Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 98 : Jarni)


__ADS_3

Setelah semua jin yang berada di tubuh Alya lepas, akhirnya dia bisa menghembuskan nafas terakhirnya dengan bantuan Aditia.


Alya pergi dalam keadaann yang cukup menyakitkan, dia menderita saat nyawa ruh itu benar-benar lepas dari tubuhnya, Aditia membantu pemakamannya Alya bersama empat kawan yang lain.


Alya dikembumikan dengan sangat cepat dan sepi, tidak ada keluarga, tidak ada sanak saudara, bahkan bibinya tidak terlalu perduli, seperti kematian Alya sudah ditunggu olehnya.


Lima sekawan memutuskan untuk libur dari kasus dulu karena pada kasus ini lumayan panjang dan serba tergesa-gesa, itu membuat lima sekawan kelelahan.


Mereka kembali kepada keluarga masing-masing dan menikmati waktu bersama keluarga.


...


JARNI ALMIRA KHAZNA KECIL


"Kamu kenapa, kok sendirin di sini?" Tanya jarni pada seorang anak kecil yang sedang bermain ayunan.


Anak kecil itu hanya terdiam sembari berayun di ayunan tempat Jarni sekolah di suatu taman kanan-kanak dekat komplek perumahannya.


"Main sama aku ya, aku temenin." Jarni melanjutkan kembali pertanyaannya, anak itu masih saja terdiam, pakaiannya lusuh, rambutnya lepek, tidak menggunakan sepatu, beberapa jarinya putus, luka di wajah juga sangat kentara.


Jarni bermain ayunan di samping anak yang diam saja itu.


"Kamu udah sarapan belum? Makan roti bersama yuk?" Jarni terlihat iba dengan anak itu, dia lalu berlari ke dalam kelas yang belum banyak orang, bahkan gurunya belum datang, dia mengambil kotak bekal makanannya, lalu kembali ke ayunan itu lagi.


"Ini makan ya, enak kok, bibi yang buat, Jarni juga suka, kamu satu, aku satu." Jarni mengulurkan roti isi telur dadar itu pada teman yang dia tegur tadi.


"Nggak mau?" Anak yang sedang main ayunan itu lalu berdiri, dia memandang Jarni dengan tatapan marah, matanya memerah, semakin lama mata itu semakin besar, Jarni masih saja menyodorkan rotinya, walau anak itu sudah menakutinya agar pergi.


Anak itu menjulurkan tangannya mendekati Jarni, dia terlihat akan mencekik Jarni, celakanya Jarni pikir anak itu akan mengambil roti yang dia berikan, saat tangan anak kecil itu hampir sampai ke lehernya Jarni seorang guru datang.


"Lagi apa Jarni?" tanya guru itu.


"Ini mau kasih teman roti, dia kayaknya lapar." Jarni yang tadinya sedang melihat ke arah gurunya, lalu kembali menoleh ke arah anak yang tadi dia temani main ayunan, tapi ... anak itu sudah menghilang.


"Temen siapa? memang sudah ada yang datang?"


"Iya ada, tapi dia nggak pakai seragam, dia pakai baju putih, tapi kotor sama robek bu bajunya, jarinya dua nggak ada, di tangan kiri sama kanan, terus matanya juga gede banget, makanya Jarni kasih dia roti, kasihan."


Gurunya mendengar itu langsung terperanjat, dia meringding seketika, angin berhembus kencang sedetik kemudian.


"Jarni, yuk kita masuk kelas aja."


"Iya bu, nanti kalau dia ada lagi, aku kasih rotinya buat dia." Jarni masih sangat antusias membantu teman barunya itu. Sementara, gurunya sudah sangat ketakutan, bulu kuduknya meremang dari mulai leher sampai kaki.


Gurunya menarik Jarni cukup kasar, dia ketakutan, entah kenapa, dia merasa Jarni sedang tidak mengarang, setelah mereka masuk kelas, beberapa murid lain juga masuk, Jarni seperti biasa, sangat ramah dan riang bermain bersama teman-temannya.


Jarni seorang anak yang cukup cerdas, baik hati dan suka main bersama, semua orang suka padanya, Jarni adalah anak orang kaya yang dididik baik oleh orang tuanya sedari dini, dia tidak pernah menghina orang atau memusuhinya, jika melihat ada temannya yang murung, dia akan segera membujuknya dan memberikan apa yang temannya suka agar tidak murung.


Makanya ketika melihat 'teman' barunya berpakaian lusuh, berwajah mendekati hancur dan kotor, dia langsung kasihan dan ingin memberinya makan.


