Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 471 : Nyebrang 3


__ADS_3

Behra dan Bohra sudah kembali ke AKJ, Ami dan pengawalnya kembali ke padepokan Aki Dandan, lalu Dokter Adi tentu saja ke rumah sakit dan rumahnya, Jajat sudah dipulangkan ke Bali, walau sebelumnya dia memohon untuk bisa menetap lebih lama, tapi tidak diizinkan Ganding, dia tidak suka padanya, tentu saja.


Sekarang mereka berkumpul di Gedung kantor itu, gedung yang memang mereka bangun untuk menjadi cabang dari AKJ, banyak jin yang ditawan di simpan di sini atau transit dulu di sini sebelum akhirnya mereka dikembalikan ke AKJ agar tidak mengganggu lagi.


Tragedi lepasnya Ratu Gandarwi akhirnya telah diketahui oleh kawanan.


“Aku sudah mengecek semua CCTV gedung itu, kakaknya Amanda masuk ke ruangan itu, beruntung aku memasang kamera sensor gerak dan suara, jadi aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam, kalian lihat ini.”


Lagi-lagi kawanan meeting di sebuah ruangan yang terdapat layar cukup besar sebagai media untuk menayangkan video dari proyektor yang dihubungkan dengan laptop Hartino.


“Dia pertama menguping, mungkin dia mendengar sesuatu makanya menguping.” Hartino menjelaskan apa yang terjadi di dalam video dan kemungkinannya, “dia lalu pergi ke ruangan bosnya, kemungkinan mengambil kunci, karena di ruangan bosnya tidak kita pasang CCTV, kita hanya memasang pada titik di mana pintu masuk ruang kepala cleaning service dan OB terlihat.”


“Kenapa kita tak memasang CCTV pada ruangan atasan itu?” Aditia bertanya.


“Karena kita menganggap tidak penting untuk tahu apa saja kegiatan di dalam ruangan itu. Karena landasan memasang kamera CCTV adalah, pertama menghindari kemungkinan maling, perampok atau yang lainnya masuk, jadi bisa identifikasi wajah, sedang ruangan yang kita pasang CCTV adalah ruangan yang kita anggap krusial untuk dijaga di bagian dalamnya.


Seperti ruan HRD, karena terdapat banyak dokumen karyawan yang sangat rahasia, lalu ruangan finance, accounting dan pajak, kalian tentu paham kenapa kita harus memasang kamera di sana, lalu ruangan pusat brangkas, tempat kita menaruh dokumen yang sensitif, seperti dokumen pribadi kita, uang cash yang kadang kita butuhkan mendadak dan dokumen penting lainnya.


Sedang saat itu, aku dan timku, merasa tak perlu memasang kamera di ruangan atasan CS dan OB itu karena tak ada hal penting di dalamnya.”


“Lalu kunci ruangan paling penting itu kau taruh di sana?” Aditia berkata dengan mengejek.


“Kau salah! aku tidak menaruh kuncinya di sana, seharusnay kunci ruangan itu ada di pusat brangkas, tapi karena kemarin baru saja aku meminta para pemilik khodam untuk membersihkan ruangan itu selama 3 hari, yaitu membersihkan debu, mengelap botol kaca jin-jin itu dan memagarinya, maka kunci itu sementara di taruh di ruang atasan CS dan OB itu karena supaya lebih mudah dijangkau.


Karena ruang pusat brangkas ada di lantai yang cukup tinggi, sehingga rasanya sulit untuk bolak-balik ambil kunci ke sana. Juga tak mungkin membiarkan para pemilik khodam untuk membawa kuncinya pulang, karena akan sangat berbahaya.”


“Ok, lanjut.” Ganding meminta Hartino menjelaskan lebih jauh dan memberi kode pada Aditia untuk diam dulu.


