Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 288 : Hilang 13


__ADS_3

Pernikahan Raja Abiyasa dan calon Ratu Sarika menikah, mereka melakukan pernikahan adat Kharisma Jagat untuk pertama kalinya, dinamakan pernikahan adat karena terjadi dalam wilayah kerajaan, bukan karena pernikahan antara Kharisma Jagat, pada jaman ini, tidak ada satupun kerabat kerajaan ataupun seisi kerajaan yang tahu status Ayi Mahogra dan juga Raja Abiyasa.


Nantinya pernikahan adat ini dijadikan landasan oleh Mudha Praya untuk membuat peraturan tentang pernikahan adat. Membuat banyak kekacauan di muka bumi tanah Pasundan.


Pernikahan terjadi selama lima jam, mirip seperti pernikahan pada jaman ini, tapi banyak rangkaian adat dan budaya yang harus dilakukan, termasuk mengarak Raja dan Ratu untuk merayakan pernikahan dan memperkenalkan Ratu baru kepada para rakyat kerajaan.


Mereka didudukkan dalam satu tandu yang cukup besar. Saat tandu berjalan semua orang diperkenankan untuk melihat ke arah Raja dan Ratu, karena biasanya mereka harus menunduk, tapi kali ini bereda, ini adalah perayaan Ratu baru yang tentu akan berbeda dengan Ratu sebelumnya.


Setelah acar arak-arakkan, Raja dan Ratu kembali ke istana, ke pendopo Raja, Semua pengawal, Dorapala dan dayang, harus berdiri sejauh lima meter dari kediaman Raja dan Ratu, karena menghindari terdengarnya suara-suara romantis dari kediaman pasangan yang baru saja menikah.


Raja dan Ratu sudah berada di pendopo, Raja membuka baju kebesaran dan hanya menyisakan pakaian seadanya, begitu juga Ratu.


Ratu tersenyum dengan manis, Raja tergoda untuk menikmati senyuman itu dengan sentuhan wajah, Ratu tidak mengelak, dia membiarkan Raja menikmati wajahnya terlebih dahulu, baru setelah itu, Raja mulai membiarkan malam dan suasana malam membuat dua sejoli dipandu dengan hasrat yang mengedepankan kasih dan sayang, tentu menyisipkan cinta yang didak berkesudahan.


Ratu dan Raja bergumul dalam keindahan tubuh masing-masing, Ratu melayani Raja dengan baik, hingga Raja akhirnya kalah dalam pergumulan itu dan tertidur dengan dengkuran yang cukup kuat, dia kelelahan. Ratu mendengarnya langsung tertawa, dia berpakaian lengkap dan mengizinkan Abah Wangsa masuk.


“Aku tidak bisa membujuknya, kau bersiaplah, dia akan menghukummu.”


“Aku takkan menolak semua hukumannya, tapi aku mohon, jangan biarkan dia melepasku, karena jika itu terjadi, aku tidak akan bisa hidup, karena janjiku adalah bersama tuanku.”


“Aku akan usahakan itu, tapi berat, kau tahu dia masih tidak mau kau masuk ke dalam tubuhnya, dia sangat tidak ingin melihatmu lagi, tapi percayalah, setelah ini, dia akan menghukummu dengan berat.”


“Baiklah, aku memohon padamu.”


“Aku membantumu, karena aku ingin kau kelak menjadi Karuhun anakku, karena kau tahu, Panglima tidak turun pada Kharisma Jagat biasa, dia turun pada Ayi Mahogra atau Ayi Tirung saja, sedang aku tidak tahu, siapa yang menjadi Ayi untuk anak-anakku kelak.


Aku percaya padamu, mungkin kau egois, tapi kau bisa diandalkan untuk tuanmu. Maka dari itu aku membantumu, tapi jika sekali lagi kau berani berkhianat, maka kau akan musnah, Ayi setelahku akan memburumu. Mengerti!” Ayi Mahogra memberi peringatan dengan keras.


“Kalau begitu, saya undur diri.” Abah Wangsa pergi dengan perasaan gundah gulana, karena takut, kalau Abiyasa akan melepasnya sebagai Karuhun.


Malam yang tidak panjang sudah berlalu, Raja bangun pagi, dimandikan oleh sang Ratu, sejak ada Ratu, semua keperluan pribadi Raja, hanya dia yang siapkan, mulai dari makan, mandi dan semua kebutuhan pribadi Raja. Ratu cukup posesif, dia tidak membiarkan tangan wanita menyentuh Raja. Tidak berbeda dengan Raja, dia jauh lebih posesif, sejak menikah, dia membuat peraturan, bahwa tidak dibiarkan siapapun, seorang lelaki atau gerombolan lelaki berada dekat dengan Ratu, karena Raja tidak suka Ratu dipandang oleh lelaki lain.


Mereka berdua memang pasangan gila.


...