Kelas berlangsung, saat ini sedang makan siang, ibu guru Jarni yang menemukannya sedang di dekat ayunan melihat Jarni dengan aneh, dia berdiri di pojok kelas, tubuhnya membelakangi teman-temannya yang sedang main.


Guru itu mendekati Jarni, bermaksud menyuruhnya makan, saat sudah dekat, guru itu urung mengajak Jarni makan bersama temannya, dia mendengar Jarni seperti sedang berdialog.


"Kamu makan bareng aku yuk, jangan di sini, ibumu nggak kasih kamu makan? tenang aja, ibuku bawa banyak makanan buatku, bisa dibagi dua."


Lagi-lagi guru itu merasa merinding, karena Jarni benar-benar seperti sedang bicara dengan seseorang, tapi di depannya hanyalah dinding.


"Jarni, yuk kita makan, jangan di sini."


"Eh Ibu, ini teman yang tadi pagi main ayunan, kita ajak makan bareng, ya." Jarni tanpa menunggu jawaban dari gurunya, mengulurkan tangannya ke bagian belakang tubuhnya, seolah dia sedang menuntun seseorang, Jarni lalu melewati gurunya, walau Jarni terlihat tidak menuntun siapapun atau apapun, tapi saat dia melewati gurunya, baju bagian bawah gurunya tersibak sedikit seolah terkena seseorang yang lewat, padahal Jarninya sudah duluan, gurunya hampir jatuh tapi dia berhasil bersandar pada dinding.


Jarni duduk di mejanya, membuka kotak makannya di saat yang sama, bangku di sampingnya bergeser, guru itu kaget melihatnya dan pingsan.


...


"Maaf saya memanggil Ibu dan Bapak ke sini, tapi ini sudah yang ketiga kalinya guru yang mengajar di kelas Jarni mengeluh tentang kebisaan aneh Jarni yang membuat takut, bahkan yang terakhir kemarin sampai pingsan dan akhirnya resign.


Jujur saya tidak bisa lagi mentolerir kejadian ini, makanya dengan berat hati saya harus mengeluarkan Jarni dari sekolah ini."


Ibunya Jarni terlihat sedih mendengar itu, Jarni sangat suka sekolah, dia suka bermain dan belajar bersama temannya.


"Bu, saya akan bayar tiga kali lipat, saya mohon bu, izinkan Jarni sekolah di sini, dia suka sekali seko ...."

__ADS_1


"Masalahnya, siapa lagi yang mau mengajar jika setiap mengajar mereka harus melihat hal yang menakutan?" Kepala sekolah akhirnya menggunakan kata-kata non-formal.


Ibu dan ayahnya Jarni akhirnya kembali ke mobil, Jarni sudah di mobil sejak tadi.


"Jarni sayang, maaf ya Mami lama." Papinya masuk juga dan mulai menyetir, tidak ada yang bicara satu pun saat perjalanan, sementara si Jarni yang riang terus menyanyi, nyanyian yang baru saja dia pelajari di sekolah taman kanan-kanak itu.


Tapi, siapa yang mengira, ketika seorang anak yang masih sangat kecil di keluarkan dari sekolah taman kanan-kanaknya, bukankah seharusnya anak umur lima tahun belum bisa melakukan hal yang sangat melewati batas sampai harus di drop out dari sekolah TKnya, ini terjadi pada Jarni.


Tapi dibanding malu, orang tuanya lebih takut kalau anaknya menjadi kecewa, karena begitu tahu dia akan sekolah, dia sangat senang, setelah enam bulan sekolah dia terlihat bahagia, walau sudah tiga kali ganti guru.


Jarni kecil tidak tahu, bahwa teman yang dia sebut 'teman' itu adalah 'mereka' yang tidak terlihat.


Ibunya bukannya tidak pernah melihat keanehan itu, bukannya tidak pernah melihat Jarni bicara sendiri, tapi dia masih mencoba menyangkal dan mengadaptasi kebiasaan dunia Barat, bahwa setiap anak terkadang punya teman khayalan.


Mereka sampai di rumah lalu Jarni dibukakan pintu pleh ibunya untuk ke luar.


"Sebentar Mi, itu temen Jarni belum turun, jangan ditutup dulu pintu mobilnya."


"Jarni!!! berhenti!!!" Ibunya marah, dia tidak bisa mengendalikan lagi amarahnya, dia merasa takut sekaligus lelah dengan perkataan Jarni yang aneh, karena di mobil itu hanya ada ibunya, ayahnya dan Jarni, tapi Jarni ngotot temannya ikut dan belum turun dari mobil.


