Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 478 : Nyebrang 10


__ADS_3

Perlu waktu untuk menghancurkan semen yang sudah mengeras itu di tanahnya, setelah itu membersihkan tanahnya, mengairinya dengan tepat, setelah itu harus menunggu lagi selama  minggu baru bisa mulai ditanami.


Sungguh keterlaluan orang yang melakukan ini, Aep terlihat sedih dan sangat marah, main-main dengan ladang nafkah seseorang, itu sungguh perbuatan keji.


Aep bahkan menitikkan air mata, bagaimana caranya dia akan menghancurkan semen ini? jika dikerjakan sendirian, tentu akan sangat sulit, meminta tolong siapa?


...


“Kok udah balik Ep?” Eman bertanya.


Aep dengan langkah gontai masuk tanpa menjawab pertanyaan temannya.


Emang yang tidak dijawab langsung menyusul dan masuk tanpa mengetuk, mencari Eman di dapur, tempat biasa dia merokok, benar saja, dia sedang merokok.


“Kau kenapa?”


“Tidak apa-apa.”


“Kau janganlah berbohong padaku, aku tahu kau, tak mungkin secepat ini kau dari sawahmu, kenapa? katakan kawan.” Eman duduk di hadapannya, dia mengambil bangku dari sebrang Aep, memang hanya ada dua bangku di meja makan itu.


“Sawahku disemen.”


“Hah? kok bisa? Disemen gimana maksudnya?”


“Disemen ya disemen, kau bodoh sekali! Masa harus kujelaskan, kalau disem ....”


“Astagfirullah Man, maaf.” Aep terdiam dia buru-buru meminta maaf.


“Kau kenapa, kenapa bisa kasar begini?”


“Salah satu alasanku tidak ingin mengeluarkan makhluk itu dari dalam tubuhku, karena aku tahu, akibatnya jika dia mampu menguasaiku, maka aku akan menjadi orang yang sangat bengis dan kasar, aku mungkin akan menjadi orang yang berbeda Man, kau harusnya segera menjauhiku.”


“Apa Mulyana tahu ini?”


“Tentu saja, tapi dia Kharisma Jagat, tuan dari Karuhun, dia yang mengendalikan Karuhunnya, itu juga karena Karuhunnya tunduk dan patuh, Kharisma Jagat memang terpilih karena jiwanya yang kuat dan hangat, tapi para pemilik khodam berbeda, mereka harus kuat-kuatan dengan khodamnya, mereka harus selalu memastikan kalau khodamnya tidak menguasai tubuh dari tuannya, karena sekali kau izinkan, dia bisa membuat hidupmu hancur, seperti tadi, aku memarahimu, itu baru awal, Man, makanya kau harus segara menjauhiku.”


“Syukurlah kalau memang itu karena pengaruh Khodam, aku takut kau yang berubah.”


“Man, kau ini apa sih! kau manusia macam apa sih!” Aep kesal karena Eman malah bersyukur bukannya takut.


“Justru aku akan lari, jika saja kau yang berubah Ep, kau yang menjadi bengis, tapi kau melakukan perlawan, artinya kau memang kuat Ep, maka aku makin percaya, aku harus ada di dekatmu agar kau punya orang yang bisa diandalkan.”


“Terserah kau sajalah, aku sekarang sedang kalut.”


“Kalau begitu, ayo kita hancurkan semen itu, aku akan minta bantuan tetangga untuk membantumu.”


“Percuma, semen itu sepertinya dilakukan oleh para dukun, sudah lama karena aku lihat mengeras, mereka sengaja menyerangku dari berbagai arah agar bisa membuatku tunduk. Mereka pasti ingin Sabdah Zaid.”

__ADS_1


“Ep ... kalau dulu aku pernah baca cerita soal jin dan juga Bandung Bondowoso, kau tahu cerita itu kan?”


“Man, kau mau aku mengamuk lagi atau gimana? kenapa sekarang kau malah mau mendongeng?!”


“Sabar dulu atuh Ep, maksudku begini, kalau Bandung Bondowoso bisa bikin candi sampai hampir 1000 siah! Nah, itu kan dia minta bantuan jin, jinnya dia banyak kali ya, makanya bisa bangun candi sebanyak itu dalam waktu singkat.


Bisa nggak jinmu digunakan sebaliknya?” Eman bertanya dengan wajah lugu.


“Maksudmu?”


“Ya, kalau jin Bandung Bondowoso bisa membangun candi, jinmu bisa nggak ya, hancurkan semen itu dari sawahmu, maksudku ....”


“Ah!!!”


