
Lima sekawan dan Lais sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mulai menyelidiki sumur itu, sumur yang katanya memiliki banyak mitos. Alka dan yang lain akan seperti biasa, mengumpulkan informasi terlebih dahulu, karena siapapun yang ada di sumur itu, takkan pernah bisa diinterogasi oleh mereka secara langsung tanpa tahu kelemahannya dan siapa dirinya.
Paling mudah memanggil jiwa atau jin adalah jika kita tahu namanya, karena jika kita tahu namanya, mereka merasa istimewa dan akhirnya akan mudah dikendalikan.
Kali ini mereka menghubungi seorang kerabat jauh dari Ganding yang memang tinggal tidak jauh dari desa itu, Ganding beralasan butuh daerah yang akan mereka observasi untuk pembangunan rumah subsidi, kerabat Ganding merasa senang dengan kabar proyek itu, karena jika proyek itu benar berjalan, kerabatnya sudah tahu berapa banyak dia akan dapat untung.
Walau ini kebohongan, tapi Ganding sudah memperhitungkan uang yang akan dia berikan kelak pada kerabatnya jika misi ini sudah berhasil.
“Kita akan temui kerabatku dulu, tapi dia tak tahu kita siapa sebenarnya ya, jadi kalian harus sangat hati-hati. Ingat kita adalah kontraktor yang mendapatkan tander dari pemerintah dan akan membangun rumah subsidi.”
Setelah mendapatkan briefing dari Ganding, mereka akhirnya sepakat untuk mulai perjalanan, dengan angkot tentunya.
“Wah, mesin udah baru, Dit?” Hartino bertanya dari belakang, Ganding yang menemani Aditia di samping kemudi.
“Ya, gue kemarin minta mesin diganti, body dibiarin apa adanya.”
“Gitu dong, dari kemarin susah banget gue minta ganti mesin, capek tahu ngedorong mobil tua.” Hartino meledek.
“Mobil Bapak gue nih, lupa kalian dia yang nemenin masa sulit kalian!” Aditia kesal mobil kesayangannya dihina.
“Nggak lupa Dit, tapi dulu saat bapak pakai, mobil ini tidak separah saat dipegang kau.” Hartino dan Ganding tertawa, sementara Aditia tetap kesal.
Uang sudah bukan lagi masalah baginya, karena dia sudah menerima semua bagian yang menjadi hak atas semua warisan Mulyana.
Walau ibu dan adiknya belum tahu soal itu, tapi Aditia berjanji akan bijak menggunakannya.
Ganding banyak membantunya belajar bisnis dan juga Hartino tentunya dua orang yang mengurus perusahaan mereka bersama.
“Sudah sampai, itu kerabatku, ingat, dia suka uang, jadi jangan terlalu kesal ya, kita butuh bantuannya.”
“Mang, apa kabar?” Ganding menyapa ramah, dia memang tidak pernah bertemu dengannya sejak lama.
“Baik Ganding, ini rekan-rekan kerja yang akan mengurus perumahan itu?” Mang Yana bertanya, dia terlihat sumringah, mungkin bau uang sudah melekat di hidungnya saat melihat kedatangan Ganding dan teman-temannya.
“Iya Mang, ini kenalin, ini Ibu Alka, dia adalah Arsitek yang akan mendesain perumahan itu, lalu ini Pak Hartino dan Pak Aditia, mereka berdua adalah pemimpin proyek, ini Ibu Jarni, dia akan mengurus semua logistik yang diperlukan, lalu saya, adalah kepala perencanaan. Mang Yana udah dapat rumah yang akan kita tinggali di dekat lokasi yang akan kita bangun perumahan?”
__ADS_1
“Iya Ganding, sudah. Hayu atuh, kita ke lokasi.”
Mang Yana ikut angkot jemputan, mereka bergegas ke lokasi yang hendak di tuju.
“Ini rumahnya, nggak terlalu besar, tapi saya dan istri saya sudah bersihkan dan sudah ada kasur di dua kamar itu, nanti yang perempuan bisa tidur bersama, yang lelaki juga.”
“Iya Mang Yana, makasih ya, ini cukup kok.”
“Mang, ini kan lumayan pelosok ya, walau masih kota, ada cerita seru nggak?” Hartino mulai memancing. Rasanya wajar bagi penduduk baru bertanya hal ini di Indonesia yang sangat kental dengan hal mistis, apalagi tempat baru bagi pendatang baru, Ganding tersenyum, tugasnya lebih ringan, Hartino memang orang yang bisa diandalkan.
“Cerita seru apa ya, Pak?” Mang Yana tidak mengerti.
“itu loh, kayak larangan-larangan, misal kita nggak boleh keluar jam berapa, atau nggak boleh nyebutin kata apa, yang mistis-mistis gitu, Pak.” Hartino menyederhanakan kata-katanya.
“Oh yang seru tuh yang kayak gitu. Tapi ini mah nggak seru, nakutin malah, hati-hati ya, setelah Mamang ceritain, kalian harus lebih mawas diri, jangan terlalu arogan di desa ini.”
“Iya Mang, ayo sok atuh cerita.” Hartino tidak sabar.
“Jadi begini, di bagian belakang kampung ini, kalau kalian jalan sekitar lima menit lah sampai, ada sumur, sumur itu tidak boleh diambil lagi airnya.”
“Kenapa begitu?”
“Ah, itu mah nggak seru, kirain ada setan di sumur itu, itu mah biasa aja Mang ceritanya.” Hartino mulai menyentuh harga diri orang yang suka bergosip. Merendahkan cerita mereka.
