Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 447 : Kamboja 9)


__ADS_3

“Aku mendapat kabar satu korban lagi.” Hartino datang dengan kabar yang tidak menyenangkan, mereka baru saja selesai melakukan sesi terapi hari pertama pada Pak Arifin, karena usia dia jadi lebih lemah, mereka berada di markas ghaib, lebih sunyi melakukannya di sana, bersama beberapa Kharisma Jagat yang memang khusus didatangkan dari AKJ, utusan Ayi Mahogra,


“Siapa?” Aditia bertanya, mereka sedang berkumpul di meja makan.


“Tukang becak kali ini, dia pria yang sudah cukup tua.” Hartino sedih mendengarnya.


“Tukang becak?”


“Ya, serangan jantung, tubuhnya ditemukan beberapa hari setelah kematian karena tubuhnya mulai membusuk, karena banyak kejadian, jarang ada yang lewat sana, tapi salah satu pemulung mencium bau busuk, makanya dia segera melapor tak berani masuk ke terowongan itu, dia hanya memberi tahu Polisi terdekat dan saat Polisi masuk ke terowongan itu, becaknya diketemukan tak jauh dari tubuhnya yang memegang dada dan melotot, seolah ....”


“Seolah apa Har!” Aditia kesal karena Hartino memotong omongan.


“Seolah habis melihat sesuatu yang menakutkan, makanya dia kena serangan jantung.”


“Kita perlu bergerak cepat Dit.” Alka khawatir bahwa korban akan semakin banyak.


“Kita tak bisa masuk!” Aditia mengingatkan Alka.


“Kita tak bisa masuk, tapi kita bisa menggunakan metode intel dalam menangkap tangan para pelaku kejahatan.” Ganding masuk dengan ide yang cukup briliant.


“Apa itu?” Aditia bertanya.


“Kita akan mengintai terowongan itu.”


“Maksumu, kita akan mengintainya setiap saat? Kau yakin ide itu efisien?”


“Dit, kita hanya akan mengintainya malam hari, karena kita tahu dengan jelas, dia membawa korbannya pada saat malam hari, maka kita kan mengintainya saat malam, bergantian, agar tidak ada jeda.” Ganding menjelaskan.


“Baiklah, jika saja cara itu berhasil, kita bisa apa?” Adit bertanya lagi.


“Kita bisa mencegah dulu siapapun yang hendak masuk, kita bisa menjegal siapapun yang hendak masuk terowongan itu malam hari, kalau beruntung, kita juga mungkin bisa menemukan agent itu.”


“Kalau dia memang korban, kalau bukan? malu kita jadinya.” Aditia mengingatkan kemungkinan lain.


“Saat ini tidak akan ada yang berani masuk terowongan itu, maka, pasti semua yang hendak masuk adalah korban.”


“Misal nih, Nding. Misal kalau saja kita salah target, dia memang orang yang hendak lewat saja, bagaimana?”


“Dit, lebih baik malu dan kehilangan muka karena salah target, dari pada kehilangan orang yang tak bersalah lagi.” Ganding bersikap keras.


“Kau benar, aku setuju dengan Ganding, Dit.”

__ADS_1


“Aku bukannya tidak mau menahan malu, hanya saja aku takut, kalau cara kita yang asal tembak begini, malah akan jadi berbalik pada kita, bukannya jadi jalan keluar, malah nanti jadi jalan buntu atau bahkan jalan yang menyesatkan kita, jadi aku mohon pertimbangkan lagi.” Aditia tumben sekali tidak mau asal tabrak, biasanya dia ikut nekat kalau korban semakin banyak.


“Itu satu-satunya cara terbaik menghentikan korban, sampai Pak Arifin bisa mengingat lagi sosok itu, baru kita bisa cari jalan keluar lain.”


“Baiklah, kalau begitu Nding, mari kita lakukan sesuai rencanamu, kita akan membuat siapapun yang hendak masuk tidak jadi masuk.” Aditia akhirnya setuju.


Dia dan Alka akan berjaga untuk malam pertama ini, karena mereka memang ahlinya lapangan dibanding yang lain.


