakkan tangannya satu kali, pintu terbuka dendan mudah, saat masuk Aditia melihat kondisi kamar Ami sangat berantakan, ibunya pingsan dan Ami tidak terlihat di manapun.


“Astaga!” Ayahnya kaget karena melihat Ami, telah menarik teralis besi jendelanya, bagaimana hal itu bisa dilakukan oleh seorang gadis, ayahnya lemas melihat itu, Hartino menahan badan ayahnya dan mengeluarkan dia dari kamar serta istrinya yang masih pingsan bersama Ganding dan Jarni.


“Tunggu sini ya Om, kami tutup pintunya, Ami akan baik-baik saja, tapi izinkan kami mengobatinya.” Tanpa menunggu jawaban, Hartino, Ganding dan Jarni masuk lagi ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam, persis yang ayahnya kira dilakukan anaknya tadi, mengunci pintu, padahal tadi pintu tidak dikunci, tapi ditahan oleh suatu kekuatan.


“Ami, turun, nggak capek apa nemplok gitu?” Hartino tertawa melihat itu.


“Siapa kalian?” Ami bertanya, suaranya masih suara Ami, tapi saat Ami turun, ada bau yang menyengat, bau busuk, bau borok dari seluruh tubuhnya.


“Kamu kenapa? dari mana?” Aditia bertanya, Alka duduk di kasih Ami dan mencium bau yang lain.


“Panas sekali tubuhku, tolong aku!” Ami berkata.


“Kalau panas, ya kamu  ke sini, AC udah dingin gini.” Hartino meledek.


“Panas brengsek! Panas!” Ami berteriak di wajah Hartino, tapi Hartino tidak bergeser sedikitpun atau kaget, sudah biasa.


“Mi, bau, udah duduk dulu sini, gue mau liat borok lu.” Hartino masih meledek.


“Har, udah,  tangkep dia.” Alka memerintah, lalu mereka berusaha menangkap Ami yang masih tidak mau tenang, kepanasan dan kesakitanlah yang dia rasakan.


Sempat berlari ke segala arah akhirnya Ami tertangkap, dia diikat di tempat tidurnya dengan ular mini milik Alka sempat ketakutan, tapi dia akhirnya bisa tenang sedikit.


“Apa kau! Kau menjijikan sekali.” Ami menunjuk Alka dengan tubuh jinnya itu.


“Kau yang lebih menjijikan!” Jarni menyabet wajah Ami dengan ular mininya.


“Dia bisa liat Kak Alka.” Ganding baru sadar, yang lain juga.


“Artinya dia kena gangguan.” Alka berkata.


“Tapi dia nggak kemasukan Kak, aku nggak ngerasain yang lain lagi di sini, hanya hawa rumah ini saja menjadi lembab dan gelap.” Ganding berkata.


“Jarni, periksa tubuhnya.” Alka meminta Jarni memeriksa seluruh tubuh Ami.


“Borok Kak, bau busuk, semuanya bernanah, Cuma wajah yang nggak kena borok.”


“Mungkin belum, boroknya belum sampai wajah.”


“Observasi dulu, menurut kalian apa?” Alka membuka ruang diskusi, kamar Ami seperti ruangan kuliah dimana Alka adalah Dosennya sedang yang lain Mahasiswa, Ami masih sedikit meringis karena ketakutan, semua memilih duduk di mana saja, membentuk lingkaran sambil memperhatikan Ami yang sedang kesakitan dengan borok di sleuruh tubuhnya.

__ADS_1


____________________________________


Catatan Penulis :


Yuhuuuuu Visual Nih :


Aditia :


Ada yang kenal? ya, Junior Robert, aku merasa wajah ini sangat Aditia sekali, tampan tapi masih sangat muda, perlu banyak belajar. Aku suka bagian rambutnya, seperti sangat mirip dengan Aditia yang ada di Cover novel ini. setuju?



Aditia yang seorang Mahasiswa tampan di tempat kuliah.



Aditia yang sedang sendu karena merasa tidak dipercaya ayahnya.



Aditia dengan pakaian AKJ



 


 


 


Saba Alkamah :


Ini adalah wajah yang Aditia lihat ketika pertama kali dia kehilangan kekuatan karena membunuh Jin, ingat? wajah mungil Alka, dengan sikap yang lembut tapi terdapat jiwa yang kuat di dalamnya serta, awet muda yang sulit dipungkiri, kalau melihat wajahnya seperti umur dua puluhan, tapi Alka berumur 35 tahun, jadi Maudy Ayunda adalah karakter wajah yang menurutku paling tepat, wajah mungil dan cantiknya, tubuh yang langsing dan kecerdasan yang sangat tinggi, cocok sekali sebagai Alka, menurut kalian?



Ini ketika Alka harus menghadiri persidangan di AKJ



Ini ketika Alka naik gunung dan menemukan mayat-mayat itu, cocok nggak?



Ini ketika Alka harus menghadapi rapat pemegang saham ketika dia ingin mengungkapkan betapa kayanya Pak Mulyana, jadi dandan sedikit, iya nggak?



 


 


Ajimantrana :


Ini ketika Aditia bertemu Ajimantrana pertama kalinya.



Tampan, kuat dan menawan, Nicholas Saputra adalah refleksi Ajimantrana yang tampan dan kuat itu, setuju nggak?



Ajimantrana yang tampan dan misterius



Ketika menyamar menjadi pendaki, semakin tampan bukan?



Maafkan Author ya, menghalu tingkat tinggi, apakah aku ketinggian menilai karakterku? kasih komentar ya, menurutku tiga orang diatas sangat cocok karena refleksi sikap dan cara mereka berkata serta postur tubuh yang sudah aku bayangkan ketika menulis judul ini.


Jangan lupa selalu dukung aku, Vote dan bucket hadiah juga boleh.


Terima kasih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2