“Hari ini aku mengumpulkan seluruh Kharisma Jagat sekutu, untuk mengadakan sidang darurat, perihal Karuhun yang berkhianat.” Sidang dilakukan malam hari, di zona ghaib yang Ayo buat, zona itu dibuat di tengah lapangan kerajaan.


Ratu Kharisma Jagat memimpin sidang, karena di tempat ini, Ratu adalah pemimpin tertinggi, sedang Abiyasa hanya Kharisma Agung.


Sidang hari ini dilakukan untuk menghukum Abah Wangsa dan Ratu Amanasih. Yang satu karena kejahatannya, yang satu karena kebaikannya.

__ADS_1


Ratu Amanasih diseret ke ruang sidang, hanya selendang Ayi yang mampu menahan tubuhnya untuk tetap terikat.


“Atas kejahatnmu, aku sudah menghimpun keputusan dari semua petinggi dan para tetua, kami sepakat untuk mengikatmu dengan perjanjian tanpa batas waktu, kau diharuskan menghamba pada tuan dari keturunan tertentu, kau akan menjadi Karuhun turun temurun dari Kharisma Jagat yang kami tentukan, kau tidak akan bisa menolak, karena kami akan memberimu perjanjian dengan kutukan, sekali kau tidak turun kepada salah satu keturunan kami, maka kau akan musnah.”


Ratu Amanasih berteriak dengan kencang, hal yang paling dia tidak sukai adalah menjadi budak dari manusia. Tapi sekarang, dia diharuskan mengabdi pada manusia pilihan.


Ayi Mahogra mengucapkan mantra pengutuk yang menjadi perjanjian tanpa batas waktu, artinya selama Amanasih hidup, dia diharuskan untuk mengikuti perjanjian itu atau musnah.


Semua tetua menghimpun kekuatan untuk memberi efek pada mantra itu di tubuh tak kasat mata Amanasih. Pada jaman ini para tetua piilhan Ayi adalah orang-orang bijak yang tidak akan melakukan perbuatan tercela, karena Kharisma Jagat adalah status yang sangat tinggi sehingga semua penyandang status itu, harus menunjukkan sikap arif dan bijaksana.


Kelak, anak cucuk tetua ini akan menjadi para tetua di bawah pimpinan si busuk Mudha Praya.


Setelah mantra selesai diucapkan, karembo milik Ayi dibuka, Amanasih langsung kabur, tapi tak ada yang berusaha menangkapnya, karena jika mantra itu diperuntukkan pada tuannya, Amanasih akan datang pada tuannya, dia tidak akan berani mengambil resiko.


Pada jaman di mana Aditia dan Alka hidup, Amanasih akan turun pada Bening, Amanasih akan menjadi Karuhun yang menyiksa tuannya, karena dia tidak pernah ikhlas menjadi Karuhun dari seorang Kharisma Jagat.


Hingga akhirnya Bening masuk ke AKJ.


Tiba giliran Wangsa masuk, dia berjalan dengan langkah sangat lemah, Abiyasa enggan melihatnya, Karuhun yang mengkhianati tuannya, adalah makhluk yang keji, itu yang ada dalam pikiran Abiyasa.


“Wangsa, kesalahanmu adalah mengkhinati Ratu Dahlia. Tuanmu sebelum Abiyasa, kau tahu bahwa akan timbul bala jika membiarkan Diah menjadi Ratu baru menggantikan Ratu Dahlia yang seorang Kharisma Jagat, seharusnya kau mencari seorang wanita dari keturunan Kharisma Jagat juga, yaitu kerabat jauh Ratu, tapi kau malah mengizinkan Diah menjadi pengganti.


Abiyasa bangun dari singgasananya, dia memperhatikan abah yang bersujud tanpa menundukan kepalanya.


“Aku memutuskan untuk melepasmu sebagai Karuhunku.” Abah terjatuh, dia lemas dan gemetar, tubuh tuanya semakin terlihat tua.


Hening, semua Karuhun milik Kharisma Jagat keluar dari tubuh tuannya dan menghadang Raja dengan tubuh tak kasat matanya.


“Keberatan! Keberatan!” Semua karuhun menghimpun kekuatan untuk menolak keputusan itu.


“Aku berhak atas Karuhunku.”


“Maka kami berhak mengkudeta Ayi Mahogra untuk turun dari tahtanya!” Karuhun sekutu mengancam.


Abiyasa mundur dan melihat ke arah Ayi Mahogra, kalau sampai itu kejadian, maka akan membahayakan istrinya, yang hadir adalah sekutu, kalau mereka menjadi musuh juga, maka Ayi tak memiliki sekutu, itu bisa membahayakan istri dan keturunannya kelak.


“Wahai suamiku, aku menyerahkan semua urusan ini padamu, apapun keputusanmu, maka aku ikut. Walau mungkin itu akan menyebabkan bala bagi keturunan kita.”