Aditia menggunakan angkot untuk sampai lokasi, mereka berada tak terlalu jauh dan tak terlalu dekat, menyiram angkot dengan mantra yang Alka persiapkan, air yang disiramkan telah dicampur dengan bisa ular mini Jarni, yang terkenal akan khasiat pagar ghaibnya.


Mereka harus tak nampak bagi banyak makhluk ghaib, terutama agent itu, dia haruslah tak sadar keberadaan Aditia dan Alka di dalam angkot itu, dia juga mematikan lampu, hanya berpatokan pada lampu jalan yang menyala tepat sebelum terowongan itu berada.


“Malam begini, ternyata terowongan itu gelap sekali ya, lampunya sangatlah remang.” Aditia menyadari  betapa terowongan itu juga sangat berbahaya jika saja tak ada masalah ghaib sekalipun.


“Yah, kau tahulah, mungkin sudah banyak yang mengeluh, tapi keluhan itu tidak digubris sama sekali, mungkin terkait dana yang telah habis tak sampai ke bawah, kita tahulah bahwa negara ini memang masih banyak tikus berdasinya.” Alka terlihat cerdas membahas hal ini.


“Ya, bukan tugas kita memberantas tikus berdasi, tugas kita adalah memberantas agent yang tak terlihat oleh kita.” Aditia tertawa tipis.


“Kau ada asumsi mengenai agent ini Dit?” Alka tiba-tiba ingin berdiskusi, karena mereka selalu berpatokan pada bukti, lupa menggunakan insting dan pengalaman.


“Entahlah, sepenglihatanku, kemungkinan agentnya wanita.”


“Karena setan wanita selalu pandai menggoda.”


“Ya, itu sulit dipungkiri.”


“Kita asumsikan memang benar wanita, lalu apa yang membuat para korban mau masuk ke terowongan ini?”


“Karena mereka pengemudi, kemungkinan ... menyamar menjadi penumpang.”


“Dit ... kau mungkin benar, lalu?”


“Dia mengerjai mereka di dalam sana, pasti mereka ketakutan setelah tahu, makhluk lemah yang awalnya hendak mereka bantu sejak awal karena kelemahan itu, kau tahulah, malam-malam, wanita minta diajak pulang, pasti ada rasa iba, tapi mereka malah dihabisi dengan sadis.”


“Dit ... ada yang datang.” Alka melihat ada kendaraan yang berbelok, belum melewati angkot mereka, Aditia dan Alka buru-buru keluar dan menghadang taksi itu.


“Ada apa in?” Supir taksi itu hanya membuka kaca sedikit, dia juga agak takut, takut kalau itu begal.


“Dilarang masuk terowongan Pak, banyak kejadian kecelakaan, lebih baik putar balik aja.” Aditia menjelaskan, tentu itu bohong.


“Tapi nggak ada palang tuh.” Supir taksi ngeyel.

__ADS_1


“Pak, itu siapa penumpangnya?” Alka mendekati bagian belakang taksi.


“Itu penumpang saya, kenapa?” Supir taksi itu terlihat kesal karena Alka tak sopan bertanya.


Alka melihat dengan cara mengintip dari pintu bagian penumpang taksi yang memiliki tipe mobil sedan berwarna biru muda itu.


Seorang wanita yang berjilbab hitam, wanita itu tidak mau memperlihatkan wajahnya.


“Buka! Buka!” Alka memaksa agar pintu itu dibuka, tapi supir taksi kaget dan akhirnya menutup kaca lalu menyalakan mesin mobilnya lagi, dia sangat takut kalau Alka mencelakai penumpangnya, tapi Aditia akhirnya memecahkan kaca mobil bagian penumpang, tapi memastikan bahwa penumpang itu tak kena pecahan kacanya.


Begitu kaca mobilnya pecah, Aditia merogoh kunci pintu mobil dan membuka pintu bagian penumpang itu, Alka masuk ke dalam mobil dan menarik perempuan itu.


“Ada apa ini, ada apa ini!” Perempuan itu berteriak ketakutan.


“Ka ....” Aditia menenangkan Alka.