"Mami sabar, jangan terbawa emosi, dia masih sangat kecil, belum mengerti." Ayahnya menenangkan istirnya, sementara Jarni terlihat berlari tapi tangan sebelahnya tetep terjulur ke belakang seperti menuntun seseorang, tapi sebenarnya tidak ada siapapun.


"Kita akan panggil Psikiater."


"Nggak Mi! Psikolog aja."


"Terapi tidak akan membantu dia! kita butuh obat, kita harus memberinya obat untuk mengendalikan halusinasi yang selalu dia alami sekarang."


"Tidak, dia masih terlalu kecil, Mi."


"Maaf Pi, ini sudah keputusan yang akan aku lakukan, urusan rumah tangga aku yang atur, urusan perusahaan Papi yang atur, Mami tidak ikut campur, Mami cuma butuh dukungan, jangan halangi."


Maminya Jarni lalu masuk, dia mencari putrinya, ternyata dia sedang ada di kamar bermainnya, kamar tidur dan kamar bermain memang berada di rungan yang berbeda.


"Kok belum ganti baju?" Maminya masuk ruangan mainnya.


"Sebentar aja ya Mi, ini teman katanya mau lihat mainan masak-masakan Jarni."


Jarni memang sedang main masak-masakan, dia duduk di meja dan bangku mini, sementara di bagian depannya Jarni meletakan beberapa piring seolah ada orang di sana sedang dia masakkan sesuatu untuk makan.


"Kamu mau ikut makan? mau ikut ganti baju nggak? bajumu kotor sama bolong gitu." Jarni lalu tertawa setelah mengatakannya seolah itu lelucon, Maminya semakin khawatir melihat itu.


"Mi, boleh pinjam baju Jarni untuk teman? sama katanya dia mau makan juga bareng Jarni. Boleh ya, Mi?"


"Cepat ganti baju, Mami tunggu di meja makan."


"Boleh tuh sama Mami, yuk kita ganti baju bareng." Jarni kembali berlari dan tangannya tetap seperti menuntun seseorang di belakang, tentu tidak ada yang melihat teman tak kasat mata itu.


Jarni sudah di meja makan, dia menarik bangku lalu tidak duduk di sana, dia menarik bangku di sebelah bangku yang sudah dia tarik tadi, setelahnya dia duduk di bangku itu.


"Mi, mau piring juga buat teman." Jarni meminta piring.


"Kamu makan yang benar, abis itu bobo siang."


Maminya tidak menggubris apa yang Jarni katakan.


"Mi, minta piring buat teman Jarni."


"Papi lauknya mau apa?" Maminya bertanya pada papi, permintaan Jarni masih saja tidak digubris.


"Mi! minta pir ...."


"Diam Jarni! tidak ada teman, teman apa yang kau maksud? di mana dia? Mami dan Papi tidak lihat! mana temanmu! kalau memang ada, coba sebutkan namanya?!" Mami berkata dengan kencang, dia terlihat sangat depresi melihat putrinya.


"Di-dia ada di samping Jarni, sekarang dia sedang melihat Mami, dia tidak suka Mami berteriak, dia juga punya nama, tapi dia nggak bolehin Jarni kasih tau Mampi, nggak boleh kasih tau Papi." Jarni menjelaskan.


"Mami dan Papi nggak lihat!"


"Baiklah, Jarni akan makan berdua saja dengan teman." Jarni mengambil piringnya, menyendok nasi serta lauk dua kali lipat dari dia biasa makan, membawa piring itu ke ruang bermainnya.


Maminya melihat itu hanya bisa terpaku.


"Makan nih, aku udah ambil banyak." Jarni menarih piringnya di tengah meja makan mini di kamar bermainnya, dia juga membawa dua sendok dari meja makan tadi, satu dia gunakan, yang satu dia taruh di depannya.

__ADS_1


"Makan dong, udah aku ambilin juga." Jarni memaksa.


Perlahan, sendok itu bergeser, sendok itu lalu dalam posisi berdiri, setelahnya melayang.


"Nggak suka makanannya? yaudah nanti aku bawain yang kamu suka, kamu suka apa?"


Hening, udara ruangan menjadi dingin, lalu kamar bermain itu tiba-tiba menjadi lebih ramai, karena dua anak kecil berbeda alam itu sedang main.


"Kotoranmu." Itu adalah jawaban 'teman' Jarni yang ditanya dia suka apa.