Abiyasa diam, dia bingung.


“Yang Mulia Kharisma Jagat Agung, Wangsa mungkin berkhinat, tapi mungkin kau juga harus pertimbangkan satu hal, masa depan tanpa pengkhinatannya, tidak akan lebih baik.

__ADS_1


Bala yang ditimbulkan oleh Diah, ibu tiri Raja itu, jauh lebih ringan dibanding, jika Wangsa mengambil langkah berbeda, maka Ratu Dahlia akan mati dalam pertempuran antar Kharisma Jagat, dia akan kalah karena tidak punya sekutu selain keluarganya, Ayi belum lahir, hingga tidak bisa membuat Kharisma Jagat menjadi sekutu dengan kearifan dan kebijaksanaannya.


Apakah kau pernah tahu, bahwa jika Ratu tumbang, maka kau akan akan menjadi mayat setelahnya, maaf aku harus mengatakan itu, tapi itulah masa depanmu tanpa pengkhianatan Wangsa. Ketika kau tak lahir, maka kerajaan akan porak-poranda, perebutan Putra Mahkota antar selir dan juga Kerajaan akan tumbang berganti dengan Raja baru yang berhasil membunuh Ratu, nasib kerajaan Sunda hanya akan menjadi dongeng belaka.


Lalu kelahiran Ayi akan tertunda karena begitu busuknya Kharisma Jagat pada tahun itu, akan sangat bahaya bagi Ayi lahir pada tahun itu.


Lihat, Wangsa memang pengkhianat tuannya pada saat itu, tapi, dia juga penyelamat bagimu dan Ayi Mahogra, tidak bisakah itu semua menjadi pertimbangan?” Seorang tetua yang cukup berumur, memiliki keahlian melihat masa depan seperti Ayi, berkata. Penglihatannya tidak pernah bohong.


Abiyasa mendekati Ayi, lalu dia bertanya.


“Apakah apa yang dikatakannya kebenaran?” Abiyasa bertanya.


“Dia melihat masa depan sepertiku, apa yang dia katakan bukan dusta.” Ayi membenarkan, Maka Abiyasa tertegun.


“Wangsa, berdiri, aku akan membacakan hukumanmu, siapapun tidak diperkenankan untuk menolak lagi. Atau kami anggap pembelot, bukankah itu bisa diterima Ayi?” Raja Abiyasa bertanya.


“Aku akan menerima apapun keputusanmu.” Ayi mengangguk.


“Aku menghukummu, pada usia ibuku, kau akan merasakan, rasanya sakit dicabut nyawa seperti orang-orang yang menjadi korban, karena kau membiarkan bala itu terjadi dan menimpa mereka, waktu tersebut akan berulang sampai kau mati. Sambil menunggu waktu itu, kau diperkenankan memenuhi tugasmu kembali kepadaku sebagai Karuhun, setelah kelahiran anak pertamaku, sebelum itu, kau akan diasingkan di tempat yang Ayi tentukan.”


Karena waktu itu belum diketemukan satuan waktu seperti saat ini, maka yang dimaksud Abiyasa adalah tiga puluh tahun sekali, yaitu usianya Ratu Dahlia. Begitu waktu itu datang, maka Abah akan mengasingkan diri lagi di tempat yang sudah Ayi Mahogra bangun, yaitu zona ghaib, yang tidak bisa dideteksi oleh Aditia. Di sana Abah akan mendapatkan hukumannya, rasa sakit dicabut nyawa atas rakyat jelata yang mati karena kelaparan, bencana alam dan kekejaman manusia, akibat bala yang dibawa Ratu Diah. Makanya abah akan terlihat babak belur karena menahan sakitnya dicabut nyawa dengan berbagai kejadian.


Persidangan berakhir, Abah langsung mengasingkan diri sampai Ayi melahirkan anak pertamanya kelak, Ayi saat ini belum hamil, maka Abah mungkin perlu menunggu selama satu tahun untuk bisa kembali menjadi Karuhun Abiyasa, setelah persidangan, Zona Ghaib kosong, semua orang pergi meninggalkan tempat itu, Abiyasa juga pergi.


Ayi ditinggal sendirian di singgasananya, ketika dia akan beranjak pergi, dia jalan lurus ke depan.


Setelahnya dia berhenti pada satu titik ... menatap lembut padanya.


“Kunjunganmu, sudah sampai di sini, masa lalu milik kami, masa depan milikmu.”


Aditia terperanjat, bagaimana mungkin Ayi Mahogra Sarika  menyapanya, tepat di hadapannya, bicara padanya, Aditia bahkan melihat sekeliling, takut Ayi bicara pada orang lain.


“A-A-Ayi bicara padaku?!”


Ayi menatap mata Aditia dan tersenyum.


_______________________________________


Catatan Penulis :


Jadi yang hilang, Abah atau Adit?

__ADS_1


__ADS_2