“Kalian siapa, kalian mau uang, ini ambil saja tas saya, tapi lepaskan kami ya.” Wanita itu berkata dengan gemetar, dia rupanya menunduk tadi karena ketakutan, mungkin trauma karena pernah dijahati saat malam hari dengan cara seperti ini.


“Tidak ada energi yang aku rasakan pada wanita ini, dia manusia biasa.” Aditia mengingatkan Alka, mungkin Alka luput karena  begitu panik barusan, gerak-gerik wanita ini yang terasa janggal memancing Alka untuk mencurigainya.


“Maaf ya Pak, ini kami sedang mencari saudaranya tunanganku, terakhir dia dibawa ke dalam terowongan lalu hilang, dia merasa bahwa tadi di dalam taksi saudaranya, maaf ya Pak, saya ganti biaya perbaikan kacanya.” Aditia memberikan uang yang cukup banyak, wanita itu masuk ke dalam taksi lagi sembari masih ketakutan, Alka meminta maaf karena tadi menariknya dengan paksa, wanita itu hanya mengangguk, supir taksinya berterima kasih dan akhirnya pergi dengan kaca mobil yang pecah.


Sang wanita akhirnya duduk di samping supir karena takut kalau duduk di belakang, masih banyak pecahan kaca.


“Ka, bagaimana mungkin kau begitu gegabah, kau harusnya merasakan energinya dulu baru bertindak, tumben sekali kau gegabah.”


“Aku tadi memang merasa melihat ada yang janggal dari perempuan itu, mengingat kita juga akhir-akhir ini sering tak mampu mendeteksi jarak dekat karena mereka makin mahir menipu kita, makanya aku tadi langsung bertindak tanpa berpikir panjang.”


“Yasudah, kau istirahat saja dulu, mungkin kau lelah juga makanya tadi bersikap tak sabaran, aku akan berjaga.” Alka setuju dengan ide Aditia, dia memang akhir-akhir ini jarang sekali tidur tepat waktu, tidak hanya dia, kawanan juga, tapi Alka memang berada di level kelelahan yang sangat, mengingat terakhir dia menyerahkan sebagian energinya pada keturunan iblis itu di Bali.


Alka tertidur, Aditia berjaga.


Satu jam, dua jam, tiga jam, malam semakin larut, lalu dia melihat ada sebuah sepeda sedang berjalan hendak melewati angkotnya, tidak ingin gegabah, Aditia mencoba untuk memastikan dulu apakah ada energi yang terasa, dia terus mencoba untuk merasakan energi itu, saat sudah yakin, Aditia menyalakan angkotanya dan hendak mengejar sepeda itu, dia terus mengklakson sepeda itu, tapi entah kenapa, sepeda itu bahkan tak goyang karena kaget, biasanya kalau pengendara sepeda itu jika diklakson sekencang yang Adit lakukan, pasti sepedanya akan goyang karena terkejut, tapi ini seperti ... dia tak mendengar klakson angkot jemputan.


Aditia menambah kecepatannya, dia harus menahan pria pengendara sepeda itu agar tidak masuk terowongan, tapi entah kenapa, sepeda itu sangat kencang hingga sulit untuk dikejar, Aditia menambah laju angkotnya, di titik ini Alka terbangun, dia tak bertanya apa yang terjadi, hanya melihat ke depan dan sadar kalau Aditia sedang mengejar pria yang mengendari sepeda itu, sepeda itu sudah hampir sampai di jalan masuk terowongan, Aditia jelas sulit mengejarnya, Aditia terus menyalakan klakson, Alka geram sekali, karena jelas, pria itu tidak mendengar suara klakson Aditia, karena kepalanya luru ke depan.


“Dit, dia tak mendengar kita, dia sudah dalam pengaruh agent itu sepertinya, tapi aku tak melihat siapapun selain pria itu di sepeda.”


“Aku juga tak melihat siapapun, tapi aku merasakan energi kelam dari pesepeda itu, kemungkinan ini calon korban.” Aditia masih terus mengejarnya.


Tapi sayang masih tak terkejar, pria itu makin dekat dengan jalan masuk terowongan ....

__ADS_1


__ADS_2