“Lalu dia masuk, kalian lihat ini, dia kaget setelah mendekati botol kaca itu, lalu bermaksud pergi, lihat dia balik badan, mungkin ingin segera pergi dari ruangan itu, tapi kecelakaan, dia menjatuhkan botol itu.”


“Har, botol itu belum dipagari?”

__ADS_1


“Belum karena tim pemilik khodam yang memagari jin yang bermasalah itu, memulai memagari dari bagian depan, lalu perlahan ke belakang, sedang botol Gandarwi berada di bagian yang cukup dalam, jadi memang belum selesai. Kau tahu kan, kalau gedung ini belum selesai sepenuhnya, kita sedang membangun lantai paling atas untuk menaruh semua botol ini, tapi lantai itu belum jadi, makanya aku meminta pemilik khodam untuk segera memagari, jika saja botol itu pecah maka jinnya takkan bisa kemana-mana, tapi sayang, Gandarwi punya ilmu yang cukup tinggi untuk mempengaruhi jiwa manusia.


Kalian tahu dengan jelas bahwa Gandarwi itu pencuri jiwa, maka menarik perhatian jiwa, bukan hal yang sulit baginya, botol kaca itu hanya menawan tubuh jinnya, tidak suara dan kemampuannya, makanya, aku memang bersalah karena seharusnya lebih fokus pada pemagaran tempat sementara penyimpanan para jin ini.” Hartino terlihat sedih karena kesalahannya, Gandarwi kabur dan membuat banyak korban, supir taksi, tukang ojek online dan tukang becak itu hanay korban-korban terakhir, karena selama Gandarwi kabur dia aktif sekali mengambil korban, makanya di terowongan itu banyak sekali jiwa yang diambil oleh Gandarwi secara paksa dari tubuhnya dengan imingan emas.


“Bukan salahmu, puluhan botol masuk ke ruangan itu, H-2 sebelum kita berangkat ke Bali, Har. Ayi mengirimnya karena puluhan botol itu dirasa aman jika ditaruh di gedung yang sedang kita bangun itu, makanya jadwal Gandarwi untuk dipagari mundur karena tambahan botol-botol.


Ini semua cuma masalah takdir aja sih.” Jarni membela Hartino dan yang lain setuju.


“Ya Har, ini hanya kecekaaan, lalu apa yang menjadi motifnya untuk masuk ke tempat itu?” Aditia bertanya.


“Orang kita sudah menanyai, dia tidak ingat, kalau kalian lihat lagi, ini saat dia akhirnay bangkit dan keluar, tentu Gandarwi tidak terlihat di kamera itu, tapi tatapannya beda saat dia bangun dari jatuhnya dan membuat botol kaca itu akhirnya pecah, dia kembali ke ruangan OB dan CS, tertidur lalu bangun dan pulang.


Dia kemungkinan masih dalam kendali Gandarwi saat dia keluar dari pintu dan kembali ke ruangannya, tapi saat terbangun, dia sudah tak dalam pengaruh Gandarwi, karena kata pegawai kita yang menyelidikinya, dia tak ingat masuk ke ruangan itu dan akhirnya membuat Gandarwi terbebas dari botol itu dan keluar seenaknya lalu membuat terowongan jadi zona miliknya.”


“Kita pindahkan saja dia dari gedung itu, Har, apakah bisa dia kerja di tempat ibumu? Karena itu firma hukum kan? jadi lebih aman, karena akan bahaya kalau orang biasa kerja dia sana, dia kita terima di sana kemarin itu gegabah sih.” Aditia mengakui bahwa itu juga ada turut andilnya.


“Ya, Dit, aku akan minta ibuku carikan posisi yang bisa dia dapatkan di sana, mungkin bisa sebagai tenaga administrasi mengingat dia pernah kuliah.”


“Kalau begitu, kasus apa yang hendak kita tangani sekarang?” Aditia bertanya pada Ganding, karena sekarang jatah Ganding yang menjelaskan perihal kasus berikutnya.