“Kenapa? nggak mungkin ya?” Eman bingung, karena Aep langsung berdiri.


“Ide bagus!” Aep baru saja mendapatkan ide yang cukup briliant dari pria yang tidak punya ilmu apapun dalam soal hal ghaib ini.


“Ide bagus? Jadi bisa?”


“Tidak tahu.”


“Ep!! Kau tadi bicara seolah bisa.”


“Maksudku, ide bagus, patut dicoba, bisa saja berhasil, bisa juga tidak.”


“Kau tidak takut?”


“Takut kalau bisa lihat, kalau tidak bisa, bagaimana aku bisa takut?”


“Iya juga, baguslah, kau tidak perlu lihat.” Aep tak menawarkan Eman untuk buka mata batinnya, karena tidak ingin Eman menderita karena mampu melihat yang bukan seharusnya dia lihat.


“Kau tahu, seharusnya kau menghubungi adikmu, apa tidak bersama adikmu saja, menggunakan khodammu itu?”


“Kau tadi yang kasih ide Man, kenapa sekarang kau malah jadi mundur?”


“Katanya khodammu itu sangat kuat, aku takut, takut kalau ....”


“Bisa kok, aku bisa, dia memang selalu bersamaku, aku hanya mengurungnya saja, setelah keluar, aku akan pastikan, dia tak mencelakai siapapun lagi, karena aku akan mengancamnya, dia akan aku kurung lagi.”


“Kalau dikurung begitu, dia ngapain di tubuhmu Ep?”


“Kenapa kau penasaran?”


“Yah, aku bingung saja, kalau ada jin ditubuhmu, lalu ada ruh juga, apa mereka ngopi bareng di dalam tubuhmu?”


“Kau ini!” Aep tertawa terbahak-bahak, dia lalu menjelaskan, “dia aku tidurkan, lalu ayahku menguncinya di tubuhku, tubuhku itu seperti rumah baginya, kau tahu kan, rumah itu ada kamar-kamar, ada kamar untuk kau dan istrimu, ada kamar untuk anak pertamamu, anak keduamu, anak ketigamu.

__ADS_1


Maka sama dengan jin itu, tubuhku itu rumah yang ada kamar-kamarnya, ada kamar untuk jiwaku, yang nanti mempertanggung jawabkan dosaku kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Esa anggap saja ini ibarat kamar suami istri, kamar utama di dalam tubuhku, lalu kamar anak kedua, yaitu berisi ruh yang menjalankan tubuhku yang awalnya tidak hidup sampai ditiupkan ruh.


Lalu kamar untuk anak ketiga, kamar itulah yang ditempati oleh Sabdah Zaid, selama semua berada di kamarnya masing-masing, mereka takkan bertemu dan tidak saling ganggu, kecuali ... ya itu tadi, Sabdah hendak menguasaiku, dia bisa saja membajak kamar lain dan menguasai kamar-kamar itu, banyak orang kesurupan karena memang tidak ada kamar bagi penghuni baru, yaitu, lelembut yang tiba-tiba masuk, maka lelembut itu yang akhirnya berusaha menguasai kamar lain, kamar jiwa dan ruhmu.


Berbeda dengan Kharisma Jagat, konon tubuhnya sangat luas bagi para jin, tubuh mereka sangat wangi dan membuat jin betah berada di dalam tubuhnya, makanya mereka patuh, karena Kharisma Jagat itu seperti istana yang jin tersebut bisa tenang dan aman di dalam tubuhnya.


Kata ayahku dan Mulyana, bahkan akan ada seorang wanita lahir yang ditakdirkan sebagai Ayi Mahogra, tubuhnya itu, berkali-kali lipat lebih luas dibanding Kharisma Jagat biasa, maka banyak jin, baik Karuhun atau hanya khodam, sangat ingin masuk ke dalam tubuh Ayi Mahogra.


Ratunya para Kharisma Jagat itu konon sangat wangi, jarak wanginya sudah tercium sepanjang 1 kilo meter oleh para Jin, tapi aku pikir itu mitos sajalah, buktinya sampai sekarang Ayi Mahogra belum lahir juga, jadi aku pikir itu hanya mitos saja.”


Yang Aep tidak ketahui, Ayi Mahogra telah lahir dan bahkan telah memiliki Panglima, tapi sengaja disembunyikan akhirnya, kalian ingat ketika akhirnya kekuatan Ayi disegel oleh keluarganya, maka di titik inilah kondisi Ayi saat ini, hingga tak pernah ada yang tahu, bahwa Ayi Mahogra telah lahir dan bahkan sudah sangat hebat di usianya yang masih sangat belia, tapi Malik dan keluarganya berusaha menyegel dan memastikan wangi dari Ayi Mahogra tidak pernah tercium lagi. Hingga kelak ... kalian baca Karuhun sajalah supaya lebih tahu.