"Kotoran? apa itu?" Jarni memang belum paham.


Teman tak kasat mata itu hanya tersenyum menyeringai.


...


"Kita mau ke sekolah, Mi?" Jarni bertanya, dia terlihat bersemangat, karena pagi ini ibunya menyuruhnya untuk mandi dan berpakaian rapih, dia dikir mereka akan ke sekolah.


"Sudah siap?" Ibunya bertanya.


"Sudah, yuk, mana bekal makanku?" Jarni terlihat riang saat keluar dari kamar tidurnya.


"Tidak usah, nanti kita makan di luar saja."


Mereka berjalan ke mobil, sudah ada supir yang menunggu di mobil, Jarni dan ibunya masuk ke mobil dan mereka mulai berkendara.


"Kita mau ke mana sih, Mi? bukan ke sekolah ya? kok jalannya beda?" Jarni bertanya.


"Ke tempat yang akan buat kita sama-sama tenang, Nak."


Satu jam berkendara mereka sampai di tempat tujuan, Jarni dan ibunya masuk ke suatu gedung yang cukup besar, Jarni walau sudah hafal huruf, tapi belum mahir membaca, makanya dia tidak tahu mereka di mana.


Setelah masuk ke gedung besar itu, mereka diantar oleh seseorang yang berpakain rapih ke suatu ruangan, di dalam ruangan itu sudah ada seorang wanita yang duduk di meja kerjanya dengan kemeja putih lengan pendek.


Jarni masuk masih dengan wajah riang.


"Jarni ya, main dulu yuk di sini." Seorang wanita berkemeja putih mengajak Jarni bermain di tempat terpisah tapi masih terlihat karena ruangan itu masih berada di ruangan yang sama tapi tersekat kaca dengan pintu dari kaca juga.


"Seperti yang saya ceritakan sebelumnya Dok, dia sering bicara sendiri, tertawa sendiri dan bermain seolah ada seseorang bersamanya, bahkan seminggu yang lalu dia ngotot temannya ikut pulang ke rumah, padahal tidak ada siapa-siapa di mobil selain kami, kami tidak mengajak siapapun ikut pulang, apalagi temannya Jarni."


"Baik, saya sudah membaca kasusnya Jarni, sementara saya akan ngobrol dengannya dulu, hanya berdua, pembicaraan kami akan direkam, jadi Ibu bisa mengawasi progressnya dari video tersebut, apakah anda tidak keberatan dan mengizinkan Jarni bicara berdua saja dengan saya?" Psikiater itu bertanya.


"Baik Dok, silahkan."


Lalu ibunya Jarni keluar dan Jarni dipanggil oleh Dokter itu, Jarni lalu keluar dari ruangan bermain dan menghampiri Dokter."


"Jarni senang bermain?" tanya Dokter itu sebagai permulaan.


"Iya suka, tapi Jarni lebih suka sekolah."


"Oh ya, kenapa suka sekolah?"


"Ketemu banyak teman, Tante."


"Oh gitu, sekarang Jarni tidak sekolah lagi?"


"Iya tidak, kata Mami sekolahnya tutup, jadi kita harus cari sekolah lain."


"Kemarin kata Mami ada teman Jarni yang ikut pulang, ya?" Dokter melakukan teknik pendekatan terlebih dahulu.


"Iya, temanku, dia sekolah di sana juga, dia bilang mau ikut, makanya aku ajak dia pulang."


"Temannya Jarni seperti apa?" tanya Dokter lagi.


"Dia rambutnya segini," Jarni menunjuk mata kakinya, "matanya besar sekali, tubuhnya hitam kayak Mami kalau goreng ayam tapi gosong, bajunya compang-camping, jarinya nggak ada dua, kanan sama kirinya Tante, oh ya satu lagi, dia bilang kepalanya sakit, aku tahu, karena bagian yang sakit itu berdarah terus." Psikiater itu menjadi tegang mendengar perkataan Jarni, entah kenapa bulu kuduknya merinding, udara semakin dingin dan Jarni terlihat senang menatap ke arah Psikiater itu.


"Hei kamu datang, sini kita ngobrol sama Tante ini, dia baik."


"Siapa?" Psikiater itu bingung, karena tidak ada yang datang.


"Ini Tante, temanku." Jarni tersenyum melihat teman tak kasat matanya sudah berada di sana.


"Teman?"

__ADS_1


"Iya, itu dia sekarang di samping Tante." Jarni tersenyum tanpa rasa bersalah.


__ADS_2