Hartino lalu minggir dan membiarkan Ganding menjelaskan.


“Ini kasus berikutnya, kau tahu tempat bernama Majalaya di Bandung?”


“Tahu, kerabat ayahku tinggal di dekat daerah itu, nama daerahnya - - - - - - - -, kalau diingat-ingat, memang hanya kerabat itulah yang pernah aku temui dari pihak ayahku, tapi ketika ke sana aku masih kecil, aku ingat kalau tempat itu terbentang sawah yang cukup luas, jalannya juga masih tanah, kami naik delman untuk bisa mencapai rumah kerabat ayahku. Sekarang pasti sawahnya sudah tidak ada dan jalanannya sudha diaspal.” Aditia tersenyum mengingat itu.


“Kau betul bahwa memang tempat ke arah sana sudah beraspal, tapi untuk sawah, kau salah, sawah itu masih terbentang luas.


Dalam buku bapak menyebutkan kalimat seperti ini, ‘PERHATIKAN SAWAHNYA, JANGAN PERHATIKAN TUBUHNYA’. Lalu ada alamat yang bapak taruh di sana, belum selesai karena setelah aku minta Hartino cek dengan tempat itu, mistos masih sangat kental, setiap malam tempat itu menjadi tempat angker yang haram dilewati.


Maka pasti di sana masih banya korban yang diganggu oleh penunggu tempat itu, maka kita akan menyelesaikan kasus ini.”

__ADS_1


“Nding, kita ke Bandung?” Aditia berkata dengan senang.


“Bandung Dit.”


“Paling enak itu ke tempat yang kita tahu kalau kita ke sana kita bakal disambut, bukannya diusir atau malah diharamkan, kau tahu kan, kalau Bandung adalah salah satu daerah kekuasaan Kharisma Jagat.” Aditia terlihat senang, dia sudah tak sabar ke sana dan bertemu kerabatnya, tapi pertanyaannya, apakah dia ingat, karena terakhir dia ke sana, hanya berdua saja dengan Mulyana, Ibu dan Dita tidak diajak karena Mulyana saat itu memang mengurus kasus juga, mengajak Aditia dengan alasan akan pergi untuk mencari buku, ibu bahkan tak tahu kalau tentang keluarga Mulyana di Bandung ini.


...


“Jak, ini kenapa kita nggak sampe-sampe ya, perasaan dari rumah kamu tadi ke sini cepet, ini kita terus aja jalan tapi nggak ketemu gang ke arah rumahmu.” Temannya Jaka bertanya, dia meminta Jaka untuk berhenti dulu.


“Kita disasar kayaknya, tuh liat.” Jaka menunjuk tempat tadi mereka berhenti dan terjatuh, di mana potongan kaki mereka lihat.


“Jak, ini beneran kita disasar?”


Jaka diam saja, dia yakin kalau mereka berbalik pun, akan sama saja, mereka harus melewati potongan kaki itu jika ingin segera keluar dari lingkaran sesat ini.


“Kita lewati kaki itu?”


“Jak, kau yakin?”


“Aku tidak yakin, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa lagi, aku juga tak tahu, sudah berapa lama kita muter kayak gini.”


“Tapi, harusnya kalau sudah lama, harusnya kita melewati pagi bukan?” Temannya Jaka bertanya.


“Aku tak tahu, jangan tanya padaku! sekarang kita jalan saja, habiskan bensin ini, bukankah mitosnya, kalau bensinya habis, maka seharusnya kita akan menemukan jalan bukan?”


“Kau benar, ayo kita jalan.” Temannya baru ingat itu.


Mereka pun mulai berjalan lagi, roda motor berputar berkeliling, berputar satu kali, dua kali, 200 kali, 300 kali dan masih terus berputar.


___________________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Thor kok sama ama bis 404? Kata siapa? yang sabar ya, prinsip baca AJP adalah sabar dan tawakal.


__ADS_2