...


Malam tiba, Aep dan Mulyana akhirnya bersiap, tidak ada alat apapun yang mereka bawa, mereka hanya bersiap dengan pakaian berwarna gelap, Eman percaya ketika Aep bilang mungkin tubuh mereka akan kotor karena kerusakan semen yang akan dilakukan oleh Sabdah.


Jalanan sawah sepi, belum ada mitos soal jalan persawahan itu, jalan di sini juga belum diaspal, masih jalan berupa tanah basah, makanya jarang orang mau lewat sini malam hari, bukan takut setan, tapi takut terjebak di tanah basah dan akhirnya motornya tidak bisa jalan lagi karena terjebak di antara tumpukan tanah yang mengeras.


“Mumpung sepi Ep, ayo buruan.”


“Iya Man, kamu bersila di sini ya, aku sudah buat lingkaran, kau tidak aku izinkan keluar dari lingkaran itu, walau kau tidak bisa lihat, bukan berarti kau tidak akan bisa dicelakai, aku harus memperkenalkanmu dulu pada Sabdah, agar dia tak menyerangmu.”


Eman patuh, dia lalu bersila di lingkaran yang sudah dibuat oleh Aep, mereka berada di areal lahan sawah milik Aep.


“Kau bersiap ya, apapun yang kau dengar, suara, atau kau lihat ada apapun yang bergerak sendiri, seperti tanah atau bahkan aku yang melayang, jangan pernah sekalipun kau keluar dari lingkaran itu, mengerti kau!” Aep memberi perintah.


“Iya, cepat, dingin ini.” Eman dengan tegang berkata, dia memakai jaket tapi tetap terasa dingin, sedang Aep tidak, tentu saja, dia punya khodam di dalam tubuhnya.


Eman melihat Aep mulai melakukan kuda-kuda, dia melakukan gerakan pencak silat, mengeluarkan keris yang cukup besar, lalu menggumamkan entah apa, Eman tak tahu, tapi itu adalah mantra, mantra pemanggil khodam.


Eman merasakan udara semakin dingin, lalu angin berhembus aneh, melawan arah sebelumnya, waktu terasa mulai lambat, bahkan jam tangan yang dia gunakan, dentingnya jadi terdengar, saking sunyinya terasa, tepat setelah Aep membaca mantra.


Eman melihat mata Aep mulai menghitam sepenuhnya, melihat ke segala arah, lalu tubuh itu tiba-tiba terhempas, setelah jatuh ke tanah, tubuh itu kembali terhempas lagi, ke arah sebaliknya, begitu terus, Eman ingin menolong, tapi kata Aep tidak diperbolehkan, maka Eman hanya melihat saja dengan khawatir.


Tapi itu tak berlangsung lama, tubuh Aep tiba-tiba melayang, dia melayang seperti ada yang menarik tubuhnya ke atas, tubuh itu naik ke atas masih dalam posisi terlentang, tubuh Aep terlihat sudah lemas.


Aep masih terus membacakan mantra, hingga akhirnya Aep mampu berdiri saat tubuhnya melayang, perlahan tubuhnya turun dan kakinya menyentuh tanah.


Aep lalu menghampiri Eman, dia masih membaca mantra, saat Aep semakin mendekat, Eman merasakan hawa dingin yang begitu menusuk, semakin dekat, semakin dingin dan merinding.


“Eman, ucapkan salam pada khodamku, namanya Sabdah Zaid, panggil dia Sabdah.”


Eman patuh, dia menunduk lalu memanggil ... “Sabdah ....” Walau tak bisa melihat, dia merasakan energi yang kuat di hadapannya.


“Sekarang dia sudah mengenalmu, wajahmu, baumu dan suaramu, kau temanku, dia akan membantumu jika saja aku perintahkan, maka sekarang, kau harus siap atas apapun yang terjadi ke depan, kau memilih menjadi teman dari seorang pemilik khodam, hidupmu takkan sama lagi.


Selesai mengatakan itu, Eman melihat semen yang tadinya begitu rapih menutup lahan, perlahan hancur, sejengkal demi sejengkal, seperti dicabik dengan alat berat, dihancurkan dengan kekuatan yang sangat besar.

__ADS_1


Eman baru sadar, dia telah berteman dengan seseorang yang sangat istimewa. Eman tidak menyesal.


__ADS_2