“Ya itu kan Mamang cerita dari segi ilmiah, kalau dari segi mistis, sudah banyak yang kena, nanti kalian ketakutan. Trus nggak jadi deh bangun rumah di desa ini.” Mang Yana masuk perangkap.
“Kena apa Mang? Air kotornya terus sakit?” Yang lain tertawa, seolah mengejek cerita Mang Yana, Hartino lega, teman-temannya sadar apa yang dia lakukan.
“Bukan begitu, dia kena ... kena ... Jandiksa.”
“Hah? apalagi tu? Nama limbah dari pabrik di dekat desa ini?” Hartino masih meledek agar informasi yang mereka butuhkan bisa disampaikan.
“Bukan atuh! Jandiksa itu kayak sawan, tapi yang kena, akan sangat suka dengan tempat terakhir saat mereka kena Jandiksa. Bisa jadi, tempat terakhir itulah lokasi mereka kena Jandiksa.”
“Nah, yang ini seru nih Mang, jadi kalau kena Jandiksa dia akan di sumur itu terus menerus?” Hartino mulai memasang wajah serius.
__ADS_1
“Bukan, dia akan suka minum air yang ada di sumur itu, sangat tergila-gila pada air di sumur itu dan menjadi sedikit gila karena air itu.”
Yang lain berpura-pura bergidik, karena mereka tak mungkin terlihat berani.
“Jadi ada Mang, yang gila karena sumur itu?”
“Ada Pak Har, ada tiga orang, kemarin yang terakhir kasian banget, dia baru nikah setahunlah, kena Jandiksa, sekarang dia di pasung kakinya karena setiap saat berlari ke sumur untuk minum airnya, istrinya sekarang sedang hamil, kasihan, anak itu sudah ditungguh setahun, eh pas hamil, suaminya malah begitu.”
“Berarti yang dua sebelumnya sudah sembuh Pak?” Hartino bertanya lagi.
“Belum, mereka dipasung bersamaan di kandang kambing yang kami sediakan untuk orang yang kena Jandiksa.”
“Wah Mang, ternyata masih ada ya budaya seperti itu, padahal ini bukan wilayah tertinggal, semua sudah menggunakan telepon pintar, tapi kenapa mereka memperlakukan orang seperti itu?” Ganding yang kali ini bicara.
“Mau gimana lagi, kalau ada yang mau menyembuhkan malah diserang, kasihan sekali, tidak ada yang mampu menyembuhkan mereka, karena mereka kasar, bahkan pada pasangannya, istri korban terakhir sekarang harus mengungsi ke rumah orang tuanya di desa sebelah.”
“Yasudah Mang, terima kasih karena sudah memberitahu informasi tersebut, sekarang kami akan beberes dulu, lalu istirahat dan mulai observasi wilayah, memastikan bahwa kita bisa membangun perumahan di desa ini.” Ganding mengusir secara halus.
“Baiklah, ingat ya, jangan ke sumur itu, isi air kalian sampai penuh jika air sedang ada, tapi kalau terpaksa air tidak ada, kalian mening tunda hingga esok pagi.”
“Iya Mang, kami akan hati-hati.” Ganding menutup pembicaraan mereka dan mengantar kerabat jauhnya itu ke depan rumah.
Setelah orang itu pergi, mereka mulai menggelar papan putih, papan ini digantung di tempat yang tidak mudah terlihat orang, di sini mereka akan mulai memetakan masalah.
“Aku tidak tahu bahwa masalah ini sepelik yang Mang Yana katakan. Hartino, kenapa kau bilang kasus ini tidak terlalu darurat?” Alka menyalahkan Hartino.
“Iya maaf Ka, aku dan Lais kemarin tidak terlalu mendalam menyelidikinya, kami pikir tidak ada korban yang dipasung. Sepertinya ini hanya diketahui oleh warganya saja, tidak boleh diketahui oleh orang luar, karena memasung orang itu merupakan tindakan pidana, membuat kemerdekaan seseorang hilang, itu jelas tindakan kriminal.
Makanya kami tidak bisa menembus informasi semacam itu, kalau pihak berwenang sampai tahu, bisa jadi semua warga diminta pertanggung jawabannya.” Hartino menyadari kesalahannya, karena mereka harusnya membagi dua tim hingga kasus ini tidak berlarut.
“Baiklah, kalau begitu, sekarang kita akan menyebar, Hartino dan Lais kalian cari lagi informasi mengenai sumur itu, apapun itu, sekecil apapun, bahkan jika harus mengeluarkan uang, semua orang suka uang.
Aku dan Aditia akan mengunjungi orang yang dipasung itu, aku ingin melihat pengaruh apa yang mereka dapatkan hingga menjadi begitu suka dengan air berbau anyir itu.
Lalu Ganding dan Jarni, kalian pergi ke sumur itu, ambil airnya, aku butuh untuk mengecek sesuatu, tapi ambil airnya tanpa dicurigai.
__ADS_1
Alka dan Aditia juga bergegas menemui tiga orang yang di pasung bersamaan. Mereka ingin melihat ada pengaruh apa yang membuat tiga orang itu menjadi kecanduan air berbau anyir itu, apakah ada jin yang menyertai atau hanya sekedar kendali dari jin di dalam sumur itu.
Sementara Hartino dan Lais akan mencari informasi yang lebih banyak dan memperbaiki kesalahan mereka.